Bila Pasangan Bermaksiat

Salah satu predictor of happiness versi Ibnu Abbas ra adalah memiliki pasangan yang sholih atau sholihah. Betapa tenang, bangga, damai , lancar terasa kehidupan berjalan bersama suami atau istri yang baik. Bagaimana bila, kehidupan berjalan tak sesuai impian kita semasa masih bujang? Suami atau istri tak kunjung sesuai harapan , pertengkaran diam-diam terjadi atau bahkan meningkat frekuensinya menjadi lebih sering, lebih keras, lebih ketahuan banyak pihak? Orang ketiga mulai dilibatkan, anak-anak mulai kena dampak dan sebagai manusia biasa kita terombang-ambing antar dua keputusan besar yang sulit : bertahan dalam kesabaran –sampai kapan- atau mengambil titik balik untuk berpisah.
Saya bukan ahli, bukan pula hakim yang adil, hanya merangkum sebuah diskusi panjang nan khusus dengan seorang ustadz yang insyaAllah beliau ulama; ditambah pemahaman sedikit pendekatan psikologis.

Batalnya Pernikahan
Secara pasti tidak ada batasan kapan harus bercerai dalam segi agama kecuali karena satu hal : murtad. Kondisi murtadnya seseorang yang keluar dari agama Islam, otomatis batal pernikahannya.
Di luar itu – selingkuh, mabuk, KDRT dan perilaku buruk lainnya tidak membatalkan pernikahan secara hukum. Artinya, bila pasangan murtad, maka tidak perlu ambil tindakan menimbang-nimbang dst sebab pernikahan tsb telah batal secara hukum.
Seorang suami diibaratkan imam. Imam yang bermaksiat mencakup 2 kondisi :
1. Apakah sah? – mutlak
2. Apakah baik? – masih bisa

Analogi ini menjadi persamaan suami –imam. Bila murtad, maka tidak sah , bermakmum di belakangnya.
Bagaimana ber”makmum” dengan suami yg bergelimang dosa – selingkuh, mabuk, KDRT, suka memaki? Saya –sekali lagi- bukan ahli agama yg tahu betul tentang hukum fiqih tetapi hanya merangkum percakapan dan conditioning secara psikologis; bahwa masih memungkinkan ber”makmum” pada suami maksiat (tidak jatuh pada hukum batal nikah).
Pertanyaan mendasar : baik kah memiliki imam yg bergelimang maksiat?

DAMPAK

Kita tinggalkan masalah murtad yg sudah disepakati.
Mari masuk ke ranah maksiat yang akan membuat istri atau suami sangat amat bimbang antara terus atau bertahan. Coba simal dua kisah nyata di bawah :

1. Sebut namanya Isti, istri yg insyaAllah sholihah dan tersedia di dunia ini hanya 10.000: 1. Suaminya pengusaha sukses, pemabuk berat. Setiap malam –selama berpuluh tahun- , suaminya pulang dalam keadaan teler berat, entah pulang pukul 11, 00 atau pukul 3 dinihari. Isti siap menyambut suaminya di belakang pintu dengan berbalut mukena, memeluk suaminya yg sangat berbau alcohol dan muntahan. Esoknya, kehidupan berjalan seperti biasa. Seperti itu selama berpuluh-puluh tahun, Isti mendampingi suami. Di akhir hidup, sebulan sebelum ajal, suaminya sadar. Ia menghancurkan semua khamr dan bertobat. Selama sebulan menjelang ajal suami Isti benar-benar berada di jalan kebaikan. Yang luarbiasa adalah : tak satupun anak Isti sejak kecil hingga remaja dan dewasa tahu kebiasaan buruk sang ayah, Isti menyembunyikan rapat-rapat. Tak ada istilah anak broken home. Anak-anak Isti tumbuh baik karena Isti mampu melindungi martabat suami, menjadi benteng yang menghijab perilaku buruk suami dengan anak-anak.

2. Sebut namanya Anna. Suaminya perokok berat. Anna tak kuat bau rokok, berkali-kali suaminya berkata berhenti, tapi tak disepakati. Persoalan rokok yg bagi sebagian ulama haram, sebagian makruh, tidak demikian halnya dengan Anna. Ia tak kuat dengan asap rokok dan sikap suaminya yg tak konsisten. Pertengkaran meledak kemana-mana, merembet menjalar dan Anna memutuskan cepat : mereka harus berpisah.

Kita mungkin sepakat : nilai 100 untuk Isti, 50 untuk Anna.
Hal yang perlu mendapat penekanan adalah, seberapa besar seorang suami atau istri menjadi hijab maksiat sehingga anak-anak tidak terkena dampaknya? Isti memang luarbiasa sabar dan semoga mendapat pahala Allah, tetapi ia “betul-betul” sabar. Bukan sabar mengeluh, bukan sabar tanpa upaya, bukan sabar tapi menyebarkan aib, bukan sabar yang membawa dampak kerusakan kemana-mana. Bukan kesabaran yang baik bila, Isti ternyata tak menjadi hijab sempurna bagi suami, lalu anak-anaknya broken home memiliki ayah pemabuk.
Anna, sudah berupaya sabar tapi ia tak mempunyai dayatahan sekuat Isti. Melihat bahwa pertengkaran kecil bias merembet ke hal besar dan anak-anak meenrima dampak tak sehat dari orangtua yang tak akur bahkan untuk hal sepele hingga krusial, Anna memutuskan meng-cut dampak kerusakan.
KDRT. Rokok. Selingkuh. Suka mencaci. Tak mampu menafkahi lahir batin. Memusuhi orangtua dan keluarga. Dll. Mungkin ada banyak kemaksiatan yg dilakukan pasangan. Pertanyaan awal :
Seberapa besar dampaknya bagi kita dan anak-anak?

Bila, kita memiliki karakter tangguh, silakan berupaya ke family therapy, ustadz dan segala macam penguatan ruhiyah; upayakan terus kerekatan keluarga
Bila, karakter kita tengah-tengah, silakan melokalisir masalah. Mungkin anak-anak disekolahkan di lain tempat (harus dengan komunikasi yg baik) dan kita berupaya memperbaiki hubungan sana-sini.
Bila, karakter kita lemah, perlu ada upaya penyelesaian segera yang mungkin akan melibatkan lebih banyak pihak.


KESIAPAN

Siapkah bertahan? Berapa tahun lagi?
Siapkah berpisah? Lalu anak-anak? Nafkah? Pernikahan lagi kah?
Terus atau bertahan, semua butuh kesiapan yang sudah dipikirkan masak-masak berdasarkan point *DAMPAK* di atas. Bila, diri pribadi tak sanggup memikul, apa salahnya konsultasi kepada ahli? Silakan tes kepribadian untuk mengetahui karakter pribadi : emosional, agresif, rasional, dll dengan tes 16 PF, MMPI, dst. Kalau merasa yakin cukup berguru pada ustadz atau ustadzah, tak masalah juga.
Satu yang harus dipegang di tahap ini, komitmen.
Berkata siap bertahan, tapi tak sanggup bersabar dengan segala konsekuensi. Biasanya, defense mechanisme bekerja; entah rasionalisasi alias pembenaran atas segala kejadian buruk. Atau repression, menekan hingga ke dasar sanubari tapi meledak dahsyat sewaktu waktu; atau displacement alias meletakkan pada tempat salah atau pelampiasan – marah pada suami, tak mampu, anak-anak yang terus kena damprat tiap hari.

Kita siap bertahan, berarti juga berupaya. Dalam prosesnya akan banyak sakit mewarnai. Tetapkan waktu, beri kelonggaran, bila batas terlampaui tinjau ulang semua komitmen. Bila berkata siap bertahan, hentikan keluhan, cari solusi. Kembangkan hobby, cari alternative pelampiasan dan jangan jadikan diri sendiri juga anak-anak sebagai korban. Kita-sebagai individu entah suami atau istri- harus terus mengalami personal growth ; pertumbuhan pribadi. Jangan sampai persoalan berat menjadi tidak berkembang, akhirnya menyesali sana-sini termasuk takdir. Kita, sebagai orangtua, juga harus mempersiapkan masa depan anak-anak dengan kondisi yng lebih baik.

Perpisahan?
Big No No. Tapi bagaimana bila situasi tak tertanggungkan lagi?
Kepasrahan total, ibadah intensif dan semua upaya rasanya maksimal sudah.

Siapkan kertas pulpen, tulis kelebihan kekurangan perceraian. Kemandirian finansial dan parenting, itu jelas. Anak-anak? Inilah bagian tersulit. Artinya bila siap berpisah, berarti siap melangkah juga dengan segala konsekuensi : bicara dengan pasangan, anak-anak, orangtua. Mengurus secara hukum, keluar biaya. Bertahan secara elegan terhadap tudingan dan serangan dari keluarga besar atau karib kerabat. Dan, pembagian anak-anak, juga kebutuhan hidup yang harus ditanggung sendiri.
Sedapat mungkin, keputusan tetap bersama atau berpisah adalah komitmen pasangan suami istri; bukan “kata orangtua”, “menurut pengalaman sahabat” dsb. Boleh saja narasumber darimana-mana tetapi this is my life.

SABAR atau TERLALU CINTA, TERLALU MASA BODOH?

Seorang suami tahan betul dengan maksiat istri. Seorang istri tahan betul dengan maksiat suami. Sabar seolah-olah alasan utama, padahal cinta teramat sangat mengalahkan segalanya.
Artinya, kalimat ,” saya sabar dengan perilaku suami/istri,“ padahal kita tidak siap berpisah, tidak ada upaya perbaikan dan dampak buruk merembet kemana-mana. Tentunya, pasti ada dampak ke tengah keluarga bila salah satu bermaksiat.
Terlalu cinta, atau terlalu masa bodoh juga membawa dampak semisal, “ biarin aja suami selingkuh kemana-mana yg penting duitnya tetap sampai ke keluarga.” Berbeda dengan kasus Isti kan?
Dalam banyak kasus, karena kecintaan yg dalam pada pasangan, menyebabkan hilang rasa untuk memperbaiki perilaku buruknya. Yang penting tetap bersama-sama.

BERTAHAN DALAM PROSES PERBAIKAN

Alangkah bahagianya dunia memiliki suami atau istri yang sabar dalam menanggung perilaku buruk maksiat pasangan dan berupaya dalam sabar dan cinta kepadaNya untuk mencari keridhoan. Yang perlu dipertimbangkan dalam proses bertahan :
• tidak ada hal mudharat (berat) baru yang muncul misal depresi, tantrum, hubungan yg sangat memburuk, anak-anak yg broken home. Salah satu memang harus “kuat” berpegang kepada tali agama Allah SWT
• harapan yg bisa dipertanggungjawabkan dengan bukti real indicator, bukan khayalan

Contoh nyata kasus :
Maya bekerja sebagai PR, bersuami Anto yg wiraswasta. Mereka saling mencintai, keluarga harmonis. Masalah muncul ketika Anto yg sering bergaul dengan kalangan bawah (mitra kerjanya)suka berkata kotor yg sudah latah…maaf seperti hewan, aurat, dsb. Maya sering menghadiri acara gathering yg mengharuskannya hadir bersama Anto. Bisa dibayangkan dalam tamu-tamu intelektual, kerapkali Anto “melepas” perkataan latahnya yg membuat Maya amat sangat malu. Belum lagi tiap lebaran berkumpul bersama keluarga besar, Anto sering mengeluarkan kata2 ajaibnya. Alhasil, Anto menolak hadir di acara2 gathering dan enggan bertemu keluarga besar. Hal ini memmbuat hubungan Maya dan Anto retak; untuk kasus yang tampaknya sepele bukan? Tak mungkin Maya meminta Anto menjauhi rekan-rekan sales, pedagang dll yg merupakan mata rantai bisnis Anto tapi posisinya sebagai PR juga tak memungkinkan Maya hadir bersama Anto yg tak dapat mengontrol perilaku.
Maya lalu mengontak klinisian, psikolog klinis yg menterapi perilaku.
Dengan bijak dan cinta, Maya menyampaikan keinginannya bahwa ia sangat bangga bias hadir di tiap sesi acara bersama Anto. Istri mana yg tak mau didampingi suami? Maya sadar Anto punya lidah latah, maka ia mengajak suaminya mengikuti sesi terapi. 6 bulan berikut, Anto mulai menunjukkan perubahan. Ia bisa mengontrol kata-kata ajaibnya dan mulai bersedia hadir di acara Maya.
Perjuangan Maya meyakinkan suami, sakit dalam hubungan yg sempat tidak sehat, mencari klinisian, dst bukan perkara yg selesai dalam sekali helaan nafas. Tapi itulah yg dinamakan upaya sabar. Maya tidak mengorbankan dirinya, tidak juga Anto, tetapi berusaha mencari jalan temu masalah mereka masing-masing.

Setiap keluarga memiliki keunikan sendiri-sendiri. Pun, meski contoh yang dianalogikan mirip, tak mungkin persis sama. Hanya Allah SWT dan diri kita pribadi yang tahu betul apa yang berkecamuk dalam hati terdalam. Jujur pada diri sendiri dan terus berupaya. Semoga tulisan ini bermanfaat pagi brothers and sisters ku tercinta yang tengah menghadapi masalah dengan pasangan.

4 thoughts on “Bila Pasangan Bermaksiat

  1. nita dwi asriani berkata:

    gimna aq hrus mnghadapi suamiq yg suka mabuk2an,n memberitahu dia apa yg dikerjakanx adalah salah,tolonglah aq.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s