Jangan Narsis, Katarsis Saja! (Sinta Yudisia~ Jawa Pos For Her 10 Juni 2012)

Apa yang membuat orang merasa lega, lepas dan bahagia?

Di tengah permasalahan yang berkembang demikian kompleks; perempuan dituntut berperan lebih dalam posisi ibu, istri, karir dan kontribusi sosial. Bayangkan persoalan yang dihadapi perempuan dari bulan ke bulan, minggu ke minggu, jam ke jam, bahkan menit ke menit! Dulu, orang mungkin dapat bertanya pada ibunda, nenek atau orang yang dianggap lebih tua. Sekarang, tentu saja peran ibu kita tak dapat digantikan sebagai pemberi nasehat yang bijak, hanya saja terkadang butuh sesama rekan dengan usia dan permasalahan serupa untuk berbagi. Brainstorming. Apa yang harus dilakukan bila seorang ibu harus bekerja, menuntaskan pendidikan, di sisi lain ia pun tetap ingin berperan sebagai istri yang dicintai dan ibu yang menginspirasi?

Dibutuhkan lebih dari sekedar gelar dan kemampuan akademis untuk menjadi perempuan. Pengalaman, skill atau keahlian, kepekaan intuisi; turut mengasah naluri perempuan untuk dapat bertindak tepat terhadap diri, anak, suami maupun lingkungan. Kepada siapa bisa berguru atau bahkan berbagi keluh kesah, jika permasalahan sudah demikian sulit untuk diurai?

Dunia maya, sesungguhnya bukan hanya sebuah media yang mampu menggerakkan massa untuk melakukan tindakan-tindakan massive. Jejaring yang sekarang berada dalam genggaman, dapat menjadi media berbagi ilmu atau berbagi perasaan, tentu saja dengan memperhatikan etika yang berlaku. Facebook dan blog misalnya, bukan hanya sekedar tempat untuk berbagi info tentang produk perempuan terbaru. Memang, beberapa penelitian terakhir menuduh dunia maya menjadi ajang perselingkuhan, membuat miris sebagian besar perempuan. Teknologi bagai dua sisi mata uang, memudahkan tapi juga menikam dari belakang.

Facebook dan blog, yang diakses hamper sebagian besar remaja dan kaum perempuan, salah satu sarana efektif untuk melakukan katarsis. Katarsis sebetulnya lebih dalam kerangka terapi psikologis, dimana seseorang curhat habis-habisan hingga kosong hati dari beban. Di ranah dunia maya, kita tetap harus berhati-hati mengumbar permasalahan pribadi. Namun, bukan berarti di dunia maya perempuan menjadi enggan untuk bersuara.

Saya pribadi menuliskan di facebook dan blog mulai kisah pribadi terkait anak-anak, suami, kuliah hingga masalah kecantikan. Asyik rasanya mengutarakan pendapat, apalagi bila orang-orang menanggapi, mengkritik, menambahkan atau bahkan meluruskan. Misal, saya pernah menulis tentang produk kecantikan X yang tidak menggunakan kata whitening tetapi lightening. Mustahil perempuan Indonesia yang berkulit coklat diamplas hingga seputih wajah Korea, tetapi masih memungkinkan di cerahkan hingga batas maksimal. Tulisan itu mendapat tanggapan banyak perempuan, yang mengungkapkan mereka juga cocok memakai produk X sekaligus beberapa tanggapan dari pakar kecantikan yang memberikan masukan; sekalipun berkerudung, perempuan bila keluar rumah sebaiknya menggunakan sun block atau sun lotion yang mengandung SPF.

Di sisi lain, senang rasanya membaca tulisan perempuan yang membahas bagaimana pengalaman mereka menuntaskan permasalahan anak-anak, ekonomi, karir, orangtua, suami dengan beragam sudut pandang dan kreativitas perempuan. Terkadang tulisan memang menimbulkan polemik panjang seperti masalah karir perempuan, kesetaraan gender, atau pola pendidikan anak-anak. Terlepas dari tanggapan di facebook atau blog yang terkadang ramah sekaligus pedas, setiap ilmu pasti bermanfaat untuk dikembangkan.

Tidak semua tulisan teman saya tanggapi, mengingat waktu yang tak cukup untuk mengomentari semua status dan tag tulisan. Tetapi, bila waktu memungkinkan, tak segan saya membacanya walau sudah berjangka lama. Meski bukan penyuka bola, rasanya geli juga membaca status teman perempuan yang tahu betul pemain, pelatih, skuad hingga liga sepakbola. Sungguh, awalnya saya tak terlalu menggubris pendapatnya terkait malam tadi tim ini dan itu bertanding. Sampai di suatu titik, saya merasa saya harus belajar wawasan sepakbola juga. Mengingat suami dan dua anak lelaki saya penggemar berat, sebagai ibu akan lebih membangun komunikasi bila mengetahui apa saya kegemaran anak-anaknya. Bila dulu, saya lebih suka membaca WAG’s para pemain bola di koran, sekarang tahulah sedikit-sedikit beda Manchester United dan Manchester City; Sir Alex Ferguson dan Pep Guardiola; dimana Mesut Oziel dan Yaya Toure bertarung. Ups!

Di facebook dan blog teman-teman, kita juga bisa belajar bagaimana tips pasangan mempertahankan kemesraan, mendidik anak atau bagaimana membagi waktu yang padat dengan anak-anak yang masih kecil. Dan, kita pun jangan malas berbagi kisah dengan orang lain. Sisihkan waktu secara reguler untuk menuliskan pengalaman menarik hidup kita. Mungkin, bagi sebagian orang pengalaman itu terasa tak bermakna, tapi bagi sebagian yang membutuhkan jawaban dengan hambatan serupa; tulisan kita bisa menjadi solusi.
Bukan hanya phone yang harus menjadi smart; perempuan pun harus di upgrade menjadi smartwoman. Berbagilah dan belajar lah dari kisah-kisah di dunia maya. Tak ada kata lekang untuk belajar, tak ada kata terlambat menjadi pintar. Berbagi cerita juga bisa melepas beban menjadi bahagia.

I am a woman in process. I’m just trying like everybody else. I try to take every conflict, every experience, and learn from it. Life is never dull.
Oprah Winfrey

Sinta Yudisia
Penulis, Mhs Psikologi Univ 17 Agt 1945 Sby

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s