Dusta Putih, Cantik Merona, Aura Quran

Dalam Child Development, Elizabeth Hurlock mengutip pendapat Helson tentang kreativitas pada anak-anak. Anak yang kreatif menunjukkan minat dan pengalaman dalam bidang imajinatif, melukis, mengarang cerita atau bermain sandiwara.
Di sisi lain Torda berpendapat bahwa kreativitas bukan hanya bergantung pada potensi bawaan khusus tetapi juga pada mekanisme mental.
Ekspresi kreativitas pada masa kanak ditandai dengan Animisme, Bermain Drama, Teman Imajiner dan White Lies atau Dusta Putih. Dari semuanya, tampaknya Teman Imajiner dan Dusta Putih paling memancing diskusi seru. (Animisme adalh kecenderungan untuk menganggap benda mati seperti hidup , misal anak jatuh, ia akan menyalahkan lantai yang nakal).
Dusta Putih bukan berbohong seperti yang dikenal bagi orang dewasa.
Dusta Putih dianggap sebagai keinginan untuk menonjolkan diri, sementara berbohong adalah untuk melindungi diri dengan memanipulasi atau menipu orang lain. Banyaknya Dusta Putih berasal dari melamun, dimana anak melamunkan menjadi pahlawan penakluk, pahlawan yang menderita atau melamun menderita penyakit (Hurlock,1978)
Berbicara mengenai white lies atau dusta putih, anehnya dipercaya sebagai salah satu senjata pula dikalangan orang dewasa bahwa di dunia ini terdapat salah satu langkah penyelamatan situasi dengan berbohong, berdusta demi kebaikan. Padahal seharusnya, teman imajiner dan dusta putih sudah tidak dilakukan lagi usai masa kanak & anak, kecuali dalam beberapa situasi yang sangat mendesak. Dalam agama diperbolehkan dusta ketika akan memperbaiki hubungan suami istri, dalam peperangan. Tidak dalam kondisi sehari-hari yang jauh dari kondisi genting.
Terkait dusta putih, bagaimana jika sebagai orang dewasa kita harus menjelaskan sesuatu pada anak-anak hal yang mungkin sedikit di luar jangkauannya?
Sedikit pengalaman ini mungkin bisa menjadi bahan sharing.
Dunia kita dikepung informasi yang seringkali tidak masuk akal, misal kecantikan perempuan ditampilkan dalam postur tubuh sangat langsing dan kulit putih pucat. Padahal mustahil orang Asia yang berkulit coklat akan mampu meng amplas kulitnya sewarna mutiara. Apakah lalu perempuan Asia tidak cantik? Generalisasi kadang-kadang membuat anak-anak berpikiris sempit dan mereka menjadi resah. Putri saya, sempat merasa tak cantik sebab ia bukan mewakili cermin di televisi : cantik merona.
Sebagai seorang ibu, tentu tak terima. Setiap ibu pasti menganggap anaknya paling tampan dan cantik. Tetapi bagaimana mengatakan hal itu sebagai suatu hal alamiah tanpa berbohong pada anak-anak? Sekalipun anggota keluarga bukan televisi minded, ketika menoton berita berseling iklan, informasi itu masuk juga ke memory anak-anak. Kalau saya mengatakan ,” kamu cantik sekali,” kepada putri saya yang pertama, dengan santai ia menjawab.
”Ya iyalah Mi….anak Ummi sendiri!”
Ia sudah bisa berpikir rasional di usianya yang remaja. Mungkin wajahnya biasa, tetapi di mata saya sebagai ibu, ia akan tampil cantik saat rapi berkerudung, saat sholat malam dan kesukaannya membaca yang di atas rata-rata memang menampilkan kemampuan berdiskusi.
Si kecil yang masih 3 SD, membutuhkan trik khusus.
”Mi, temanku si X banyak teman-temannya, ” keluhnya. ”X cantik sekali sih…”
Memang, si X ini seorang gadis kecil yang cantik, putih bersih kulitnya dengan mata berbinar dan bibir merona. Persis seperti stereotipi iklan televisi.
Kalau saya katakan putri saya jauh lebih cantik dari X, atau sama cantiknya seperti X, dustakah? Kalau saya katakan bahwa kulitnya yang coklat, sama indahnya dengan kulit putih, dustakah?
Kami berdua lalu bercermin.
Dengan wajah saling menempel, saya amati wajahnya yang masih ranum dan muda.
”Tuh, Nis lebih cantik dari Ummi,” pujiku.
”Ya iya laaah,” mulutnya mengerucut. ” Ummi lebih tua, aku lebih muda.”
Gubrak! Hehe…saya ternyata sudah tua ya?
”Bukan itu,” kugelengkan kepala. ” Tahu nggak kalau orang Perancis dan orang Australia suka dengan kulit warna karamel seperti kita sampai menjemur diri , sampai ada yang kena kanker kulit?”
Putriku mengamati diri kami seksama.
Kami bercermin dan kukatakan,
”….Nis jauh lebih cantik dari Ummi,” pujiku tulus.
”Kenapa bisa, Mi?”
”Soalnya hafalan Quran Nis jauh lebih banyak dari Ummi.”
”Lho, Ummi kan hafal Al Baqarah (juz 1), sementara aku baru juzamma?”
”Iya, tapi seusia Nis, Ummi belum hafal Quran sebanyak itu. InsyaAllah kalau Nis lebih besar, akan jauh lebih banyak hafalan Qurannya. Dan tau nggak, orang yang banyak hafalan Qurannya punya aura khusus di wajahnya sehingga ia terlihat bersinar cantik merona?”
Apa yang saya jelaskan ternyata membekas.
Sekarang, tiap kali Nis berkaca, ia sesekali berkata,
”Aku lebih cantik dari Ummi.”
”Kenapa emangnya?” saya memancing.
”Soalnya hafalan Quranku lebih banyak dari Ummi.”
Saya tidak sedang menerapkan white lies disini. Dusta Putih tetap harus dipilih sangat hati-hati, dan jangan lakukan ketika sedang membangun konsep diri yang menjadi dasar – amat sangat basic- bagi kepribadian anak manusia kita. Pilihlah alasan rasional, berbasis aqidah dan akhlaqiyah. InsyaAllah mujarab

2 thoughts on “Dusta Putih, Cantik Merona, Aura Quran

  1. dhone berkata:

    saat menulis ini kita lagi ngumpul ber3….vertical zone nya di upgrade terus ya adik ku…..adonmamaheris…miss u

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s