{Ulasan Novel} ~ROSE~ Sinta Yudisia oleh Fauziyyah Arimi

Membaca fiksi dengan tokoh utama yang membawa serta konflik berlapis-lapis dalam kehidupannya dan menjadi alasan perjuangan yang panjang, mungkin bukan hal yang langka. Bila pernah membaca ‘Ketika Mas Gagah Pergi..dan Kembali’ terselip cerita tentang Ita. Cerita yang menghadirkan Ita dengan kesedihan berlapis-lapis -yang sepertinya secara nyata-, kita akan berpikir bahwa mustahil lapis demi lapis kesedihan atau konflik itu sanggup terselesaikan dengan tuntas. Novel ini pun, demikian. Awalnya menggantungkan pertanyaan itu lewat sinopsis di sampul belakangnya.


Bagaimana bisa Mawar berpikir untuk menanggung anak hasil hubungan diluar pernikahan kakaknya? Lalu memutuskan berhenti kuliah, merintis usaha untuk membantu kakak sulungnya mempertahankan kesejahteraan keluarga? Pun ketika telah matang dan kondisi keluarga membaik, Mawar memilih untuk mendukung adiknya menikah karena memang telah dilamar oleh laki-laki bermartabat. Bagaimana ia tidak mempersoalkan gunjingan ‘perawan tua’ sementara ibunya justru bersedih dan sebenarnya tak ingin ia dilangkahi menikah oleh si bungsu. Dan ketika telah beberapa tahun ia membesarkan Yasmin hingga menjadi anak yang baik dan pintar, bagaimana caranya ia bisa rela menanggapi keinginan kakaknya yang hendak merebut Yasmin dari sisinya?

Bagian awal novel ini, kurang saya nikmati. Karena belum terasa mengalir saat membaca dua episode awal. Tapi itulah, permulaan memang tidak selalu mudah. Selanjutnya, tulisan mba Sinta mengamini antisipasi saya. Bahwa karyanya memang kaya. Tidak ada sudut pandang tokoh yang terlampau dominan, tapi hal tersebut tidak membuat rasanya setengah-setengah. Lalu narasi latar yang tata kalimatnya memikat, indah. Alurnya tidak begitu lambat, tidak pula terlalu cepat. Mungkin tema yang diangkat, sekilas serupa sinetron zaman sekarang. Tetapi toh novel ini tidak dramatis yang lebay, tapi dramatisnya natural. Dramatis yang bisa diterima nalar.

Perubahan menjadi lebih baik yang terjadi pada Mawar, pada Melati maupun keluarganya, tidak instan. Dan itulah, asyiknya. Kita mengalir menyaksikan bertumbuhnya mereka. Pertumbuhan yang tidak mudah. Mawar bukan seorang yang terus lempeng dan lapang. Bahwa satu dua kali bahkan ia bertanya letak keadilan Allah terhadap keluarganya. Ada juga saat dia bertanya sendiri, benarkah tindakan-tindakan yang diambilnya? Transformasinya pun tidak sebentar. Tapi karakternya yang begitu kuat mengalahkan melankolisme akut yang mungkin akan melanda kita bila ada di posisi Mawar.

Sejak pertengahan novel, airmata saya meluruh. Mba Sinta berhasil mengaduk-aduk perasaan saya. Sementara saya terus saja iri pada Mawar yang berkarakter nalaria (istilah mba Sinta). Karena saya tahu persis kelemahan perempuan yang berkarakter melankolis. Bahwa orang berkarakter nalaria lebih memiliki potensi berpikir positif dan cepat bangkit. Lalu saya ingin menjadi seperti Mawar. Mungkin itu juga akan diinginkan pembaca lain.

Mawar bukan tokoh yang beranjak cemerlang secara materiil tapi ia beranjak kaya dalam hatinya hingga tercermin dalam transformasi dirinya. Kedewasaannya menajam, akhlaknya semakin cantik. Segambreng permasalahan yang menghampirinya, seperti pasir-pasir yang ia simpan dalam cangkangnya yang mulanya membuat ia kesakitan tapi kemudian balik menghadiahinya dengan mutiara. Bagaimana bisa tidak iri?

Ketika akhirnya Mawar mendapatkan pasangan, kisahnya tidak seperti Cinderella yang menemukan pangeran berkuda. Mungkin hal ini mematahkan kebiasaan cerpen dengan tema bernada sama, tapi itu nilai relevannya. Lalu tidak semua karakter berhasil mencapai titik balik dan beralih menjadi dominan protagonis. Dan begitulah, tidak selalu mudah memelihara ‘kebenaran’ yang telah Allah titipkan.

Satu hal yang sangat kental, novel ini menyuguhkan rupa pengorbanan. Tak perlu disesali, tak perlu diratapi, karena nantinya pengorbanan tersebutlah harga bagi pendewasaan diri.

Rose, adalah fiksi yang dipikirkan dengan matang. Diniatkan untuk mencerahkan. Begitu kan, mba Sinta?😛

Ah ya, banyak kuotasi yang bersepakat dalam nalar dan begitu diterima oleh hati. Seperti:

“Tetaplah mencari ilmu tentang kebenaran hingga ia berpijak diatasnya dengan teguh. Sampai nanti kita sudah salih pun, tetaplah belajar. Karena hidayah itu secara sunnatullah harus dipelajari dan dipelihara.” –halaman 167

“..Tapi, semakin kamu mencari jawaban diluar agama, semakin akan hancur hidup kita. Kita akan semakin terbentur-bentur pada persoalan yang makin tak terurai karena kusutnya.” –halaman 171

“Kata orang, berdoa adalah katarsis. Mencurahkan semua beban hingga tanpa sisa kepada pendengar, tanpa interupsi. Siapa lagi pendengar yang mampu menampung segala tanpa bertanya (kecuali Allah)?” –halaman 246

Bahkan ada kalimat filosofis tentang anak-anak: “Anak-anak tak pernah merasa lelah, tak pernah menyimpan keburukan di hati, tak pernah merasa dieksploitasi. Anak-anak adalah rancangan alami siklus kehidupan. Permata yang menghiasi rantai kebosanan kehidupan orang-orang dewasa, zamrud yang memberikan pendar kecantikan. Aroma wangi yang menyempurnakan bunga tercipta.” –halaman 70

Baiklah teman, akhirul kalam, Selamat Membaca🙂

5 thoughts on “{Ulasan Novel} ~ROSE~ Sinta Yudisia oleh Fauziyyah Arimi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s