Feeling Lonely : saat merasa sendiri, kesepian, tak dicintai (Tulisan I )

Pernah suatu masa.
Teman entah kemana, sibuk dengan blackberry dan agenda sendiri-sendiri. Sahabat sedang dirundung masalah. Pacar? Baru putus sepekan lalu. Orangtua jauh. Kuliah menuntut perhatian ekstra.
Maka Mira –sebut saja demikian- merasa demikian kesepian.

”Aku adalah orang, yang jika diberi perhatian sedikit saja, akan mudah jatuh cinta.”
Itu memang watak manusia.
Selalu membutuhkan teman untuk berbagi, maka jejaring sosial betul-betul mengobati kerinduan akan hilangnya moment kebersamaan meski, maya sifatnya. Mira satu dari sekian banyak gadis cantik metropolis yang selalu membawa BB, hatta ke kamar mandi sesaat sebelum buang hajat.
Orangtua Mira mungkin tipologi orangtua sederhana yang berharap, saat Mira kuliah ke kota besar maka ia akan mengejar cita-cita setinggi awan.
Percepatan informasi, hubungan sosial, workacholic, entah mengapa membenamkan Mira yang bekerja & kuliah justru semakin kesepian. Ah ya, ia lalu bergonta ganti pacar demi mengobati kebutuhannya akan afeksi. Dan pacar-pacar yang sama kesepian seperti dirinya, lalu pergi tanpa kepastian. Beruntung belum MBA meski tentulah french kissing ala anak muda sekarang dilakukan.
Luna, pun demikian –nama samaran-.
Menghabiskan waktu dengan dugem, music, travelling, BB demi mengobati kesepian akibat berpisah dari kekasih hati.
Mira dan Luna hanya sedikit perwakilan dari para gadis, perempuan muda, yang megap-megap kehausan mencari makna cinta. Bagi yang pernah merasa kehilangan, patah hati, sendiri, pasti akan merasakan keheningan menyakitkan dalam diri Mira dan Luna. Malam yang dingin dalam bayang-bayang kerinduan akan datangnya pangeran yang akan mengusap airmata; sebab Mira dan Luna memang perempuan muda yang harus strong, strong, strong and never being weak!
Berteman, music, travelling, shopping adalah pemuas dahaga yang menyenangkan. Berkawan dengan sebanyak teman perempuan dan lelaki, dari berbagai kalangan, menimbulkan kegembiraan. Seharusnya Mira dan Luna tak kesepian lagi. Tetapi mengapa mereka masih terus tertatih, putus sana sini, menyambung asa dengan pemuda yang juga sama rapuhnya, lalu menangis diam-diam terbenam dalam bantal ketika cinta yang diharapkan tak datang?
Betulkah cinta sejati, the true love sudah mati seiiring masuknya era manusia ke zaman millenium?
Simak nasehat seorang ibunda tua berusia 70 an tahun yang kenyang asam garam kehidupan.
”Nak, kalau kamu cari lelaki di tanah abu-abu, ya kehidupan macam itu yang kamu dapatkan. Tapi kalau kamu cari lelaki di masjid, insyaAllah kamu akan dapati pengobat hatimu.”
Mira dan Luna.
Memang masih mencari tambatan hatinya di kampus, di jalan, di cafe, di dunia maya. Mereka belum tahu –atau enggan- untuk memulai sebuah pertemanan, persahabatan, mungkin juga pada akhirnya kisah cinta di lantai-lantai masjid. Pemuda di masjid boleh jadi tak tahu lagu Price Tag- Jessie J ; tak tahu cafe mana yang biasa dipakai mahasiswa untuk meneguk sekedar pink lady atau vodka. Pemuda masjid ini mungkin juga terasa sedikit membosankan sebab mereka tak tahu apa beda boysband Korea dan Jepang; tak tahu bagaimana cara merayu para gadis selain berkata ,” …wahai teman putriku, kamu sudah siap nikah atau belum?”
Mira dan Luna.
Tentu tak merasa bahwa pemuda masjid yang berkutat dengan Quran ini adalah lelaki romantis yang dapat mengobati kesepian hati.
Al Hadiidu bil hadiidi. (tolong koreksi yang jago bahasa Arab)
Besi dilawan dengan besi.
Kesepian? Tak selamanya dilawan dengan hingar bingar music dan dugem di bawah redup lampu. Kesepian sesekali waktu harus dilawan dengan keheningan.
Di lantai masjid, atau sajadah kamarmu.
Dan Mira, juga kau Luna, lelaki romantis yang mengobati kesepian akan dukalara di masa lalu tidak selalu mereka yang pandai mengirim setangkai bunga, parfum, baju, mengirimkan kalimat-kalimat cinta yang membuatmu mabuk kepayang.
Ia, yang mengobati kesepian hati mungkin saja terlihat dingin, pada awalnya.
Romantisme, akan ia berikan ketika engkau telah menjadi hak mereka.
Carilah di lantai masjid.
Sebelumnya, bicaralah pada Tuhan di atas sajadah.

Untuk beberapa rekan cantik yang kukenal, your love is just right here

When one door closes, another opens; but we often look so long and so regretfully upon the closed door that we do not see the one which has opened for us ~ Alexander Graham Bell


~ sebuah pengantar bagi mereka yang kesepian dan mungkin mendapatkan sesuatu dari novel Rose – Sinta Yudisia ~

6 thoughts on “Feeling Lonely : saat merasa sendiri, kesepian, tak dicintai (Tulisan I )

  1. Putri Jowo berkata:

    Ini saya sekali mbak.
    Saya tuliskan kata “merasa sendiri” di search engine Google dan keluarlah sekian link, termasuk blog ini. Feeling lonely, meskipun saya sudah berusia 24 tahun. Tapi perasaan itu sudah ada ketika saya masih di Sekolah Dasar, meskipun saya suka sekali berada di keramaian dan mempuniyai banyak teman, Tp saya tetap merasa sendiri….
    Tp ada kalimat-kalimat diatas yg menjadi tamparan utk saya, terutama “Sebelumnya, bicaralah pada Tuhan di atas sajadah.”
    Terima kasih ya mbak🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s