MEMANIPULASI TES PSIKOLOGI

Sudah pernah menjalani tes psikologi?
Bagi adik-adik SMU, biasanya sekolah mengadakan beragam tes minat bakat. Tes IQ juga dilakukan di sekolah-sekolah; ada yang mulai SD. Bagi rekan-rekan yang melamar pekerjaan, biasanya juga menjalani serangkaian psikotest.
Pertanyaannya sekarang : bisakah tes psikologi dimanipulasi agar menghasilkan hasil yang baik atau pur-pura baik – faking good?

Seorang teman bertanya apa yang harus dilakukan, kunci-kunci jawaban bila harus menjalani psikotest. Ia berkata, setiap tahun perusahaannya melakukan tes tersebut, terutama ketika mnyeleksi jenjang manager. Teman ini ingin sekali lolos, ia ingin diberitahu bagaimana agar hasil tesnya baik.

EGO INVOLVEMENT
Ego involvement adalah penekanan sangat penting yang diberikan tester sebelum test berlangsung. Apa sih ego involvement? Tester akan memberikan masukan bahwa semua ini demi kepentingan testee (orang yang ditest); bukan kepentingan perusahaan apalagi biro psikologi. Mengetahui hasil tes yang sesungguhnya adalah tujuan alat test tersebut dibuat, bukan hasil fiktif demi kepentingan sesaat. Banyak sekali kunci-kunci dijual tentang psikotest, tetapi apakah berfaedah untuk testee?
Sebuah perusahaan pernah membutuhkan assisten manager. Syaratnya hanya cerdas. Ketika ditanya, apakah tidak membutuhkan kriteria lain? Dikatakan tidak. Perusahaan X tampaknya tidak cukup percaya pada tes psikologi dan hanya mengandalkan kecerdasan. Maka seorang karyawan cerdas bernama A diterima. Belakangan A dirawat di Rehabilitasi Mental. A bukannya tak cerdas, sangat brillian malah. Tetapi ia ternyata tak bisa bekerja di bawah tekanan. Ketahanan kerjanya tak cukup baik, apalagi dibawah deadline waktu dan semburan negatif atasan. A stress berat, belakangan ia diketahui memiliki serangkaian karakter bermasalah. A bahwa harus dirawat beberapa waktu tetapi pada akhirnya sembuh. Syarat kembalinya ke kantor X tersebut : jangan di bawah atasan yang dulu. Di bawah atasannya kini yang lebih kooperatif, A melejitkan potensi.
Kita pembohong, tidak konsisten, tidak mampu berkomunikasi, tidak cukup punya nalar, emosional, agresif dlsb; takutkah untuk mengetahui sisi ”gelap” diri kita yang sesungguhnya? Demikian takut untuk melihat kebenaran hingga menutupinya dengan topeng, berpura-pura baik agar lolos tes?
Melihat hasil tes psikologi yang sesungguhnya, sangat penting bagi diri sendiri. Kalau hasil tes menunjukkan kita orang yang tidak teliti, tidak punya daya tahan kerja yang baik, sementara minat ingin ke bidang-bidang yang membutuhkan kecermatan tinggi, sangat berbahaya bila memaksakan diri. Kelak; perasaa jenuh, putus sa bahkan depresi akan menghinggapi bila hasil tes yang sesungguhnya ternyata direkayasa. Tetapi bila hasil tes tersebut menjadi data dan fakta yang digunakan demi up grading, alangkah baiknya!
Bila hasil test menujukkan kita orang yang cepat lelah, di sisi lain merupakan orang yang agresif; maka kita akan menghindari bekerja dalam tekanan tinggi yang menyebabkan daya tahan cepat terkuras. Orang yng sangat lelah cenderung sensitif, tegangan emosinya tinggi.
Ego involvement, berarti testee diminta bersungguh-sungguh, berupaya jujur agar hasil tes dapat optimal dan mencerminkan sebenar-benar kemampuan.

PERSIAPAN TEST

Seorang rekan bertanya, apa yang harus dilakukannya dalam tes Wartegg?
”Katanya, kalau bertemu garis lengkung harus begini, ketemu titik harus begitu, ketemu garis harusnya jangan demikian ya Mbak?”
Ups.
Okelah, mungkin ada beberapa kunci yang dijual bebas dipasaran sehingga alat tes tertentu tidak valid lagi. Benarkah demikian?
Beberapa orang sudah berkali-kali mengerjakan tes Pauli atau Kraepelin, tetapi bagaimana hasilnya?
Simak kisah testee bernama samaran Bayu.
Ia mengaku berkali-kali mengerjakan tes Pauli, untuk kesekian kali di tes lagi. Ternyata, meski mengenal tes tersebut berkali-kali, tetap saja apa kondisi dirinya saat itu mempengaruhi. Bayu yang sedang sangat lelah, tertekan, menunjukkan hasil tes Pauli yang demikian.
Lain lagi dengan Lola (samaran). Gadis cerdas, ber IQ 122. Tetapi untuk mengerjakan tes Kraepelin yang sangat sederhana, sebagian besar skornya meunjukkan kategori kurang sekali!
Apa yang salah dengan Bayu dan Lola?
Bayu : terlalu lelah, tertekan. Ia yang sudah berkali-kali mengerjakan tes Pauli yang hanya menjumlahkan angka 1 digit dari atas ke bawah, nyaris tak menghasilkan skor dengan kategori baik. Seharusnya, untuk tes apapun, fisik dan mental harus dipersiapkan. Tidur cukup, makan cukup, tinggalkan sejenak persoalan di belakang (kecuali untuk beberapa tes proyektif yang memang diperuntukkan untuk menggali permasalahan saat ini).
Lola : gadis cerdas ini cenderung meremehkan hal kecil. Kebetulan, ia juga pernah mengerjakan tes yang katanya ,”…mirip banget dengan yang ini.” Ia terlihat santai, cuek, dan tak terlalu menggubris instruksi. Tes Kraepelin yang mirip tes Pauli akhirnya gagal di tangannya. Lola juga mengenakan gelang di tangan kanan, sesuatu yang harusnya dilepaskan saat tes sebab sangat mengganggu proses motorik. Semua perlengkapan (termasuk perhiasan, alat elektronik) yang mungkin mengganggu sebaiknya dilepas saja. Dan, perhatikan instruksi. Sebab ini menentukan kualifikasi, apakah anda orang yang mengerti rule atau tidak. Secerdas apapun orang, bila tak mau mengikuti rule dalam permainan, ia akan tercampak.
Belajar dari Bayu dan Lola rasanya cukup bagi kita bahwa persiapan fisik dan mental adalah bekal paling berharga, bukan bocoran jawaban test

PERHATIKAN WAKTU

Hal ini berkaitan dengan instruksi.
Apa yang dikatakan tester? Waktu tidak terbatas, waktu sangat terbatas, waktu terbatas tetapi cukup? Soal harus dikerjakan semua?
Tidak ada yang aneh dalam tes psikologi. Anda tidak harus menggambar rancangan 3 dimensi yang rumit, atau mengarang sebuah cerita novel untuk test TAT/CAT. Lakukan yang terbaik sesuai kemampuan, jujurlah dan cobalah untuk waspada terhadap waktu yang ditegaskan oleh tester.
Waktu penting untuk banyak hal.
Anda akan terlihat sebagai orang yang cepat merespon, lambat merespon bila ternyata tidak sesuai waktu yang ditentukan. Jangan terburu-buru juga, jadilah apa adanya. Terburu-buru yang mengabaikan ketelitian juga tak akan bagus.

BE YOURSELF
Awalnya, saya tak terlalu percaya tes psikologi (padahal saya kuliah di sini)
Ternyata, kasus menghebohkan Andrea Yates (naudzubillahi mindzalik…) yang membunuh 5 anaknya sediri di tahun 2001, salah satu tes yang digunakan untuk merekam profile kepribadiannya adalah TAT.
Tes-tes sederhana yang akan dilalui pada tes bakat minat, tes pekerjaan, tes IQ hanyalah serangkaian tes seperti kalau mengerjakan soal evaluasi ujian. Tidak usah takut! Jadilah diri sendiri dan cermati profile yang muncul nanti. Saran dari psikolog tentu jauh lebih berharga bagi pengembangan kapasitas diri daripada berlaku faking good/faking bad yang akhirnya menyembunyikan jatidiri sesungguhnya.
Seberapa lama bisa memakai topeng?

Next : mengenal berbagai tes psikologi, InsyaAllah…

One thought on “MEMANIPULASI TES PSIKOLOGI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s