Anak yang tak punya apa-apa : tak punya motivasi, tak punya cita-cita, tak mau sekolah dan tak mau bekerja

 Anak yang tak punya apa-apa : tak punya motivasi, tak punya cita-cita, tak mau sekolah dan tak mau bekerja

            Sebuah kasus nyata, saat dosen sedang membahas dinamika kelompok.

            Contoh terkecil adalah keluarga, dimana konsep-konsep behavioristik sederhana berlaku : reinforcement (perkuatan), modeling (meniru), identifikasi.

            Maka kami terpaku ketika sang dosen bercerita sebuah kasus, nyata, nama & tempat disamarkan.

            Sebut namanya Andre ( seperti nama seorang tokokhku di Existere …J) dan Soni. Andre sekitar 20 tahun, adiknya sekitar SMU. Anak pejabat bank , hidup kaya, serbar berkecukupan. Yang mengherankan, Andre tak punya semangat apa-apa. Tak mau sekolah, mogok kuliah, nggak mau kerja. Kerjanya main melulu, menjual apapun yang ada di rumah. Andre nggak peduli, kalau mau ke suatu tempat naik pesawat PP, tinggal minta, tanpa tujuan jelas.

            Mama Andre seorang perempuan ibu rumah tangga asli, luarbiasa sabar, melayani setiap kebutuhan keluarga sebaik-baiknya. Ayahnya cerdas, karirnya bagus.

            Pertanyaannya : jika konsep Albert Bandurra, seseorang bertingkah laku karena meniru, meniru siapakah Andre dan Sony, sementara mereka berdua hidup di kalangan terpelajar, baik, cerdas, dinamis? Ayah ibunya orang baik-baik, sekolah di sekolah terbaik?

            Maka beberapa point di bawah pantas menjadi catatan.

            Siang usai kuliah, saya langsung menelepon suami, dan berterimakasih padanya….sesuatu yang mungkin saya lupakan. Berterimakasih karena dengan segala kelelahan suami mencari nafkah halal dan berda’wah, ia masih menyisihkan waktu di tengah kesempitan bagi anak-anaknya. Point discrepancy (kita tidak menyebtnya kegagalan karena bisa jadi keluarga tersebut akan bangkit, insyaAllah) keluarga Andre – ketidaksesuaian antara input dan output :

  1. Ayah Andre, termasuk tipe yang tidak dapat berkomunikasi dengan anak. Ia penuhi semua kebutuhan anak, tapi hanya sambil lalu ketika di rumah. Ia punya waktu di rumah, tapi tidak dipergunakan untuk menjalin hubungan. Ada atau tidak ada papa Andre, sama saja.
  2. Ibu Andre, tipe ibu yang begitu melayani. Ia layani kebutuhan anak-anaknya :…sampai-sampai sejak kecil membantu anaknya mengerjakan PR, membantu anak-anaknya memasukkan buku ke tas sekolah. Sembari Andre memainkan playstation, si ibu mendikte PR : ”nak, ini jawabannya apa?” Ketika Andre hanya terpaku pada mainan, maka sang ibu mengerjakan PR Andre. Andre dan Sony, di tengah ke-serba-kecukupan- bahkan tak pernah diajarkan untuk mandiri ; walau hanya secuil beban kerja. Saat remaja, memasuki usia dewasa awal, Andre belum memahami tugas-tugas perkembangan : apa yang harus dilakukan anak usia 17? Apa yg harus dilakukan anak usia 20?

Andre sempat berkata bahwa ia membenci ayahnya. Tetapi mengapa tindakannya justru menyakiti sang ibu, bukan sang ayah?

-sang ayah sangat menyeramkan

-Andre membenci ayah, tetapi menirunya dengan menyakiti sang ibu (mengabaikan sang ibu) à reaksi formasi. Andre membenci ayah, dekat dengan ibu tetapi berkelakukan seperti yang sebaliknya (justru seolah mendukung ayah dan membenci ibu).

Apa yang terjadi dalam keluarga Andre & Sony mungkin hanya perkara sepele, bagi mereka yang memiliki tabungan besar. Tetapi kita tak ingin jika suatu saat kelak , kita memiliki kekayaan memadai, anak-anak kita tidak bertanggung jawab apalagi menyakiti orang tua.

Usai kuliah tersebut , setidaknya ada dua hal sederhana tetapi penting dalam keluarga kita:

* perhatian sederhana, sapaan ” hai sayang? Apa kabarmu?” terutama jika sang ayah/ib telah bekerja seharian di luar. Bagaimanapun secara realita, kehidupan ekonomi yang mendesak, terkadang mengharuskan orangtua untuk bekerja keras (jika ingin mendapat uang halal)

 * kebiasaan ibu yang demikian menyayangi dan ”ingin cepat selesai” ternyata tak menumbuhkan kemandirian & tanggung jawab. Jika ingin membantu anak mengerjakan tugas, bantu usai anak berusaha. Capek memang, tetapi insyaAllah lebih berdaya guna.

Misal : aku benci matematika dan fisika! Sekalipun kita juga benci (haha…) maka kita perlu mendorong : rumus yang mana, Sayang? Yuk, coba kita kerjakan sama-sama.

Untuk matematika dan fisika, anak saya yang I mudah mengerjakan. Anak saya yang II cepat menyerah. Maka saya perlu energi ekstra (kadang juga rada-rada marah melihat upayanya yang males…..belum-belum sudah beralih pada corat coret gambar manga!) tetapi saya tetap mencoba : ayo kerjakan bareng-bareng! Yang mana sih yang kamu gak bisa? Melihat saya juga mengerutkan kening mencoba memahami soal, mencorat coret rumus dan mengerjakan sejumlah angka; setidaknya anak akan berpikir…”oh, kalau mau bisa memang harus begitu ya?”

Saya diskusikan hal ini dengan Inayah. Saya katakan ” Alhamdulillah ya In…keluarga kita sederhana. Ummi harus minta kalian untuk mandiri mengerjakan ini itu…kalau nggak, wah, capek deh kalau anak-anak Ummi gak punya tanggung jawab!”

3 thoughts on “Anak yang tak punya apa-apa : tak punya motivasi, tak punya cita-cita, tak mau sekolah dan tak mau bekerja

  1. Assalamualaikum wr.wb.

    Senang menemukan blog Mbak Sinta di sini. Isinya berbobot dan bermanfaat.

    Saya sangat suka novel Mbak Sinta yang berjudul “The Road to the Empire”.

    • Wa’alaykum salam warahmatullahi wabarakatuh. Terimakasih dek…insyaAllah mei ini terbit TAKHTA AWAN, lanjutan the Road to The Empire. Doakan ya…;-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s