Belajar menjadi Ibu & Perempuan ala bu Siti Fadillah Supari, Bu Yulyani, dan Sinta Yudisia :-)

16 April 2011, di ruang Robotik ITS.

Suatu kehormatan dapat bersanding dengan bu Fadilah dan juga mbak Yeyen, panggilan Yulyani. Di bawah ini beberapa rangkuman yang bisa dipetik dari diskusi panel kami.

Keberanian bu Fadillah

Bagi yang sudah membaca buku “Saatnya Dunia Berubah” atau “ “Tatkala Leukemia Meretas Cinta” akan dapat menemukan nuansa lain dari keberanian, perjuangan perempuan. Saya pribadi terkagum-kagum, terhenyak, menyantap tulisan perjuangan bu Fadillah. Meski perjuangannya meraih pro dan kontra (tidak akan kita bahas disini), pasti orang bertanya tanya : kenapa kok perempuan berani demikian? Bu Fadilah menceritakan bahwa semua karakter yang beliau miliki merupakan didikan keluarga dan ibunda beliau. (Catat : lagi-lagi keluarga dan ibu adalah pondasi )

Dengan jumlah saudara 9, bu Fadilah terbiasa harus bersikap adil antar sesama saudara. Satu catatan menggelikan tetapi mengesankan adalah pesan dari sang ibunda yang direpresentasikan dalam kehidupan sehari-hari untuk bersikap adil. Di keluarga, saat makan, lauk harus dibagi 2. Semua harus punya sparing partner. Lauk telus rebus, misalnya, 2 orang saudara harus ping-sut. Tau kan? Yang pakai jari jemari, telunjuk VS jempol = menang jempol, kelingking VS jemppol = menang kelingking dst. Nah, yang menang harus membagi telur dengan benang. Dan….yang membagi telur dengan benang TIDAK BOLEH MEMILIH PERTAMA KALI. Sehingga, yang kebagian mengiris (membagi dengan benang) harus hati-hatiiii…supaya adil, sebab ia akan kebagian giliran terakhir untuk memilih! Kisah kecil ajaran ibunda bu Fadilah menggoreskan prinsip, bahwa sikap adil harus dimiliki oleh orang yang saat itu tengah punya kekuasaan. Itulah sebabnya ketika menghadapi permasalah strain virus, bu Fadilah ingin rakyat Indonesia mendapatkan bagian yang adil.

Cinta versi yang lain

Membaca ”Tatkala Leukemia Meretas Cinta”, membuat mata berkaca-kaca. Padahal saat itu saya tengah menghadiri acara akbar, sembari menunggu waktu, saya baca novel tersebut. Novel itu membuat kita akan merenung akan makna pernikahan dan cinta. Banyak sudah kisah cinta yang menginspirasi tetapi ada tulisan bu Fadilah yang semakin membuat saya yakin, mencintai, menghargai lembaga pernikahan . ………. indahnya cinta tak harus hadir dalam jubah kebahagiaan, tetapi bisa berbaju koyak ketidakcocokan, cinta bisa bicara dalam duka derita. Apapun, cinta sejati tak pernah ada penyesalan…… Sejak saat itu saya menjadi sadar, bahwa pernikahan tak selamanya harus tenang, cocok, bahagia untuk dikatakan pernikahan penuh cinta. Justru ketika kita berselisih faham dengan suami dan anak-anak tentang beragam hal : ekonomi, peran, dakwah, keluarga; saat itulah pernikahan cinta kita tengah mengalami pengukiran, pemolesan dan semoga nilai-nilainya akan dapat diwariskan. Badai yang menghantam sendi-sendi kerumahtanggaan, membuat kita sangat kecewa terhadap pasangan, semoga bisa mendewasakan kedua belah pihak.

Pengusaha dan Negarawan versi mbak Yeyen

Berangkat dari 7 bersaudara dengan orangtua pegawai negeri, mbak Yeyen terbiasa menjual apapun ketika kecil. Tomboy, jago menari, mayorette pula. Untungnya beliau kemudian berjilbab. Ia menolak disebut politikus, lebih memilih disebut negarawan. Beliau mengingatkan, jangan jadi anggota dewan sebelm kaya. Mbak Yeyen mengingatkan betapa pentingnya menjadi pengusaha. Pengsaha memberikan kontribusi luarbiasa besar dalam perptaran negara. Tingkat pertumbuhan ekonomi di AS sekitar 20%, Indonesia 0,001%!

Ini karena anak-anak muda di AS terbiasa mencari uang sendiri dengan mencuci mobil dst. Karakter wirausaha harus dididik sedini mungkin. Yang membuat saya dan Inayah (kebetulan Inayah saya ajak ke acara tersebut) bersemangat : banyak sekali pengusaha muda yang kayaraya! Marc Zuckenber, misalnya, dan masih banyak lagi.

Usai acara, Inayah bersemangat : ayo Mi, kita jualan kue! Saya hargai semangatnya. “Gak papa In, kita mulai dari yang kecil, jualan kue ke teman-teman. Nanti pengalaman itu akan membuat kita semakin mengerti dunia bisnis. Tapi….sempatkan juga menulis barang sedikit ya? Jangan tinggalkan pekerjaan ulama itu…!” Sekarang bisnis mb Yeyen mulai baju Dannis, sekolah, rumah makan, dan juga bisnis jaringan. Yang membuat saya iri , mb Yeyen cerita bahwa beliau akan umroh dengan beberapa saudara. Ia membiayai ongkos saudara2nya. Wah…senangnya bisa beramal seperti itu. Hm, rasanya apa yang disampaikan oleh mb Yeyen ada benarnya. Jika Allah SWT memberi 19 pintu bagi usahawan (maaf kalau salah menukil makna hadits), kenapa harus berdesakan di satu pintu dengan penjadi PNS?

Dunia Literasi dan Kebangkitan Negara

Kalau saya lebih banyak mengupas dunia literasi. Sebuah ilmu, bahkan ketika masih menjadi hipotesa sekalipun, akan sangat baik bila dituliskan. Tulisan itu akan menjadi rekam jejak untuk kemudian dikritik, diperbandingkan, diperbaiki, diperbaharui sehingga muncul tahapan-tahapan keilmuan yang berikut.

Psikoanalisa Sigmund Freud yang begitu membahana, ”hanya” tulisan Freud mengenai Anna O/ Bertha Pappendheim yang histeria. Theodore Hertzl menulis Judenstaat dan Altneuland yang menjadi buku sakti zionisme. Mary Wollstonecraft membuat karya tulis berjudul Vindication of the Right of Woman yang menjadi dasar-dasar gerakan feminisme. Emma Goldman menuliskan pengalaman hidupnya dalam Living My Life, menjadi dasar-dasar gerakan feminis anarkis.

Bagaimanapun ketidaksetujuan kita terhadap pemikiran-pemikiran mereka, rasanya tak ada yang menyangkal bahwa ide-ide mereka menjadi gerakan. Saya pribadi, mengagumi sosok Hasan Al Banna dan ingin sekali mengetahui sepak terjang istri beliau Lathifah As Suli. Tetapi sangat susah menemukan sosok Lathifah dalam bentuk tulisan yang bisa dipelajari; bagaimana berliau membesarkan anak-anak, sukaduka berkeluarga, dst. Gaza, sebuah negeri yang diblokade dan senantiasa dalam intimidasi. Tetapi pemerintah HAMAS dengan kementrian kebudayaan mencanangkan berdirinya perpustakaan-perpustakaan. Sekalipun sebagian bangunan masih kosong, kepedulian terhadap perpustakaan, buku dan dunia literasi menyebabkan negeri kecil seperti Gaza memiliki masyarakat yang cerdas terdidik, dekat dengan ilmu pengetahuan dan senantiasa mau belajar untuk mengatasi semua kendala kehidupan.

Tak ada salahnya, kita meniru Emma Goldman, perempuan yang menceritakan pengalaman hidupnya. Pengalaman pribadi kita sebagai anak perempuan, istri, ibu, pelajar, mahasiswa dst adalah kisah berharga yang dapat ditularkan pada oranglain. Tak perlu merasa rendah diri dan mengatakan : aku ini siapa sampai menulis otobiografi? Emma Goldman sendiri tak menyangka kisah hidupnya menjadi dasar pergerakan. Siapa tahu, kesederhanaan kita, perjuangan kita yang “bukan apa-apa” adalah inspirasi bagi manusia di luar sana.

One thought on “Belajar menjadi Ibu & Perempuan ala bu Siti Fadillah Supari, Bu Yulyani, dan Sinta Yudisia :-)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s