Nasehat Klise Menulis : Tulislah apa yang kau bisa!

Pernah mendengar kalimat ini ketika mengikuti talkshow, seminar, bedah buku, pelatihan, dll dsb etc yang terkait dengan menulis?

Pasti pernah! Ini kalimat wajib yang disampaikan oleh para penulis yang sudah punya karya ketika testimoni dan diberikan lemparan pertanyaan : bagaimana langkah awal menulis? Gimana sih cara menulis padahal kepala kita dipenuhi gudang ide?

 Tulislah apa yang bisa kau tulis!

Ups, itu jawaban buat para trainer ketika mengisi penulisan buat FLP kids, FLP remaja, dewasa, penulis muda-madya-handal.

Basi ah.

Gak ada jawaban atau amunisi yang lebih menggigit dari ”Tuliskan apa yang bisa kau tulis?!”

 Hmh. Klise. Basi. Sudah sering dipakai. Stephen King juga bilang begitu!

 

Suatu ketika…..

            setelah selesai mengerjakan Existere, novel saya tentang Dolly yang insyaAllah sedang proses terbit, saya dilibas jenuh dan capai luarbiasa. Capek deh, sudah sejak 2007 ketika pindah ke Surabaya dan berniat banget buat menulis tentang dunia pelacuran; ngobrak abrik teori psikoanalisa yg terkait gejala seksual; ngubrak abrik referensi ttg pelacuran dengan segala penyakitnya; membaca banyak buku yg terkait dengan pelacuran dan novel2 yg berbau itu (salah satunya Gadis Berbunga Kamelia – Alexandre  Dumas Jr). Bayangkan, dari 2007 hingga 2010!

 Capek berkutat dengan berita perempuan yg menjual diri mulai usia belasan hingga nenek-nenek, mulai dari yg perawan hingga yg hamil tua (naudzubillahi mindzalik).

Capek luarbiasa ketika diri kita dipaksa melihat suatu lembah yang berseberangan jauh sekali dengan apa yang selama ini kita jalani. Ibu rumah tangga, kampus, pengajian, FLP, Quran, sholat, keluarga –adalah bahasan yang biasa kita ucapakan. Capek ketika menyambangi beberapa kompleks pelacuran telinga kita harus terbiasa mendengar perkataan aurat dimana-mana, melihat aurat dipamerkan dimana-mana dan kita tidak tahu harus berbuat apa…..

            Ketika kelelahan itu sudah memuncak dan sudah cukup beristirahat,  maka dunia lain memanggil. Dunia kliping koran, dunia laptop, dunia referensi-ku yang pernuh berisi cerita-cerita tentang para ulama dan sekian puluh hingga ratusan bukunya : Sinta, mannnaaa tulisanmu yang berikut? Existere ini tulisan terakhirmu?

Maka terjengkanglah….

            Oya!

            Aku masih punya janji yang belum kutunaikan pada diriku sendiri : aku akan kembali menulis Takudar. Sosok ini menghantuiku sejak tahun 2000 an, bahkan tahun-tahun sebelumnya ketika aku baru saja menemukan The Preaching of Islam Thomas W. Arnold. Aku akan menulis lanjutannya, kalau perlu, jika waktu memungkinkan akan menuliskan keturunan Khan Mongolia yang kemudian menguasai Persia dan India, bagaimana perjalanan panjang mereka menyebarkan Islam secara damai dan penuh pesona.

Lalu…….

            Existere. Lalu Takudar.

            Mulai dari mana ya? Harus punya kualitas yang makin meningkat. Masa menuliskan Takudar IV copy paste dari The Road to The Empire?

            Terus, aku harus menulis apa?

            Blank.

            Kukumpulkan referensi. Mongolia, masyaAllah, yang ini bukan hanya sejarahnya yang memenuhi laptopku. Musik, seni, militer, kenegaraan, makanan, cuaca, dll dsb. Karadiza sebagai tokoh Persia juga harus lebih detil. Syakhrisyabz juga harus lebih menonjol. Alur ceritanya juga harus lebih tertata berjalin berkelindan. Belum lagi runutan sejarahnya. Ow, ternyata Takudar punya sangkut paut dengan Kubilai Khan. Ow, jika aku ingin memasukkan buku2 yang dibaca Takudar, kira2 ulama siapa saja yang hidup di zamannya atau yang pernah hidup sebelumnya? Ibnu Sina, al Khwarizmi, Al Jabar, al Biruni, ar Rumi, atau yg lainnya? Nggak lucu kalau hanya demi terkesan indah aku memasukkan puisi seorang sufi yang  ternyata dia hidup di abad 17! Maka dalam pencarian rumit ini aku menemukan bahwa Umar Khayyam dan Ibnu Sina bisa kusisipkan dalam fiksi ini sekalipun tidak secara langsung.

            Referensi? Yap. Terus, terus, terus mencari.

            Tokoh? Oke. Ada tokoh-tokoh baru.

            Alur? Sudah terpikir.

            Tapi……

……..aku harus menulis apa dan bagaimanaaaaa?

Hiks……..

            Jangan tertawa.

            Jangan mencibir ya.

            Karena untuk kali ini yang kutuliskan pertama kali dalam rencana novelku ini :

            Takudar.

            12 Bab.

            Kira-kira  aku mau bikin 2 buku sekaligus ( 3 kalau mungkin).

            Kutempel di dinding : Buku I, Buku II, Buku III.

Ouch…..

12 Bab.

I. Almamuchi….

II….

III…..dst XII

Takudar ketemu Almamuchi? Karadiza cemburu?

Nasehat Klise : Tuliskan apa yang kau bisa

            Ternyata nasehat klise ini sangat ampuh, sodara-sodara!

            TULISKAN APA YANG KAU BISA!

            Sekalipun yang kita tulis baru judul, bab, tokoh, alur cerita yang mungkin masih nggak karuan. Atau malah rencana halaman (rencana 300 atau 500 atau 1000!)

            Karena…….

            dari goresan tulisanku yang hanya mengetikkan jumlah bab dan tokoh yang mungkin sudah bosan kutulis; berkembanglah kata, kalimat, dialog, ekspresi, lintasan sejarah, puisi-puisi sufistik, penemuan-penemuan para saintis muslim dan ulama.

Alhamdulillah……

hari ini sudah mencapai halaman 98. Dengan latar belakang yang insyaAllah lebih kaya dari The Road to The Empire karena Persia, Bukhara, Samarkand, Syabz akan jauh lebih diungkap demikian pula Mongolia.

Takjub dan malu….

ternyata, bukannya aku tak punya bahan untuk dituliskan.

Tapi aku selama ini dibutakan oleh ….ya, tentu saja maksiat kepadaNya. Rasa malas dan jahil. Cepat menyerah dan merasa lelah karena sudah mengerjakan ini itu.

Coba ketik Samarkand dan Bukhara, coba ketik Merv, coba ketik silk road, coba ketik the list of muslim scientist lalu cari di google (ini baru referensi dari google, belum kalau membacanya dari rubrik Khazanah Republika, buku2 dan situs Islam yang lain.)Dan kita akan sangat malu, malu sekali. Karena gerbang inilah yang dulu dibuka Jenghiz Khan.

Juvaini mencatat, kurang lebih demikian….

ketika Jenghiz Khan tiba di Bukhara dan menemukan Kalyan Minaret yang dibangun oleh penguasa Turki, Arslan. Master Bako, arsitek Arslan Khan membangun Kalyan Minaret dengan pondasi berbentuk piramida terbalik sedalam 10 meter, terbuat dari mortir, susu unta, kapur, putih telur dan plester. Ia membiarkan adonan itu mengeras selama 3 tahun lalu mencampurnya dengan lang-alang. Di atas fondasi itu , dengan alas yang tahan guncangan, dibangun bangunan tertinggi di Asia Tengah selama lebih dari 700 tahun dan tak hancur diguncang beragam gempa! Di sisi Kalyan Minaret dibangun pilar-pilar penyangga dengan banyak kubah.

”Apakah ini istana?” tanya Jenghiz Khan takjub.

Penterjemahnya berkata, ” bukan. Ini rumah Tuhan yang dipakai untuk sembahyang.”

Ketika masuk ke dalamnya dan mendapati sebuah tempat,

”Apakah ini singgasana?”

Penterjemahnya berkata,” bukan. Itu tempat untuk berkhotbah.”

Dalam sebuah riwayat dikatakan, ketika Jenghiz Khan memandang Kalyan Minaret, angin berhembus kencang hingga topinya terjatuh. Ia memungutnya dan berkata,

”Menara ini adalah hal pertama yang pernah kuhormati dengan cara membungkuk.” 

Seorang penulis melukiskan, yang intinya kurang lebih demikian,

”Peradaban yang sekarang terbentang di kaki Jenghiz Khan adalah sebuah kemegahan yang tidak kalah dari China meski bisa dibilang pendatang baru jika dibandingkan dengan China. Peradaban itu terinspirasi dari Muhammad, bergerak keluar melewati Persia, Syria, Irak, Mesir, Afrika Utara, Asia Tengah, bahkan Spanyol hingga dalam waktu singkat mengendalikan kawasan yang terbentang dari pegunungan Pyrenees sampai China barat.

Quran dan sunnah, kedua doktrin ini merasuki setiap aspek dalam Islam –pemerintahan, hukum, ilmu pengetahuan, tingkah laku, kreativitas- karena Islam tidak membuat perbedaan tegas antara agama dan negara, yang suci dan duniawi; semuanya haruslah suci

…..pada tahun 1000, dunia Islam, yang awalnya dibentuk bangsa Arabsebagai satu sungai kerajaan yang tunggal, telah terbagi-bagi menjadi delta dengan lima sungai utama dan sungai-sungai kecil lainnya. Namun begitu, suatu rasa kesatuan masih bertahan. Cendekiawan muslim dari Hindu Kush hingga Spanyol selatan semuanya memuja Tuhan yang sama, menghormati nabi yang sama, menggunakan bahasa Arab sebagai lingua franca, mewarisi jubah intelektual dengan kekayaan mengagumkan yang sama.

Seluruh dunia Islam menikmati kekuatan ekonominya; dengan perdagangan yang menghubungka Afrika Utara, Eropa, Rusia, Timur Tengah India dan China.

Koin-koin Arab melanglang ke utara sejauh Finlandia, dan para pedagang muslim menulis cek yang diakui bank-bank di kota besar Kordoba hingga Samarkand. Seorang saudagar memiliki gudang di tepi sungai Volga, yang lainnya dekat Bukhara, dan yang ketiga di Gujarat, India.

Didorong kekayaan yang menakjubkan Islam pada abad pertengahan haus pengetahuan dan merangsang perkembangan dunia pengetahuan yang cemerlang. Kertas menggantikan papyrus, toko buku tumbuh subur, perpustakaan menghiasai rumah-rumah orang kaya.

Dunia seni dan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Kaum pelajar perkotaan menyokong para penyair, sejarawan menjunjung tinggi pencapaian dunia Islam, arsitek membanugn masjid-masjid berkubah. Angka Arab menyediakan sistem yag lebih berdaya guna….”

Jenghiz Khan membuka gerbang kekayaan ini, terperangah, dengan instink nomaden dan kekuasaannya saat itu ingin menaklukan. Memiliki. Meski ia yang buta huruf pada akhirnya justru menghancurkan terutama buku-buku dan referensi yang luarbiasa kaya bagi dunia Islam.

Thomas W. Arnold dan John Mann, orang non muslim yang dapat menggambarkan betapa Islam pernah demikian merajai dunia dengan segala keutamaannya. Demikian detil dan menakjubkan, demikian penuh dedikasi, yang dilakukan mereka mungkin sekedar pemuasan dahaga pengetahuan dan bukan pencarian keimanan.

Sementara kita sebagai orang muslim, setiap yang kita lakukan pada hakekatnya adalah demi pengukuhan keimanan.

Menulislah, tulislah apa yang kita bisa.

Meski mentah, meski jauh dari sempurna, meski sederhana, meski tak bagus, meski harus ditambal disana-sini.

Jadilah pengganti Thomas W. Arnold dan John Mann.

Bayangkan jika buku kita nanti akan menjadi amal jariyah yang setiap kalimat hingga hurufnya menerangi hati manusia sebagaimana para ulama dahulu melakukannya.

Dan ups J…..

jangan lagi berkata bahwa  ”Tulislah apa yang kau bisa ” adalah sebuah nasehat klise, sebab tak ada satupun nasehat baik yang tidak punya manfaat.

3 thoughts on “Nasehat Klise Menulis : Tulislah apa yang kau bisa!

  1. Kagum atas perjuangan bunda,
    Nasehat klise ini memang jitu, tapi tak banyak yang melakukanya, mungkin karena dianggap klise dan kurang kongkrit. Tapi membaca artikel ini sungguh membuat nasehat ini benar2 kongkrit dan nyata. Seolah2 tak perlu nasehat lainnya untuk bisa memulai menulis.
    .
    Salam dari adik2 FLP Malang.
    .
    Salam juga dari Dede Ais di Malang😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s