Sepenggal novelku tentang Dolly

Alhamdulillah, novelku telah selesai. Berisi tentang perempuan2 yang bekerja di Dolly, juga perempuan yang tetap menjaga ketulusan hati meski suami mengkhianati.

Sekelumit tentang novelku, satu sudut dunia pelacuran :

Salahkan jika kupu-kupu malam seperti kita jatuh hati pada lelaki mulia, bukan jatuh cinta pada lelaki bejat? Salahkah jika aku berharap punya suami yang kelak dapat membimbingku menebus semua dosa dan kesalahanku? Salahkah jika aku masih berharap satu kehidupan normal yang lurus pantas untukku, untukmu, untuk para pelacur bersimbah dosa seperti kita?

Jika pernikahan suci tak pantas untuk para pendosa sepertiku apakah aku harus berselingkuh untuk mendapatkan lelaki yang kukasihi?

………………………

Dan –ya, Tuhan- betapa kejam hati manusia, Ochi tak mampu menahan kesadarannya tetap berada di jalur lurus. Ia benci mendengar Vanya tak bekerja lagi di Dolly, berkonsentrasi pada tumbuh kembang janinnya. Harusnya ia tetap kotor, tetap berkubang dalam lumpur. Harusnya ia tak perlu mensucikan diri. Biarkan ia menjadi pelacur selama-lamanya, tak perlu berfikir meninggalkan dunianya. Biarkan ia menggoda, melayani sebanyak-banyaknya lelaki atau mengganggu suami orang, asalkan bukan Yassir….

Orang mungkin bertanya-tanya, untuk apa kuhabiskan waktu sekian tahun menuliskan novel tentang Dolly. Apa manfaatnya? Tidakkah lebih baik menulis novel tentang perjuangan perempuan, novel sejarah, novel budaya, dll yang jauh lebih baik ketimbang membahas dunia pelacuran yang sudah sulit dihapuskan? Biarkan saja mereka membusuk di neraka.

Aku menulis novel ini sebetulnya sejak mulai pindah ke Surabaya, 2007. Waktu yang cukup lama, 3 tahun. Tentunya tak sepanjang waktu itu aku menuliskannya, disela-sela kesibukan menulis, mengisi pelatihan, kuliah dan setumpuk tugas  ibu rumah tangga. Tapi aku bertahan seama 3 tahun; berjuang melawan lelah dan kebosanan untuk menyelesaikan satu novel tentang dunia pelacuran.

Aku pernah berinteraksi dengan perempuan -perempuan panggilan.

Tanpa sengaja, kami mengontrak rumah murah di Jakarta waktu suamiku mengikuti sekolah DIV.  Tanpa kutahu, tetanggaku perempuan panggilan.

Dia tetap bekerja, sudah punya dua anak gadis mungil, walau benjolan di dadanya membengkak. Konon kabarnya ia punya tumor dan sering mengeluh sakit, tapi tetap bekerja.

Aku berkunjung di Putat Jaya, bertemu anak-anak kecil berwajah manis. Kudekap salah satunya, ingin kucucurkan airmata tapi tak bisa. Seusia mereka anak-anakku kususui, kusuapi, kugendong, kunyanyikan lagu. Kami tertawa saat bercanda. Kuhabiskan waktu membaca tumbuh kembang anak (sekalipun tak semua teori kupraktekkan), memasak makanan kegemaran mereka.

Anak-anak gang Dolly ini, apa yang mereka dapatkan dari ibu mereka?

Kulihat para ibu dengan pakaian ketat terbuka memang mendekap, menciumi anak-anaknya. Tapi apa yang terjadi saat pelanggan datang dan anak-anak itu menangis meminta ASI ibunya?

Aku juga mengenal seorang lelaki , bekas mucikari. Pedih kudengar cerita dari mulutnya bagaimana perempuan hilir mudik di Dolly. Sebagai seorang manusia, aku sering berpikir, apa yang bisa kulakukan untuk mereka? Untuk keluar dari Dolly tidak hanya dibutuhkan kesadaran beragama tapi juga pendampingan hukum, psikologis, advokasi anak, dll. Aku ingin berkiprah lebih jauh tapi tenaga dan waktu tak mencukupi. Lewat tulisan, semoga sedikit kata-kataku dapat menyentuh siapapun yang membacanya.

            Belum lama ini , ditangkap seorang perempuan berusia 20 tahun yang menjadi mucikari, menjaring remaja 14-19 tahun yang dijual secara online. Vey, panggilan wanita itu tengah hamil besar 9 bulan dan saat ditahan melahirkan di rumah tahanan. Sungguh, Tuhan Maha Rahasia. Ia menitipkan benih pada perempuan-perempuan yang berkecimpung di Dolly sementara beberapa temanku , perempuan sholihah, begitu sulit punya anak. Mereka menghabiskan waktu, uang, airmata untuk dapat memiliki keturunan. Segala cara dicoba, bahkan inseminasi dan bayi tabung menjadi program yang diagendakan. Andaikan jumlah biayanya tak mencapai 40-60 juta rupiah, tentu teman2ku sudah melakukannya.

            Di gang Dolly, Putat Jaya, kita akan melihat  belasan, mungkin puluhan anak lalu lalang tanpa induk semang. Sementara itu, masih banyak PSK yang dalam kondisi hamil tetap melayani pelanggannya…

            Ya Allah, kami berlindung dari murkaMu.

Kami memohon belas kasihMu.

Banyak sekali kisah tentang perjalanan manusia yang ingin kutuangkan agar menginspirasi orang. Bagaimana kehidupan anak-anak dan perempuan di tahanan, bagaimana orang-orang menunggu hukuman mati, bagaimana orang begitu sakit jiwanya karena ia sangat jauh dari agama dan Tuhannya. Bagaimana kaum gay, lesbian, giggolo (….ya Tuhan, beberapa dari mereka aku kenal)

Mungkinkah dunia pelacuran menginspirasi?

Aku bersyukur, Ia karuniakan dua orangtua yang baik padaku, yang mendidikku agama. Orangtua yang lupa kudoakan segala jerih payah mereka, ayah yang di alam kubur menanti kami anak-anaknya rajin beramal sholih. Aku bersyukur, hidup di lingkungan baik meski tumbuh dengan 1001 macam persoalan. Aku bersyukur, diberiNya suami yang baik dan anak-anak qurroa a’yun.

Suatu masa di masa lalu…

jika Dia tak melindungiku.

Aku, gadis tanpa jilbab, jauh dari orangtua, sekian banyak beban, sekian banyak kebencian dan ketidakpuasan bisa saja terjerumus sama seperti mereka di gang Dolly.

Tapi diberiNya aku hidayah hingga mau memakai hijab, perlahan menimba ilmu, berbekal agama yang masih sangat sedikit kuarungi hidup yang makin lama makin terasa menanjak kesulitannya. Tetapi juga, belas kasihNya sungguh terasa.

Aku ingin bercerita pada mereka, saudari kita di Dolly, bahwa melepaskan diri dari dunia profesi yang kelam itu bukan tanpa cost sama sekali. Pasti ada resikonya, pasti ada harga yang harus dibayar.

Tuhan Maha Pemberi.

Tuhan Maha Pengampun.

Tapi jangan terus berharap ampunanNya, karena murkaNya juga dapat demikian dahsyat…

Bagi para orangtua…

jagalah anak-anak kita. Kekejaman hati, kekerasan, ketidakpedulian orangtua mampu menjerumuskan.

Bagi para istri…

bersyukurlah telah dikaruniaiNya suami, qowwam yang lurus.

Bagi para suami…

bersyukurlah memiliki istri yang baik, yang penuh kasih sayang, yang menjaga anak-anak, kehormatan dan suaminya. Kekurangan pada istri, bukan legalisasi pergi ke Dolly. Sebagaimana seorang mucikari pernah berkata – selama ada suami yang tak puas, Dolly pasti tetap beroperasi!

 

(….seseorang bercerita : mbak, aku pernah bekerja di tempat yang buruk, sangat buruk, mbak Sinta nggak akan bisa bayangkan. Tahukah mbak? Para suami, sembari membawa anak, mengantar istrinya pergi bekerja ke tempat itu….)

            naudzubillahi mindzalik

16 thoughts on “Sepenggal novelku tentang Dolly

  1. erni berkata:

    subhanallah mbak,baru kali ini q sempat buka blog pean..semua mampu menumbuhkan kembali cita-citaq di masa lalu. menjadi seorang aktivis LSM perempuan…yach..cita-cita bersama arum yang terbengkalai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s