The Road to The Empire & Reinkarnasi, Gramedia Veteran Banjarmasin : best seller & sold out!

       

            Alhamdulillah, berkesempatan untuk bertemu dengan banyak orang dalam perjalanan ke Banjarmasin. Ada adik2 FLP yang luarbiasa semangat dan cita-citanya. adik2 FLP yang menjamu tamu dengan kesungguhan (semoga barakah ya dek….), ada mas Khalid MMU Banjarmasin yang rajin membantuku selama promosi buku di sana.

            Bertemu dengan para blogger yang mengkritikku habis-habisan J

            Apapun itu, kucatata sebagai kenangan indah perjalanan bedah bukuku.

            Pertanyaan-pertanyaan itu pasti bermanfaat buat banyak orang yang punya uneg-uneg serupa tapi barangkali sungkan mengungkapkannya : ^_^

            Buat mas Erfin dan mas Utuh, semoga silaturrahim kita tetap berjalan ya…meski laut, sungai memisahkan.

            Pertanyaan yang heboh :

  1. Apa sih hebatnya The Road to The Empire & Reinkarnasi? Apa yang menyebabkan buku itu layak dikoleksi?
  2. Apa latar belakang pendidikan anda sehingga berani bulis fiksi sejarah? Gak takut dikritik orang?
  3. Siapa penulis yang mempengaruhi karya2 Sinta?
  4. Kendala tantangan dalam menulis?
  5. Bagaimana jika tidak punya mood untuk menulis?

 

Jawaban :

saya balik nanya : mau jawaban joke atau serius?

OK, yang joke first (weleh, sok keinggrisan…)

  1. Karena kalau beli bukunya Dan Brown The Lost Symbol 125.000 kemahalan, beli buku The Road & Reinkarnasi dapat 2!
  2. Covernya bagus & mengkilap
  3. Layak dipamerkan di ruang tamu, sekalipun nggak dibaca
  4. Jarang penulis perempuan yang mau nulis sejarah. Capek!

 

Yang seriusnya :

Apa hebatnya The Road & Reinkarnasi?

Bagi yang mengikuti karya-karya saya sejak pertama muncul (Cadas Kebencian, Red Jewel of Soul, Armanusa dll) akan bisa melihat transformasi kepenulisan dan metamorfosa (…..halah). Bahkan saya sering bilang ke adik-adik : suatu saat kalian harus baca karya mb Sinta yang masih ditulis tangan dan diketik pakai mesin ketik. Supaya kaian tahu, bahwa menjadi penulis membutuhkan sebuah perjalanan panjang. Perjalanan panjang yang seru, penuh gairah, mengasyikkan! Sebab kita menjadi orang yang senantiasa belajar dan belajar.

            The Road to The Empire (TRTE) adalah proses panjang menuliskan Takudar. Sebelumnya Sebuah Janji dan The Lost Prince. Ternyata, saya masih merindukan menvisualisasikan tokoh Takudar. I love him, I miss him. Saya, kita, kami, kau, anda semua, membutuhkan figure yang dapat membangkitkan suatu semangat kepahlawanan yang sekian lama pudar. Aragorn, Robin Hood, Neo, Clarck Kent, Peter Parker adalah para pahlawan yang membela kebenaran tetapi mereka hanyalah tokoh fiktif.

            Takudar, adalah salah satu pahlawan Islam sebagaimana Salahuddin al Ayyubi, Imam Bonjol. Diponegoro dll.

            Saya mengumpulkan referensi sejak 2002 dan sampai sekarang tetap mengumpulkan referensi Mongolia. InsyaAllah sedang menggarap Takudar IV yang semoga, lebih meninggalkan kesan mendalam dibanding kisah-kisah sebelumnya.

            Pak Maman S. Mahayana adalah editor khusus untuk TRTE dan senantiasa membela Takudar (Jazakumullah Pak Maman…☻☺ ). Menurut beleiau, TRTE adalah sebuah karya sastra yang layak diperhitungkan.

            Mengenai Reinkarnasi,

            saya mengumpulkan referensi keris sejak 2004. Berburu kliping koran tentang situs-situs peninggalan Jawa. Internet, sudah pasti. Reinkarnasi sebetulnya gabungan antara novel Kekuatan Ketujuh dan sekuelnya. Berbicara tentang Ragil Mulyo yang punya kekuatan ghaib dan dipercaya sebagai Ratu Adil. Konsep tentang Ratu Adil sendiri banyak versinya ditengah masyarakat Jawa, begitupun konsep metafisik & supranatural.

            Reinkarnasi banyak mengupas budaya dan filosofi Jawa tetapi bisa difahami oleh msyarakat dari budaya lain. Jadi, tentu tak ada ruginya mengoleksi The Road to The Empire karena banyak persoalan budaya dan filosofis yang dapat dipelajari disitu.

            Tentang latar belakang pendidikan,

            sekarang saya kuliah di Psikologi, Universitas 17 Agustus, Surabaya.

            Jangan terkejut, bahwa keinginan untuk menuliskan novel berkualtias justru muncul karena saya seorang Ibu Rumah Tangga, bukan karena pernah kuliah di sini dan disitu. Bagi yang merasakan beratnya beban menjadi Ibu, pasti tahu betapa sulitnya menemukan sosok yang bisa dijadikan acuan oleh anak-anak kita. Rasulullah Saw dan para sahabatnya sudah tentu. tetapi siapa yang  masa kehidupannya lebih dekat ke masa sekarang? Yang masih mengibarkan bendera kemuliaan? Maka, saya terharu banget baca kisah Takudr sekilas di The Preaching of Islam Thomas W. Arnold. Suatu saat nanti (…janji saya di sekitar tahun 1990 an..) saya akan membuat novel berbasis tokoh Islam.

            Alhamdulillah sekarang sudah kuliah lagi dan berkecimpung dalam dunia kampus & literasi mengasah wawasan saya sebagai ibu, istri, anak, menantu, daiyah, dan banyak profesi yang harus dijalani manusia sebagai makhluk sosial. Sedikit banyak, kuliah psikologi mewarnai tulisan-tulisan saya yang berikut : insyaAllah novel tetnang Dolly yang dalam proses penyelesaian.

            Penulis yang mempengaruhi karya saya :

            secara tidak langsung saya terinspirasi oleh tulisan yang mencerahkan milik Hasan al Banna, Sayyid Quthb, syaikh Ahmad ar Rasyid, Ibnu Taimiyah, Ibnu Qoyyim al Jauziyah.

            Penulis yang menginspirasi  Sir Muhammad Iqbal, Amin Malouf, Naguib Mahfouz, JRR Tolkien, CS Lewis, Torey Hayden, Jhon Shors. Penulis FLP yang saya sukai mb Helvy, mb Asma, mb Izzatul Jannah, mb Muthmainnah dan mb Afifah (kok…cewek semua). Tak lupa kang Irfan & kang Abik, Andrea Hirata juga.

            Pendek kata…banyak tulisan & penulis yang menginspirasi.

            Jangan dikata penulis karya orang-orang yang masih baru didunia penulisan tidak menginspirasi lho!

            Ketika saya menjadi juri lomba, setumpuk naskah saya simpan untuk dipelajari diksi, gaya bercerita, emosi, penalaran. Saya belajar dari banyak orang. Dari novel, artikel, opini hingga puisi. Semakin banyak belajar, semakin banyak bahan untuk menambal kekurangan diri. Kadang-kadang, bahkan dari adik-adik yang masih baru menulis mereka mengemukakan gagasan yang tak terpikirkan sebelumnya.

            Kendala dalam menulis :

            Kelelahan, kebosanan kemalasan.

            semua harus dilawan dengan banyak belajar.

            Imam Nawawi ketika sudah merebahkan kepala di bantal tiba-tiba teringat ; masih banyak yang harus ditulis, masih banyak yang harus diselesaikan. Lalu ia bangun lagi dan menulis.

            Saya pun belajar untuk begitu. Kadang badan capek sekali setelah aktivitas seharian tetapi ayo nulis…..nulis! Siapa tahu usiamu tidak sampai setahun lagi ! Masih banyak yang harus ditulis, masih banyak tokoh yang harus dibangunkan sosoknya!

            Menulis dengan mood memang paling menyenangkan.

            Tengah malam, fresh, body oke, badan sehat, mata nyalang, semangat membaja, otak segar, ditemani segelas kopi susu : mengetiklah !

            Tapi kapan kondisi 100% itu kita raih?

            Jarang sekali.

            Karena kesungguhan memang tidak bertunas ketika keadaan serba mudah. Kita justru harus mampu mencari celah di tengah kesibukan, kelelahan, ketergesaan, etumpuk pekerjaan menggunung yang Allah SWT berikan pada kita untuk mengetes apakah kita termasuk golongan orang besar atau orang kecil yang selalu mengeluh tak punya ini itu, tak punya waktu, tak punya semangat, tak punya ide dan kemampuan.

             Sinta Yudisia adalah ibu rumah tangga biasa, sama seperti jutaan ibu di belahan bumi manapun. Sama seperti perempuan lain yang pusing memikirkan cucian, masakan, tingkah polah anak-anak,  jadwal harian, tanggal tua akhir bulan. Sinta Yudisia adalah orang yang terbahak lihat Mr. Bean, gemas lihat The great Queen Seondeok, jingkrak kalau nonton trilogi Bourne, cemberut melihat koran tiap pagi : kok beritanya masih itu-itu lagi?

            Sedikit berbeda dengan perempuan lain,

            saya terlonjak kalau tengah malam. Ini sudah jam berapa?

            Saya seharian belum sempat menulis…….

13 thoughts on “The Road to The Empire & Reinkarnasi, Gramedia Veteran Banjarmasin : best seller & sold out!

  1. Mbak, saya suka dengan bahasa bahwa kita semua memiliki kesibukan, hanya bagaimana menyempilkan keinginan untuk menulis di sela-sela yang sebenarnya tubuh ini pun tak kuat meneruskannya. Terima kasih, Mbak, atas inspirasinya….

  2. luar biasa Bukunya, walaupun hanya sekilas membaca cerita mbak saat berada di Banjarmasin. buku yang inspiratif saya kira dan mengugah smangat dan refleksi sebuah perjalanan hidup…(eith…sok tau aku, padahal kan blm baca bukunya). hahahha….

  3. he..he..mbak sint ujungnya mengingatkan nih: udah nulis belum hari ini:D
    thanks mbak untuk sentilannya. Moga klo nnt liburan ke Indonesia, buku mbak sinta masih dicetak ulang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s