Pilih Psikolog atau Ahli Agama?

              Ketika kami sedang mendapatkan mata kuliah Psikologi Klinis, seorang teman bertanya : jika sakit jiwa, kenapa pilihannya tidak ke ahli agama saja? Pertanyaan simple yang membutuhkan jawaban panjang. Tadinya saya juga berpendapat seperti itu. Sebagai orang beriman, tentulah ketika menghadapi persoalan yang pertama kali terpikir adalah : saya harus menyelesaikan dengan cara religius. Hal ini tidak salah bahkan memang seharusnya demikian agar kita tak salah jalan ketika mencari jalan keluar atau obat dari setiap permasalahan.

              Pertanyaannya : Seberapa religius kita? Kadar agama yang bagaimana yang dapat menuntaskan banyak persoalan?

          Inilah sisi penting kenapa dalam Islam, agama insyaAllah selalu dapat disandingkan dengan ilmu pengetahuan. Ketika kita bernafsu dalam beragama tapi tak dilandasi oleh ilmu yang memadai, hasilnya adalah taqlid dan jumud, pada suatu saat jika kita anggap agama tidak mampu menyelesaikan persoalan maka jawabannya simple : agama ini salah!

Bingung? Jangan dulu.

 Contohnya begini. Katanya sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Kenyataannya, banyak orang sholat masih pemarah, penghasut, dll dsb etc yang jelek-jelek. Jadi ayat itu bohong kah? Sedikit membahas Psikologi Faal. Dalam teori tentang ”Tidur ”, otak manusia mempunya 4 jenis gelombang :

 1. Beta wave (13-30 hertz) — aktif

2. Alpha wave (9-12 hertz) —santai

3. Theta wave (4-8 hertz) — tenang

4. Delta wave (1-3 hertz) — tidur

{tentang berapa ketepatan frekuensi, ada beberapa perbedaan pendapat)

Beta wave adalah keadaan di mana kita sadar seutuhnya, melakukan aktivitas, meledak-ledak penuh gairah. Alpha wave saat santai-santai, misalnya duduk di kursi malas. Delta wave adalah kondisi dimana seseorang jatuh tertidur. Tahukah anda di gelombang mana orang bisa di hipnotis (baik terapi maupun ketika dalam kriminalitas)?

Mereka yang dihipnotis berada dalam Theta wave, suatu gelombang spesial yang mengindikasikan otak antara tidur dan tenang, tidak terlelap tapi juta tidak terjaga. Salah satu terapi dalam psikologi yang dapat dikatakan handal adalah metode meditasi, yoga, juga hipnotis yang rata-rata mempergunakan gelombang Theta wave untuk membuat pasien rileks dan ekstasi.

                         Naaah, kenapa ya, saat saya sholat, bersamaan itu dua pendekar saya lagi berantem bab masalah yang tidak karuan juntrungannya, maka dalam benak saya ketika sholat adalah ”….awas! Tunggu sampai Ummi selesai sholat nanti!” Maka begitu salam di ucapkan ke kanan ke kiri saya langsung berteriak memanggil nama mereka dengan marah.

              ”Nggak tau apa Ummi lagi sholat? Sampai Ummi nggak sempet wirid segala?!”

             Kenapa usai sholat (bahkan masih di dalam sholat!) emosi marah bisa tetap meledak?

             Ya. Karena saat sholat yang harusnya berada dalam Theta Wave atau gelombang Theta, saya masih membiarkan pikiran berkeliaran ke gelombang Beta dan Alpha. faktornya bisa macam-macam. Kalau kita melihat orang mau meditasi atau yoga, betapa penuh persiapannya. Tempat, baju, alas, lingkungan , suasana, segala yang bisa selaras dengan gelombang Theta di sinkronkan. Kalau kita mau sholat ya sholat aja. Wudlu buru-buru, baju sholat ya sama dengan baju habis masak tadi yang bau bawang terasi , menggelar sajadah dan mukena ala kadarnya dengan situasi dan suasana yang serba apa adanya. Pokoknya sholatnya selesai, titik. Sementara orang meditasi dan yoga sudah punya prinsip, komitmen, niat dan mengupayakan segala sesuatu bahwa meditasinya memang untuk mencari ketenangan.

                      Itulah sebabnya shlat kita ternyata tidak mencegah perbuatan keji & mungkar ya. Itu analogi saya setelah belajar konsep ”Tidur” Kembali pada persoalan memilih psikologi & ahli agama. Dua profesi ini alangkah indahnya jika disandingkan.

                    Sebagai sebuah ilmu, psikologi memiliki metode ilmiah sebagaimana ilmu-ilmu eksakta yang lain sehingga reliabilitas & validitasnya teruji. Jika kita memperlakukan materi lain harus demikian cermat, apatah lagi dalam memperlakukan jiwa manusia yang sedemikian unik, luhur, mulia dan istimewa.

                        Ada beberapa cerita sedih yang mungkin dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Seorang teman sebut saja namanya Eko tengah bermasalah dalam pernikahan. Ia jatuh cinta pada seorang gadis dan meminta si istri untuk bisa menerima pilihannya dengan konsep poligami. Elly (juga samaran) pada akhirnya menyetujui permintaan Eko karena ia seorang istri sholihah. Betapa sedih saya melihat tubuh dan wajahnya makin layu menyusut, ia sering terlihat melamun dan bermata bengkak. Anak-anaknya konon juga tak terurus lagi. Saya menyarankan kepada Eko untuk mendatangi psikolog, jika ia yakin poligami adalah sebuah pilihan yang tepat ; tidakkah lebih baik keluarganya dipersiapkan sebaik-baiknya baik istri, anak-anak, orangtuanya? Apa salahnya terapi ke piskolog sehingga semua pihak menjadi tangguh dan siap dengan segala kemungkinan? Eko menolak mentah-mentah saran kami.

                   Seorang kenalan, sebut namanya Yuni juga bermasalah dengan suaminya. Dalam permasalahan itu , mama Yuni seringkali mendatangi ustadz dan jawabannya adalah sabar. Psikolog & psikiater belum masuk hitungan karena mama Yuni memang seorang yang teguh dalam agama. Tanpa melihat bahwa Yuni didera permasalahan demikian berat (suami orang kayaraya, tak mau kerja, semua kebutuhan dipenuhi mertua, suaminya juga nggak faham agama, suka mabuk dst ). Ketika Yuni kemudian depresi dan sakit berkali-kali, barulah mereka mendatangi terapis. Di situlah setelah 5 tahun, mama Yuni melihat bahwa ketika Yuni mengingat suaminya saja, ia langsung memegang dadanya, setengah histeris dan terbungkuk-bungkuk mencoba mengatasi nyeri luarbiasa di dadanya (sejenis psikosomatis).

                     Seorang kenalan juga, memiliki suami yang demikian keras wataknya dan suka memukul istrinya. Sebut saja Eva. Eva sudah rajin ke pengajian dan mendatangi psikolog, ketika suaminya disarankan untuk datang ke psikolog yang keluar adalah ejekan. Hingga akhir hayatnya, Eva seringkali menerima perlakuan kasar dari sang suami dan juga anak-anaknya.

                   Masih banyak lagi kisah tragis yang membuat hati miris saat mengetahuinya. Lebih miris lagi bahwa kondisi kritis kejiwaan seseorang tidak hanya dialami mereka yang berada di bawah garis kemiskinan tetapi juga berada dalam kondisi mapan ekonomi dan pendidikan. Sebetulnya, kenapa sih nggak mau menerima jasa terapis , psikolog misalnya? Penyakit jiwa tidak identik dengan gila.

               Dewasa ini orang sering mengalami stress –frustasi – depresi (konsep ini saya tuliskan nanti ya..) Yang mengalami stress dan tahapan selanjutnya bukan hanya mereka yang tidak punya uang atau berada di jalur yang salah, tetapi mereka para pejuang da’wah dan keluarga baik-baik pun bisa mendapatkan stress yang jika tidak dikelola dengan baik akan menjadi depresi hebat.

                Saya sendiri pernah mengalami ketika tugas da’wah sedemikian padatnya, campur aduk dengan tugas rumahtangga dan segudang aktivitas. Alhasil yang ada adalah ledakan demi ledakan yang kemudian saya tafakuri : nggak mungkin agama dan da’wah ini yang salah kan? Pasti faktor manusia –saya- yang tidak bisa mengendalikan. Syukurlah sekarang saya kuliah di psikolog dan mulai belajar Psikologi Klinis, Psikologi Perkembangan Psikolgi Kepribadian, Psikologi Sosial dsb.

                Saya jadi bisa membaca ” oh, aku lagi banyak stressor. Kalau begitu jangan sampai meningkat jadi frustasi, ntar marah-marah ke suami dan anak-anak. Makanya aku harus begini-begini…..” Kelak, psikolog pun jika tak mampu menghadapi masalahnya sendiri juga harus mendatangi terapis yang bisa di percaya entah itu psikiater, ahli agama, dst. Disinilah juga ahli agama sangat berperan ketika memberikan masukan bagaimana cara mengatasi kendala-kendala kejiwaan. Terapi dzikir, sholat, puasa dst alangkah bagusnya jika dikawal dengan ilmu psikologi yang menggunakan alat terukur dan teruji.

                Saya membayangkan jika suatu saat punya klien.

               ”Saya frustasi.”

              ”Sejak kapan, Pak?”

              ”Sejak tidak menjadi anggota Dewan?”

             ”Memangnya apa yang Bapak rasakan sekarang?”

               ”Bla..bla..bla…”

               Lalu kita akan memilihkan metode bandwith atau fidelity. Sembari memberikan rujukan ,” kami punya terapis ahli agama yang dapat memandu Bapak berdzikir. Atau mungkin Bapak mau ikut terapi sholat tahajjud? Nanti kita ukur seberapa kadar insomnia Bapak, kecemasan dsb dst.”

              Duh, bayangkan sebuah Pusat Rehabilitasi, Centre of Crisis. Di sebuah alam yang indah, saat kita merasa punya segudang masalah (dan jangan menunggu sampai bertumpuk lalu kita mengisolasi, kehilangan kontak, sampai hilag ingatan !!) . Sang terapis mengukur kadar permasalahan kita lalu kita akan menjalani terapi sesuai sunnah : berolah raga, memasak, beraktivitas lainnya. Menjadi sukarelawan dan melatih ketrampilan. Lalu puasa bersama, sholat bersama, mendapatkan suntikan taujih. Semuanya terukur, terjadwal, terpercaya, dapat diandalkan. Lalu keluarlah kita dari rehabilitasi itu dengan semangat baru baik menghadapi anak-anak, pasangan, lingkungan kerja, da’wah dst.

             Hmh, indah ya?

2 thoughts on “Pilih Psikolog atau Ahli Agama?

  1. Wah, jadi tambah ilmu baru lagi nih, Mbak. Thanks ya sudah memberikan wawasan baru, apalagi psikologi. Gimana keadaan Mbak sekeluarga? Semoga sehat semua ya….

    • Baik bang Aswi. Barusan saya nge tag bang Aswi di fb. Punya multiply gak? Makasih banget sharing ilmunya waktu MUNAS II kemarin. Saya sering mencontohkan ke adik2 sepak terjang bang Aswi n FLP Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s