Mencari Ridho Manusia

Praying%20for%20rainCak Mukhlis dan Rodhiah, sepasang suami istri sederhana di sebuah kampung. Keduanya gemar melakukan sholat tarawih di masjid. Satu-satunya mukena milik Rodhiah hanyalah sebuah mukena warna merah yang sudah usang karena selalu dikenakan sepanjang lima tahun. Rodhiah senang bergegas pergi ke masjid sehingga selalu berada di shaf terdepan. Mukena merah, usang, tak pernah ganti, menjadi bisik-bisik tetangganya, kaum ibu yang memang selalu punya bahan untuk didiskusikan alias ngerumpi.

“Wis mukena-e abang, ning ngarep pisan.”

Begitulah bisik-bisik yang terdengar. Sudah warnanya merah usang, selalu tampil mencolok di depan.

Suatu hari, mukena yang hanya satu-satunya itu terkena kotoran tokek saat Asar. Dicuci pun tak kering. Akhirnya Rodhiah meminjam sarung dan baju Cak Mukhlis, ditambah kerudung agak panjang, jadilah ’seragam’ itu mukenanya sebagai penutup aurat sat sholat tarawih.

”Wah, bajunya aneh,” celetuk ibu-ibu dalam bisikan di belakang. Seperti biasa, Rodhiah mengambil tempat di shaf terdepan.

Selang beberapa hari, Cak Mukhlis mendapat arisan tak terduga yang dirahasiakannya dari sang istri.

Sebagai kejutan, ia memberikan semua uang arisan itu pada Rodhiah. Girang bukan main , Rodhiah ijin meminta sesuatu. “Mas, antar ke supermarket ya. Aku pingin beli mukena.”

Rodhiah yang sederhana tak berpikir beli ini itu saat punya uang agak banyak, yang ada dalam benaknya bagaimana punya mukena bagus untuk bertandang ke rumah Allah. Dengan uang arisan di tangan, Rodhiah menyisihkan untuk membeli mukena bagus sebagai ganti mukena merahnya yang memang sudah usang. Di Ramadhan itu, Rodhiah tak pernah ketinggalan berada di posisi terdepan.

”Paling beli di Wonokromo,” bisik seorang ibu.

”Atau di Pasar Turi.”

”Atau jangan-jangan kreditan?”

Ibu-ibu di belakang, berpasang-pasangan, berbisik dan bergunjing.

Rodhiah keheranan dengan perilaku para tetangga. Cerita ini ia sampaikan pada Cak Mukhlis.

„Kenapa ya Mas, ibu-ibu itu begitu? Aku pakai mukena jelek diomongin, pake mukena bagus juga diomongin.”

Cak Mukhlis merenung, memikirkan sesuatu sebelum menjawab pertanyaan istrinya yang sholihah. Dari bibirnya muncul sebuah kisah.

“Dek, kamu pasti tahu Luqman al Hakim.”

Rodhiah mengangguk. Luqman al Hakim seorang luarbiasa yang namanya diabadikan dalam al Quran karena kebijaksanaan dan nasehat-nasehatnya , terutama perihal hubungan anak dan orangtua.

”Suatu ketika Luqman ingin memberi pelajaran berharga pada anaknya. Berangkatlah ia dan sang anak ke pasar dengan menuntun sebuah kuda.

Pertama, Luqman naik kuda, anaknya menuntun kuda. ”Orangtua yang tidak tahu belas kasih dengan anaknya,” omel orang-orang.

Kedua, Luqman turun menuntun kuda, anaknya menaiki kuda. ”Dasar anak tak tahu diri, tak tahu sopan santun. Masa’ orangtuanya di bawah sementara dia yang masih muda enak-enakan?” celoteh orang-orang di pasar.

Ketiga, Luqman dan anaknya naik bersamaan di punggung kuda. ”Kasihan kuda itu! Dasar dua orang yang tidak punya belas kasihan!” gerutu orang-orang.”

Keempat, Luqman dan anaknya turun , bersamaan menuntun kuda. ”Bodoh amat orang-orang itu. Punya kuda malah dituntun, bukan dinaiki!” bisik orang-orang.

Begitulah cerita tantang Luqman al Hakim, dek.”

Rodhiah masih belum menangkap hubungan kisah Luqman dengan mukena merahnya.

”Kamu tahu apa makna peristiwa itu?” tanya Cak Mukhlis. Rodhiah menggeleng. Cak Mukhlis melanjutkan dengan sabar dan tenang. Sama seperti Rodhiah, putra Luqman al Hakim pun tidak mengerti apa maksud ayahnya.

Luqman si bijak kemudian berkata,

”Hai anakku, kamu berperilaku buruk akan digunjing orang. Kamu berperilaku baik pun akan digunjing orang. Karena itu ingatlah! Siapa yang mencari ridho/pujian manusia, pasti tidak akan ketemu! Siapa yang mencari ridho Allah SWT, pasti akan mendapatkannya.”

Tergetar hati Rodhiah mendengarnya.

(Begitupun tergetar hati kami yang menghadiri sholat tarawih 11 Ramadhan 1430 H dan mendengar kisah ini dari sang muwajjih )

3 thoughts on “Mencari Ridho Manusia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s