FLP Bondowoso : 13 jam & taruhan nyawa!

Segala puji hanya milik Allah SWT yang senantiasa melindungi dan melimpahkan rezeki. Shalawat &salam tercurah bagi nabi yang mulia, Nabi Muhammad Saw beserta keluarga dan para pengikutnya yang senantiasa istiqomah hingga akhir zaman.
Alhamdulillah, rombongan FLP Wilayah Jawa Timur pada hari Minggu, 28 Desember 2008 berhasil menorehkan sejarah perjuangan pena merambah salah satu daerah tapal kuda di Jawa Timur Bondowoso. Kami meresmikan FLP cabang Bondowoso sekaligus roadshow buku terbaru saya The Road to The Empire. Rombongan yang berangkat terdiri dari saya (Sinta-ketua FLP Jatim), didampingi Agus Sofyan (suami). Ada Asril (FLP ranting Unair), Puput (div.nonfiksi – FLP Jatim) Kukuh Santoso (FLP Malang). Perjalanan menuju Bondowoso benar-benar akan kami simpan sebagai perjalanan berharga sebab disinilah kami merasakan maut dan hidup hanyalah selapis tipis kesempatan. Menurut Asril, sebelum FLP Jatim berkeinginan memecahkan rekor MURI dengan membuat cerpen terbanyak selama 6 bulan , kami telah memecahkan rekor MURI dengan membuat perjalanan Surabaya-Bondowoso yang serharusnya hanya memakan waktu 5 jam menjadi…hampir 13 jam!
Tak ada perjalanan da’wah yang mudah.
Tak selamanya jalan jihad dipenuhi sukacita dan kemulusan.
Sekarang kami mengerti, bahwa jalan yang telah dipilih rekan-rekan FLP ada kalanya memang (nyaris) dihargai dengan nyawa.
Awalnya, kenalan yang berjanji meminjamkan mobil tiba-tiba tak mengurungkan niat. Bersamaan itu pula, kami hunting rental mobil yang selama ini biasa kami sewa jika pulang kampung. Berhubung waktu mendesak dan saat itu libur panjang natal-tahun baru hijriyah, kami dijanjikan mobil tetapi tak pasti kapan dan bagaimana kondisinya. Padahal acara di Bondowoso berlangsung hari Minggu, 28 Desember,esok hari. Kami baru mendapat kepastian Minggu pagi. Berhubung tak ada alternatif lain, terpaksa mobil kijang dengan kondisi yang agak meragukan itu diiyakan juga.

Pertama kali pak Misdi –sopir langganan kami- mencobanya keluar dari areal Rungkut Jaya, sebetulnya ada sesuatu yang agak tidak beres. Dimulai ketika mobil serasa berguncang, sering terdengar gledek-gledek di ban depan, dsb (perempuan nggak ngerti masalah mobil). Kami sempat ke rental dan komplain, tapi pemilik mobil mengatakan tidak apa-apa. As- bagus, semua baik asal nggak dipakai ngebut. Jadilah kami berangkat kembali dengan berbekal doa. Kami mulai keluar Surabaya karena macet liburan dan kendala teknis menjelang pukul lima sore.
Subhanallah, di Porong Sidoarjo kami nyaris tak bergerak. Tidak sampai 1 km kami lalui di mobil selama 1 jam. Sehingga ketika kami memasuki Porong hingga keluar Porong yang panjangnya sekitar 3 km….3 jam! Tahu sendiri kan kasus Porong dengan lumpur Lapindo? Tiap kali jam kantor apalagi musim liburan, ruas ini padatnya naudzubillahi mindzalik. Apalagi warga sekarang menyebutnya : Kawasan Wisata Lumpur Lapindo. Hujan deras, macet, keruwetan ini ditambah orang-orang yang berseliweran di sela-sela kendaraan sembari membawa tulisan : Jalan Pintas Menuju Pasuruan.
Pasuruan, Probolinggo, Besuki, Budukan dilalui Alhamdulillah dengan selamat. 20 tahun menjadi supir membuat pak Misdi tahu bagaimana harus memperlakukan mobil kijang kami yang terdengar glothak-glothak makin keras. Malam semakin larut, jalan makin sepi, langit makin gelap pertanda hujan sebentar lagi mengguyur bumi Jawa Timur.
Pukul 1 malam dini hari lewat beberapa menit, mobil kami menanjak melalui hutan Wringin dan tiba-tiba….cciiiiiit, sreeet, gubrak…kkk!!! Mobil berhenti di tikungan, agak ke tepi, dengan ban mobil depan mencuat keluar….semua murnya hilang entah kemana dan ban depan itu sebentar lagi terpental keluar.
Disinilah kami. Dini hari. Di tengah hutan, di tepi tebing curam Wringin , mobil yang lampunya juga mati itu tak bisa digerakkan lagi. Kami semua keluar dari mobil sembari berpikir keras mencari bagaimana harus menuju Bondowoso dengan selamat. Gelap gulita, langit tanpa bintang satupun apalagi bulan. Yang terlihat hanya bayang pohon-pohon rapat berikut wajah-wajah anak FLP yang sama-sama cemasnya. Satu sepeda motor bersimpati berhenti, melihat betapa parahnya mobil kami rusak dan mengajak Asril menuju kota Bondowoso mencari polisi atau mobil derek.
Saya, suami, Kukuh dan Puput tinggal berjaga menunggu mobil. Pak Misdi yang tua harus segera diungsikan dengan menumpang mobil yang lewat, kembali ke Surabaya. Bergantian, kami menjaga jika truk, bis, mobil, pick up yang melaju dari arah bawah/atas dengan kencang dan tak melihat sebuah mobil teronggok agak ke tengah jalan. Pulsa kami habis untuk mengontak panitia FLP Bondowoso. Tak ada yang mudah dihubungi sebab anak-anak FLP Bondowoso pun tampaknya kelelahan mempersiapkan acara.
Mobil lewat, truk lewat, sepeda motor lewat, hanya satu dua orang menyapa : kenapa paak?
Suami saya dan kukuh menjawab : lakhernya rusak!
Tak satupun tergerak menolong.
Kami tahu, modus operandi kejahatan sekarang makin variatif. Mungkin orang-orang juga khawatir jangan-jangan kami hanya orang-orang penipu yang pura-pura rusak mobilnya lalu berniat mencegat orang yang lewat di tengah hutan sepi Wringin.
Hujan deras.
Kukuh kemudian sholat malam di aspal, di bawah derai hujan. Puput sholat malam di mobil, saya muroja’ah al Qur’an. Suami menjaga mobil dari hantaman yang mungkin muncul. Asril tak kunjung tiba, bahkan hapenya mati. Kami juga khawatir jangan-jangan orang-orang yang membawa Asril pun berniat tak baik… Saya sempat mengontak orang DPW dan meminta ikhwah DPD Bondowoso. Serentak saya mendapat calling dari ustadz Dano dan mbak Yuliawati, mereka segera berusaha mengirimkan bantuan ke hutan Wringin yang curam mengerikan.
Lalu terdengar lolongan aneh sahut menyahut.
Lutut saya gemetar. Bulu kuduk merinding. Suara-suara itu lirih tapi jelas dan menguat, seperti kelompok yang saling bersahutan.
”Mas…,” bisikku bertanya pada suami, “…..apa itu?”
Kami tak punya senter, korek api. Satu-satunya yang menyala hanya lampu sein mobil. Hape kami sudah low bat semua. Pulsa habis.
Suamiku tiba-tiba terkesiap.
”Sebaiknya Ummi dan Puput masuk ke mobil.”
Aku dan Puput meloncat ke mobil, mengunci pintu rapat-rapat.
”Aku masih punya pulsa indosat,” Kukuh meraba di kegelapan malam. ”Coba ganti ke hape Bunda Sinta.”
Kukuh biasa memanggilku ’bunda’, ia meraba kantong kecil berisi kartu-kartu seluler dan mencoba memasangkan ke hapeku yang masih lumayan batereinya.
Asril katanya sudah dapat mobil derek, tapi baru datang 30 menit lagi. Ikhwah DPD berhasil mengontak teman-teman di Wringin bawah, tapi belum juga datang. Aku dan Puput pengap di dalam lalu kami keluar.
Lalu berikutnya terdengar raungan sepeda motor sahut menyahut. Aku harap ini adalah rombongan penebang, penjual atau apalah. Kami bersembunyi di kegelapan malam dan melihat….rombongan lelaki dan pemuda menaiki motor beriring-iringan layaknya pawai kampanye sembari mengibarkan bendera besar berwarna oranye kemerahan. Apa? Pikirku tak mengerti. Kampanye di hutan jam 2 malam?
Suami menyuruh kami masuk kembali sebab rombongan itu seperti sekelompok geng yang mabuk menuju satu areal tertentu. Dalam kegelapan malam yang sepi mencekam, tanpa siapapun yang dapat dihubungi kecuali hanya Allah SWT…aku dan Puput yang terengah di dalam mencoba keluar lagi.
”Ummi! Puput! Masuk! Rombongan itu datang lagi!”
Sekali lagi rombongan lelaki sekitar 20-30 orang itu kembali melintasi kami, melihat kami, sembari mengibar-ngibarkan bendera mereka. Siapa sebetulnya mereka? Mau apa di tengah hutan macam begini? Usai kembali meneliti kondisi mobil kami, beberapa pasang sepeda motor bolak balik mengitari tikungan mengawasi mobil kami yang teronggok. Suamiku mulai curiga. Aku mengontak Asril dan ustadz Dano.
”Pak, tolong cepatlah. Ada dua akhwat disini, kami khawatir. Asril, ayo cepat bawa bantuan!”
Wajah anak-anakku terbayang.
Kukuh mencari besi pengungkit roda.
”Ada yang bisa dijadikan senjata?” bisiknya.
Aku dan Puput mencari-cari, tapi tak ada apa-apa di dalam mobil selain baju dan buku. Kami tak pernah memegang senjata selain pisau dapur. Kukuh berhasil mendapat besi panjang yang ia loloskan dari bawah mobil , dan dipersiapkannya jika salah seorang dari gerombolan laki-laki itu berniat menyerang. Kukuh masih sempat berseloroh ,”…lumayan, aku punya samurai.” Aku tersenyum kecut. Besi itu tak akan mampu menghadang sekian banyak orang jika kami dikeroyok. Suamiku bersenjatakan payung runcing yang dari tadi dipakainya untuk melindungi diri dari hujan. Aku dan Puput hanya dapat melantunkan doa.
Jika sesuatu terjadi, semoga ini berakhir tak sia-sia.
Ketika suara-suara raungan menghentak, tiba-tiba sebuah lampu sorot menyala di belakang. Sebuah mobil pick up berhenti. Ustadz Dano mengirim dua orang ikhwah:pak Faisal dan pak Harsono tepat waktu. Mereka berteriak-teriak untuk menimbulkan suasana gaduh seolah banyak pertolongan tiba. Aku dan Puput segera dievakuasi, walau tak tega meninggalkan suamiku dan Kukuh di tengah hutam sepi macam itu. Tapi kami harus segera beranjak sebab tak tahu bahaya macam apa yang nanti mengancam.
Tak lama adzan Shubuh berkumandang. Mobil derek yang dibawa Asril dan anak-anak FLP Bondowoso tiba menjemput suamiku. Ketika aku dan Puput melaju di atas mobil pick up yang menolong kami tiba-tiba mobil terhenti mendadak hingga kami nyaris terjungkal. Aku dan Puput berpandangan pucat pasi. Hujan masih mengguyur sekalipun kelegaan mulai membayang sebab Shubuh begini biasanya penduduk mulai bangun.
Aku menelepon suamiku.
“Ada apa?”teriak suamiku di seberang dengan panik.
Kami belum keluar dari Wringin dan itu artinya situasi belum aman.
“Mobil pick up yang mengangkut kami rusak!”
”Rusak kenapa?”
”Bannya lepas!”
Untuk pertama kalinya suamiku terbahak.
MasyaAllah. Kijang dan pick up sama nasibnya. Mengangkut anak-anak FLP lalu rusak sebab bannya lepas dengan mur yang merontok. Apa anak-anak FLP keberatan ide?

Alhamdulillah sekarang semua sudah berlalu.
Kami tiba di Surabaya.
Kata teman-teman di Bondowoso dan Surabaya,”pak Agus, Anda tahu tidak hutan Wringin itu apa? Di situ biasa muncul macan tutul, babi hutan, juga ular-ular berbisa. Belum lagi begalnya…”

Rombongan yang kami temui itu konon kabarnya memang segerombolan laki-laki yang senang melaju menuju pantai berombongan. Kondisinya kadang dalam keadaan mabuk. Dan biasanya mereka bertindak buruk pada orang yang ditemui. Alhamdulillah…hanya Allah sebaik-baik penolong.

100_4561

4 thoughts on “FLP Bondowoso : 13 jam & taruhan nyawa!

    • sintayudisia berkata:

      Jazakillah mbak Ugik….atas doa dan dukungannya. Semoga Allah SWT juga melimpahkan rahmat, karunia&perlindunganNya pada mbak Ugik sekeluarga dan kita semua. FLP emang unik mbak, banyak ceritanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s