Aku, PKS Award & The Inspiring Women

img1410a5

Awalnya, sama sekali tidak menyangka ketika bidang kewanitaan DPW PKS mengontak saya dan memberitahukan bahwa saya termasuk salah satu dari 8 the inspiring women.
Masih banyak yang lebih baik, saya pikir.
Lagipula, sangat sedikit yang sudah saya lakukan. Ada beberapa nama yang sudah tenar di Jawa Timur seperti bu Sirikit Syah (pakar media), bu Esti Martiana Rachmie (Kepala Dinkes Surabaya), bu Sri Adiningsih (ahli gizi dan perintis lembaga perlindungan anak), juga mbak Wuri Handayani (tokoh penyandang cacat dan aktivis) yang cantik dan dinamis.
Selain nama tenar beberapa yang sudah saya sebutkan, ada beberapa nama ‘tenar’ pula yang tidak terkenal di kalangan manusia tapi insyaAllah terkenal di kalangan malaikat. Mereka adalah bu Suyatmi (guru SD Bahagia) dan bu Titi Winarni (pemilik Tiara handicraft-semua pegawainya adalah orang cacat).
Saya beberapa kali bertemu bu Sirikit Syah dan sangat mengagumi sosok beliau. Mbak Wuri, bu Suyatmi, bu Titi, lebih sering mendengar namanya dibanding bertemu orangnya. Subhanallah, mereka semua benar-benar the inspiring women.

1. Bu Sirikit Syah; banyak sekali prestasi beliau dalam perjuangan menyuarakan kebenaran sekalipun dimusuhi banyak pihak hingga bu Sirikit sering merasa sendiri. Bagi yang memerlukan CV beliau untuk mengetahui sepak terjang bu Sirikit, bisa kontak ke saya. Suami saya sampai terkagum-kagum hingga berseru luarbiasa! ketika membaca CV beliau.

2. Mbak Wuri Handayani; sosok cantik, cerdas dan dinamis yang luarbiasa. Duduk di atas kursi roda tak membuatnya patah semangat. Beliau mendapat beasiswa ke Inggris, lulus dengan cum laude! Hingga sekarang mbak Wuri masih aktif menyuarakan hak para penyandang cacat terutama kaum peempuan yang pastinya mendapat multiple discrimination akibat kondisi mereka.

3. Bu Titi, saya sempat mengenalnya sekilas dari cerita teman-teman dan kartu nama unik miliknya. Luarbiasa, beliau mengelola usaha handicraft yang 100% pegawainya penyandang cacat semua. Jangan dikira produknya kalah bersaing, sebab nama Tiara Handicraft di Jawa Timur identik dengan tas, asesori , dompet, dsb yang indah. Saya sendiri pernah membeli dompet bersulam pita, dikerjakan oleh seorang muslimah yang hanya punya dua jari, itupun tak sempurna, tetapi dompet itu sangat indah-nyaris tak percaya yang mengerjakannya orang yang tak memiliki tangan sempurna!

4. Bu Suyatmi?
Saya pernah berkunjung ke sekolahnya.
Saya menangis tersedu-sedu.
Sekolah itu hanya punya satu lokal, berukuran sekitar 2×6 meter, kadang disekat dua jika dibutuhkan. Muridnya sekarang 20 orang (dari kelas 1-6). Kondisinya tak dapat dibayangkan. SD Bahagia terletak di Gunungsari, berdiri di atas tanah wakaf yang mungil. Perlengkapannya hanya bangku sederhana, bangunan tua, buku-buku ala kadarnya, papan tulis dan kapur. Seragam siswanya mirip kain pel di rumah-rumah kita, hanya beberapa yang bagus. Anak-anak itu memiliki orangtua yang bekerja sebagai tukang kunci, tukang parkir, tukang sampah, dan pekerjaan kasar lainnya.
Bu Suyatmi bercerita bahwa beberapa anak tertidur ketika pagi di sekolah. Ia tak mampu menegur. Seorang anak terpaksa menemani ayahnya mengangkut sampah, menghabiskan malam di atas gerobak yang ditarik dari satu rumah ke rumah lain. Satu orang anak putri (saya lupa namanya) cacat tulang punggung hingga tingginya tak sempurna. Kata Bu Suyatmi anak ini sangat cerdas hanya tak memiliki fasilitas.
Bu Suyatmi, berusia sekitar 50-an, bertubuh kurus kering berkacamata, puluhan tahun hanya memiliki gaji seratus limapuluh ribu. Rumahnya di …..Sidoarjo! Jarak Sidoarjo –Gunungsari, duh, membayangkannya saja sudah melelahkan apalagi menjalaninya.
Melihat bu Suyatmi dan SD Bahagia-nya saat berkunjung ke sana, saat tak dapat memberikan kata sambutan serupa ’sabar’ atau ’berjuang’ sebab wajah tegar mereka menyiratkan ketangguhan yang jauh lebih dahsyat dari apa yang saya miliki.
Bertemu bu Suyatmi adalah salah satu penggal sejarah hidup yang sangat berharga. Bertemu wajahnya yang bersih dan murah senyum, orang dapat meraba bahwa perempuan itu memiliki hati yang tulus. Jika tidak, untuk apa bertahan sekian lama, bolak balik Sidoarjo-Gunung Sari dengan gaji minim, diantarkan sang suami yang juga beranjak tua?Subhanallah.

Saya sendiri masuk dalam katagori the inspiring women karena keterlibatan di FLP dan dunia kepenulisan. FLP dianggap mampu mewadahi generasi muda dalam mengapresiasikan diri secara positif, menjadi alternatif kegiatan yang berdaya guna. Terus terang saya malu jika tolok ukurnya kemampuan pribadi. Banyak yang turut berjuang bersama saya di FLP Jawa Timur. Muslimah yang membantu gerak langkah FLP ini tak kurang berjasanya menyisihkan waktu , tenaga, pikiran, harta mengelola FLP Jatim tanpa imbalan apapun kecuali sedikit fasilitas dari saya : saya sering mengoprak-oprak adik-adik untuk cepat-cepat menyelesaikan karya mumpung saya masih di Surabaya, jadi masih bisa membantu mengedit dsb.
Bagaimanapun, penghargaan itu saya terima lebih kepada ’FLP’nya. Tanpa FLP, saya belum tentu seperti sekarang. Tanpa da’wah, saya belum tentu seperti sekarang.

Oya, 8 the inspiring women di muat di Jawa Pos edisi 21 Desember 2008.

Jazakumullah untuk semua.
Kita saling mendoakan agar kaum muslimin mendapatkan limpahan rahmatNya dan bimbinganNya selalu.
img1410a4

3 thoughts on “Aku, PKS Award & The Inspiring Women

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s