Analisa Sigmund Freud &psikolog Islam

Beberapa orang yang tahu saya kuliah di psikologi mewanti-wanti : hati-hati kuliah disitu. Bisa-bisa jadi nggak bener karena ajaran negatifnya Sigmund Freud. Benarkah?

            Bagi yang suka baca-baca buku psikologi, nama Sigmund Freud tak asing lagi. Ketenarannya melampaui Wilhelm Wundt, si pendiri Laboratorium Psikologi I di Leipzig, Jerman. Sebagian berkata ia tenar karena pendapatnya yang kontroversial, sebagian beranggapan ia belum punya tandingan.

            Salah satu pendapatnya yang mengundang perdebatan adalah anggapannya tentang Id, Ego, Superego serta pembagian Consciousness-preconsciousness-Unconsciousness. Id adalah insting primitif yang dipunya semua manusia : sex, makan, minum, sikap agresif. Setiap manusia punya ini, yang mengendalikannya adalah Ego(executor) dan Superego(nilai-nilai & norma-norma). Berbicara tentang consciousness – kendali alam sadar, tak banyak  yang menjadi permasalahan. Tetapi berbicara tentang unconsciousness-alam bawah sadar yang konon kabarnya menjadi pengendali utama semua keinginan, hasrat, perilaku kita; hal ini menjadi pemicu polemik.

            Benarkah ada satu sisi kelam manusia, di balik sikap baik budinya, ia mampu berbuat kejam suatu saat ketika ia sedang berada di luar batas kendali?

            Sayangnya, belum banyak psikolog Islam yang menelorkan karya sebanyak Sigmund Freud, Wilhelm Wundt, John Watson, Abraham Maslow, dll. Mengingat akar psikologi berinduk pada filsafat yang diharamkan sebagian ulama, ilmu ini berkembang sangat lambat. Padahal sekarang dan ke depan nanti, banyak sekali permasalahan kejiwaan yang harus diselesaikan oleh ahli-ahli yang memiliki basic keislaman yang kaaffah.

            Lihat saja Elizabeth Kubler Ross, seorang dokter di Chicago yang meneliti 200 orang menjelang sakaratul maut. Ia menyimpulkan bahwa menjelang detik-detik terkahir setiap orang harus didampingi untuk mendapatkan ketentraman. Sangat sedikit dari kita yang punya pemahaman untuk membantu mereka yang mendekati ajal, memberikan dukungan dan bantuan secara ilmiah, kecuali kerabat keluarga yang tengah dilanda kepanikan

            Dr. Linus Pauling, pemenang hadiah Nobel sebanyak 2x, mengemukakan MRT –Molecul Reform Therapy yang merupakan konsep utama pengobatan abad ke-21. Ada 4 tahap MRT, salah satunya adalah terapi mental yang diyakini memperbaiki kinerja molekul tubuh.

            Jika saja psikolog Islam punya terobosan-terobosan yang membawa ummat ini pada kedamaian jiwa dan solusi bagi banyaknya permasalahan hidup.

 

2 thoughts on “Analisa Sigmund Freud &psikolog Islam

  1. Mba, tanya dong.
    Dulu kan kuliah STAN. Kenapa memutuskan ambil psikologi? Apa yg membuat yakin?
    Saya pengen kuliah lagi, ada beberapa bidang yang diminati, tapi masih ragu aja.
    Afwan ya mba jd ‘interogasi’?:p

    • sintayudisia berkata:

      Siska yang sholihah, gampangnya : dulu kuliah di STAN kemauan mama. Sekarang kemauan sendiri..he..he. Sebetulnya, mbak merasa lebih ‘nyaman’ dengan ilmu2 psikologi ketimbang angka2 ekonomi. Sekalipun di psikologi juga ternyata ketemu angka2 juga contoh statistik & psikometri. Trus karena dah berkeluarga & punya anak, rasanya butuh ilmu kejiwaan yang bisa membuat mbak ngerti gimana harus menghadapi orang yg bermacam2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s