Debu Ramadhan

Syawal bukanlah kegembiraan yang meletup-letup.

Meninggalkan ramadhan yang dipenuhi kelaziman kebajikan, seperti meninggalkan dunia tenteram yang selama sebulan penuh menaungi kaum muslimin dalam kebahagiaan ibadah. Di pertengahan ramadhan aku mengunjungi aula PRS -Penginapan Remaja Surabaya tempat putri sulungku mengikuti pesantren Ramadhan di jalan DUkuh Kupang, Surabaya. Suamiku sengaja mengajakku melewati areal merah Jarak-Kupang- Dolly. Aku melewati beragam Wisma ‘kenikmatan’,akurium raksasa yang biasa menjajalan perempuan cantik disana. Sepanjang ramadhan konon tempat itu lengang dan memang itulah yang kulihat. Bar-bar tutup, restorant tutup, wisma pun begitu. Aku sengaja mencari2 sosok yang selama ini hanya kulihat di berita : gadis cantik dengan busana elegan – harap maklum, Dolly bukan untuk jajanan sekelas tukang becak atau supir. Pelanggannya menengah ke atas.

Betapa bahagianya, yang kudengar hanya lantunan ayat2 Quran dari menara2 masjid, orang yang keluar masuk gang dengan mukena dalam gulungan sajadah. Sempat kutemui satu dua orang dengan dandanan menor terselip di antara gang gelap tapi itu tak mendominasi. Ramadhan selalu di naungi kebajikan. Orang yang biasa bermaksiatpun enggan menampakkan kejahilannya di muka umum. Konon, 1 Syawal mereka kembali beroperasi. 1 Syawal saat orang mengumandangkan kemenangan melawan hawa nafsu, saat itu pula pintu2 neraka mulai terbuka. Jarak mulai beroperasi kembali, bar dibuka. Bahkan menjelang 1 syawal aku sudah melihat Jagir- Wonokromo (ini kompleks P untuk kalangan supir & tukang becak) sebuah warung mulai merapikan dagangan bir di meja terdepan.

Aku menangis mendengar khotib Idul Fitri memberikan nasehat tentang istiqomah. Ramadhan harus meninggalkan jejak kecintaan pada shoum, pada qiyamul lail, pada taman2 surga di hati kita : kecintaan membaca Qur’an, kesukaan sodaqoh, kenikmatan dzikir.

Kalau aku ke Dolly lagi, mungkin wisma2nya sudah buka kembali. Dan di sana perempuan cantik nan muda yang selama ramadhan malu menjajakan diri, kembali meraup keuntungan. Hmh, benarkah karena kepepet? Kata dosen filsafatku, pekerjaan ini menjanjikan rasa ‘enak’. Enak mencari uang dengan cara mudah..

Ah, Ramadhan yang khidmat semoga tak hanya menyisakan debu.

2 thoughts on “Debu Ramadhan

  1. sutono berkata:

    assalamualaikum wr.wb
    met idul fitri ya mbak……semoga saum end ibadah kita diterimanya. mba risau itu sebenarnya bukan hanya milik orang- orang di Doli sana risau ini milik kita juga. mampukah kita mengekang nafsu, mampukah kita berbagi, mampukah kita menghergai masa, mampukah kita mendekatiNya lebih khusuk seperti ramadhan mengajarkan kita?

  2. adammuhammad berkata:

    amiin…
    saya jadi teringat pesan cak emha ainun najib…
    ramadhan ibarat kkn bagi mahasiswa.
    jadi ini hanya bulan penempaan diri.
    semoga 11 bulan ke depan prestasi itu makin nyata…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s