Musyawarah Wilayah III FLP-Forum Lingkar Pena Jawa Timur

Alhamdulillah, Muswil III FLP Jatim usai.

Banyak cerita, banyak sukaduka, banyak tugas, banyak PR. Tetapi di atas segalanya, sekali lagi, Allah SWT senantiasa menurunkan pertolongan kepada hamba-hambaNya yang berniat baik.

Innalillahi, bagaimanapun ini sebuah musibah ketika beban tugas menjadi kepala suku Jatim jatuh kepada saya. Saya bukan yang terbaik, bukan yang terkuat, bukan yang terpandai bukan yang tersholih. Saya hanya seorang dhoif yang dengan kekuatan da’wah dan persaudaraan, didorong maju oleh teman-teman FLP menduduki jabatan yang mulia sekaligus mengerikan.

Mulia tentu saja. Siapa tidak tergiur bayaran seorang dai? Siapa tidak ingin surga jannatun naim, dengan istana emas bertahtakan permata mutiara, surga dengan sungai yang mengalir jernih dan disediakan apapun yang diinginkan,bertemankan bidadari, bertemu Rasulullah Saw dan orang-orang sholih, melihat wajah Allah? Siapa tidak ingin terkenal di kalangan penduduk langit? Siapa yang tidak ingin diperbincangkan malaikat? Siapa yang tidak ingin didoakan kaum muslimin dan seluruh elemen alam semesta? Itulah bayaran menjadi dai, mujahid.

Mengerikan sekaligus, karena ketidak adilan dan ketidak amanahan  menyeret kedudukan ini dalam jurang hitam, gelap, panjang, menyakitkan, menyesakkan, ditengah kobaran api laksana lontaran fusi helium matahari.

Dalam perjalanan pulang dari Blitar-Surabaya, sempat saya utarakan kepada mas Haikal, eks ketua terdahulu : sesungguhnya saya menyesal menerima amanah ini. Betapa berat dan menyita waktu. Sanggupkah saya? Seorang ibu, istri, perempuan yang terkadang diundang sebagai pemateri di beberapa acara, memilih pena sebagai jalan lain berdakwah tiba-tiba harus memimpin organisasi besar di tingkat wilayah?

Adakah yang ingin bertanya kepada saya mengapa menerima jabatan ini?

Terlalu dogmatis jika saya mengemukakan dalil-dalil dalam Qur’an dan hadits tentang keutamaan para penda’wah dan mujahid. Saya mengambil profesi ini bukan sebagai tantangan, pembuktian diri, apalagi kendaraan tenar. Naudzubillahi mindzalik.

Inilah alasannya :

1. Menjadi ketua wilayah memungkinkan kita banyak bepergian. Ada keajaiban, hikmah, perenungan yang tidak dapat didapat dan dibeli sekalipun dengan hanya membaca dan mendengar. Kita harus mengalaminya sendiri. Harus melihatnya sendiri. Membaui peluh para petani di bis-bis ekonomi, mendengarkan sumpah serapah supir yang dengan enaknya berbicara alat kelamin setelah itu bersholawat, membaui para pengamen, mencium wangi perempuan yang menekuni pekerjaan tertua di bumi ini. Menghadapi setiap kejadian di depan mata yang dapat dirasakan perih, pahit dan getirnya membuat kita semakin percaya bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Berikutnya kita percaya, iblis dan setan memang benar-benar ada.

2. Bertemu sekian banyak manusia sungguh memperkaya pengalaman.

Membaca tentu memperkaya wawasan, tetapi imaginasi tak dapat menggantikan feelings, perasaan.

Dengan membaca kita tahu sadisnya Rian jagal lamongan tetapi tak dapat merasakan dan mempercayai dapatkah orang setega itu? Namun melintasi sesaknya terminal, bergumul dengan orang-orang ekonomi lemah di stasiun yang berdesakan, merasakan kesulitan hidup dengan mengantri subsidi minyak, rasanya kita dapat membayangkan -sekalipun tak akan pernah menyetujui- mengapa orang dapat membunuh hanya karena uang seribu duaribu.

Tak semua kemiskinan menyiratkan kepahitan. Banyak lahir pahlawan karena kesederhaan mereka. Orang-orang  yang memiih tetap mengajar di sebuah madrasah miskin karena ia merasa cintanya terlalu besar untuk dapat ditukar dengan uang. Orang-orang yang bertahan menjadi supir taksi atau tukang becak karena ingin menyuapkan makanan halal ke bibir anak-anak. Orang-orang yang memilih dunia da’wah sebagai hobi karena merasa inilah kegiatan paling membahagiakan di dunia.

3. Entah mengapa saya selalu iri dengan orang-orang semacam ini : para penghafal Qur’an, orang yang tak memperhitungkan materi ketika mereka membiayai kebaikan, orang-orang yang tak kenal takut ketika mereka sudah meyakini suatu prinsip. Mas Haikal dan mas Bahtiar, dua orang dedengkot dan eks ketua FLP Jatim, adalah dua orang ramah senyum yang tidak pernah memperhitungkan materi dalam membesarkan FLP di wilayah ini. Perjalanan panjang FLP membawa mereka berdua ke wilayah-wilayah sulit Madura hingga kota-kota lain di Jawa Timur. Mereka berdua (tentu dibantu staf FLP yang lain) adalah anugerah bagi da’wah pena di Jatim. Semoga mundurnya mereka berdua tidak berarti surutnya FLP.

4. Saya suka mencicipi sulitnya berda’wah. Saya menikmati rasa sakitnya hati dibentak, dicemooh, diremehkan karena mengibarkan bendera FLP yang ‘apa sih itu’. Saya senang mencoba keyakinan sendiri, betulkah kalau saya menginfakkan segala sesuatu di jalan da’wah, Allah akan memberikan keajaiban? Saya senang mencari dan menemukan jawaban sendiri. Kita tahu sedekah diganjar harta berlipat, tapi bagaimana saat tak punya uang diminta mengunjungi FLP kota lain? Ah, Allah Maha Kaya. Dia selalu mengganti apa yang saya kelaurkan dengan sesuatu yang lebih baik.

5. Saya suka mengadu dan berbicara sendiri dengan Allah : ya Allah, saya punya perasaan X terhadap orang ini karena ia sudah memperlakukan saya seperti ini. Tolong saya ya Allah…entah dengan membalas orang itu atau melapangkan dada ini. Yang pasti tolong saya…Allah, Robb kita yang mulia, ternyata menguji dengan apa yang paling lemah dan paling dibenci hingga kita kuat menanggulanginya sendiri.

Atau..ya Allah, saya tak mampu memiliki ini dan itu, berikan saya ganti  yang lebih baik. Saya tidak mampu meraih ini dan itu maka berikan saya sesuatu yang jauh melebihi.

Sepanjang saya berdoa dan meminta, rasanya Allah tak pernah mengecewakan hambanya yang satu ini. 

Semoga satu Sinta Yudisia membawa makna lebih pada FLP Jawa Timur.

8 thoughts on “Musyawarah Wilayah III FLP-Forum Lingkar Pena Jawa Timur

  1. amel berkata:

    assalamu’alaikum,
    buat mbak sinta yang tidak aku sangka sederhananya subhanalloh,….mau capek2 datang ke blitar,bantu panitia,tidur di sekertariatan…makan seadanya…
    jangan putus asa mbak,kita percaya mbak sinta mampu…kok… karena Alloh,bersama orang2 yang sabar…amien…
    salam manis dari amel buat mbak sinta yang super duper hebat…Alloh hu Akbar!

  2. Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    seorang ughi nggak yangka bisa ketemu langsung ama mbak sinta (nb: salah satu penulis favorit saya) bahkan saya bisa ngomong-ngomong dikit ama mbak sinta. yah cuma sedikit. melihat mbak sinta yang tidak ada bedanya dengan saya (sama-sama manusia) mbak sinta yang sederhana sekali. hal itu ningkatin semangat saya untuk terus belajar menulis.

  3. Subhanallah…

    Mbak Sinta, kata-kata & tulisannya membuat saya sulit untuk tidak menangis. Saya jadi malu terhadap diri saya yang sering lalai & malas-malasan dalam beribadah…

    Keep spirit, Mbak. Saya selalu dukung Mbak Sinta, insyaallah…

    Fat-han
    fathanx.multiply.com

  4. Bang Yop berkata:

    bisaLa Tahzan Mbak Sinta
    Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    Ketika berdakwah dan mengalami sendiri kenyataannya pernah saya berpikir seperti yang Mbak Sinta rasakan!. Kerap ketidak kompakan teman2 dakwah membuat saya merasa sedih!. Bahkan awalnya setiap saya buka wacana banyak pandangan curiga dan tidak simpati saya terima.

    Tapi yang buat saya sedih ternyata bukan itu. Saya sedih kenapa hanya dengan cobaan yang begitu ringan saya sudah bersedih!. Tidak usah bicara dengan cobaan yang dialami Nabi dan sahabat2nya tapi cukup ketemu dengan seorang Bu Hj Mursilah Mujahidah tangguh dari daerah terpencil Doko – Blitar, saya sudah malu sekali. Subhanallah janda berumur lebih dari 50th ini terbiasa jalan sampai 6 kilo malam2 keluar masuk hutan hanya untuk sebuah amanah “DAKWAH”.

    Pulang dari Doko Segera Saya sholat dan minta ampun karena merasa betapa lemahnya Saya!. Tertipu oleh tujuan dakwah itu sendiri. tahukah Mbak Sinta apa yang membuat saya kuat sekarang Allah telah mengirimkan banyak orang seperti Mbak Sinta, Haekal, Sari, Ahzab, Rina, Hendrik, Lutfi, Amy, Asril dll.

    Ya dengan bersatu kita akan bisa saling menguatkan. Jangan merasa sendiri Mbak kawan-kawan dari seluruh cabang mendukung Mbak Sinta. Ya kami semua mendukung Mbak Sinta!. Karena memang itulah perintah Allah berdakwah dalam barisan.

    La Tahzan Mbak Sinta Kerikil2 itu akan menjadi hikmah yang mahal..disitulah nikmatnya dakwah. La Tahzan Mbak Sinta Kita pasti menang karena kita menegakkan kebenaran. La Tahzan Mbak Sinta Kita tidak akan mungkin kalah karena kita menghalau kemungkaran. La Tahzan Mbak Sinta Kita tidak akan sendiri karena Allah swt. bersama hamba2nya yang istiqomah. AllahhuAkbar!

    Bang Yop – Lelaki Di Ujung Zaman

  5. Bang Yop berkata:

    La Tahzan Mbak Sinta
    Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    Ketika berdakwah dan mengalami sendiri kenyataannya pernah saya berpikir seperti yang Mbak Sinta rasakan!. Kerap ketidak kompakan teman2 dakwah membuat saya merasa sedih!. Bahkan awalnya setiap saya buka wacana banyak pandangan curiga dan tidak simpati saya terima.

    Tapi yang buat saya sedih ternyata bukan itu. Saya sedih kenapa hanya dengan cobaan yang begitu ringan saya sudah bersedih!. Tidak usah bicara dengan cobaan yang dialami Nabi dan sahabat2nya tapi cukup ketemu dengan seorang Bu Hj Mursilah Mujahidah tangguh dari daerah terpencil Doko – Blitar, saya sudah malu sekali. Subhanallah janda berumur lebih dari 50th ini terbiasa jalan sampai 6 kilo malam2 keluar masuk hutan hanya untuk sebuah amanah “DAKWAH”.

    Pulang dari Doko Segera Saya sholat dan minta ampun karena merasa betapa lemahnya Saya!. Tertipu oleh tujuan dakwah itu sendiri. tahukah Mbak Sinta apa yang membuat saya kuat sekarang Allah telah mengirimkan banyak orang seperti Mbak Sinta, Haekal, Sari, Ahzab, Rina, Hendrik, Lutfi, Amy, Asril dll.

    Ya dengan bersatu kita akan bisa saling menguatkan. Jangan merasa sendiri Mbak kawan-kawan dari seluruh cabang mendukung Mbak Sinta. Ya kami semua mendukung Mbak Sinta!. Karena memang itulah perintah Allah berdakwah dalam barisan.

    La Tahzan Mbak Sinta Kerikil2 itu akan menjadi hikmah yang mahal..disitulah nikmatnya dakwah. La Tahzan Mbak Sinta Kita pasti menang karena kita menegakkan kebenaran. La Tahzan Mbak Sinta Kita tidak akan mungkin kalah karena kita menghalau kemungkaran. La Tahzan Mbak Sinta Kita tidak akan sendiri karena Allah swt. bersama hamba2nya yang istiqomah. AllahhuAkbar!

    Bang Yop – Lelaki Di Ujung Zaman

  6. rizky m2m berkata:

    assalamu’alaikum, bunda sinta!!!!
    sungguh pengalaman yang luar biasa saya dapatkan setelah saya mengikuti muswil flp ke-3 di blitar kemarin. ini membuat mata hati saya terbuka. ternyata memang benar apa yang sering dikatakan oleh teman-teman saya bahwa saya ioni hanyalah seorang anak kecil yang ingin diakui sudah besar. ternyata pengetahian saya tentang ilmu agama, kepenulisan, dan yang lainnya itu masih sangatlah dangkal. bahkan bisa dikatakan gak punya. bunda, saya sudah menganggap bahwa bunda sinta adalah ibu saya di flp. jadi saya ingin bunda bersedia membantu saya dalam menjadi seorang wanita yang tegar laksana siti khodijah, lembut seperti aisyah. bunda, semangat!!!!!……………….

  7. indiesastra berkata:

    assalamualikum wr wb.selamat bu sinta tlah jadi kepala suku jatim,yang pasti memberikan banyak pengalaman dan amalan.terus keinginan kami anak sidoarjo juga ingin ada FLP di wilayah ini gmana bu,apa sudah terbentuk FLP Sidoarjo??kalo ada usaha kesana saya siap bantu.
    itu tadi pertanyaan pertama dari saya,pertanyaan kedua adalah,apakah speed reading tu membuat skill menulis kita akan kering dengan basa-basi??karena speed readingkan mengajarkan akan point-point suatu tulisan dan mengabaikan detail-detail yang terlalu mendalam.
    trims bu,blognya bagus yaa.jdi pengen diajarin acara buatnya nihh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s