Longlife Education

Ketika orang bertanya padaku,”…mbak sudah menulis banyak ya.” Atau, “…bagaimana sih Mbak bisa nulis?” Yang lainnya bertanya,”kapan Mbak mulai menulis?”

Jika saja orang-orang mengenalku 5 atau 7 tahun lalu pastilah terkejut melihat Sinta Yudisia sekarang. Tahun 2000an I was just an ordinary housewife. Bangun sebelum Shubuh, sholat, merendam baju, mencuci, memasak, menyiapkan anak-anak sekolah, belanja, memasak, membereskan rumah. Selepas dzuhur menyeterika, menjemput anak-anak, emmandikan mereka, menyuapi. Lalu tibalah Maghrib dan aku harus mengurus segala hal tentang anak-anakku mulai ibadah hingga belajar. Waktu mereka tidur kugunakan untuk membereskan pekerjaan rumah yang belum selesai. BEgitulah rutinitas yang kujalani selama bertahun-tahun.

Apa yang menyebabkan sesuatu berubah?

Sesederhana apapun diriku, seterbelakang apapun kondisiku yang berkutat dengan segala kesibukan rumah tangga -memisahkan dunia luar yang canggih dan hingar bingar dengan tetek bengek rumah tangga yang stagnan- aku suka membaca. Selain terjemahan al Qur’an, koran, buku-buku referensi disaat para ummahat (ibu-ibu) merasa tak zamannya lagi membaca majalah remaja, aku mengkonsumsi semua. Aku baca Annida, Gadis, Olga, Gaul, Suara Hidayatullah, Al Mu’tashim, Tarbawi, Muslimah, Alia, apapun itu hingga yang berbau seram seperti Hidayah dan tabloid Posmo. Entah mengapa, aku suka membaca. Membaca membuatku tahu apa yang sebelumnya belum aku tahu. Memabca membautku lebih faham agama. Membaca membuatku menyadari peranku sebagi istri dan ibu.  Membaca membuatku sadar aku banyak melakukan kesalahan. Membaca membuatku tahu bahwa aku ternyata punya potensi!

Ketika membaca menjadi kegemaranku sekalipun tetap kuakui, kadang keterbatasan waktu dan biaya untuk membeli bermacam-macam buku membuatku tersendat juga melahap apa yang kumau, membaca membuatku ingin belajar sesuatu. Pada akhirnya membaca membuatku ingin mengungkapkan apa yang ada di benakku. Apa yang ada dalam perasaanku. Aku ingin orang tahu apa yang berkecamuk dalam diriku. Aku ingin orang tahu apa yang membuatku bersedih, tersentuh, menangis…bukan karena persoalan-persoalan pribadi tetapi oleh persoalan yang lebih besar.

Banyak yang ingin kutulis tapi masih membutuhkan waktu dan aku masih harus membaca dulu. Kesedihan yang kuingat masih terekam baik. Bagaimana perasaanmu melihat seorang lelaki asongan menjajakan manisan mangga dan kacang , terbirit-birit mengejar bis eksekutif dan ketika salah satu dari kedua kakinya baru menginjak tangga bis ia harus sudah meloncat kembali ke tanah karena bis itu melajukan kecepatan? Wajahnya. Wajah itu. Wajah berpeluh itu  menatap bis berlalu dengan kekecewaan mendalam. Ia mungkin  hanya ingin mengumpulkan duaribu rupiah. Duaribu yang kita buang tanpa arti untuk sebotol teh yang bisa kita beli kapan saja kita mau.

Aku bak belajar dari membaca. Sepanjang hidup aku ingin membaca. Karenanya aku sangat menghargai mataku, terutama mata yang ada di dalam benak dan batinku. Semoga mata ini tidak dikaburkan katarak, nafsu, apalagi materi-materi yang sebentar lagi kutinggalkan.

3 thoughts on “Longlife Education

  1. immah berkata:

    salam kenal mbak
    aq hampir menangis membaca tentang bagaimana seorang penjual mangga dan kacang kecewa karena ditinggal bis . . .
    untuk 2000 . . .
    Hiks mbak sdih, padahal sekali makan aq bisa 5000 lebih . . .
    jadi pingin beli novelnya mbak sinta . . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s