Bolehkah siswa SD dan SMP membaca The Road to The Empire?

            Ketika beberapa waktu yang lalu JSIT SMPIT (Jaringan Sekolah Islam Terpadu- Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu) se Jawa Timur akan menggelar olimpiade dengan salah cabang lomba “ lomba resensi” , panitia dan para guru bertanya-tanya apakah buku yang pantas dihadirkan untuk dibaca oleh para siswa SMP?

            Saya sendiri bukan panitia, tentu saja.

            Lalu seorang panitia menghubungi , menanyakan kesediaan saya untuk menjadi salah seorang juri resensi novel TRTE- The Road to The Empire . Tentu saja senang dan gembira novel tersebut akan diapresiasi. Tetapi beberapa waktu kemudian muncul keraguan, beberapa guru protes dengan muatan TRTE : apakah novel tersebut pantas untuk anak SMP?

            Penasaran dengan ’protes’ para guru, saya memburu teman FLP yang betul-betul anak sastra UNAIR . Kebetulan ia juga menjabat sebagai ketua FLP Surabaya, namanya Aferu Fajar Nadhari. Dengan Veroe –sapaan akrabnya-, saya banyak berdiskusi.

            Di luar negeri, novel sejarah ternyata dibaca bukan hanya oleh orang dewasa dan para peminat sastra saja. Remaja pun banyak menyukai genre fiksi ini, bahkan, anak-anak SD pun terbiasa membaca novel sejarah.

            Masa sih?

            Saya cari di internet memang belum menemukan jawaban pasti. Tetapi tentang minat baca bangsa Indonesia terutama anak-anak & remaja memang sangat memprihatinkan.

Secara membanggakan , Indonesia  dianggap menjadi model untuk pemberantasan buta aksara di kawasan Asia Pasifik. Penilaian itu diberikan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Sejak 2007, buta aksara di Indonesia turun 1,7 juta orang, menjadi 10,1 juta. Sekitar 7 juta di antaranya perempuan. Sukses program pemberantasan buta aksara antara lain berkat dukungan 59 perguruan tinggi negeri dan swasta di berbagai daerah di Indonesia. Jendela dunia terbuka makin lebar bagi mereka yang melek aksara.

Namun, angka tadi tidak seiring dengan hasil survei UNESCO yang menunjukkan minat baca kita sangat rendah. Dua tahun lalu kita yang paling rendah di kawasan Asia. Sementara itu International Educational Achievement mencatat kemampuan membaca siswa Indonesia paling rendah di kawasan ASEAN. Kesimpulan itu diambil dari penelitian atas 39 negara. Indonesia menempati urutan ke-38. Dua hal itu antara lain menyebabkan United Nations Development Program (UNDP) menempatkan kita pada urutan rendah dalam hal pembangunan sumber daya manusia.

Kenyataan-kenyataan tadi membuktikan, melek aksara tidak menjamin peningkatan kemampuan maupun minat membaca. Kita perlu prihatin. Tanpa minat baca, dari mana kita bisa memperoleh ide-ide segar dan baru? Dilihat dari jumlah penduduk kita dan jumlah harian yang beredar tiap hari, persentase bacaan koran amat sangat kecil. Seputar 1%? UNESCO menetapkan, sebaiknya 10%.

Masyarakat di negara-negara maju,  kegiatan membaca sudah menjadi bagian dari hidup. Membaca juga memberi hiburan. Sistem dan fasilitas dibangun untuk mendukungnya. Begitu bertimbun bacaan-bacaan yang padat makna sejarah, makna ilmiah, atau padat nilai-nilai kemanusiaan, moral dan spiritual, maupun hiburan, sehingga masyarakat tinggal memilih sesuai selera. Membaca sudah menjadi bagian dari gaya hidup mereka.

            Kembali pada novel sejarah, bolehkan siswa SD membaca The Road to The Empire? Semua tergantung dari pihak orangtua. Memang ada bagian yang kurang pantas diketahui anak-anak seperti ketika Arghun menodai Almamuchi sekalipun, saya pribadi mencoba sehalus mungkin menggambarkan bagaimana peristiwa tersebut.

            Lalu kenapa harus terselip kasus penodaan?

            Jika kita membicarakan peristiwa perang yang kejam, maka disitu selalui disertai pelecehan terhadap anak-anak dan perempuan. Kasus Bosnia, Chechnya, Palestina, Vietnam dan masih banyak lagi gambaran peristiwa peperangan di dunia selalu diiringi pelecehan seksual. Bahkan di film Turtles Can Fly, peristiwa penodaan tersebut demikian tragisnya hingga si korban pada akhirnya memutuskan untuk commit suicide, meninggalkan bayi dan kakaknya yang cacat.

            Dalam TRTE tentu saya usahakan peristiwa itu muncul sehalus mungkin, bukan karena target pembacanya anak-anak & remaja, tetapi karena sebagai penulis saya merasa bertanggung jawab secara moril untuk tidak makin ’menjerumuskan’ tetapi ’mencerahkan’.

            Kalau dirasa anak SD belum mampu membaca TRTE, silakan saja dilewati. Tapi alangkah bagusnya jika para orangtua membaca dan kemudian menceritakannya dalam bentuk dongeng sebelum tidur. Menurut Kak Seto Mulyadi, saatnya kini para orang tua perlu memainkan peran untuk menumbuhkan kembali minat baca pada anak-anak.Caranya bisa dengan membacakan cerita dongeng kepada anak-anak baik pada saat menjelang tidur, atau pada waktu senggang. Menurut praktisi ’home schooling’ yang juga Ketua Umum Asah Pena (Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif Indonesia) ini, bercerita atau membacakan buku cerita untuk anak memiliki banyak manfaat.

Manfaat tersebut, di antaranya meningkatkan kemampuan konseptual, mendengar, berbahasa, berkomunikasi verbal dan memecahkan masalah.

Mengapa bacakan cerita sangat efektif ?

Otak manusia merupakan organ tubuh yang dipakai untuk belajar. Pondasi yang terbaik untuk belajar membaca adalah kata. Kata-kata merupakan materi yang penting dalam belajar membaca. Dua cara efisien untuk memasukkan kata-kata kedalam otak adalah melalui mata dan melalui telinga. Diperlukan waktu lebih lama oleh mata untuk bisa pergunakan membaca oleh anak, tetapi telinga dapat lebih cepat dipergunakan untuk membentuk pondasi belajar membaca.

Apa yang kita perdengarkan ditelinga anak berubah menjadi pondasi terbentuknya otak seorang anak. Deretan suara-suara yang mengandung arti yang masuk melalui telinga kecil seorang anak ternyata dapat membantu anak merangkai kata-kata yang dilihat kemudian hari ketika anak belajar membaca.

Alasan perlunya membacakan anak cerita sama dengan sama dengan alasan mengapa kita harus berkomunikasi dengan anak, yaitu to reassure, untuk mendekatkan diri dengan anak, untuk menghibur, untuk memberi informasi dan menerangkan, untuk meningkatkan keinginan tahu dan menginspirasi anak. Dengan membacakan cerita, anak juga memperoleh :
- Asosiasi membaca dengan hal-hal yang menyenangkan
- Pengetahuan
- Tambahan perbendaharaan kata
- Role model

Jika anak-anak kita yang masih SD tidak diperkenankan membaca langsung TRTE, saran dari kak Seto dapat digunakan. Menceritakan para pejuang Islam yang heroik, tak mudah patah semangat, berbudi luhur, berbakti pada orangtua dan mencintai sesama adalah nilai yang harus kita tanamkan kepada anak-anak sedari bayi hingga kelak mereka dewasa nanti. Menceritakan bagaimana pahit perihnya Takudar menjalani hidup yang semula bergelimang kemewahan lalu kemudian harus hidup dalam kesulitan, semoga tertanam dalam benak anak-anak kita bahwa demikianlah hidup. Suatu masa gemerlap, suatu masa gelap. Anak-anak harus dikokohkan bahwa bagaimanapun besar badai menghadang, mereka harus tetap berada di jalan kebenaran.

Bagaimana dengan anak-anak SMP?

            JSIT SMPIT telah membuktikan bahwa anak-anak SMP ternyata bisa mengabsorpsi cerita sejarah dengan baik. Bukan hanya diminta meresensi, dalam babak final pun mereka diminta untuk tampil ke depan membawakan makalahnya disertai tanya jawab. Dengan tangkas mereka menjawab pertanyaan undian dari para juri yang menanyakan :

  • Siapakan Arghun?
  • Bagaimanakah sumpah Anda?
  • Dimanakah pertempuran antara Takudar dan Buzun?
  • Siapakah para sahabat Takudar, dsb.

Sempat timbul rasa was-was dari para juri –termasuk saya- jangan-jangan yang membaca gurunya, yang membuatkan makalahnya juga gurunya!

Setelah maju dan tampil ke depan, pertanyaan undian yang dipilih secara acak, tampaklah bahwa para siswa itu membaca betul-betul TRTE dari awal sampai usai. Ketika ditanya berapa lama mereka membacanya? Rata-rata menjawab : 5 hari!

Alhamdulillah. Semoga kegemaran dan semangat para siswa SMPIT di Jawa Timur yang mau melalap novel bergenre sejarah menandakan bahwa remaja kita sudah menyukai dunia literasi.

Lomba Resensi The Road to The Empire diundur 20 Juli 2009!Bersiap menanti Takudar yang berikut…

Lomba resensi yang seharusnya ditutup 30 Juni 2009 diperpanjang hingga 20 Juli 2009 . Diharapkan mereka yang mungkin ingin ikut tapi masih takut-takut, ingin ikut tapi belum dapat bukunya dapat punya waktu menarik nafas untuk kemudian bersiap mengikuti lomba. 

Banyak yang bertanya, nantinya Takudar itu akan menikahi siapa sih? Almamuchi, Karadiza, Tien Nien? Atau jangan-jangan malah menikahi Qaratai & Juz Jani?

Salah satu keuntungan penulis, dia bebas menentukan karakter dan jalan cerita tokohnya :-) . Tetapi tentunya penulis tidak asal begitu saja menentukan nasib cerita pelaku. Saya pribadi nggak suka dengan gaya cerita Cinderella, sang pangeran tampan bertemu puteri cantik lalu hidup happily ever after. Memang sih di tengah masyarakata senang melihat pemuda tampan berjodoh dengan gadis cantik, tapi begitukah hidup selamanya?

Bukankah ada Manohara yang cantik tapi berakhir duka?

Bukankah ada pesta meriah milyaran rupiah bak raja ratu tetapi kandas dalam keperihan?

Kadangkala seorang pangeran bahagia dalam pelukan perempuan sederhana ataupun perempuan cantik justru bahagia didampingi lelaki bersahaja yang sederhana, tak punya apa-apa. Sebab cinta tidak berbanding lurus dengan harta, tahta, fisik semata. Cinta juga tidak berbanding terbalik dengan kekayaan dan kekuasaan. Demikian kata pujangga tentang cinta :

“Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan” (Kahlil Gibran)

Jangan katakan bahwa cintaku
Sebentuk cincin atau gelang
Cintaku ialah pengepungan benteng lawan
Ialah orang-orang nekat dan pemberani
Sambil menyelidik mencari-cari, mereka menuju mati.

Jangan katakan bahwa cintaku
Ialah bulan,
Cintaku bunga api bersemburan. (‘Ali Ahmad Sa’id-Anonis)

“Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk dan rupa; ia merupakan padang rumput bagi menjangan, biara bagi para rahib, kuil anjungan berhala, ka‘bah tempat orang bertawaf, batu tulis untuk Taurat, dan mushaf bagi al-Qur’an. Agamaku adalah agama cinta, yang senantiasa kuikuti kemana pun langkahnya; itulah agama dan keimananku”  (Ibn Arabi)

Tapi kisah tentang takudar bukan hanya berisi kisah romantisme cinta.

Takudar juga perjuangan, keperihan pengorbanan, fitnah, kesendirian dan kesepian, beratnya duduk di atas puncak kedudukan manusia. Tetapi aku juga ingin menuliskan tetnang makna persaudaraan yang tidak hanya diikat oleh darah dan sumpah “Anda”, persudaraan yang diikat oleh cita-cita mulia dan kesamaan sudut pandang. Aku ingin mengungkapkan bahwa di belantara manusia yang kadang lebih jahat dan kejam dari iblis sendiri, masih ditemukan manusia berhati luhur yang siap berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan.

Apa yang diberikan Ustadz Fathi Yakan padaku?

Fathi Yakan 1   fathi yakan

Apa yang diberikan Fathi Yakan padaku?

 

 

Suatu hari, saat di Medan tahun sekitar tahun 1996…..

Aku mengikuti suami yang ditempatkan di Medan usai lulus DIII Program Diploma STAN. Saat itu kami masih keluarga muda, aku tengah hamil anak pertama. Kami masih kurang pengalaman, masih sangat kurang pengetahuan kecuali semangat da’wah menggebu yang kami bawa sejak masih duduk di bangku kuliah di STAN, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Jurangmangu.

Shock Culture, mungkin begitu istilahnya.

Terkaget-kaget menemui orang Medan yang beraneka ragam : Batak, Melayu, Cina, India, Jawa-keturunan. Budaya kami bertolak belakang. Orang-orang Medan yang terbiasa berbicara keras hingga terdengar dari jarak beberapa meter (bahkan dari balik dinding rumah) berbeda dengan kami orang Jawa yang terbiasa alon-alon berbicara dengan lemah lembut, halus, berbicara dengan struktur kromo inggil.

Alhamdulillah kami diterima oleh masyarakat Medan. Waktu itu kami mengontrak di wilayah Tanjung Sari. Banyak hal yang membuat kami geli akibat bahasa yang sering tidak nyambung, bahasa Medan yang sedikit berbeda dengan bahasa kami sehari hari. Misalnya titi = jembatan, kereta = sepeda motor, kusuk = urut, tukang kusuk = tukang urut, semalam = kemarin, pusing = berkeliling, pajak = pasar.

”Suami bu Sinta kerja dimana?”

”Di pajak, bu.”

Mereka bayangkan suamiku bekerja sebagai penarik upeti atau tenaga kerja di pasar!

Pernah suatu ketika temaku mencari rumah kenalannya, ia bertanya kepada orang Medan dan menunjukkan alamt yang tertera.

”Oh, rumahnya di sebelah titi.”

Temanku mencari-cari mana sih orang yang bernama titi, ternyata titi itu jembatan!

“Bu Sinta belum punya kereta sendiri ya?”

Ya iyalah, mana sanggup aku beli kereta, kupikir kereta api. Waktu itu aku belum punya sepeda motor sehingga kalau ada keperluan sering pinjam ke teman sepeda motor roda dua, ternyata kereta itu bahasa lain untuk sepeda motor, maka timbul anekdot di Medan : kalau di Medan kereta tabrakan sama mobil, keretanya yang penyok.

 

Aku bahagia di Medan. Saudara kami banyak sekali, saudara dalam pengertian seaqidah dan seperjuangan da’wah. Kalau saudara sedarah tak ada sama sekali.

 

Tetapi kamipun pernah mengalami hari-hari menegangkan dan menyedihkan.

Entah mengapa, suatu ketika semua tetangga memusuhiku. Mereka diam, acuh tak acuh, memalingkan muka. Bahkan ketika aku mengajak bicara mereka seperti enggan dan sinis. Terbayang rasa tak nyamannya kan? Di tanah seberang, sendiri, jauh dari orangtua dan sanak saudara, tiba-tiba kami tak punya tetangga seorangpun yang mau menyapa. rasanya ingin melarikan diri saja. Tidak enak ketika berjalan atau belanja tak seorangpun menganggap kami ada.

 

Lalu datanglah seorang kawan bernama mbak Rita Pasaribu. Aku masih ingat senyum, wajah, gaya berpakaian dan caranya bicara. Subhanallah, temanku yang satu ini luarbiasa (semoga kau membaca tulisanku ini).

Mbak Rita berkunjung ke rumah, memberiku hadiah sepiring combro, singkong parut berisi adonan tempe yang pedas. Sembari berkunjung mbak Rita menyinggung masalah sikap tetangga yang sinis padaku, dengan hati-hati ia mengutarakan isi pikirannya.

”Bu Sinta pernah baca salah satu bukunya Fathi Yakan yang mengupas bab da’wah?”

Aku mengangguk sekalipun lupa kapan dan dimana, pun aku belum menangkap maksud mbak Rita yang sesungguhnya.

”Di buku itu ustadz Fathi Yakan memberi nasehat, intinya, dakwah itu disampaikan untuk kalangan intern dan ekstern. Intern ya orangtua, saudara, teman-teman, dsb. Ekstern untuk orang-orang di luar kita yang belum terlalu dikenal. Salah satunya tetangga. Tahu apa kunci dakwah ekstern?”

Aku menggeleng tak yakin.

”Kuncinya,” mbak Rita menambahkan,” orang harus ramah. Super ramah. Orang-orang di sini menganggap bu Sinta yang pendiam sebagai sombong.”

MasyaAllah.

Aku tersadar tiba-tiba.

Standarku sebagai orang Jawa adalah berbicara pelan, menahan diri, tak banyak tertawa, tersenyum simpul, banyak berbasa basi. Sementara orang Medan yang sebagian besar Batak sangat ekstrovert. Ketika mereka bertemu teman di kejauhan pun sudah berteriak-teriak, terkadang berbicara dari jarak jauh. Rupanya aku harus menyesuaikan diri.

”Woooiiii…..Buuuu!!!Apa kabar? Kemana semalam??? Ke pajak pagi? Pake sodako atau keretaaaa…??!!”

 

Begitulah.

Aku lalu silaturrahim ke tetangga. Meminta maaf pada mereka bahwa aku sering berdiam diri (padahal maksudku saat itu aku ingin bersikap sesopan mungkin, tidak berani gegabah bertindak dan berbicara, takut salah ucap) ternyata mereka lebih menyukai suasana keterbukaan dan kehangatan. Spontanitas. Kedekatan. Tak pakai basa basi. Ya bilang ya. Tidak bilang tidak. Sehingga jika kita bertemu orang Medan yang cemberut, memang begitulah suasana hatinya. Kalau mereka baik dan menganggap kita saudara memang itu kejujuran hati dan bukan sekedar basa basi.

 

Sejak saat itu, ungkapan bahwa ustadz Fathi Yakan memberikan nasehat bahwa da’wah ekstern sama dengan bersikap super ramah selalu melekat di benak dan ucapanku. Aku terbiasa tersenyum pada banyak orang terutama gerombolan ibu-ibu, menyapa orang yang kukenal di jalan , menyapa anak kecil yang lewat, menyapa tukang sayur dan tukang sampah, berbincang dengan tukang air dan tukang koran, berbincang dengan satpam . Aku bisa banyak diskusi dengan tukang becak, supir taksi, tukang parkir, adik-adik kampus.

 

Ustadz Fathi Yakan…sedikit ucapanmu mengubah cara da’wah dan hidupku.

Kau mungkin tak mengenalku tapi percayalah, aku tahu betul raut wajahmu yang penuh ghiroh namun meneduhkan. Minggu, 14 Juni 2009 kudengar kabar kepulanganmu menuju haribaan Ilahi. Ustadz yang menyampaikan berita itu menitikkan airmata, begitupun aku. Aku mencintaimu, mencintai da’wah yang kau serukan, mencintai caramu mengajak ummat pada kebaikan .

Aku berharap suatu masa nanti akan dipertemukan dengamu, dengan Hasan al Banna, dengan Sayyaid Quthb, dengan para salafus sholih. Aku berharap rasulullah Saw pun akan menyebut namamu sebagai salah seorang ummatnya.

 

Selamat jalan, ustadzku. Ustadz kami semua, ustadz milik semua golongan kaum muslimin yang saat ini terpecah belah oleh beragam fikroh.

Semoga tempatmu digantikan oleh orang lain yang lebih baik, lebih sholih, lebih faqih, lebih muharrik, lebih bijak. Semoga kedudukanmu tidak digantikan oleh ulama yang jauh dari agama.

 

Cintaku, cinta kami untukmu. Untuk seluruh ulama dan pejuang da’wah. Untuk seluruh kaum muslimin yang kami cintai, untuk seluruh generasi Robbani yang akan menjadikan bumi ini lebih makmur dengan tegaknya kalimatullah.

2 HALAMAN yang LUARBIASA !!

Banyak orang berpendapat bahwa resensi suatu buku sudah ‘dipesan’ oleh pihak-pihak tertentu agar sebuah buku nilai jualnya terdongkrak naik.

 

Benarkah demikian?

 

Tampaknya bangsa kita memang masih membutuhkan banyak stimulus untuk belajar bersikap kritis. Salah satunya lomba resensi. Kalau kita mencermati perkembangan literasi di dunia barat, orang berlomba-lomba mereview sebuah buku pasca terbitnya.

 

Resensi buku bukan hanya untuk mendongkrak penjualan.

Dalam teori sastra, resensi buku berfungsi sebagai partner untuk memahami sebuah karya. Kita pasti pernah membaca karya-karya Gothic atau karya yang cenderung menonjolkan sadisme dan sisi suram manusia (penindasan, perkosaan, kebohongan, dsb). Bayangkan jika karya tersebut terus muncul tanpa ada yang meresensinya. Resensi menjadi partner untuk mendampingi pembaca bagaimana memahami sebuah karya sastra. Resensi akan memberikan pendampingan kepada khalayak “….oh, buku ini bagus sekali sebagai karya sastra tapi nilai-nilainya tak sesuai budaya kita.”

Atau”…karya yang luarbiasa! Tapi sudahkah penulis mempertimbangkan efeknya bagi pembaca, terutama anak-anak?”

 

Resensi buku di Indonesia masih menjadi hal yang tak lazim, padahal banyak produk yang masih harus dikritisi. Novel, buku, antologi, guidance sampai komik. Ada yang sudah pernah meresensi komik-komik Jepang yang banyak dibaca anak-anak kita? Banyak isinya tak sesuai budaya bangsa (pakaian, ciuman mesra, adegan erotis lainnya).

 

Demikian pula novel The Road to The Empire.

Lebih mudah bagi penerbit untuk memasang iklan besar, full colour di majalah/ Koran, lalu menunggu hasil penjualan. Tetapi dalam beberapa hal, baik penerbit maupun penulis punya komitmen untuk tak hanya menjual buku tapi juga meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat khususnya generasi muda dan pelajar –mahasiswa.

 

Bagi yang sudah membaca The Road to The Empire pasti punya segudang tanya yang membekas : sejauh mana sejarah Islam punya kontribusi bagi peradaban dunia?

Jika tak ada orang yang meresensi atau mengkritik darya tersebut, maka penulis ( saya) akan tenang-tenang saja menulis sesuai keinginan tanpa orientasi. Tetapi resensi yang sudah masuk, kritik yang sudah tertuang, membuat penulis kembali dan terus berusaha memperbaiki diri misalnya ;

-         mengapa dalam novel tidak dicantumkan peta seperti dalam karya Lord of the Rings?

-         mengapa tidak dibuat karya tentang Jenghiz Khan terlebih dahulu sebelum sampai kepada Takudar?

-         mengapa penulis terkesan sangat mencintai budaya asing dibanding budaya bangsa sendiri?

-         dsb

 

Kritik dan resensi akan membuat penulis jauh lebih mawas diri. Demikianlah seharusnya dunia literasi di Indonesia : pembaca tercerdaskan, penulis meningkatkan kapasitas, resensi memperbaiki buku yang telah terbit dan akan terbit, penerbit makin selektif dalam artian bukan makin sulit menumbuhkan karya tapi penerbit juga akan mendampingi penulis dengan editor handal, ilustrator makin kreatif, pemerintah pun akan turut berperan meningkatkan daya baca masyarakat.

 

Tidakkah anda lihat, resensi yang hanya 2 halaman punya dampak yang luarbiasa?

Novel The Road to The Empire : karya Terjemahan?

Aku bertemu beberapa orang yang berpendapat, the Road to The Empire bukanlah karya asli orang Indonesia. Mereka terkaget-kaget ketika tahu bahwa penulisnya malah anak FLP (……tahu sendiri kan, FLP sering tidak dianggap menghasilkan karya sastra :-) ).

Lebih kaget lagi ketika kisah perang seperti itu ditulis oleh perempuan, berjilbab pula?…he…he… Waktu aku mengisi di Kampus UNTAG, mahasiswi di sana tidak percaya yang menulis The Road to The Empire itu aku….aduh, bagaimana membuktikannya?:-)

Kiai Faizi dai AnNuqoyah , Guluk-guluk, Sumenep yang membedah bukuku di Pamekasan beberapa waktu lalupun sempat tidak percaya aku yang menulis ceritanya. Sinta Yudisia dipikir bukan orang muslim juga, mirip-mirip nama agama Hindu (Waktu ibuku hamil memang sangat gandrung dengan Dewi Sintanya Ramayana. Bahkan katanya kalau tidak kesampaian akan diberi nama Sintosina-nama sejenis obat di masa itu karena ibuku seorang apoteker). Nama Sinta Yudisia memang terdengar kurang muslimah ya?

Untungnya setelah bertemu denganku Kiai Faizi yakin bahwa memang akulah yang menulisnya sebab aku bisa menyampaikan , kenapa aku terobsesi betul untuk menuliskan sejarah Mongolia beserta para bangsawannya yang pernah memeluk agama Islam. Moga-moga setelah ini , Insyaallah aku mau menulis Takudar yang berikutnya, orang-orang tidak meragukan lagi bahwa itu asli tulisanku. Sinta Yudisia. Orang asli Indonesia, muslimah berjilbab, anak FLP juga. Aku cinta sekali pada negeriku sehingga ingin menghasilkan sesuatu yang membanggakan bagi bangsa dan negaraku, juga agamaku :-)

Jangan lupa ikuti Lomba Resensi Novel TRTE!

Foto-foto acara di Kampus UNTAG, Bedah Buku Hi Pretty!

DSC00200  DSC00205   DSC00209  DSC00202

Bedah Buku Bedah Buku Hi, Prettty : Cantik dalam 30 hari!

Alhamdulillah tanggal 30 Mei kemarin aku diundang kampusku sendiri , UNTAG, oleh departemen keputrian untuk bedah buku Hi Pretty.

Sebetulnya aku diminta unutk mengisi tema kemuslimahan, apakah kecantikan itu? Sesuai buku Hi Pretty, cantik itu 3 B : Brain, Behaviour, Beauty. Perempuan di katakana cantik bukan karena fisiknya sekalipun fisik memang memegang peranan cukup penting dalam pergaulan sosial.

Beauty is a characteristic of a person, animal, place, object, or idea that provides a perceptual experience of pleasure, meaning, or satisfaction. Beauty is studied as part of aesthetics, sociology, social psychology, and culture. As a cultural creation, beauty has been extremely commercialized. An “ideal beauty” is an entity which is admired, or possesses features widely attributed to beauty in a particular culture.

Perlu digaris bawahi, bahwa kecantikan memang identik dengan kultur seseorang. Orang Eropa dikatakan cantik ketika ia berambut pirang, bertubuh tinggi, berhidung mancung. Orang Afrika dikatakan cantik bila bertubuh segar, bergigi putih, dengan rambut hitam keriting. Orang Asia (termasuk Indonesia) punya kecantikan khas berupa tubuh mungil, kulit kecoklatan (warna caramel lho, kata orang Perancis!), rambut hitam bergelombang, retina hitam. Orang Indonesia pastilah aneh bila berambut pirang, dengan retina biru, kulit diputihkan sementara kontur wajahnya (hidung, bibir, pipi, dsb) sangat Asia. Ketika sebuah produk kecantikan mau diluncurkan di Indonesia, mereka melakukan survey panjang. Setelah dirunut histories bangsa Indonesia yang telah dijajah Belanda 250 tahun, perempuan Indonesia yang merasa cantik hanya 1 %! Sisanya tidak merasa cantik dan ingin merubah seluruh penampilan mereka.

 Beauty is in the eye of the beholder The classical Koine Greek for beauty : the ripe of fruit

Orang Yunani kuno beranggapan cantik adalah seperti buah matang. Jadi gadis yang dalam keadaaan matang itulah masa tercantik. Sesungguhnya cantik adalah consensus, kesepakatan tidak tertulis, tidak dapat diklaim begitu saja oleh sekelompok orang yang mengatakan bahwa cantik haruslah puith, ramping, berhidung mancung.

 The characterization of a person as “beautiful”, whether on an individual basis or by community consensus, is often based on some combination of Inner Beauty, which includes psychological factors such as personality, intelligence, grace, congeniality, charm, integrity, congruity and elegance, and Outer Beauty, (i.e. physical attractiveness) which includes physical factors, such as health, youthfulness, sexiness, symmetry, averageness, and complexion.

Sekarang cantik sering dikaitkan dengan hal-hal komersial. Padahal kecantikan sesungguhnya adalah kecantikan yang memancarkan kelebihan seseorang apa adanya. Apa salahnya dengan seorang gadis yang bertubuh pendek, bulat, tetapi ia menguasai banyak bahasa? Apa salahnya dengan gadis berjerawat batu tapi ia sangat suka terjun di kegiatan sosial? Apa salahnya dengan gadis bertubuh ceking, berhidung pesek, berbibir ndower tapi punya kemampuan persuasif yang bagus sehingga bisa jadi psikolog handal, dimanapun orang merasa nyaman di dekatnya? Tentunya, bukan berarti kita mengabaikan masalah fisik. Seorang muslimah haruslah tampil segar, bersih, menarik, sehat. Merawat wajah dan tubuh harus dilakukan sebab tubuh yang fresh juga akan membawa percaya diri yang besar.

 Di buku Hi Pretty terselip pesan bahwa merawat kecantikan ala tradisional Indonesia yang murah meriah dapat dilakukan dan memperoleh hasil maksimal. Contoh : memutihkan kulit. Aku sendiri sudah mempraktekan dan hasilnya Subhanallah. Ambil bengkoang, parut, peras, endapkan. Pada endapannya yang berupa saripati seperti bedak dioleskan ke wajah dan leher. Rasanya dingin dan segar. Wajah jadi terlihat terang dan noda-noda pun menipis lalu hilang, ketika dilakukan berulang. Tomat pun begitu. Tiap kali mencuci tangan jadi keriput, kuoleskan tomat yang diremas-remas, kulit jadi segar dan halus sekali. Menjadi cantik tidak harus mengeluarkan biaya besar lho. Peserta menanyakan hal2 sebagai berikut : bagaimana bisa PD? bagaimana cara bergaul dengan cowok? bagaimana memasang foto di facebook? (…ada yang gak connect dengan materi memang :-) )

Masalah PD, kita bisa melihat di cermin apa kelebihan kita. Pasti ada! Yang namanya Sinta Yudisia itu berkulit gelap tapi punya lesung pipi (….haha). Tidak mungkin Allah SWT tak menitipkan satu potensi dalam diri kita, kan?

Suntik Kecantikan : kulit indah & mulus!

Beberapa waktu yang lalu , teman-teman kampusku yang cantik, sexi dan muluuus banget kulitnya menawariku injeksi alias suntik untuk kecantikan. Macam-macam yang ditawarkan pihak penyedia : suntik silikon, whitening, serum C maupun  kolagen. Kata mereka : gak ada efek sampingnya! Suamiku nggak pernah nuntut macem-macem, tapi yang namanya perempuan ingin selalu mencoba. Wah, jangan-jangan aku jadi secantik temanku ya? Memang wajah dan bodinya mulus tanpa cela!

Untung, aku sempat menangguhkan keinginanku lalu mencari tahu dunia operasi plastik, implant dsb di internet. Aku banyak dapat info. Sedikit kusampaikan di bawah. Hati-hati ya!

 

 

Meski sudah banyak korban yang jatuh, orang ternyata belum jera juga untuk melakukan suntik silikon cair dan kolagen demi memburu kecantikan. Sebenarnya apa itu silikon cair dan kolagen serta bahayanya untuk anda ? Mungkin anda ingin terlihat cantik tetapi ternyata malah menjadi hancur. Karena harus menahan rasa sakit yang luar biasa pada daerah yang ingin anda ubah.

Sebaiknya anda lebih berhati-hati lagi bila ingin terlihat cantik dengan mengubah bentuk tubuh seperti memancungkan hidung, mengisi dagu atau menghilangkan kerutan. Jika anda ingin melakukan hal tersebut, sebaiknya anda lakukan di dokter spesialis bedah plastik dan jangan ke salon kecantikan atau tempat praktek ilegal. Karena apapun yang disuntikkan ke dalam tubuh akan berdampak negatif atau positif. Sisi positif adalah diharapkan menjadi kenyataan tetapi sisi negatif reaksi yang timbul dapat berupa alergi atau salah lokasi penyuntikan sehingga menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah.

Saat ini memang cukup banyak beautician atau ahli kecantikan dan dokter umum yang menjual jasa suntik silikon. Mereka mungkin bisa melakukan suntikan tapi mereka tidak bisa mempertanggungjawabkan hasilnya. Pemerintah pun masih saja membiarkan orang-orang yang tidak punya hak untuk melakukan suntik silikon di berbagai salon.

Suntikan silikon di salon kecantikan, biasanya akan menimbulkan keadaan yang tidak diinginkan pasien. Mungkin pasien tidak meninggal tapi hasilnya malah menimbulkan rasa sakit yang berkepanjangan seperti merah dan bengkak akibat suntikan tersebut. Akibatnya operasi tersebut dibongkar lagi dan diperbaiki sehingga anda dirugikan karena salon tersebut tidak mampu memperbaiki kerusakan yang terjadi pada wajah anda.

Sebaliknya, kalaupun cairan yang disuntikkan itu benar kolagen maka dokter tidak akan menyuntikkannya ke payudara. Kolagen lebih cocok untuk jaringan kulit, bukan pada jaringan lemak. Sedangkan payudara itu sendiri terdiri dari jaringan lemak.

Pada payudara juga terdapat banyak pembuluh darah besar atau vena sehingga zat yang disuntikkan bisa langsung menerobos pembuluh darah dan menyumbat pembuluh darah. Sehingga tidak ada dokter yang mau menyuntik payudara dengan kolagen. Cara yang paling aman adalah melalui operasi dengan memasukkan kantung silikon jeli. Ini lebih mudah dikeluarkan jika ada masalah seperti reaksi alergi.

Oleh sebab itu anda harus dicek, apa betul cairan yang disuntikkan itu kolagen. Apalagi, kolagen yang asli harganya cukup mahal. Satu cc harganya bisa mencapai 80 hingga 100 dolar AS. Padahal, untuk memperbesar payudara diperlukan cairan kolagen sebanyak 200 cc, yang artinya perlu dana sekitar 40 ribu dolar atau sekitar Rp 360 juta. Dalam pemakaian yang cukup besar, tentu saja harganya sangat mahal. Oleh sebab itu, kolagen biasanya dipakai untuk mengatasi kerutan kulit bukan untuk memperbesar payudara.

Selain mahal, kolagen juga memerlukan tempat penyimpanan khusus, yaitu pada suhu rendah dan konstan. Ini membuat banyak rumah sakit tidak sanggup menyediakan stok kolagen cair bagi pasien. Alhasil, untuk memberikan pelayanan suntikan kolagen tidaklah mudah dan murah.

Padahal banyak perempuan yang minta dibesarkan payudaranya dengan suntikan di salon kecantikan karena lebih murah, cepat dan tanpa harus perlu tindakan operasi. Tindakan operasi merupakan sesuatu yang menakutkan meski sampai sekarang belum pernah ada orang yang meninggal gara-gara menjalani bedah plastik.

Kolagen memang lebih alami karena diambil dari tunjang hewan (sapi) yang diproses menjadi berbentuk cair dan digunakan menjadi pengisi atau menambah volume bagian tubuh yang kurang. Para dokter biasanya menggunakannya untuk mengatasi kerutan di kulit wajah dengan jalan disuntik agar lebih rata. Bahan dasar kolagen mirip jaringan tubuh manusia sehingga bila disuntikkan ke dalam tubuh, sebagian akan diserap oleh tubuh. Tetapi sebulan setelah disuntikkan anda perlu dievaluasi dan selama dipergunakan dengan baik, kolagen sebenarnya cukup aman untuk tubuh. Apakah anda masih tertarik untuk menjalani hal ini ?

Sekalipun banyak yang sukses dengan implant dan injeksi , tak sedikit yang gagal!

Knots Landing actress Joan Van Ark's attempts to hold back the years with cosmetic procedures appears to have backfired[6]   kor3_1111850c


Foto-foto acara KTN di villa Hidayatullah, Batu

IMG2185A  IMG2191A  IMG2197A  IMG2193A

IMG2208A  IMG2199A

Kiat Sukses Menerbitkan Karya : dari acara Kupas Tuntas Novel di villa Hidayatullah, Batu, Malang

Malang, 16 Mei 2009

  

Mengapa karya harus diterbitkan?

 

Setelah melewati proses panjang menulis yang menghabiskan waktu berminggu, berbulan, bahkan bertahun-tahun; seorang penulis dihadapkan pada proses perjuangan yang berikutnya : menerbitkan karya. Mengapa sebuah karya harus repot-repot diterbitkan?

 Sastra terlahir lewat proses rumit (bukan berarti sulit) yang menghabiskan seluruh energi penulis, terkadang menghabiskan pula seluruh sumber dananya untuk menggali referensi J. Bukan itu saja, saat menulis seringkali penulis harus menyingkirkan sekian banyak agenda agar tulisannya dapat diselesaikan tepat waktu ; agar idenya yang masih segar & actual secara tepat waktu disebarkan ke tengah masyarakat.

Sastra berisi kegelisahan pengarang, ada tujuan, pretensi (tuntutan), visi, harapan ideal yang menyuarakan kesenjangan antara apa yang seharusnya dengan apa yang ada. Sastra melembutkan sebuah makna agar esensinya sampai ke tangan para pembaca. Sebagai contoh, membangkitkan kesadaran tentang keharusan muslimah berjilbab seringkali tak dapat dilakukan secara dogmatis. Sastra, baik fiksi dan nonfiksi dapat menggiring pemahaman, penafsiran, kesadaran lalu memunculkan titik balik penting dalam kehidupan seseorang.

Baca entri selengkapnya »

Foto-foto di STAIN Pamekasan

FLP Pamekasan
FLP Pamekasan

   lmac-73  lmac-88 lmac-24   lmac-80 

STAIN, Pamekasan
STAIN, Pamekasan

  

Resensi The Road to The Empire, catatan indah dari Kiai Faizi

IMG2134A

IMG2141A

  IMG2142A 

“Sejarah Rasa Fiksi : Sebuah Bacaan Pendamping The Road To The Empire.”

Kiai Faizi, M.Hum ( Pesantren AnNuqoyyah -Guluk-guluk, Sumenep)

 

 

            Novel, sekuat apapun data-data faktual yang dirujuknya, tetaplah menjadi karya fiksi. Karena itu, seseorang yang bersiap-siap membaca sebuah karya fiksi, sepatutnya ia juga menyadari bahwa  ia akan berhadapan dengan sebuah “ cerita yang tak ada”. Lalu, bagaimana dengan novel berlatar sejarah? Atau menyelip-nyelipkan elemen kesejarahan? Ya begitulah, ia tetaplah fiksi ; sesuatu yang tidak pernah terjadi tetapi mungkin pula terjadi.

Karya sastra akan tetap dibaca masyarakat , betapapun itu bukanlah hal yang nyata. Ini menyangkut selera nurani, bahkan naluri : bahwa manusia tidak selalu ingin yang nyata. Ia juga ingin imajinasi yang kaya.

Namun begitu, kelebihan novel yang ditulis berdasarkan data-data sejarah seperti novel The Road to The Empire karya Sinta Yudisia ini, adalah bahwa dalam sekali kesempatan, ia bisa menyuguhkan data-data faktual pada saat dia juga menyampaikan sesuatu yang tak nyata (fiksi).

Ada banyak alasan yang dapat diajukan menyankut novel sejenis ini; fakta yang diangkat terlalu riskan jika disajikan dalam bentuk aslinya (jurnalisme /nonfiksi) seperti kasus Timortimur dalam Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidharma; atau, penulis ingin agar sejarah yang disuguhkan lebih berkesan jika disuguhkan dalam fiksi ; ataupula menjadi upaya memperkenalkan data-data sejarah yang tidak terangkat , dan menganggap fiksi sebagai cara yang tepat memperkenalkannya pada masyarakat yang tidak begitu rajin membaca. Dalam posisi seperti ini , berada dimanakah Sinta Yudsiai? Entahlah.

 

 

*************

 

 

Novel merupakan genre sastra yang banyak dipilih kaum perempuan untuk berekspresi, mengingat semua penulis perempuan di tanah air yang saya ketahui memilih genre ini sebagai media tulisannya. Ini adalah asumsi awal. Selasih adalah orang peratama yang dikenal sebagai orang perempuan pertama yang menulis novel. Kalau Tak Untung , novelnya itu, dikemudian hari, menandai bermunculannnya keberadaan penulis-penulis perempuan Indonesia. Lambat laun, pelan tapi pasti, keberadaan mereka menyita banyak perhatian : baik secara kuantitas maupun kualitasnya.

Tengarai yang disampaikan oleh Korrie Layun Rampan (Kompas, 25/02/1996) bahwa menulis novel bukan menjadi pilihan perempuan-perempuan penulis di Indonesia. Dalam amatan saya, dimaksudkan untuk menunjukkan angka atau jumlah. Artinya, nama-nama seperti Fatimah Hasan Delais, Suwarsih Djojopuspito, Arianti, Luwarsih Pringgoadisuryo, Hana Rambe, Titi Said dll. belum seberapa banyak jika dibandingkan dengan penulis laki-laki. Yang patut disyukuri adalah bahwa kecenderungnan perempuan untuk menulis, hari demi hari, terus membaik. Demikian pula teknik, pencitraan, serta gagasan yang diusungnya, juga menunjukkan perkembangan yang menyenangkan.

Wiyatmi mencatat ( Kompas, 21/04/1996) dalam hal produktivitas, para perempuan penulis lama cukup bagus. Namun dalam soal pemikiran, pada awalnya novel-novel tentang perempuan, baik yang ditulis laki-laki maupun yang ditulis oleh perempuan sendiri, selalu menuturkan nasib kaum mereka yang tidak beruntung, lemah, dan selalu menjadi korban. Biasanya, hal itu dikaitkan dengan persoalan cinta dan adat. Sitti Nurbaya-walaupun ia disebut roman-merupakan representasi kuat untuk itu.

 

 

***************

 

 

Novel yang ditulis oleh Sinta Yudisia, The Road to The Empire ( TRTTE ), merupakan salah satu bukti bahwa perkembangan kepengarangan penulis perempuan di tanah air telah jauh lebih maju dan berkembang daripada yang dicatat oleh pendapat di atas. Dalam novel ini, Sinta Yudisia begitu berani mengangkat tema perang/kekuasaan dengan bumbu romantika dalam satu bingkai latar sejarah; suatu hal yang jarang ditemui dalam peta kepengarangan penulis perempuan Indonesia. Novel ini mengandalkan latar cerita yaitu kekaisaran Mongol sejak Tuqluq Timur Khan hingga generasi selanjutnya, Arghun Khan / Albuqa Khan, hingga Baruji atau Takudar.

Buku setebal 560 halaman ini merupakan ramuan kisah taktik, perang, cinta, yang telah diolah campur-aduk dan disuguhkan dalam sebentuk novel berlatar sejarah yang nikmat, tetapi juga berat. Mengapa demikian ? Tradisi bacaan  (fiksi prosa) masyarakat selama ini terlalu dimanja oleh bacaan-bacaan kekalahan perempuan, tren dunia remaja metropolitan, kisah cinta segitiga, pemberontakan, yang garis brunya adalah : persoalan cinta asmara semata. Bahkan, belakangan novel-novel tanah air  hanya menunjukkan perkembangan dua aliran yang berarti ; yaitu novel-novel bertema cinta-agama-tradisi (seperti Ayat-Ayat Cinta dan sebangsanya) ; kedua, novel-novel kontemporer yang mengedepankan penggarapan di bidang bahasa dan ideology. Novel-novel “lulusan” Dewan Kesenian Jakarta seperti Saman – Ayu Utami, Genijora – Abidah el Khalieqy, Hubbu Mashuri dll merupakan beberapa diantara banyak contoh.

 

Novel TRTTE tampaknya harus menunggu waktu lebih lama untuk menemukan komunitas pembaca di tanah air. Selera bacaan yang telanjur diciptakan sejak lama oleh novel-novel yang lebih dulu popular sebagaimana disebutan di atas, telah begitu mengakar dan tertanam dalam peta penerbit –pembaca. Novel sejenis TRTTE, di samping tidak menemukan “kawan sebaya –sepermainan” juga karena “muatan” yang ditanggungnya yang tidak sepenuhnya ngepop meskipun disajikan sedemikian renyah sekalipun. Poppish dan seelera pop tetaplah tidak bisa diabaikan dalam menakar nasib sebuah karya, terkhusus dalam persoalan laku tidaknya, meskipun bukan timbangan bermutu tidaknya.

 

Berikut sedikit catatan pembacaan saya atas novel TRTTE. Karena tidak mungkin saya menulis sebegitu jauh hinggá membahas segala detil unsur/struktur novel, artikel ini saya tulis hanya sebagai “bacaan pendamping” (semacam further reading) bagi rekan-rekan yang hendak / telah membaca TRTTE karya Sinta Yudisia ini :

Pertama, sinopsis tentang Tuqluq Timar Khan yang dikembangkan di awal-awal cerita terasa terlalu sedikit jika dibandingkan dengan keinginan penulis untuk mengantarkan emosi pembaca dan kearah konflik cerita yang sebenarnya. Lebih dari itu , latar belakang penaklukan –penaklukan yang telah dilakukan oleh kaisar Jenghiz Khan, justru lebih sedikit lagi. Dalam anggapan saya, kisah tentang Tuqluq atau Jenghiz kHan harusnya ditulis dalam bab tersendiri. , baik yang mengikut plot lurus ataupun dengan pola plot balik.  Hal itu dimaksudkan agar pembaca lebih dulu memiiliki pijakan pemahaman latar sejarah untuk melanjutkan cerita. Banyak pembaca barangkali yang tidak tahu menahu tentang Tuqluq dan Takudar, tetapi hampir semua orang tahu siapa itu Jenghiz Khan.

Kedua, terlampau banyaknya nama dan istilah asing cukup mengganggu. Hal ini mungkin tidak akan berakibat demikian jika nama dan istilah berasal dari bahasa Arab yang nota bene begitu mudah dikenali oleh tradisi dan khazanah masyarakat Melayu/Indonesia. Namun demikian usaha penulis dengan membubuhkan catatan/glosarium di bagian bawah halaman merupakan cara yang tepat untuk meminimalisir kesenjangan tersebut.

 

Ketiga, saat pertama kali membaca judul The Road to The Empire, saya langsung  berburuk sangka dengan cara beringgris-inggris ria ini. Saya tidak tahu, apakah hanya dengan cara serperti ini kita dapat mendapat “baraokah” kesuksesan judul-judul novel luar dengan cara sukses dengan ta’aful, minimal pada gaya penjudulan semisal The Lord of The Ring, misalnya? Ataukah cara ini ditempuh agar lebih mudah ditemukan oleh mesin pencari sejenis Google atau Altavista? Atau , sekali lagi mohon maaf, karena sekedar gagah-gagahan saja. Untuk apa? Pertanyaan ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam TRTTE sama sekali tidak ada hubungan penting dengan bahasa manapun kerajaan Inggris J

Masih beruntung, novel ini tidak belepotan dengan kosa kata bahasa Inggris yang diadopsi, diadaptasi, maupun dipakai secara serampangan sebagai mana banyak terjadi dalam banyak genre chicklit dan teenlit yang marak beberapa tahun sila. Terus terang  di antara keberatan saya yang terpenting, penamaan judul berbahasa Inggris inilah yang paling mendalam bagi saya selaku orang yang turut membesarkan bahasa Indonesia dengan menjadi warga dan penulis yang menggunakan bahasa ini sebagai medianya.

 

Keempat, setting /latar merupakan hal mendasar dalam perencanaan sebuah novel terlebih novel yang digali dari kekayaan sejarah. Nah, karena itu  terasa janggal jika TRTTE seolah-olah terlalu asyik menggali latar tempat namur terlena pada penggarapan latar waktu. Peristiwa demi peristiwa dalam novel , meskipun diberi label “sangat filmis” sekalipunm nyatanya tidak didukung oleh deskripsi latar waktu yang kuat. Data tahun tanggal baru muncul pada halaman 74, itupun secara sepintas dan sekedar penunjukan tahun hijriyah, tanpa Masehi.

 

 

Demikianlah bacaan Sepintas saya, ini merupakan upaya untuk memberikan catatan pendek atas struktur cerita yang panjang. Dan tidak bijak rasanya jika saya, pada akhir catatan ini, jika tidak memberikan tepuk tangan untuk sang penulis, Sinta Yudisia, atas karya tulisnya yang tentunya memakan waktu berbulan-bulan untuk mengumpulkan rujukan dan menata alur ceritanya.

 

Sekedar tambahan, bahwa seorang penulis yang ingin mendapatkan hasil terbaik, tentu tidak dapat bekerja seorang diri. Ia membutuhkan penyunting, editor, dan kawan diskusi. Bukankah novel War and Piece nya Leo Tolstoi menjadi masterpiece setelah ditulis ulang sebanyak 7 kali. Ini menunjukan bahwa menulis karya tidak dapat sekali jadi. Ia butuh waktu untuk diendapkan, didiskusikan, salah satunya dengan cara didiskusikan seperti forum ini. Wallahu A’lam.

 

 

Wa maa min kaatibin illaa yublaawa yabqooddahra maa kassabat yadaahu falaa taktub bikhoththika khoiro syay-in tasurruka fii –l qiyaamati an-mmarooh

(Dznunnun Misro-in)

 

Setiap penulis akan diberi cobaan sepanjang tulisan itu masih ada.

Maka janganlah kamu menulis kecuali jika tulisan kamu itu dapat membuatmu berbahagia kelak di hari Kiamat.

 

 

Catatan berkesan dari acara Romántica Menulis Kreatif & Bedah buku The Road To The Empire di STAIN, Pamekasan :

 

            Alhamdulillah, bedah buku dan diskusi yang dihadiri oleh ratusan peserta dalam situasi yang ‘panas’ berlangsung luarbiasa. Pertanyaan-pertanyaan yang masuk menggugah membangkitkan semangat diskusi, tentunya bukan jidal belaka. Ada beberapa catatan pertanyaan dan pernyataan yang penting untuk disimak :

  1. Kivi Faizi berkata : tujuan utama kritik sastra  adalah supaya  sang penulis tidak riya ketika karyanya diterbitkan dan mendapat pujian.
  2. Hana, Faqih, (pak Rusdi Zaki di DKS) juga bertanya : kenapa judulnya harus The Road to The Empire?

Awalnya, novel ini berjudul Tahta Awan atau Singgasana Halimun. Setelah diskusi dengan penerbit masalah mekanisme pasar, mau tidak mau kita harus obyektif bahwa ketika sebuah karya dilempar ke pasar kita juga berharap karya tersebut diserap dengan baik dan buah pikiran kita mewarnai banyak pembaca. Kita tidak hanya bicara royalty, kita bicara masalah nasyrul fikrah dan bagaimana masyarakat semakin dekat dengan produk karya sastra yang mencerahkan dan berkualitas. Sementara ini, jira sebuah judul ‘masih dapat ditawar’ okelah , sepanjang isi tak banyak diedit. InsyaAllah ke depan, jika pasar lebih menerima dan kita lebih mencintai produk karya sendiri; penerbit akan semakin berani menerbitkan karya-karya yang sangat khas Indonesia.

  1. Mengenai harga yang 63.000 : kemahalan? Kiai faizi bercerita bahwa ia sangat suka menulis puisi. Ia menulis puisi bertahun-tahun, baru diterbitkan 2007, baru menerima royalty 2009. 9 tahun ia baru bisa merasakan royalty. Beliau berkata, anda (para peserta) tidak adil jira mengatakan novel tabal TRTTE berharga 60-70 ribu kemahalan! Apakah anda tidak berpikir berapa lama sang penulis menulis, meriset, mengedit, mencari ide, menyempurnakan dst? Belum lagi kerja penerbit yang berkseinambungan? Jika masih menganggap karya sebegitu mahal…ya, kapan akan punya karya berkualtias? Jika penulis hanya dihargai murah, ia enggan menulis dengan ide-ide brilian.
  2. Duh terima kasih sekali kiai Faizi, nasehat anda tentang riya, tentang kata mutiara dari Dzunnun –Nabi Yunus As, dan pembelaan Kiai Faizi tentang ’harga mahal’ tersebut sangat membahagiakan.
  3. Dalamkesempatan tersebut dan banyak kesempatan saya selalu berkata, bahwa salah satu motivator di belakang saya adalah pak Maman S. Mahayana yang selalu mendorong ”….tidak selamanya penulis harus berorientasi pada royalti. Sudah waktunya anda berpikir tentang menghasilkan karya berkualitas.” Kalimat inilah yang menegaskan kita sebagai penulis, sebagai dai, sama seperti kata kiai Faizi yang menyitir dari Nabi Yunus….sebuah tulisan dapat membuat kita berbahagia, kelak di akhirat. Amiin yaa Robbal ’Alamin

LOMBA RESENSI NOVEL THE ROAD TO THE EMPIRE

Cover

Sudahkah Anda membaca novel The Road to the Empire?

Ayo, jangan hanya jadi sekedar pembaca pasif!

Kesempatan teman-teman semua untuk berkarya, menulis gagasan dan ide dalam bentuk nonfiksi. Ayo, ketik idemu dan ikuti: Lomba Resensi Novel The Road to The Empire Peraih IKAPI-IBF Award 2009, kategori Fiksi Dewasa Terbaik Persyaratan dan ketentuan lomba sebagai berikut

A. Syarat umum:

1 Lomba terbuka untuk warga Negara Indonesia, di manapun berada, berapa pun usia Anda.

2. Resensi berupa karya asli, bukan terjemahan atau saduran.

3. Resensi yang dapat diikutsertakan adalah yang pernah dimuat, baik media cetak (koran, majalah), maupun media on-line dan blog. Yang telah dipublikasi rentang bulan Januari sampai Juni 2009.

B. Syarat khusus:

 1. Kirim bukti pemuatan resensi (berupa fotokopi atau scan dari media yang telah memuat)

2. Sertakan biodata peresensi plus fotokopi tanda pengenal peresensi (KTP/Kartu Pelajar) ke: PANITIA LOMBA RESENSI NOVEL THE ROAD TO THE EMPIRE Promosi Lingkar Pena Publishing House Jl. Raya Jagakarsa (Simadakarsa) No A-1 Jagakarsa, Jakarta Selatan 12620 Cantumkan “LOMBA RESENSI NOVEL THE ROAD TO THE EMPIRE” di pojok kiri atas amplop.

Ingat! Bukti resensi ditunggu selambat-lambatnya tanggal 30 Juni 2009 (cap pos)

Penghargaan bagi peresensi terbaik:

Penghargaan 1: Rp 1.000.000,- + paket buku senilai Rp150.000,-

Penghargaan 2: Rp 500.000,- + paket buku senilai Rp150.000,-

Penghargaan 3: Rp 300.000,- + paket buku senilai Rp150.000,-

3 pemenang hiburan mendapatkan paket buku @ Rp150.000,-

 Pemenang akan diumumkan pada bulan Juli 2009 di website Lingkar Pena Publishing House (www.lingkarpena.multiply.com) Untuk keterangan lebih lanjut hubungi kami di 021- 78882079

Happy review! Promosi Lingkar Pena Publishing House

FLP Jatim ngunduh mantu (lagi….)

img2107a          img2096a 

img2088a  

Alhamdulillah….setelah Henny Puspitarini, Prayulia, Rofa, Faris Anam, Adi Subiyakto berikutnya menyusul Vina-Fierza dan Vita-Arifin. Si Kembar yang selalu berdua kemana-mana termasuk mengurus FLP juga akhirnya menikah bersama. Kami sekeluarga berkesempatan datang ke Bojonegoro sekaligus menikmati keindahan pantai Lamongan. Siapa menyusul Vina Vita?

Kartini’s spirit Never Die

img2067aimg2068a img2074a

Alhamdulillah, tanggal 25 April kemarin aku berkesempatan mengisi acara Kartini di UNAIR. KArtini, kadang lebih diidentikan dengan perayaan berpakaian tradisional dengan sanggul dan kebaya. Padahal perjuangan Kartini lebih dari itu : pandangannya terhadap pendidikan, terhadap al Quran, terhadap orang2 yang berada di bawah derajatnya dan juga terhadap perempuan pada umumnya. Semoga kita bisa meneladani bukan hanya Kartini tapi juga seluruh contoh muslimah hebat yang kisahnya terukir dalam sejarah.

Ini materi yang kusampaikan :

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Kedudukan Perempuan dalam Islam

UNAIR 25 April 2009

  • Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Taubah, 9: 71).

Pembahasan ‘aqidah,

  • sebagai basis awal seluruh ajaran keislaman, sulit ditemukan pernyataan teks apapun yang membedakan posisi laki-laki dari perempuan.Dalam wahyu pertama sama sekali tidak dinyatakan ‘hanya untuk laki-laki’ atau ‘tidak untuk perempuan’. Seluruh pernyataan Allah SWT diperuntukkan bagi seluruh hamba-Nya, tanpa membedakan laki-laki dan perempuan.

  • Tetapi dalam kaidah ushul fiqh maupun kaidah bahasa, redaksi laki-laki digunakan untuk mencakup kedua jenis kelamin (al-ashlu fi al-khithâb ya‘ummu adzakara wa al-untsâ), kecuali jika dinyatakan secara khusus untuk jenis kelamin tertentu (illâ in dallat al-qarinatu ‘alâ khushûsihi).

  • Perintah bertauhid, misalnya, sekalipun menggunakan redaksi laki-laki (khithâb al-dzukûr), tetapi mencakup kedua jenis kelamin (ya‘ummu al-dzukûr wa al-inâts). Sama juga dengan perintah untuk menjadi khalifah yang memakmurkan bumi dan menjadi saksi kemanusiaan (syuhadâ ‘alâ al-nâs), yang juga menggunakan redaksi laki-laki.

  • Untuk ajaran tauhid misalnya, yang secara vertikal berarti ketundukan kepada Tuhan yang hanya satu (ilâhun wâhid), dan secara horizontal berarti kesederajatan seluruh manusia dengan tanpa penghambaan di antara mereka dan tanpa diskriminasi.

  • Setiap ada perilaku diskriminasi dan yang merendahkan kemanusiaan, Nabi saw. selalu menyatakan kepada pelaku tersebut, “Kamu adalah orang yang masih terpengaruh budaya kebodohan” (Innaka rajulun fîka jahiliyyah). Begitu juga makna khalifah dan saksi kemanusiaan, sebagai turunan dari ajaran tauhid.

  • Mencari ilmu untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman, serta menyebarkannya adalah turunan dari ajaran ketauhidan, kekhalifahan, dan sebagai bentuk kesaksian untuk kemanusiaan. Laki-laki dan perempuan, keduanya dituntut meningkatkan pengetahuan dan mempertanggungjawabkan bagi kepentingan keumatan. Tugas ini dalam bahasa lain disebut sebagai amar ma‘ruf nahy munkar,

  • Tugas amar ma‘ruf dan nahy munkar, yang menjadi tanggung jawab bersama, laki-laki dan perempuan, menuntut kemampuan pengetahuan yang memadai dan pengalaman yang cukup. Pencapaian pengetahuan inilah yang kemudian menjadi pintu masuk ‘keulamaan’ laki-laki maupun perempuan. Seorang pakar hadis, al-Hafiz ibn al-Jawzi (w. 597 H) dalam kitabnya Ahkâm al-Nisâ’, menegaskan pentingnya pengajaran untuk perempuan. Sekalipun di dalam kitab ini, dia mengumpulkan berbagai teks-teks hadis yang sepertinya membelenggu perempuan, tetapi dia tetap mengatakan:
    “Bab ketiga: Kewajiban perempuan untuk menuntut ilmu. Perempuan, sama seperti laki-laki, diharuskan menuntut ilmu mengenai hal-hal yang menjadi kewajiban dirinya dalam kehidupan, agar ia bisa melaksanakan dengan penuh keyakinan..
    (Ibn al-Jawzi, Ahkâm al-Nisâ, 11).

  • Di akhir bab dari kitab ini, yaitu bab yang ke-110, Ibn al-Jawzi menuturkan 66 nama perempuan yang dinilai memiliki keagungan dan kemuliaan. Baik karena keilmuan yang dimiliki, pengajaran yang dilakukan, atau sikap agama dan ibadah yang dilaksanakan. Sejak masa Nabi Muhammad saw., para perempuan diberi kesempatan dan didorong untuk memperoleh pengetahuan yang menjadi kewajiban dan merupakan persoalan dirinya. Sayyidah ‘Aisyah ra., dalam suatu teks hadis, memuji perilaku beberapa perempuan Anshar Madinah yang memiliki semangat tinggi untuk datang ke rumah Nabi saw. untuk memperoleh ilmu pengetahuan. “Sebaik-baik perempuan adalah mereka yang dari Anshar, karena mereka tidak pernah malu untuk belajar memperdalam agama”. (Riwayat Bukhari, lihat: Ibn al-Atsir, Jâmi‘ al-Ushûl, juz 8, h. 196, no. hadis: 5352). Beberapa teks hadis yang lain, juga menceritakan mengenai tuntutan para perempuan yang meminta waktu khusus untuk belajar dari Nabi Muhammad saw. Di samping mereka juga biasa mendatangi masjid, ikut shalat lima waktu maupun Jum’at dan mendengar khutbah, baik Khutbah Jum‘at maupuan Khutbah Idul Fitri maupun Idul Adha.

  • Aktivitas ini yang membuat beberapa perempuan sahabat bergerak, sepeninggal Nabi saw., menjadi pengibar panji-panji keilmuan dalam peradaban Islam. Baik Ilmu Alquran, Hadis, Fiqh maupun sastra dan sejarah Bangsa Arab. Al-Hafiz al-Maqdisi (w. 600 H) mencatat dalam kitabnya al-Kamâl fî Asmâ ar-Rijâl, ada 824 nama perempuan di abad pertama, kedua dan ketiga hijriyah, yang memiliki kontribusi pengajaran ilmu-ilmu transmisi hadis (al-riwâyah).

  • Pada masa sahabat yang paling menonjol dalam pengajaran, di antaranya adalah

  • Aisyah bint Abi Bakr ra. yang memiliki 299 murid,

  • Ummu Salamah bint Abi Umayyah ra. dengan 101 murid,

  • Hafsah bint ‘Umar ra. dengan 20 murid, Asma’ bint Abi Bakr ra. dengan 21 murid,

  • Hajimah al-Wassabiyyah ra. dengan 22 murid,

  • Asma’ bint ‘Umais ra. dengan 13 murid,

  • Ramlah bint Abi Sufyan ra. dengan 21 murid dan

  • Fathimah bint Qays ra. dengan 11 murid.

  • (Lihat: al-Habasy, al-Mar’ah bain al-Syari‘ah wa al-Hayah, h. 16).

  • Ibn al-‘Arabi mencatat dalam kitabnya al-Futûhat al-Makkiyyah, ada lebih 40 orang sufi besar perempuan yang memiliki pengaruh terhadap literatur dan pengajaran tasawuf. Ulama perempuan pada abad pertama hijriah, yang terkenal di bidang fiqh adalah Zainab bint Abi Salamah al-Makhzumiyyah (w. 73 H), Hajmiyah bint Hayy al-Awshabiyyah al-Dimasyqiyyah yang biasa dipanggil Umm al-Darda’ (w. 81 H), ‘Umrah bint ‘Abd al-Rahman (w. 100 H). Ketiganya adalah ulama besar yang disaksikan para sahabat dan ulama-ulama mazhab. Sayyidah ‘Aisyah ra. orang yang langsung mendidik ‘Umrah bint ‘Abd al-Rahman, sehingga ia menjadi rujukan banyak ulama pada masanya. Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki, termasuk salah seorang yang banyak merujuk pada pandangan-pandangan ‘Umrah bint ‘Abd al-Rahman (lihat: al-Sa‘di: al-Faqîhat al-Mansiyyât, h. 12).

  •  

  • Ruth Roded dalam Kembang Peradaban, keterlibatan perempuan semakin ke depan (atau kemari) justru semakin sedikit. Abad-abad pertama justru lebih banyak keterlibatan perempuan dalam ilmu pengetahuan dan aktivitas keagamaan. Mungkin ini menjadi kritik keras terhadap realitas keterpurukan perempuan sepanjang sejarah Islam di abad pertengahan dan abad-abad akhir. Indonesiapun memiliki sejarah keulamaan yang signifikan, yang diakui dunia bahkan dikunjungi Rektor Universitas al-Azhar Mesir, yaitu Rahmah el-Yunusiah yang sempat diberi gelar al-Syaikhah atau Guru Besar (perempuan) dari universitas tersebut. Artinya, ia sesungguhnya setara dengan al-Syaikh Mahmud Syaltut pada saat itu.

  • Baca entri selengkapnya »

« Entri lama Entri Lebih Baru »