FLP Jatim & 7 November : Pahlawan Baru Kami

 

            10 November Indonesia tentu masih mengingat kisah hari Pahlawan yang terkait dengan satu persitiwa sejarah di Surabaya. Esok, tepatnya 7 November, sebelum hiruk pikuk perayaan hari Pahlawan, di rumah ku yang sederhana tetapi nyaman karena berada tepat di depan masjid Rungkut Jaya rekan-rekan FLP Cabang akan berkumpul kembali.

            Apa sih yang akan kami lakukan?

  1. Silaturrahim : mengingat sejak MUNAS II kami belum pernah lagi bertatap muka maka kerinduan ini harus tertuntaskan ;-) Kenapa mengambil moment 7 November? Selain masih tanggal muda, bulan ini relatif agak jauh jaraknya dari lebaran yang pastinya menyita waktu, tenaga….and money of course. Kita semua tahu, para pejuang FLP tak pernah mendapatkan kucuran dana yang cukup untuk membantu mereka senantiasa terus menjalankan roda pemerintahan FLP. Setidaknya, hari-hari ini cukup realistis bagi kami semua untuk berkumpul, paling tidak masih tersedia dana di kantong sekalipun…Allah Maha Mencukupi.
  2. Konsolidasi :  dalam mencapai target-target yang tinggi, mulia, bermanfaat untuk ummat mungkinkah semua dilaksanakan oleh satu kepala, satu tubuh, satu semangat saja? Kita membutuhkan winning value, winning concept, winning system, winning team, winning goal. Tanpa perencanaan-perencanaan matang, SDM, dan semua resource yang didayagunakan semaksimal mungkin; mustahil FLP yang kita harapkan menjadi salah satu kontributor peradaban Islami ini dapat meraih capaian-capaian gemilang. Harapan kami FLP dapat menjadi winning team yang semakin menghasilkan karya & penulis (pejuang da’wah) cemerlang.
  3. Musyawarah : syuro adalah hal yang sangat utama dalam agama ini. Banyak langkah dan keputusan perlu diambil dengan melihat kapasitas masing-masing daerah.
  4. Sharing : Malang, Jombang, Surabaya, Blitar, Jember, Pamekasan, Sumenep adalah cabang yang cukup handal dalam menjaring peminat dan menjalankan program-program FLP. Cabang2 lain yang tak kalah semangatnya perlu mendapat tambahan ilmu dan pengalaman dari rekan-rekan mereka yang sudah lebih dahulu maju.
  5. Little Gift : kami, FLP Wilayah belum dapat memberikan reward yang layak. Memang, FLP lahir dari rahim da’wah dan selamanya akan dibesarkan oleh da’wah. Da’wah juga yang membuat kita tetap berjaya hingga sekarang. Tak pantas kita mencari kepentingan pribadi dari FLP, seharusnya kita yang memberikan harta terbaik kita bagi da’wah termasuk da’wah FLP. Tetapi bagaimanapun, manusia memiliki jiwa yang unik. Sedikit saja mereka mendapatkan penghargaan dan perlakuan istimewa, sedikit saja kita menghargai jerih payah mereka, maka hati-hati mereka yang telah letih berdarah-darah besama jalan da’wah ini akan kembali bertunas, tumbuh, berseri dan siap memikul jalan da’wah kembali. Rasanya, saya pribadi ingin memberikan reward yang pantas bagi para pejuang FLP. Kita pasti bisa membayangkan berapa cost Blitar-Surabaya PP dan daerah2 lain. Semua ditanggung sendiri, wilayah hanya menyediakan tempat sederhana (rumah saya J ) dan makanan ala kadarnya. Selebihnya mereka menanggung pembiayaan sendiri. Saya ingin memberikan gift kecil , mungkin buku, modul, pin, dll sebagai tanda cinta bagi mereka ; adik-adikku yang tak pernah lelah membantu berjuang bersama FLP
  6. Menguatkan semangat : tak dapat dipungkiri, banyaknya permasalahan pastilah mengikis ketangguhan kepribadian kita. Pertemuan ini insyaAllah selain menguatkan niat, semangat, harapan juga merapikan langkah-langkah ke depan. Bertemu dan melihat wajah orang-orang sholih –adik-adikku ini – rasanya sudah cukup mengobati semua dukalara. Apalagi mendengar sepakterjang kisah mereka yang juga memeras keringat membanting tenaga (kadang membanting harga diri!) di daerah masing-masing. Mereka exist. Mereka ada. Mereka bertahan. Mereka terus bergerak. Mereka akan berhenti nanti jika waktu yang menghentikan.

 

 

Mohon doa dari semua agar acara esok, 7 November 2009, berjalan lancar.

Dalam sujud malam nanti dan esok Dhuha, dalam kesempatan wirid dan dzikir malam ini, selipkan nama-nama kami FLP Wilayah Jawa Timur di doa anda, para pembaca. Semoga , FLP  ini adalah salah satu amal yang dapat kita banggakan di yaumil akhir kelak.

Pilih Psikolog atau Ahli Agama?

              Ketika kami sedang mendapatkan mata kuliah Psikologi Klinis, seorang teman bertanya : jika sakit jiwa, kenapa pilihannya tidak ke ahli agama saja? Pertanyaan simple yang membutuhkan jawaban panjang. Tadinya saya juga berpendapat seperti itu. Sebagai orang beriman, tentulah ketika menghadapi persoalan yang pertama kali terpikir adalah : saya harus menyelesaikan dengan cara religius. Hal ini tidak salah bahkan memang seharusnya demikian agar kita tak salah jalan ketika mencari jalan keluar atau obat dari setiap permasalahan.

              Pertanyaannya : Seberapa religius kita? Kadar agama yang bagaimana yang dapat menuntaskan banyak persoalan?

          Inilah sisi penting kenapa dalam Islam, agama insyaAllah selalu dapat disandingkan dengan ilmu pengetahuan. Ketika kita bernafsu dalam beragama tapi tak dilandasi oleh ilmu yang memadai, hasilnya adalah taqlid dan jumud, pada suatu saat jika kita anggap agama tidak mampu menyelesaikan persoalan maka jawabannya simple : agama ini salah!

Bingung? Jangan dulu.

 Contohnya begini. Katanya sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Kenyataannya, banyak orang sholat masih pemarah, penghasut, dll dsb etc yang jelek-jelek. Jadi ayat itu bohong kah? Sedikit membahas Psikologi Faal. Dalam teori tentang ”Tidur ”, otak manusia mempunya 4 jenis gelombang :

 1. Beta wave (13-30 hertz) — aktif

2. Alpha wave (9-12 hertz) —santai

3. Theta wave (4-8 hertz) — tenang

4. Delta wave (1-3 hertz) — tidur

{tentang berapa ketepatan frekuensi, ada beberapa perbedaan pendapat)

Beta wave adalah keadaan di mana kita sadar seutuhnya, melakukan aktivitas, meledak-ledak penuh gairah. Alpha wave saat santai-santai, misalnya duduk di kursi malas. Delta wave adalah kondisi dimana seseorang jatuh tertidur. Tahukah anda di gelombang mana orang bisa di hipnotis (baik terapi maupun ketika dalam kriminalitas)?

Mereka yang dihipnotis berada dalam Theta wave, suatu gelombang spesial yang mengindikasikan otak antara tidur dan tenang, tidak terlelap tapi juta tidak terjaga. Salah satu terapi dalam psikologi yang dapat dikatakan handal adalah metode meditasi, yoga, juga hipnotis yang rata-rata mempergunakan gelombang Theta wave untuk membuat pasien rileks dan ekstasi.

                         Naaah, kenapa ya, saat saya sholat, bersamaan itu dua pendekar saya lagi berantem bab masalah yang tidak karuan juntrungannya, maka dalam benak saya ketika sholat adalah ”….awas! Tunggu sampai Ummi selesai sholat nanti!” Maka begitu salam di ucapkan ke kanan ke kiri saya langsung berteriak memanggil nama mereka dengan marah.

              ”Nggak tau apa Ummi lagi sholat? Sampai Ummi nggak sempet wirid segala?!”

             Kenapa usai sholat (bahkan masih di dalam sholat!) emosi marah bisa tetap meledak?

             Ya. Karena saat sholat yang harusnya berada dalam Theta Wave atau gelombang Theta, saya masih membiarkan pikiran berkeliaran ke gelombang Beta dan Alpha. faktornya bisa macam-macam. Kalau kita melihat orang mau meditasi atau yoga, betapa penuh persiapannya. Tempat, baju, alas, lingkungan , suasana, segala yang bisa selaras dengan gelombang Theta di sinkronkan. Kalau kita mau sholat ya sholat aja. Wudlu buru-buru, baju sholat ya sama dengan baju habis masak tadi yang bau bawang terasi , menggelar sajadah dan mukena ala kadarnya dengan situasi dan suasana yang serba apa adanya. Pokoknya sholatnya selesai, titik. Sementara orang meditasi dan yoga sudah punya prinsip, komitmen, niat dan mengupayakan segala sesuatu bahwa meditasinya memang untuk mencari ketenangan.

                      Itulah sebabnya shlat kita ternyata tidak mencegah perbuatan keji & mungkar ya. Itu analogi saya setelah belajar konsep ”Tidur” Kembali pada persoalan memilih psikologi & ahli agama. Dua profesi ini alangkah indahnya jika disandingkan.

                    Sebagai sebuah ilmu, psikologi memiliki metode ilmiah sebagaimana ilmu-ilmu eksakta yang lain sehingga reliabilitas & validitasnya teruji. Jika kita memperlakukan materi lain harus demikian cermat, apatah lagi dalam memperlakukan jiwa manusia yang sedemikian unik, luhur, mulia dan istimewa.

                        Ada beberapa cerita sedih yang mungkin dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Seorang teman sebut saja namanya Eko tengah bermasalah dalam pernikahan. Ia jatuh cinta pada seorang gadis dan meminta si istri untuk bisa menerima pilihannya dengan konsep poligami. Elly (juga samaran) pada akhirnya menyetujui permintaan Eko karena ia seorang istri sholihah. Betapa sedih saya melihat tubuh dan wajahnya makin layu menyusut, ia sering terlihat melamun dan bermata bengkak. Anak-anaknya konon juga tak terurus lagi. Saya menyarankan kepada Eko untuk mendatangi psikolog, jika ia yakin poligami adalah sebuah pilihan yang tepat ; tidakkah lebih baik keluarganya dipersiapkan sebaik-baiknya baik istri, anak-anak, orangtuanya? Apa salahnya terapi ke piskolog sehingga semua pihak menjadi tangguh dan siap dengan segala kemungkinan? Eko menolak mentah-mentah saran kami.

                   Seorang kenalan, sebut namanya Yuni juga bermasalah dengan suaminya. Dalam permasalahan itu , mama Yuni seringkali mendatangi ustadz dan jawabannya adalah sabar. Psikolog & psikiater belum masuk hitungan karena mama Yuni memang seorang yang teguh dalam agama. Tanpa melihat bahwa Yuni didera permasalahan demikian berat (suami orang kayaraya, tak mau kerja, semua kebutuhan dipenuhi mertua, suaminya juga nggak faham agama, suka mabuk dst ). Ketika Yuni kemudian depresi dan sakit berkali-kali, barulah mereka mendatangi terapis. Di situlah setelah 5 tahun, mama Yuni melihat bahwa ketika Yuni mengingat suaminya saja, ia langsung memegang dadanya, setengah histeris dan terbungkuk-bungkuk mencoba mengatasi nyeri luarbiasa di dadanya (sejenis psikosomatis).

                     Seorang kenalan juga, memiliki suami yang demikian keras wataknya dan suka memukul istrinya. Sebut saja Eva. Eva sudah rajin ke pengajian dan mendatangi psikolog, ketika suaminya disarankan untuk datang ke psikolog yang keluar adalah ejekan. Hingga akhir hayatnya, Eva seringkali menerima perlakuan kasar dari sang suami dan juga anak-anaknya.

                   Masih banyak lagi kisah tragis yang membuat hati miris saat mengetahuinya. Lebih miris lagi bahwa kondisi kritis kejiwaan seseorang tidak hanya dialami mereka yang berada di bawah garis kemiskinan tetapi juga berada dalam kondisi mapan ekonomi dan pendidikan. Sebetulnya, kenapa sih nggak mau menerima jasa terapis , psikolog misalnya? Penyakit jiwa tidak identik dengan gila.

               Dewasa ini orang sering mengalami stress –frustasi – depresi (konsep ini saya tuliskan nanti ya..) Yang mengalami stress dan tahapan selanjutnya bukan hanya mereka yang tidak punya uang atau berada di jalur yang salah, tetapi mereka para pejuang da’wah dan keluarga baik-baik pun bisa mendapatkan stress yang jika tidak dikelola dengan baik akan menjadi depresi hebat.

                Saya sendiri pernah mengalami ketika tugas da’wah sedemikian padatnya, campur aduk dengan tugas rumahtangga dan segudang aktivitas. Alhasil yang ada adalah ledakan demi ledakan yang kemudian saya tafakuri : nggak mungkin agama dan da’wah ini yang salah kan? Pasti faktor manusia –saya- yang tidak bisa mengendalikan. Syukurlah sekarang saya kuliah di psikolog dan mulai belajar Psikologi Klinis, Psikologi Perkembangan Psikolgi Kepribadian, Psikologi Sosial dsb.

                Saya jadi bisa membaca ” oh, aku lagi banyak stressor. Kalau begitu jangan sampai meningkat jadi frustasi, ntar marah-marah ke suami dan anak-anak. Makanya aku harus begini-begini…..” Kelak, psikolog pun jika tak mampu menghadapi masalahnya sendiri juga harus mendatangi terapis yang bisa di percaya entah itu psikiater, ahli agama, dst. Disinilah juga ahli agama sangat berperan ketika memberikan masukan bagaimana cara mengatasi kendala-kendala kejiwaan. Terapi dzikir, sholat, puasa dst alangkah bagusnya jika dikawal dengan ilmu psikologi yang menggunakan alat terukur dan teruji.

                Saya membayangkan jika suatu saat punya klien.

               ”Saya frustasi.”

              ”Sejak kapan, Pak?”

              ”Sejak tidak menjadi anggota Dewan?”

             ”Memangnya apa yang Bapak rasakan sekarang?”

               ”Bla..bla..bla…”

               Lalu kita akan memilihkan metode bandwith atau fidelity. Sembari memberikan rujukan ,” kami punya terapis ahli agama yang dapat memandu Bapak berdzikir. Atau mungkin Bapak mau ikut terapi sholat tahajjud? Nanti kita ukur seberapa kadar insomnia Bapak, kecemasan dsb dst.”

              Duh, bayangkan sebuah Pusat Rehabilitasi, Centre of Crisis. Di sebuah alam yang indah, saat kita merasa punya segudang masalah (dan jangan menunggu sampai bertumpuk lalu kita mengisolasi, kehilangan kontak, sampai hilag ingatan !!) . Sang terapis mengukur kadar permasalahan kita lalu kita akan menjalani terapi sesuai sunnah : berolah raga, memasak, beraktivitas lainnya. Menjadi sukarelawan dan melatih ketrampilan. Lalu puasa bersama, sholat bersama, mendapatkan suntikan taujih. Semuanya terukur, terjadwal, terpercaya, dapat diandalkan. Lalu keluarlah kita dari rehabilitasi itu dengan semangat baru baik menghadapi anak-anak, pasangan, lingkungan kerja, da’wah dst.

             Hmh, indah ya?

Tapi & Meskipun

Jangan biasa gunakan tapi, pakailah meskipun Dosen Psikologi pendidikan kami yang nyentrik, sering bicara sufistik di sela-sela mengajarnya. Ia mengajarkan ha-hal yang baru kudengar. Jangan gunakan tapi, pakailah meskipun!

Apa yang ia sampaikan mungkin sama seperti yang tengah kuhadapi. Sama seperti bait-bait syair yang pernah kudengar :

jika minta kekayan , Tuhan memberimu pekerjaan

jika meminta kekuatan, Tuhan memberimu kesulitan

 jika meminta jalan keluar, Tuhan memberimu permasalahan

tidak adilkah Tuhan?

Beberapa waktu lalu, aku pernah merasakan hidup yang sangat teratur dengan 2 orang pembantu. Bukan sok kaya tetapi aku betul-betul ingin berkhidmat untuk da’wah di segala lini, bukan hanya kepenulisan. Kuhrapakan 2 pembantu itu mampu membantu kerja-kerja rumahtanggaku. Belum hanya itu, akupun punya EO yang mengelola acara-acara promosi bukuku. Jadi, aku dapat konsentrasi menulis, memikirkan FLP, mengecek PR anak-anak dan tugas primer lainnya. Mencuci, memasak, besih2 rumah dsb ’pekerjaan kasar’ sudah ada yang menangani.

Semakin banyak amanah dakwah, ternyata Allah menguji ketahanan diriku. Satu persatu pembantu-khadimah- ku pulang kampung karena menikah dll alasan. Begitupun EOku menikah. Jadilah aku sendiri menangani semua permasalahan.

Ibuku memberiku nasehat : ” Sinta, pekerjaan utama kamu adalah ibu dan istri. Jangan lupakan itu!”

Aku merenunginya. Mungkin….Allah SWT ingin mengembalikan sense-ku yang sekian lama sedikit terlupakan. Aku yang begitu mencintai da’wah kepenulisan, disibukkan oleh mengisi disana sini, akhirnya melimpahkan pekerjaan kepada orang lain. Tentu, selama kontribusi da’wah kita positif , insyaAllah tak masalah.

Beratkah? Tentu saja.

 Tetapi seperti kata ibuku yang bijak, perempuan itu tempatnya tirakat. Di zaman dulu, para istri Raja tak pernah hidup enak ketika telah berputra. Mereka banyak melek malam, banyak puasa. Karenanya mereka banyak menghasilkan para kesatria di zamannya, tidak seperti sekarang. Istri para ’raja’ dan ’bangsawan’ justru yang paling enak hidupnya.

Pasca Idul Fitri dan kembali ke Surabaya, aku benar-benar blank. Membayangkan kuliah, menulis, FLP, mengisi pengajian, dan segudang tugas rumahtangga…cukupkah 24 jam? Memang anak-anakku dapat dikerahkan tetapi mereka sudah sekolah dari sejak jam 06.00-17.00. Tetapi the show must go on. Kekuatan pikiranku harus bekerja ekstra.

Jika esok harus kuliah jam 7 pagi, malamnya aku mencuci dan menyiapkan bahan masakan. Jika kuliah jam 07.45 atau lebih siang sedikit, aku mencuci pagi sembari membereskan pekerjaan yang lebih berat : mengemasi seprei, mukena, pel2, memasak yang lebih istimewa. Sembari berangkat kuliah aku ke warung untuk belanja. Dari beras, air galon hingga garam dan minyak harus sudah terprediksi rapi. Di sela-sela kuliah aku harus membaca ulang Psikologi Kepribadian, Klinis Diagnostik dsb. Berusaha membuat catatan agar waktu belajarku efektif. Di sela-sela kuliah pula aku sempatkan sms dan telpon suamiku menanyakan kabar dirinya ;-)

Sepulang kuliah (12.00-13.00) aku bergegas ke rumah mempersiapkan masakan dll. Ba’da Asar dimulailah acara ibu-ibu : jemput menjemput, membereskan pernak pernik membalas email dan menulis sedikit. Ketika anak-anak pulang menyuruh mereka mandi, mempersiapkan makan dan menanyakan urusan sekolah. Alhamdulillah, Allah SWT memberiku khadimah seorang ibu paruh baya yang bisa membantu menyetrika dan membersihkan rumah. Ia tak bisa full, hanya bekerja pocokan. Sebagian besar tugas rumahtangga ada di kedua tanganku. Aku berangkat tidur dengan tubuh remuk redam. Tengah malam terbangun untuk melakukan pekerjaan yang kucintai : menulis dan mengurusi FLP. Entah sampai jam berapa tergantung situasi. Kadang memang, di pagi hari sejenak sebelum berangkat kuliah aku membaringkan tubuh sekitar 5 menit untuk memberikan rasa nyaman pada seluruh sendi tubuhku yang letih. Sesungguhnya, aku benar-benar lelah lahir batin.

 Tetapi justru, dalam kesulitan ini aku merasakan ketergantunganku pada Allah SWT demikian besar. Aku memohon agar bisa menunaikan dan wajib dan sunnah dengan baik. Aku tahu, bahwa di tengah kelelahanku yang sekarang, satu-satunya sandaran kekuatan utama adalah kekuatan ruhani. Sholat terasa demikian nikmat karena saat itulah aku benar-benar rileks. Doa terasa demikian lezat karena aku betul-betul memohon : Ya Allah, beri aku kecerdasan dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas sebagai ibu, istri, penulis, daiyah. Segala yang berat ini hanya dapat terobati ketika aku sholat dan membaca Quran.

Dulu….ketika semua serba mudah, kuanggap sholat dan baca Quran hanya rutinitas yang sewajarnya. Sekarang, aku membutuhkan terminal untuk mengobati lelah lahir batinku.

Kekurangannya.. mungkin tugas da’wah keluarku sedikit terhambat. Semua masih perlu penyesuaian.

Kelebihannya…. aku lebih berbagi ke anak-anak. Kujelaskan bahwa amanahku bukan hanya ibu tetapi juga kita semua harus punya andil bagi ummat. ”Kalau Ummi terlalu capek, nanti nggak bisa da’wah lagi…”Alhamdulillah, anak-anakku semakin bisa membantu. Begitupun kebahagian perempuan yang sesungguhnya ketika anak-anak & suami memuji masakanku. ”Sambal Ummi paling enak. Makasih ya Mi..” lalu mendaratlah kecupan di pipi kanan kiriku dari anak-anak.

Bagaimana dengan tulisan-tulisanku? Beberapa novelku mungkin tertunda, tetapi aku tak risau sebab aku berusaha mengerjakan dengan bersungguh-sungguh. Aku yakin , tulisanku yang dibumbui oleh keletihan jihad seorang ibu dan istri pastilah lebih memancarkan makna. Aku yakin, tulisan yang hanya bisa kukerjakan di sela-sela aku menyiapkan keperluan anak-anakku adalah tulisan yang mengalirkan kekuatan kepada khalayak. Aku yakin, bobot bicaraku dalam pengajian dan acara-acara akan lebih berisi ketika sehari-hari akupun bergelut dengan air mata dan keringat perjuangan menjadi seorang muslimah yang sesungguhnya. Ketika kemarahan menderaku karena target yang tak tercapai sebagai manusia akupun meledak. Lalu kusadari, kenapa aku tak memohon kepadaNya untuk memberiku bekal sabar & lapang dada? Sesungguhnya, Tuhan Maha Tahu. Segala kesulitan ini memberikan imbas lain kepadaku. Hafalan Quranku yang sempat banyak di masa lalu, sering tak terulang. Di saat sekarang, sembari mengerjakan ini itu aku lafalkan kembali apa yang pernah lupa. Di malam hari, sebelum tidur kusempatkan membaca referensi-referensi Islam dan Psikologi dsiamping membaca buku sastra. Setiap detikku bermakna kini.

 ”Aku mau nulis…….tapi….

Aku mau da’wah…. tapi…

Aku mau jadi ibu dan istri yang baik …tapi….”

Kiranya kalimat itu harus diganti : Aku mau nulis meskipun waktuku sedikit dan tubuhku lelah.

Aku mau da’wah meskipun sangat sibuk

Aku mau jadi istri dan ibu yang baik meskipun berkejaran dengan tugas dan waktu.”

Biarkan Harta Kita Bicara! (untuk Sdr. Nurkholis FLP Aceh & gempa Padang)

Assalamu’alaikumwrwb.

 

rekan-rekan FLP Jawa Timur tercinta…

usai Ramadhan yang berkesan, Syawal yang hangat karena silaturrahim, rupanya Allah SWT menagih sesuatu amalan kepada kita.

 

Seorang ustadz pernah menyampaikan di sholat tarawih :

“….saya, anda, kita semua itu bakhil! Pelit! Kikir! Nggak ada orang yang pada dasarnya suka berbagi dan memberi. Akui saja, nggak ada manusia itu yang nggak cinta sama hartanya. Tetapi sekali lagi, Allah ingin memberikan kesempatan kepada kita untuk menyucikan diri, menyucikan harta. Tahukah Anda bahwa ketika harta itu diinfaq kan, ia akan berkata 4 hal ; jauh sebelum harta itu sampai ke tangan si penerima :

aku fana, lalu kau kekalkan

aku sedikit, lalu kau banyakkan

aku kecil, lalu kau besarkan

aku dulu kau jaga, sekarang aku yang menjagamu.

 

 

            Teman-teman…

ucapan ustadz ini menggetarkan saya. Semoga kali ini tidak riya. Usai mendengar cerita beliau, saya sisihkan sedikit terutama kalau pas dapat lembar uang yang bagus. Diam-diam saya infaq kan. Nggak mesti jumlahnya, kadang 5 ribu kadang 10 ribu, kadang 50 ribu.

 

            Teman-teman,

ternyata memang harta itu berbicara. Allah Maha Kaya dan Maha Membalas. Inilah balasannya di ramadhan kemarin :

                  DP novel yg biasanya hanya berjumlah x tiba-tiba jadi 5x!

                  royalti sebuah novel yang lamaaaa saya tunggu tiba-tiba turun

                  menjelang Idul Fitri seorang teman meng sms : ”mbak, naskah mbak ada royaltinya tuh di antologi XX. Mbak ngirim 2 naskah kan?”

 

Subhanallah….

 

teman-temanku tercinta…

Sisihkan uang kita untuk saudara kita tercinta Nurkholis, FLP Aceh yang tertimpa musibah kecelakaan menjelang lebaran kemarin hingga koma dan harus diamputasi.

Sisihkan uang kita untuk saudara-saudara kita di Padang, Sumbar.

Rp 1000, Rp 2000, Rp 5000, Rp 10.000, berapapun.

Allah tahu isi kantung kita. Kalau kita tak mampu 10 ribu, toh kita masih punya seribu. Kalau yang seribu pun tak ada, ajaklah orang-orang sekeliling anda.

 

With Love…

Semoga sedekah kita selain diganti berlipat ganda, membuat kita dijauhkanNya dari musibah. Siapa yang dapat memastikan gempa tidak menimpa Surabaya, Jember, Malang, Jombang, atau kota-kota lain di Jawa Timur?

 

Kirimkan bantuan anda ke :

 

Aferu Fajar Nadari BCA  cab. Tangerang  6030115102                          (08179376664)

Rumanti Dyan Cahyani Bank Muamalat cab. Madiun 9148885499              (085649118656)   

Sinta Yudisia    BRI cabang Tegal 0101-01-009291-50-9                         (08563229782)

(Silakan pilih yang termudah)

 

Tolong konfirmasikan ke nomer handphone yang bersangkutan, jumlah dan peruntukannya (Sdr. Nurkholis atau Gempa Padang); insyaAllah akan dilaporkan secara transparansi & accountable.

Jazakumullah Khoiron Katsiron.

 

Wassalamwrwb

Berbuka bersama anak-anak para PSK & Mucikari

 DSC03508   DSC03517   DSC03525   DSC03541

Mata anakku, Inayah, 2  SMP basah memandang foto-foto oleh-olehku dari Dolly. Jajaran wajah lucu menggemaskan dengan latar belakang rumah-rumah wisma yang di hari-hari bisa dipenuhi pekerka seks komersial (PSK). PSK yang memiliki hubungan darah dengan mereka : ibu, kakak, atau bibi. Atau juga orangtua mereka justru yang penyedia wisma alias induk semang atau mucikari.

Sebetulnya aku tidak menyambangi Girilaya dengan gang Dolly-nya yang terkenal. Banyak sekali gang di daerah Jarak yang menyediakan sarana kenikmatan. Salah satu yang kami kunjungi adalah Putat Jaya 2 A, daerah yang terkenal dengan beraneka ragam Wisma Kenikmatan. Tetapi daerah di sekitar Jarak memang lebih akrab disebut Dolly.

            Sejak di depan gang Putat Jaya 2 A, telah ditandai dengan larangan : TUTUP.

            Di gang itu banyak bertebaran neon box bertuliskan : Dilarang masuk bagi pengemis, pemulung, anjal dan banci.

            Sepanjang gang tersebut yang terdiri kurang lebih 50 rumah, mungkin sekitar 10 rumah yang bukan Wisma Kenikmatan. Di tiap jendela lebar seperti akuarium dan pintu tertulis larangan di atas kertas secara rapi ; TUTUP. Sekalipun duduk-duduk di depan gang wanita-wanita berbusana ketat dengan paha mulus terbuka.

            Disanalah aku mengenal Oka, Dimas, Riki, Degrit, Nanda, Angga, Riska, Ayu, Dwi, Oka, Dharma, Della, Nane, Catur, Guntur, Febri, Nadya dan masih banyak lagi.

            Anak-anak cantik.

            Anak-anak tampan.

            Anak yang molek.

            Anak siapa mereka?

            “Ayo, siapa nama nabi kalian?

            “Allaaaaah….”

            “Siapa nama malaikat?”

            “Rasuuuul…”

            “Sholat Shubuh ada berapa rokaat?”

            “Lima rokaat!”

            Jika anak TK yang menjawab, kita akan maklum.

            Tapi usia mereka sebagian kelas 6, kelas 5. Hanya beberapa yang masih balita. Jangankan mengenal syariat Islam seperti tuntunan sholat dan puasa. Mereka bahkan tak mengenal siapa Tuhan dan Nabi mereka sendiri. Kemana saja orangtua kalian, Nak?

            Kadang anak-anak itu tak terkendali. Kadang mereka begitu liar. Tetapi sekali waktu wajah mereka demikian lapar, haus, kering, ketika kami mengajarkan surat al Fatihah dan doa mau makan.

            Pak Kartono aktivis taman bacaan Kawan Kami banyak bercerita tentang kondisi Putat Jaya 2A.

            “Di sini memang berbeda dengan Dolly sana, Mbak,” paparnya. Dolly lebih ditekankan pada kawasan bisnis dengan sistem layanan perjam, minimal 80 ribu tiap 1,5 jam. Dolly juga termasuk kawasan bisnis elit sementara yang masuk gang seperti Putat Jaya 2 A termasuk hanya kelas menengah. “Semalam ada yang tipnya sampai 1 juta, karena memang cantik sekali.”

            Putat Jaya tidak ditekankan sistem perjam tetapi layanan sepuasnya.

            Bayanganku tentang kamar-kamar seperti hotel lenyap seketika.

            Putat Jaya (Puja) lebih mirip rusun (rumah susun) Penjaringan atau Wonorejo. Rumahnya kecil dengan ukuran 5 x 10 . Kamar-kamarnya juga kecil dengan pintu yang tidak selalu bisa terkunci rapat. Yang kupikirkan adalah bagaimaa puluhan anak-anak yang lalu lalang di situ menangkap pemandangan para ibu mereka berkasih-kasihan dengan pasangan bergonta ganti?

            ”Wah, itu sudah biasa, Mbak,” ungkap pak Kartono. ”Mereka sering melihat ibu mereka hanya pakai handuk sedang melayani tamu.”

            Aku menelan ludah, kering.

            Padahal beberapa waktu lalu kubaca bahwa pornografi merusak salah satu pusat keseimbangan di otak secara hormonal. Pantas saja anak-anak itu kadangkala begitu liar seperti hewan buruan.

            Persoalan pelacuran bagaikan benang ruwet, tumpang tindih, saling silang, berkelindan jalin menjalin , tiada tahu ujung pangkalnya. Debat panjang siapa yang harus mengentaskan : para ulama, pemerintah, LSM, aktivis, PSK atau mucikari itu sendiri; menjadi perdebatan panjang. Aku sendiri mendapatkan tanggapan pro dan kontra tentang keinginanku berkecimpung di Dolly.

            ”Percuma, menghabiskan tenaga.”

            ”Yang paling bertanggung jawab pemerintah.”

            ”Dasar perempuannya aja yang sudah gatel, keenakan. Nggak bakal mau kerja baik-baik karena sudah biasa dapat uang banyak.”

            Silang pendapat ini  kadang membuatku pepat, sedih, marah, kecewa. Entah pada siapa, mungkin pada diriku sendiri. Aku marah karena aku tidak bisa berbuat apa-apa juga. Yang lebih kupikirkan bukan para PSK tetapi anak-anak mereka. Memang itu ulah ibu mereka yang nista dengan lelaki yang aib pula, tetapi anak-anak itu tidak bersalah kan? Kita tidak menganut dosa turunan tetapi lingkungan yang diwariskan, memang iya.

            Aku senang bertemu pak Kartono.

            ”Saya melakukan apa yang saya bisa, Mbak.”

            Ia mengontrak 3 kamar di Puja, satu buat kamar tidur dan dua buat rumah baca Kawan Kami. Ia juga bergabung di Plan dan Indonesian ACTS (Against Child Trafficking). Selain mengumpulkan anak-anak, ia juga menjaring para remaja untuk ikut andil dalam Stop! Perdagangan Anak. Pak Kartono mengakui,  betapa sulitnya menutup Dolly tetapi ia berusaha semampu mungkin memutus rantai PSK.

            “Kalau ada yang masuk kemari nggak boleh di bawah umur lalu kami beri arahan untuk bekerja di bidang lain. Tapi kalau nggak mau ya bagaimana lagi,” akunya. Pak KArtono ingin Dolly suatu saat seperti Kramat Tunggak yang menjadi Islamic Centre.

            Ada satu cerita yang aneh, unik, menggeramkan dari pak Kartono yang membuat kita beristighfar dan mengambil hikmah. Sebanyak apapun PSK melayani lelaki, ternyata kebutuhan afeksi mereka kurang sehingga tetap saja punya pasangan atau pacar ‘peliharaan’. Ini memakan biaya besar.

            “Saya sering ajari ibu-ibu supaya mereka menabung  dan menyekolahkan anak-anak setinggi-tingginya. Saya nggak tau itu uang haram atau nggak ya Mbak, pokoknya saya bilang ‘kalau kamu sudah susah seperti ini jangan sampai anakmu ikut susah’. Soalnya, banyak Mbak, PSK yang malah punya pacar dan duitnya habis buat melihara si lelaki ini sehingga anak-anaknya terlantar.”

            Jadi begitulah kenapa seperti lingkaran setan yang makin lama makin menyempit tidak selesai-selesai. Cari uang waktu masih muda dan cantik, haus kesepian, cari lelaki (pastilah lelaki yang juga tidak berniat mengayomi), perlu banyak biaya untuk mengelola hubungan (mungkin perselingkuhan, atau juga di perempuan mengimingi harta karena haus kasih sayang), punya anak (kecelakaan atau memang keinginan), perlua keluar uang untuk memelihara kecantikan fisik, begitu seterusnya.

            “Kalau hanya keluar dari sini untuk jadi pembantu atau pelayan toko…wah, pasti balik lagi.”

            Agama. Syariat. Ketrampilan. Perlindungan hukum. Kesadaran. Semangat untuk berubah. Masyarakat yang kondusif. Lapangan Kerja. Betapa banyak PR kita.

            “Siapa sih yang paling banyak menyambangi PSK?” tanyaku ingin tahu.

            “Paling banyak lelaki yang punya masalah di rumah tangga,” kata pak Kartono.

            Hm, tambah lagi PR buat para wanita dan kaum ibu : jaga diri kalian baik-baik seutuhnya mencakup fisik, komunikasi, agama, keluarga. Up grade diri agar suami tidak berpaling!

            Kami bercerita tentang Masjid yang Bersedih (aku), Biola Tua (Aferu Fajar), Janji Cici (Citra Widuri). Kami berbagi minum, ta’jil kolak, nasi kotak dan bingkisan dari bu Diah Katarina (istri pak Bambang DH). Anak-anak itu berbaris usai sholat magrib yang berdesakan.

            “Bunda, kenapa kok anak laki-laki di depan sih?”

            Tidak tahukah kamu, Sayang, bahwa demikian shof orang sembahyang terutama di masjid?

            ”Siapa yang berpuasa?”

            Nyaris tak ada yang mengacungkan jadi.

            ”Siapa sholat tarawih?”

            Sepi.

            ”Siapa sholat 5 waktu?”

            Tak ada yang bereaksi.

            ”Siapa yang tadi pagi sholat Shubuh?”

            Beberapa orang ingin mengangkat tangan tapi ragu.

            Ketika magrib menjelang kami berbuka dengan tenggorokan kering, sakit, kehabisan suara. Dimas (entah anak siapa) mengumandangkan adzan dengan merdu. Mereka menatapku dengan mata bercahaya dan mulut tersenyum.

           

 

 

 

            “Bunda habis ini pulang?” tanya mereka.

            Aku mengiyakan.

            Wajah mereka sedih. Aku berpamitan. Aku menyalami para PSK dan mucikari juga orang-orang kampung sembari meminta maaf karena kami sudah menyebabkan banyak kegaduhan. Wajah mereka tentu saja menyimpan kehatian-hatian.

            Aku berjalan pulang meninggalkan gang Putat Jaya, meninggalkan dunia antah berantah yang jauuuuuh sekali dari kehidupanku yang normal, bahagia, bersama anak-anakku yang sehat & lucu. Di ujung gang aku menyapa Nanda dan Risma.

            “Nanda, rumah kamu di mana?”

            Ia menunjuk sebuah rumah biru dengan kaca lebar jernih dengan lampu-lampu menyala. Ada tulisan Wisma. Ada juga tempelan berbunyi : TUTUP.

Mencari Ridho Manusia

Praying%20for%20rainCak Mukhlis dan Rodhiah, sepasang suami istri sederhana di sebuah kampung. Keduanya gemar melakukan sholat tarawih di masjid. Satu-satunya mukena milik Rodhiah hanyalah sebuah mukena warna merah yang sudah usang karena selalu dikenakan sepanjang lima tahun. Rodhiah senang bergegas pergi ke masjid sehingga selalu berada di shaf terdepan. Mukena merah, usang, tak pernah ganti, menjadi bisik-bisik tetangganya, kaum ibu yang memang selalu punya bahan untuk didiskusikan alias ngerumpi.

“Wis mukena-e abang, ning ngarep pisan.”

Begitulah bisik-bisik yang terdengar. Sudah warnanya merah usang, selalu tampil mencolok di depan.

Suatu hari, mukena yang hanya satu-satunya itu terkena kotoran tokek saat Asar. Dicuci pun tak kering. Akhirnya Rodhiah meminjam sarung dan baju Cak Mukhlis, ditambah kerudung agak panjang, jadilah ’seragam’ itu mukenanya sebagai penutup aurat sat sholat tarawih.

”Wah, bajunya aneh,” celetuk ibu-ibu dalam bisikan di belakang. Seperti biasa, Rodhiah mengambil tempat di shaf terdepan.

Selang beberapa hari, Cak Mukhlis mendapat arisan tak terduga yang dirahasiakannya dari sang istri.

Sebagai kejutan, ia memberikan semua uang arisan itu pada Rodhiah. Girang bukan main , Rodhiah ijin meminta sesuatu. “Mas, antar ke supermarket ya. Aku pingin beli mukena.”

Rodhiah yang sederhana tak berpikir beli ini itu saat punya uang agak banyak, yang ada dalam benaknya bagaimana punya mukena bagus untuk bertandang ke rumah Allah. Dengan uang arisan di tangan, Rodhiah menyisihkan untuk membeli mukena bagus sebagai ganti mukena merahnya yang memang sudah usang. Di Ramadhan itu, Rodhiah tak pernah ketinggalan berada di posisi terdepan.

”Paling beli di Wonokromo,” bisik seorang ibu.

”Atau di Pasar Turi.”

”Atau jangan-jangan kreditan?”

Ibu-ibu di belakang, berpasang-pasangan, berbisik dan bergunjing.

Rodhiah keheranan dengan perilaku para tetangga. Cerita ini ia sampaikan pada Cak Mukhlis.

„Kenapa ya Mas, ibu-ibu itu begitu? Aku pakai mukena jelek diomongin, pake mukena bagus juga diomongin.”

Cak Mukhlis merenung, memikirkan sesuatu sebelum menjawab pertanyaan istrinya yang sholihah. Dari bibirnya muncul sebuah kisah.

“Dek, kamu pasti tahu Luqman al Hakim.”

Rodhiah mengangguk. Luqman al Hakim seorang luarbiasa yang namanya diabadikan dalam al Quran karena kebijaksanaan dan nasehat-nasehatnya , terutama perihal hubungan anak dan orangtua.

”Suatu ketika Luqman ingin memberi pelajaran berharga pada anaknya. Berangkatlah ia dan sang anak ke pasar dengan menuntun sebuah kuda.

Pertama, Luqman naik kuda, anaknya menuntun kuda. ”Orangtua yang tidak tahu belas kasih dengan anaknya,” omel orang-orang.

Kedua, Luqman turun menuntun kuda, anaknya menaiki kuda. ”Dasar anak tak tahu diri, tak tahu sopan santun. Masa’ orangtuanya di bawah sementara dia yang masih muda enak-enakan?” celoteh orang-orang di pasar.

Ketiga, Luqman dan anaknya naik bersamaan di punggung kuda. ”Kasihan kuda itu! Dasar dua orang yang tidak punya belas kasihan!” gerutu orang-orang.”

Keempat, Luqman dan anaknya turun , bersamaan menuntun kuda. ”Bodoh amat orang-orang itu. Punya kuda malah dituntun, bukan dinaiki!” bisik orang-orang.

Begitulah cerita tantang Luqman al Hakim, dek.”

Rodhiah masih belum menangkap hubungan kisah Luqman dengan mukena merahnya.

”Kamu tahu apa makna peristiwa itu?” tanya Cak Mukhlis. Rodhiah menggeleng. Cak Mukhlis melanjutkan dengan sabar dan tenang. Sama seperti Rodhiah, putra Luqman al Hakim pun tidak mengerti apa maksud ayahnya.

Luqman si bijak kemudian berkata,

”Hai anakku, kamu berperilaku buruk akan digunjing orang. Kamu berperilaku baik pun akan digunjing orang. Karena itu ingatlah! Siapa yang mencari ridho/pujian manusia, pasti tidak akan ketemu! Siapa yang mencari ridho Allah SWT, pasti akan mendapatkannya.”

Tergetar hati Rodhiah mendengarnya.

(Begitupun tergetar hati kami yang menghadiri sholat tarawih 11 Ramadhan 1430 H dan mendengar kisah ini dari sang muwajjih )

Apa yang diberikan Ustadz Fathi Yakan padaku?

Fathi Yakan 1   fathi yakan

Apa yang diberikan Fathi Yakan padaku?

 

 

Suatu hari, saat di Medan tahun sekitar tahun 1996…..

Aku mengikuti suami yang ditempatkan di Medan usai lulus DIII Program Diploma STAN. Saat itu kami masih keluarga muda, aku tengah hamil anak pertama. Kami masih kurang pengalaman, masih sangat kurang pengetahuan kecuali semangat da’wah menggebu yang kami bawa sejak masih duduk di bangku kuliah di STAN, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Jurangmangu.

Shock Culture, mungkin begitu istilahnya.

Terkaget-kaget menemui orang Medan yang beraneka ragam : Batak, Melayu, Cina, India, Jawa-keturunan. Budaya kami bertolak belakang. Orang-orang Medan yang terbiasa berbicara keras hingga terdengar dari jarak beberapa meter (bahkan dari balik dinding rumah) berbeda dengan kami orang Jawa yang terbiasa alon-alon berbicara dengan lemah lembut, halus, berbicara dengan struktur kromo inggil.

Alhamdulillah kami diterima oleh masyarakat Medan. Waktu itu kami mengontrak di wilayah Tanjung Sari. Banyak hal yang membuat kami geli akibat bahasa yang sering tidak nyambung, bahasa Medan yang sedikit berbeda dengan bahasa kami sehari hari. Misalnya titi = jembatan, kereta = sepeda motor, kusuk = urut, tukang kusuk = tukang urut, semalam = kemarin, pusing = berkeliling, pajak = pasar.

”Suami bu Sinta kerja dimana?”

”Di pajak, bu.”

Mereka bayangkan suamiku bekerja sebagai penarik upeti atau tenaga kerja di pasar!

Pernah suatu ketika temaku mencari rumah kenalannya, ia bertanya kepada orang Medan dan menunjukkan alamt yang tertera.

”Oh, rumahnya di sebelah titi.”

Temanku mencari-cari mana sih orang yang bernama titi, ternyata titi itu jembatan!

“Bu Sinta belum punya kereta sendiri ya?”

Ya iyalah, mana sanggup aku beli kereta, kupikir kereta api. Waktu itu aku belum punya sepeda motor sehingga kalau ada keperluan sering pinjam ke teman sepeda motor roda dua, ternyata kereta itu bahasa lain untuk sepeda motor, maka timbul anekdot di Medan : kalau di Medan kereta tabrakan sama mobil, keretanya yang penyok.

 

Aku bahagia di Medan. Saudara kami banyak sekali, saudara dalam pengertian seaqidah dan seperjuangan da’wah. Kalau saudara sedarah tak ada sama sekali.

 

Tetapi kamipun pernah mengalami hari-hari menegangkan dan menyedihkan.

Entah mengapa, suatu ketika semua tetangga memusuhiku. Mereka diam, acuh tak acuh, memalingkan muka. Bahkan ketika aku mengajak bicara mereka seperti enggan dan sinis. Terbayang rasa tak nyamannya kan? Di tanah seberang, sendiri, jauh dari orangtua dan sanak saudara, tiba-tiba kami tak punya tetangga seorangpun yang mau menyapa. rasanya ingin melarikan diri saja. Tidak enak ketika berjalan atau belanja tak seorangpun menganggap kami ada.

 

Lalu datanglah seorang kawan bernama mbak Rita Pasaribu. Aku masih ingat senyum, wajah, gaya berpakaian dan caranya bicara. Subhanallah, temanku yang satu ini luarbiasa (semoga kau membaca tulisanku ini).

Mbak Rita berkunjung ke rumah, memberiku hadiah sepiring combro, singkong parut berisi adonan tempe yang pedas. Sembari berkunjung mbak Rita menyinggung masalah sikap tetangga yang sinis padaku, dengan hati-hati ia mengutarakan isi pikirannya.

”Bu Sinta pernah baca salah satu bukunya Fathi Yakan yang mengupas bab da’wah?”

Aku mengangguk sekalipun lupa kapan dan dimana, pun aku belum menangkap maksud mbak Rita yang sesungguhnya.

”Di buku itu ustadz Fathi Yakan memberi nasehat, intinya, dakwah itu disampaikan untuk kalangan intern dan ekstern. Intern ya orangtua, saudara, teman-teman, dsb. Ekstern untuk orang-orang di luar kita yang belum terlalu dikenal. Salah satunya tetangga. Tahu apa kunci dakwah ekstern?”

Aku menggeleng tak yakin.

”Kuncinya,” mbak Rita menambahkan,” orang harus ramah. Super ramah. Orang-orang di sini menganggap bu Sinta yang pendiam sebagai sombong.”

MasyaAllah.

Aku tersadar tiba-tiba.

Standarku sebagai orang Jawa adalah berbicara pelan, menahan diri, tak banyak tertawa, tersenyum simpul, banyak berbasa basi. Sementara orang Medan yang sebagian besar Batak sangat ekstrovert. Ketika mereka bertemu teman di kejauhan pun sudah berteriak-teriak, terkadang berbicara dari jarak jauh. Rupanya aku harus menyesuaikan diri.

”Woooiiii…..Buuuu!!!Apa kabar? Kemana semalam??? Ke pajak pagi? Pake sodako atau keretaaaa…??!!”

 

Begitulah.

Aku lalu silaturrahim ke tetangga. Meminta maaf pada mereka bahwa aku sering berdiam diri (padahal maksudku saat itu aku ingin bersikap sesopan mungkin, tidak berani gegabah bertindak dan berbicara, takut salah ucap) ternyata mereka lebih menyukai suasana keterbukaan dan kehangatan. Spontanitas. Kedekatan. Tak pakai basa basi. Ya bilang ya. Tidak bilang tidak. Sehingga jika kita bertemu orang Medan yang cemberut, memang begitulah suasana hatinya. Kalau mereka baik dan menganggap kita saudara memang itu kejujuran hati dan bukan sekedar basa basi.

 

Sejak saat itu, ungkapan bahwa ustadz Fathi Yakan memberikan nasehat bahwa da’wah ekstern sama dengan bersikap super ramah selalu melekat di benak dan ucapanku. Aku terbiasa tersenyum pada banyak orang terutama gerombolan ibu-ibu, menyapa orang yang kukenal di jalan , menyapa anak kecil yang lewat, menyapa tukang sayur dan tukang sampah, berbincang dengan tukang air dan tukang koran, berbincang dengan satpam . Aku bisa banyak diskusi dengan tukang becak, supir taksi, tukang parkir, adik-adik kampus.

 

Ustadz Fathi Yakan…sedikit ucapanmu mengubah cara da’wah dan hidupku.

Kau mungkin tak mengenalku tapi percayalah, aku tahu betul raut wajahmu yang penuh ghiroh namun meneduhkan. Minggu, 14 Juni 2009 kudengar kabar kepulanganmu menuju haribaan Ilahi. Ustadz yang menyampaikan berita itu menitikkan airmata, begitupun aku. Aku mencintaimu, mencintai da’wah yang kau serukan, mencintai caramu mengajak ummat pada kebaikan .

Aku berharap suatu masa nanti akan dipertemukan dengamu, dengan Hasan al Banna, dengan Sayyaid Quthb, dengan para salafus sholih. Aku berharap rasulullah Saw pun akan menyebut namamu sebagai salah seorang ummatnya.

 

Selamat jalan, ustadzku. Ustadz kami semua, ustadz milik semua golongan kaum muslimin yang saat ini terpecah belah oleh beragam fikroh.

Semoga tempatmu digantikan oleh orang lain yang lebih baik, lebih sholih, lebih faqih, lebih muharrik, lebih bijak. Semoga kedudukanmu tidak digantikan oleh ulama yang jauh dari agama.

 

Cintaku, cinta kami untukmu. Untuk seluruh ulama dan pejuang da’wah. Untuk seluruh kaum muslimin yang kami cintai, untuk seluruh generasi Robbani yang akan menjadikan bumi ini lebih makmur dengan tegaknya kalimatullah.

Ibnu Rusyd

 foto-2

Abul al Walid Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Rusydi, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Ibnu Rusydi atau Averrous, merupakan seorang ilmuwan muslim yang sangat berpengaruh pada abad ke-12 dan beberapa abad berikutnya. Ia adalah seorang filosof yang telah berjasa mengintegrasikan Islam dengan tradisi pemikiran Yunani.

 

Ibnu Rusydi dilahirkan pada tahun 1126 M di Qurtubah (Cordoba) dari sebuah keluarga bangsawan terkemuka. Ayahnya adalah seorang ahli hukum yang cukup berpengaruh di Cordoba, dan banyak pula saudaranya yang menduduki posisi penting di pemerintahan. Latar belakang kelauarga tersebut sangat mempengaruhi proses pembentukan tingkat intelektualitasnya di kemudian hari.


Kebesaran Ibnu Rusydi sebagai seorang pemikir sangat dipengaruhi oleh zeitgeist atau jiwa zamannya. Abad ke-12 dan beberapa abad sebelumnya merupakan zaman keemasan bagi perkembangan ilmu pengetahuan di Dunia Islam, yang berpusat di Semenanjung Andalusia (Spanyol) di bawah pemerintahan Dinasti Abasiyah. Para penguasa muslim pada masa itu mendukung sekali perkembangan ilmu pengetahuan, bahkan mereka sering memerintahkan para ilmuwan untuk menggali kembali warisan intelektual Yunani yang masih tersisa, sehingga nama-nama ilmuwan besar Yunani seperti Aristoteles, Plato, Phitagoras, ataupun Euclides dengan karya-karyanya masih tetap terpelihara sampai sekarang.


Liku-liku perjalanan hidup pemikir besar ini sangatlah menarik. Ibnu Rusydi dapat digolongkan sebagai seorang ilmuwan yang komplit. Selain sebagai seorang
ahli filsafat, ia juga dikenal sebagai seorang yang ahli dalam bidang kedokteran, sastra, logika, ilmu-ilmu pasti, di samping sangat menguasai pula pengetahuan keislaman, khususnya dalam tafsir Al Qur’an dan Hadits ataupun dalam bidang hukum dan fikih. Bahkan karya terbesarnya dalam bidang kedokteran, yaitu Al Kuliyat Fil-Tibb atau (Hal-Hal yang Umum tentang Ilmu Pengobatan) telah menjadi rujukan utama dalam bidang kedokteran.


Kecerdasan yang luar biasa dan pemahamannya yang mendalam dalam banyak disiplin ilmu, menyebabkan ia diangkat menjadi kepala qadi atau hakim agung Cordoba, jabatan yang pernah dipegang oleh kakeknya pada masa pemerintahan Dinasti al Murabitun di Afrika Utara.Posisi yang prestisius dan tentunya diimpikan banyak orang. Posisi tersebut ia pegang pada masa pemerintahan Khalihaf Abu Ya’kub Yusuf dan anaknya Khalifah Abu Yusuf.


Hal terpenting dari kiprah Ibnu Rusydi dalam bidang ilmu pengetahuan adalah usahanya untuk
menerjemahkan dan melengkapi karya-karya pemikir Yunani, terutama karya Aristoteles dan Plato, yang mempunyai pengaruh selama berabad-abad lamanya. Antara tahun 1169-1195, Ibnu Rusydi menulis satu segi komentar terhadap karya-karya Aristoteles, seperti De Organon, De Anima, Phiysica, Metaphisica, De Partibus Animalia, Parna Naturalisi, Metodologica, Rhetorica, dan Nichomachean Ethick. Semua komentarnya tergabung dalam sebuah versi Latin melengkapi karya Aristoteles. Komentar-komentarnya sangat berpengaruh terhadap pembentukan tradisi intelektual kaum Yahudi dan Nasrani.


Analisanya telah mampu menghadirkan secara lengkap pemikiran Aristoteles. Ia pun melengkapi telaahnya dengan menggunanakan komentar-komentar klasik dari Themisius, Alexander of Aphiordisius, al Farabi dengan Falasifah-nya, dan komentar Ibnu Sina. Komentarnya terhadap percobaan Aristoteles mengenai ilmu-ilmu alam, memperlihatkan kemampuan luar biasa dalam menghasilkan sebuah observasi.