Tapi & Meskipun

Jangan biasa gunakan tapi, pakailah meskipun Dosen Psikologi pendidikan kami yang nyentrik, sering bicara sufistik di sela-sela mengajarnya. Ia mengajarkan ha-hal yang baru kudengar. Jangan gunakan tapi, pakailah meskipun!

Apa yang ia sampaikan mungkin sama seperti yang tengah kuhadapi. Sama seperti bait-bait syair yang pernah kudengar :

jika minta kekayan , Tuhan memberimu pekerjaan

jika meminta kekuatan, Tuhan memberimu kesulitan

 jika meminta jalan keluar, Tuhan memberimu permasalahan

tidak adilkah Tuhan?

Beberapa waktu lalu, aku pernah merasakan hidup yang sangat teratur dengan 2 orang pembantu. Bukan sok kaya tetapi aku betul-betul ingin berkhidmat untuk da’wah di segala lini, bukan hanya kepenulisan. Kuhrapakan 2 pembantu itu mampu membantu kerja-kerja rumahtanggaku. Belum hanya itu, akupun punya EO yang mengelola acara-acara promosi bukuku. Jadi, aku dapat konsentrasi menulis, memikirkan FLP, mengecek PR anak-anak dan tugas primer lainnya. Mencuci, memasak, besih2 rumah dsb ’pekerjaan kasar’ sudah ada yang menangani.

Semakin banyak amanah dakwah, ternyata Allah menguji ketahanan diriku. Satu persatu pembantu-khadimah- ku pulang kampung karena menikah dll alasan. Begitupun EOku menikah. Jadilah aku sendiri menangani semua permasalahan.

Ibuku memberiku nasehat : ” Sinta, pekerjaan utama kamu adalah ibu dan istri. Jangan lupakan itu!”

Aku merenunginya. Mungkin….Allah SWT ingin mengembalikan sense-ku yang sekian lama sedikit terlupakan. Aku yang begitu mencintai da’wah kepenulisan, disibukkan oleh mengisi disana sini, akhirnya melimpahkan pekerjaan kepada orang lain. Tentu, selama kontribusi da’wah kita positif , insyaAllah tak masalah.

Beratkah? Tentu saja.

 Tetapi seperti kata ibuku yang bijak, perempuan itu tempatnya tirakat. Di zaman dulu, para istri Raja tak pernah hidup enak ketika telah berputra. Mereka banyak melek malam, banyak puasa. Karenanya mereka banyak menghasilkan para kesatria di zamannya, tidak seperti sekarang. Istri para ’raja’ dan ’bangsawan’ justru yang paling enak hidupnya.

Pasca Idul Fitri dan kembali ke Surabaya, aku benar-benar blank. Membayangkan kuliah, menulis, FLP, mengisi pengajian, dan segudang tugas rumahtangga…cukupkah 24 jam? Memang anak-anakku dapat dikerahkan tetapi mereka sudah sekolah dari sejak jam 06.00-17.00. Tetapi the show must go on. Kekuatan pikiranku harus bekerja ekstra.

Jika esok harus kuliah jam 7 pagi, malamnya aku mencuci dan menyiapkan bahan masakan. Jika kuliah jam 07.45 atau lebih siang sedikit, aku mencuci pagi sembari membereskan pekerjaan yang lebih berat : mengemasi seprei, mukena, pel2, memasak yang lebih istimewa. Sembari berangkat kuliah aku ke warung untuk belanja. Dari beras, air galon hingga garam dan minyak harus sudah terprediksi rapi. Di sela-sela kuliah aku harus membaca ulang Psikologi Kepribadian, Klinis Diagnostik dsb. Berusaha membuat catatan agar waktu belajarku efektif. Di sela-sela kuliah pula aku sempatkan sms dan telpon suamiku menanyakan kabar dirinya ;-)

Sepulang kuliah (12.00-13.00) aku bergegas ke rumah mempersiapkan masakan dll. Ba’da Asar dimulailah acara ibu-ibu : jemput menjemput, membereskan pernak pernik membalas email dan menulis sedikit. Ketika anak-anak pulang menyuruh mereka mandi, mempersiapkan makan dan menanyakan urusan sekolah. Alhamdulillah, Allah SWT memberiku khadimah seorang ibu paruh baya yang bisa membantu menyetrika dan membersihkan rumah. Ia tak bisa full, hanya bekerja pocokan. Sebagian besar tugas rumahtangga ada di kedua tanganku. Aku berangkat tidur dengan tubuh remuk redam. Tengah malam terbangun untuk melakukan pekerjaan yang kucintai : menulis dan mengurusi FLP. Entah sampai jam berapa tergantung situasi. Kadang memang, di pagi hari sejenak sebelum berangkat kuliah aku membaringkan tubuh sekitar 5 menit untuk memberikan rasa nyaman pada seluruh sendi tubuhku yang letih. Sesungguhnya, aku benar-benar lelah lahir batin.

 Tetapi justru, dalam kesulitan ini aku merasakan ketergantunganku pada Allah SWT demikian besar. Aku memohon agar bisa menunaikan dan wajib dan sunnah dengan baik. Aku tahu, bahwa di tengah kelelahanku yang sekarang, satu-satunya sandaran kekuatan utama adalah kekuatan ruhani. Sholat terasa demikian nikmat karena saat itulah aku benar-benar rileks. Doa terasa demikian lezat karena aku betul-betul memohon : Ya Allah, beri aku kecerdasan dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas sebagai ibu, istri, penulis, daiyah. Segala yang berat ini hanya dapat terobati ketika aku sholat dan membaca Quran.

Dulu….ketika semua serba mudah, kuanggap sholat dan baca Quran hanya rutinitas yang sewajarnya. Sekarang, aku membutuhkan terminal untuk mengobati lelah lahir batinku.

Kekurangannya.. mungkin tugas da’wah keluarku sedikit terhambat. Semua masih perlu penyesuaian.

Kelebihannya…. aku lebih berbagi ke anak-anak. Kujelaskan bahwa amanahku bukan hanya ibu tetapi juga kita semua harus punya andil bagi ummat. ”Kalau Ummi terlalu capek, nanti nggak bisa da’wah lagi…”Alhamdulillah, anak-anakku semakin bisa membantu. Begitupun kebahagian perempuan yang sesungguhnya ketika anak-anak & suami memuji masakanku. ”Sambal Ummi paling enak. Makasih ya Mi..” lalu mendaratlah kecupan di pipi kanan kiriku dari anak-anak.

Bagaimana dengan tulisan-tulisanku? Beberapa novelku mungkin tertunda, tetapi aku tak risau sebab aku berusaha mengerjakan dengan bersungguh-sungguh. Aku yakin , tulisanku yang dibumbui oleh keletihan jihad seorang ibu dan istri pastilah lebih memancarkan makna. Aku yakin, tulisan yang hanya bisa kukerjakan di sela-sela aku menyiapkan keperluan anak-anakku adalah tulisan yang mengalirkan kekuatan kepada khalayak. Aku yakin, bobot bicaraku dalam pengajian dan acara-acara akan lebih berisi ketika sehari-hari akupun bergelut dengan air mata dan keringat perjuangan menjadi seorang muslimah yang sesungguhnya. Ketika kemarahan menderaku karena target yang tak tercapai sebagai manusia akupun meledak. Lalu kusadari, kenapa aku tak memohon kepadaNya untuk memberiku bekal sabar & lapang dada? Sesungguhnya, Tuhan Maha Tahu. Segala kesulitan ini memberikan imbas lain kepadaku. Hafalan Quranku yang sempat banyak di masa lalu, sering tak terulang. Di saat sekarang, sembari mengerjakan ini itu aku lafalkan kembali apa yang pernah lupa. Di malam hari, sebelum tidur kusempatkan membaca referensi-referensi Islam dan Psikologi dsiamping membaca buku sastra. Setiap detikku bermakna kini.

 ”Aku mau nulis…….tapi….

Aku mau da’wah…. tapi…

Aku mau jadi ibu dan istri yang baik …tapi….”

Kiranya kalimat itu harus diganti : Aku mau nulis meskipun waktuku sedikit dan tubuhku lelah.

Aku mau da’wah meskipun sangat sibuk

Aku mau jadi istri dan ibu yang baik meskipun berkejaran dengan tugas dan waktu.”

14 tahun pernikahan

25 Desember punya makna istimewa bagiku.
Tepatnya 25 Desember 1994 aku menikah dengan seorang pemuda asal Tegal bernama Agus Sofyan. Kami sama-sama kuliah di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Aku ambil jurusan Akuntansi, suamiku Pajak.Kami tidak saling mengenal satu sama lain.
Ustadz kami yang memperkenalkan lewat foto dan biodata, lalu proses berjalan demikian cepat kurang lebih dua bulan.
Pernikahan kami sederhana, pakaian kami sederhana. Aku masih ingat suguhan pernikahan kami yang dipesankan ibu dari catering : lontong dan sayur opor. Kuenya bolu lapis coklat dan roti keju. Teman dan handai tolan berdatangan, terkejut sekaligus memberikan selamat. Aku menangis di pelaminan, tak menyangka semua berjalan mendadak dan begitu cepat, ada rasa takut dan bahagia. Harapanku kami dapat membangun sebuah pondasi da’wah yang kokoh.

dsc00442 img0455a img0932a

14 tahun sudah berjalan.
Sekarang kami berdomisili di Surabaya, anak kami 4 orang. Yang terbesar Inayah (1 SMP), kedua Ayyasy (5 SD), ketiga Ahmad (3 SD), keempat Nisrina (TKB). Anak-anakku, sebagaimana anak-anak yang lain, punya kelebihan sekaligus kekurangan. Kadang rumah kami dipenuhi canda, kadang teriakan-teriakan. Tetapi kami banyak belajar dari kekurangan orangtua kami dahulu. Anak-anakku kuberikan gambaran bahwa mereka mempunya tugas bukan hanya sebagai individu, tapi juga sebagai bagian dari kaum muslimin.

Alhamdulillah, sekalipun anak-ankku kadang menguji kami dengan tingkah polah yang memusingkan, mereka seringkali mengerti ketika aku dan suami harus keluar rumah bahkan di hari libur.
”Abah ummi mau berjihad ya? Mau cari rizki yang banyak?”
Kukatakan kami memang akan mencari rizki dari berda’wah. Sebab rizki kan bisa berarti uang, kesehatan, hidayah, rasa aman dan seterusnya. Kukatakan juga kami berda’wah dan berjihad untuk mencari rizki supaya bisa membeli rumah yang buesssaaar, seperti impian anak-anakku. Kepada anakku yang pertama dan kedua, kami sudah saling memahami bahwa rumah buessar kami mungkin tidak di sini, di dunia ini, tapi suatu saat kelak di yaumil akhir. Anakku yang ketiga dan keempat masih belum punya gambaran abstrak. Mereka masih memahami ’mobil’ sebagai mobil dan ’rumah’sebagai rumah. Jadi ketika aku dan suamiku keluar rumah mereka bertanya
”Ummi mau berjidah ya? Berda’wah/ Mau cari rizki buat beli rumah dan mobil?”
Kukatakan, InsyaAllah. Sebab Dia Maha membukakan pintu rezeki. Berapa banyak sudah ikhwah yang berjuang di jalan da’wah tanpa pamrih, Allah cukupkan rezeki mereka, bahkan berlimpah, dari arah yang tak disangka.

14 tahun kami sudah berjalan.
Banyak penyesuaian, bahkan sampai sekarang. Banyak hikmah yang baru dapat kupetik ketika usia manusia sudah merambat makin naik menuju titik akhir. Baru di titik ini aku betul-betul mempercayai hadits Rasulullah Saw : pilihlah seseorang karena agamanya. Setiap kali aku dan suamiku punya perselisihan, dari kecil hingga gawat, kami punya cara masing-masing untuk menentramkan hati. Pernah suamiku menyusuri dari satu masjid ke masjid lain di Surabaya untuk berdzikir dan membaca Qur’an ketika kami tak menemukan titik temu. Sama seperti suamiku, kalau hatiku panas membara, aku memilih mengulang hafalan atau membaca Qur’an keras-keras, atau menyetel murottal keras-keras. Jika bosan, aku menyetel nasyid. ’Perang’ kami seringkali tak lebih dari satu hari , aku menangis sesudahnya demikian pula suamiku menyesali kekhilafannya. Kadang aku kembali membuka persoalan dan membicarakan apa sebetulnya titik permasalahan kami dan bagaiamana caraku memandang untuk menyelesaikannya. Sesekali suamiku menerima pendapatku, sesekali aku yang menerima pendapatnya.

Ternyata, menikah tanpa dasar agama adalah bencana.
Beberapa saudaraku berakhir dengan perceraian ketika usia pernikahan baru 5 tahun. Atau kalau tidak, selingkuh. Keluhan mereka rata-rata sama : Masalah mertua, ipar, ekonomi, akhlaq pasangan itu sendiri dst. Ketika aku menceritakan pernikahanku mereka berkata bahwa masalahku tak sebesar masalah mereka.
Benarkah?
Mustahil menantu dan mertua tak punya perbedaan pendapat. Mustahil hidup tak dililit masalah ekonomi, pekerjaan, sosial dst. Mustahil 14 tahun pernikahan kami semua baik-baik saja. Jika semua dibingkai dengan agama, masing-masing pihak tak melanggar jalur yang seharusnya demikian pulamasing-masing tahu hak dan kewajibannya.

14 tahun…ah, aku masih belajar untuk saling memahami.
For my Husband, you are so special.
Di belakang FLP dan buku-bukuku, ada dirimu yang selalu mendukung setiap langkahku.
img1255a