Pilih Psikolog atau Ahli Agama?

              Ketika kami sedang mendapatkan mata kuliah Psikologi Klinis, seorang teman bertanya : jika sakit jiwa, kenapa pilihannya tidak ke ahli agama saja? Pertanyaan simple yang membutuhkan jawaban panjang. Tadinya saya juga berpendapat seperti itu. Sebagai orang beriman, tentulah ketika menghadapi persoalan yang pertama kali terpikir adalah : saya harus menyelesaikan dengan cara religius. Hal ini tidak salah bahkan memang seharusnya demikian agar kita tak salah jalan ketika mencari jalan keluar atau obat dari setiap permasalahan.

              Pertanyaannya : Seberapa religius kita? Kadar agama yang bagaimana yang dapat menuntaskan banyak persoalan?

          Inilah sisi penting kenapa dalam Islam, agama insyaAllah selalu dapat disandingkan dengan ilmu pengetahuan. Ketika kita bernafsu dalam beragama tapi tak dilandasi oleh ilmu yang memadai, hasilnya adalah taqlid dan jumud, pada suatu saat jika kita anggap agama tidak mampu menyelesaikan persoalan maka jawabannya simple : agama ini salah!

Bingung? Jangan dulu.

 Contohnya begini. Katanya sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Kenyataannya, banyak orang sholat masih pemarah, penghasut, dll dsb etc yang jelek-jelek. Jadi ayat itu bohong kah? Sedikit membahas Psikologi Faal. Dalam teori tentang ”Tidur ”, otak manusia mempunya 4 jenis gelombang :

 1. Beta wave (13-30 hertz) — aktif

2. Alpha wave (9-12 hertz) —santai

3. Theta wave (4-8 hertz) — tenang

4. Delta wave (1-3 hertz) — tidur

{tentang berapa ketepatan frekuensi, ada beberapa perbedaan pendapat)

Beta wave adalah keadaan di mana kita sadar seutuhnya, melakukan aktivitas, meledak-ledak penuh gairah. Alpha wave saat santai-santai, misalnya duduk di kursi malas. Delta wave adalah kondisi dimana seseorang jatuh tertidur. Tahukah anda di gelombang mana orang bisa di hipnotis (baik terapi maupun ketika dalam kriminalitas)?

Mereka yang dihipnotis berada dalam Theta wave, suatu gelombang spesial yang mengindikasikan otak antara tidur dan tenang, tidak terlelap tapi juta tidak terjaga. Salah satu terapi dalam psikologi yang dapat dikatakan handal adalah metode meditasi, yoga, juga hipnotis yang rata-rata mempergunakan gelombang Theta wave untuk membuat pasien rileks dan ekstasi.

                         Naaah, kenapa ya, saat saya sholat, bersamaan itu dua pendekar saya lagi berantem bab masalah yang tidak karuan juntrungannya, maka dalam benak saya ketika sholat adalah ”….awas! Tunggu sampai Ummi selesai sholat nanti!” Maka begitu salam di ucapkan ke kanan ke kiri saya langsung berteriak memanggil nama mereka dengan marah.

              ”Nggak tau apa Ummi lagi sholat? Sampai Ummi nggak sempet wirid segala?!”

             Kenapa usai sholat (bahkan masih di dalam sholat!) emosi marah bisa tetap meledak?

             Ya. Karena saat sholat yang harusnya berada dalam Theta Wave atau gelombang Theta, saya masih membiarkan pikiran berkeliaran ke gelombang Beta dan Alpha. faktornya bisa macam-macam. Kalau kita melihat orang mau meditasi atau yoga, betapa penuh persiapannya. Tempat, baju, alas, lingkungan , suasana, segala yang bisa selaras dengan gelombang Theta di sinkronkan. Kalau kita mau sholat ya sholat aja. Wudlu buru-buru, baju sholat ya sama dengan baju habis masak tadi yang bau bawang terasi , menggelar sajadah dan mukena ala kadarnya dengan situasi dan suasana yang serba apa adanya. Pokoknya sholatnya selesai, titik. Sementara orang meditasi dan yoga sudah punya prinsip, komitmen, niat dan mengupayakan segala sesuatu bahwa meditasinya memang untuk mencari ketenangan.

                      Itulah sebabnya shlat kita ternyata tidak mencegah perbuatan keji & mungkar ya. Itu analogi saya setelah belajar konsep ”Tidur” Kembali pada persoalan memilih psikologi & ahli agama. Dua profesi ini alangkah indahnya jika disandingkan.

                    Sebagai sebuah ilmu, psikologi memiliki metode ilmiah sebagaimana ilmu-ilmu eksakta yang lain sehingga reliabilitas & validitasnya teruji. Jika kita memperlakukan materi lain harus demikian cermat, apatah lagi dalam memperlakukan jiwa manusia yang sedemikian unik, luhur, mulia dan istimewa.

                        Ada beberapa cerita sedih yang mungkin dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Seorang teman sebut saja namanya Eko tengah bermasalah dalam pernikahan. Ia jatuh cinta pada seorang gadis dan meminta si istri untuk bisa menerima pilihannya dengan konsep poligami. Elly (juga samaran) pada akhirnya menyetujui permintaan Eko karena ia seorang istri sholihah. Betapa sedih saya melihat tubuh dan wajahnya makin layu menyusut, ia sering terlihat melamun dan bermata bengkak. Anak-anaknya konon juga tak terurus lagi. Saya menyarankan kepada Eko untuk mendatangi psikolog, jika ia yakin poligami adalah sebuah pilihan yang tepat ; tidakkah lebih baik keluarganya dipersiapkan sebaik-baiknya baik istri, anak-anak, orangtuanya? Apa salahnya terapi ke piskolog sehingga semua pihak menjadi tangguh dan siap dengan segala kemungkinan? Eko menolak mentah-mentah saran kami.

                   Seorang kenalan, sebut namanya Yuni juga bermasalah dengan suaminya. Dalam permasalahan itu , mama Yuni seringkali mendatangi ustadz dan jawabannya adalah sabar. Psikolog & psikiater belum masuk hitungan karena mama Yuni memang seorang yang teguh dalam agama. Tanpa melihat bahwa Yuni didera permasalahan demikian berat (suami orang kayaraya, tak mau kerja, semua kebutuhan dipenuhi mertua, suaminya juga nggak faham agama, suka mabuk dst ). Ketika Yuni kemudian depresi dan sakit berkali-kali, barulah mereka mendatangi terapis. Di situlah setelah 5 tahun, mama Yuni melihat bahwa ketika Yuni mengingat suaminya saja, ia langsung memegang dadanya, setengah histeris dan terbungkuk-bungkuk mencoba mengatasi nyeri luarbiasa di dadanya (sejenis psikosomatis).

                     Seorang kenalan juga, memiliki suami yang demikian keras wataknya dan suka memukul istrinya. Sebut saja Eva. Eva sudah rajin ke pengajian dan mendatangi psikolog, ketika suaminya disarankan untuk datang ke psikolog yang keluar adalah ejekan. Hingga akhir hayatnya, Eva seringkali menerima perlakuan kasar dari sang suami dan juga anak-anaknya.

                   Masih banyak lagi kisah tragis yang membuat hati miris saat mengetahuinya. Lebih miris lagi bahwa kondisi kritis kejiwaan seseorang tidak hanya dialami mereka yang berada di bawah garis kemiskinan tetapi juga berada dalam kondisi mapan ekonomi dan pendidikan. Sebetulnya, kenapa sih nggak mau menerima jasa terapis , psikolog misalnya? Penyakit jiwa tidak identik dengan gila.

               Dewasa ini orang sering mengalami stress –frustasi – depresi (konsep ini saya tuliskan nanti ya..) Yang mengalami stress dan tahapan selanjutnya bukan hanya mereka yang tidak punya uang atau berada di jalur yang salah, tetapi mereka para pejuang da’wah dan keluarga baik-baik pun bisa mendapatkan stress yang jika tidak dikelola dengan baik akan menjadi depresi hebat.

                Saya sendiri pernah mengalami ketika tugas da’wah sedemikian padatnya, campur aduk dengan tugas rumahtangga dan segudang aktivitas. Alhasil yang ada adalah ledakan demi ledakan yang kemudian saya tafakuri : nggak mungkin agama dan da’wah ini yang salah kan? Pasti faktor manusia –saya- yang tidak bisa mengendalikan. Syukurlah sekarang saya kuliah di psikolog dan mulai belajar Psikologi Klinis, Psikologi Perkembangan Psikolgi Kepribadian, Psikologi Sosial dsb.

                Saya jadi bisa membaca ” oh, aku lagi banyak stressor. Kalau begitu jangan sampai meningkat jadi frustasi, ntar marah-marah ke suami dan anak-anak. Makanya aku harus begini-begini…..” Kelak, psikolog pun jika tak mampu menghadapi masalahnya sendiri juga harus mendatangi terapis yang bisa di percaya entah itu psikiater, ahli agama, dst. Disinilah juga ahli agama sangat berperan ketika memberikan masukan bagaimana cara mengatasi kendala-kendala kejiwaan. Terapi dzikir, sholat, puasa dst alangkah bagusnya jika dikawal dengan ilmu psikologi yang menggunakan alat terukur dan teruji.

                Saya membayangkan jika suatu saat punya klien.

               ”Saya frustasi.”

              ”Sejak kapan, Pak?”

              ”Sejak tidak menjadi anggota Dewan?”

             ”Memangnya apa yang Bapak rasakan sekarang?”

               ”Bla..bla..bla…”

               Lalu kita akan memilihkan metode bandwith atau fidelity. Sembari memberikan rujukan ,” kami punya terapis ahli agama yang dapat memandu Bapak berdzikir. Atau mungkin Bapak mau ikut terapi sholat tahajjud? Nanti kita ukur seberapa kadar insomnia Bapak, kecemasan dsb dst.”

              Duh, bayangkan sebuah Pusat Rehabilitasi, Centre of Crisis. Di sebuah alam yang indah, saat kita merasa punya segudang masalah (dan jangan menunggu sampai bertumpuk lalu kita mengisolasi, kehilangan kontak, sampai hilag ingatan !!) . Sang terapis mengukur kadar permasalahan kita lalu kita akan menjalani terapi sesuai sunnah : berolah raga, memasak, beraktivitas lainnya. Menjadi sukarelawan dan melatih ketrampilan. Lalu puasa bersama, sholat bersama, mendapatkan suntikan taujih. Semuanya terukur, terjadwal, terpercaya, dapat diandalkan. Lalu keluarlah kita dari rehabilitasi itu dengan semangat baru baik menghadapi anak-anak, pasangan, lingkungan kerja, da’wah dst.

             Hmh, indah ya?

Bagaimana mendapat IP 4?

 

            Alhamdulillah, untuk semester 2 ini aku berhasil meraih IP 4 lagi.

            Untuk Psikologi UNTAG-Surabaya mendapat akreditasi A sehingga nilai yang kuperoleh insyaAllah gak main-main ;-) . Di semester dua ini banyak teman-teman yang nilainya jeblok, turun dari IP 3 ke 2 atau malah ke 1. Mereka pada bertanya2 ke aku yang sudah emak-emak : kok bisa sih?

 

            Rekan-rekan,

            seorang temanku ditest IQ nya dan ia punya skor 95, artinya di bawah normal. IP maksimumnya harusnya hanya 2,5 tetapi dua semester ini ia berhasil meraih IP 3. Kenapa? Karena ia berjuang mati-matian belajar sehingga mendapat hasil yang bagus.

           

            Bagaimana denganku?

            Dulu, IQ ku di test dan aku termasuk anak yang normal. Masih kuingat ketika mau masuk UGM dan STAN selepas dari SMA aku harus bekerja duakali lipat dibanding teman-temanku yang lain di SMA 3 Yogyakarta, Alhamdulillah aku bisa menembus UGM dan STAN yang sangat ketat persaingannya.

 

            Waktu suamiku penempatan di Surabaya setelah malang melintang ke Medan – Jakarta-Tegal-Yogya-Semarang, aku memutuskan harus kuliah lagi. Aku nggak boleh berhenti di satu titik, aku harus terus berjalan. Ilmu pengetahuan harus dicari sebagai bekal di dunia maupun akhirat. Orang yang berkecimpung lebih lama dalam kawah pengetahuan semoga lebih bijaksana.

 

            ”Aku masuk sastra atau psikologi ya?” tanyaku pada suami.

            ”Masuk sastra buat apa?”

            ”Yaa, kan sekarang dah nulis, biar punya ilmu yang mem back up kalau pas ngisi training atau talkshow.”

            ”Kayaknya mending psikologi aja,” saran suamiku. ”Bisa buat anak-anak.”

            Akhirnya aku masuk psikologi.

 

            Ternyata di psikologi bukan ilmu sosial murni. Aku sempat terkaget-kaget juga ketemu matematika yang momok bagiku sedari kecil. Statistik? Uh, enggak ya. Mana dosennya serem! Tapi….masak aku menyerah? Apa kata anak-anakku kalau aku dapat IP jelek? Ih, ummi pinternya nyuruh anak-anak belajar, sendirinya gak mau! Sebulan dua bulan aku masih keteter tapi berikutnya aku mulai menemukan pola. InsyaAllah ini bermanfaat buat yang lain juga ya :

 

  1. Terus terang awalnya ku ggak mempedulikan SKS. Bagiku semua ilmu sama pentingnya karena satu menunjang yang lain. Tapi buat strategi, okelah.
  2. Duduk paling depan. Pasti beda daya serapnya dengan yang duduk di deret 2, 3 apalagi paling belakang.
  3. Harus punya catatan steno sendiri yang merekam dosen berbicara

Aku membeli buku tulis –sekalipun agak mahal- yang perbijinya antara 15ribu-20 ribu. Buku2 ini bentuknya besar, spiral, tebal, dengan aroma wangi dan kertas lucu-lucu. Bukan looseleaf lho. Fungsinya untuk membangkitkan semangat. Misal :

  • Sampul pink dengan anak kecil dan kereta kuda dengan tulisan Sweet Dream untuk Psikologi Faal
  • The Wonderful Wizard of Oz  dengan sampul singa dan anak-anak, bertuliskan sebuah rangkaian kisah, kertas biru coklat untuk Psikologi perkembangan dsb
  1. Harus rajin membuka internet mencari tahu lebih dari yang dosen sampaikan. Beberapa mata kuliah memang butuh trik tertentu

     Filsafat : Cari tahu apa dasar2 pemikiran Rene Descartes, Comte, Nietzsche,dsb. Bandingkan dengan filsuf muslim seperti al Farabi, ibnu Sina, al Ghazali dsb. Semakin kaya pengetahuan, misal ketika dosen bertanya tak terduga  ”…kenapa Nietzche yang dibesarkan di lingkungan agamis, menguasai bahasa kitab suci Latin-Yunani-Ibrani; justru ketika menjadi filsuf ia berbalik atheis? Ketika kita punya perbandingan dengan filsuf lain, kita tahu jawabannya.

 

     Statistik : coba, coba dan coba. Buku catatanku tabal seukuran ½ folio. Tetapi aku mengerjakan soal-soal di kertas folio bergaris usuran besar, double. Aku mengerjakan sendiri Analisa Varian, Anava faktorial AB, Analisa Rancang Ulang, dst. Gak bisa? Cari buku di toko buku, baca berulang-ulang teorinya, spidol dengan stabillo lalu kerjakan lagi dan lagi.

 

 

Untuk satu teori misal Anava AB, aku bisa melatih diriku 5-10 kali sehingga luwes, nggak kaget saat menghadapi soal itu di ujian. Tak kalah penting melatih ketrampilan kita dengan kalkulator bagaimana cara memasukkan data. Ingat, tiap kalkulator punya cara berbeda. Lihat jam di rumah karena waktu pengerjaan ujian hanya 15 – 2 jam saja dengan soal yang…..pfhuuuuuhh! Jadi aku bilang ke adik2 yang pinjem catatan statistikku ….”dek, percuma pinjem catatanku kalau kamu nggak pernah latihan!”

 

     Psikologi Faal. Wah, belajar ilmu ini ibarat masuk kedokteran. Bagaimana nggak? Kita menghafalkan bahasa latin yang aneh bin ngeri di telinga. Tapi aku harus bisa! Berhubung dosenku dokter, pinter, tegas, kejam (…sebetulnya dia baik kok.. hanya disiplin buanggett!) aku harus punya tenaga ekstra di malam hari. Pekan kemarin menerangkan 12 pasang saraf cranial, aku harus mencari di internet seperti apa sih saraf cranial? Apa bedanya dengan 31 pasang saraf spinal? Dari mana keluarnya? Apa nama latinnya? Aku juga membuat jembatan keledai untuk mempermudah diriku sendiri

 

OLOPOCTRO TRIABFAVE GLOVAKRA ACCHYP

  1.  
    • olfactorius
    • opticus
    • oculomotorius
    • trochlearis
    • trigeminus
    • abducens
    • fascial
    • vestibocochlearis
    • glossopharyngous
    • Vagus & akar kranial
    • accesorius
    • hypoglossus

 

Begitupun dengan 48 area broadmann, saraf2 pada intumescencia lumbosakralis & servikalis, dst.

 

     Psikologi sosial, psikologi perkembangan, psikologi umum, psikologi kepribadian yang banyak teori & pendapat para ahli mulai Sigmund Freud, CG Jung, Alfred Adler, Maslow, Wilhem Wundt, Ivan Pavlov, BF Skinner, Watson dst memang harus sering-sering dibaca & dipelajari.

 

 

MENJELANG UJIAN  (pas kuliah juga):

      berdoa mohon nilai sempurna

      mohon dibukakan hati & pikiran untuk mudah menerima pelajaran

      jangan lupa ibadah wajib & sunnah

      bikin catatan kecil2 berwarna warni seukuran telapak tangan yang bisa dibawa kemana-mana, catatan ini betul2 reminder yang hebat!

 

…….besoknya ujian aku memang nyaris nggak tidur malam…;-)..he..he…!!

 

Soalnya aku punya kelemahan, aku punya memori jangka panjang yang agak lemah dan memori pangka pendek yang lebih kuat. Jembatan keledai hafal tapi singkatannya apa ya? Jadi sepekan saat UAS aku memang nyaris nggak tidur karena mengulang apa yang sudah kupelajari sebelumnya.

Berhubung hampir semua mata kuliah sudah kubuat catatan2 kecil berwarna warni dengan gambar2 yang juga sudah kupelajari (khusus Faal) maka malam hari dan beberapa menit menjelang ujian aku tinggal mengingat. Oh, indera penglihatan dengan lapisan retina mulai dari lapisan epithelium sampai optic nervus fibre itu begini-begini. Oh, pendapat Ivan Pavlov dengan percobaan anjingnya begini-begini.

 

Jadi , kalau SKS (Sistem Kebut Semalam) atau SMS (Sistem Melek Semalam) yang memang baru malam itu buka buku, kupikir gak akan sukses sama sekali. SKS dan SMS ku sudah menyiapkan catatan kecil dan latihan2 sehingga malam itu aku tinggal menguatkan my short term memory

Foto-foto acara di Kampus UNTAG, Bedah Buku Hi Pretty!

DSC00200  DSC00205   DSC00209  DSC00202

Bedah Buku Bedah Buku Hi, Prettty : Cantik dalam 30 hari!

Alhamdulillah tanggal 30 Mei kemarin aku diundang kampusku sendiri , UNTAG, oleh departemen keputrian untuk bedah buku Hi Pretty.

Sebetulnya aku diminta unutk mengisi tema kemuslimahan, apakah kecantikan itu? Sesuai buku Hi Pretty, cantik itu 3 B : Brain, Behaviour, Beauty. Perempuan di katakana cantik bukan karena fisiknya sekalipun fisik memang memegang peranan cukup penting dalam pergaulan sosial.

Beauty is a characteristic of a person, animal, place, object, or idea that provides a perceptual experience of pleasure, meaning, or satisfaction. Beauty is studied as part of aesthetics, sociology, social psychology, and culture. As a cultural creation, beauty has been extremely commercialized. An “ideal beauty” is an entity which is admired, or possesses features widely attributed to beauty in a particular culture.

Perlu digaris bawahi, bahwa kecantikan memang identik dengan kultur seseorang. Orang Eropa dikatakan cantik ketika ia berambut pirang, bertubuh tinggi, berhidung mancung. Orang Afrika dikatakan cantik bila bertubuh segar, bergigi putih, dengan rambut hitam keriting. Orang Asia (termasuk Indonesia) punya kecantikan khas berupa tubuh mungil, kulit kecoklatan (warna caramel lho, kata orang Perancis!), rambut hitam bergelombang, retina hitam. Orang Indonesia pastilah aneh bila berambut pirang, dengan retina biru, kulit diputihkan sementara kontur wajahnya (hidung, bibir, pipi, dsb) sangat Asia. Ketika sebuah produk kecantikan mau diluncurkan di Indonesia, mereka melakukan survey panjang. Setelah dirunut histories bangsa Indonesia yang telah dijajah Belanda 250 tahun, perempuan Indonesia yang merasa cantik hanya 1 %! Sisanya tidak merasa cantik dan ingin merubah seluruh penampilan mereka.

 Beauty is in the eye of the beholder The classical Koine Greek for beauty : the ripe of fruit

Orang Yunani kuno beranggapan cantik adalah seperti buah matang. Jadi gadis yang dalam keadaaan matang itulah masa tercantik. Sesungguhnya cantik adalah consensus, kesepakatan tidak tertulis, tidak dapat diklaim begitu saja oleh sekelompok orang yang mengatakan bahwa cantik haruslah puith, ramping, berhidung mancung.

 The characterization of a person as “beautiful”, whether on an individual basis or by community consensus, is often based on some combination of Inner Beauty, which includes psychological factors such as personality, intelligence, grace, congeniality, charm, integrity, congruity and elegance, and Outer Beauty, (i.e. physical attractiveness) which includes physical factors, such as health, youthfulness, sexiness, symmetry, averageness, and complexion.

Sekarang cantik sering dikaitkan dengan hal-hal komersial. Padahal kecantikan sesungguhnya adalah kecantikan yang memancarkan kelebihan seseorang apa adanya. Apa salahnya dengan seorang gadis yang bertubuh pendek, bulat, tetapi ia menguasai banyak bahasa? Apa salahnya dengan gadis berjerawat batu tapi ia sangat suka terjun di kegiatan sosial? Apa salahnya dengan gadis bertubuh ceking, berhidung pesek, berbibir ndower tapi punya kemampuan persuasif yang bagus sehingga bisa jadi psikolog handal, dimanapun orang merasa nyaman di dekatnya? Tentunya, bukan berarti kita mengabaikan masalah fisik. Seorang muslimah haruslah tampil segar, bersih, menarik, sehat. Merawat wajah dan tubuh harus dilakukan sebab tubuh yang fresh juga akan membawa percaya diri yang besar.

 Di buku Hi Pretty terselip pesan bahwa merawat kecantikan ala tradisional Indonesia yang murah meriah dapat dilakukan dan memperoleh hasil maksimal. Contoh : memutihkan kulit. Aku sendiri sudah mempraktekan dan hasilnya Subhanallah. Ambil bengkoang, parut, peras, endapkan. Pada endapannya yang berupa saripati seperti bedak dioleskan ke wajah dan leher. Rasanya dingin dan segar. Wajah jadi terlihat terang dan noda-noda pun menipis lalu hilang, ketika dilakukan berulang. Tomat pun begitu. Tiap kali mencuci tangan jadi keriput, kuoleskan tomat yang diremas-remas, kulit jadi segar dan halus sekali. Menjadi cantik tidak harus mengeluarkan biaya besar lho. Peserta menanyakan hal2 sebagai berikut : bagaimana bisa PD? bagaimana cara bergaul dengan cowok? bagaimana memasang foto di facebook? (…ada yang gak connect dengan materi memang :-) )

Masalah PD, kita bisa melihat di cermin apa kelebihan kita. Pasti ada! Yang namanya Sinta Yudisia itu berkulit gelap tapi punya lesung pipi (….haha). Tidak mungkin Allah SWT tak menitipkan satu potensi dalam diri kita, kan?

Analisa Sigmund Freud &psikolog Islam

Beberapa orang yang tahu saya kuliah di psikologi mewanti-wanti : hati-hati kuliah disitu. Bisa-bisa jadi nggak bener karena ajaran negatifnya Sigmund Freud. Benarkah?

            Bagi yang suka baca-baca buku psikologi, nama Sigmund Freud tak asing lagi. Ketenarannya melampaui Wilhelm Wundt, si pendiri Laboratorium Psikologi I di Leipzig, Jerman. Sebagian berkata ia tenar karena pendapatnya yang kontroversial, sebagian beranggapan ia belum punya tandingan.

            Salah satu pendapatnya yang mengundang perdebatan adalah anggapannya tentang Id, Ego, Superego serta pembagian Consciousness-preconsciousness-Unconsciousness. Id adalah insting primitif yang dipunya semua manusia : sex, makan, minum, sikap agresif. Setiap manusia punya ini, yang mengendalikannya adalah Ego(executor) dan Superego(nilai-nilai & norma-norma). Berbicara tentang consciousness – kendali alam sadar, tak banyak  yang menjadi permasalahan. Tetapi berbicara tentang unconsciousness-alam bawah sadar yang konon kabarnya menjadi pengendali utama semua keinginan, hasrat, perilaku kita; hal ini menjadi pemicu polemik.

            Benarkah ada satu sisi kelam manusia, di balik sikap baik budinya, ia mampu berbuat kejam suatu saat ketika ia sedang berada di luar batas kendali?

            Sayangnya, belum banyak psikolog Islam yang menelorkan karya sebanyak Sigmund Freud, Wilhelm Wundt, John Watson, Abraham Maslow, dll. Mengingat akar psikologi berinduk pada filsafat yang diharamkan sebagian ulama, ilmu ini berkembang sangat lambat. Padahal sekarang dan ke depan nanti, banyak sekali permasalahan kejiwaan yang harus diselesaikan oleh ahli-ahli yang memiliki basic keislaman yang kaaffah.

            Lihat saja Elizabeth Kubler Ross, seorang dokter di Chicago yang meneliti 200 orang menjelang sakaratul maut. Ia menyimpulkan bahwa menjelang detik-detik terkahir setiap orang harus didampingi untuk mendapatkan ketentraman. Sangat sedikit dari kita yang punya pemahaman untuk membantu mereka yang mendekati ajal, memberikan dukungan dan bantuan secara ilmiah, kecuali kerabat keluarga yang tengah dilanda kepanikan

            Dr. Linus Pauling, pemenang hadiah Nobel sebanyak 2x, mengemukakan MRT –Molecul Reform Therapy yang merupakan konsep utama pengobatan abad ke-21. Ada 4 tahap MRT, salah satunya adalah terapi mental yang diyakini memperbaiki kinerja molekul tubuh.

            Jika saja psikolog Islam punya terobosan-terobosan yang membawa ummat ini pada kedamaian jiwa dan solusi bagi banyaknya permasalahan hidup.

 

Manusia VS Simpanse

Manusia vs Simpanse

Inilah pendapat para ahli antropologi.

Manusia adalah primate. Kerabat kita yang terdekat adalah simpanse & gorilla yang memiliki susunan kimia jasmani yang benar-benar identik dengan manusia. Dalam artian evolusi, garis keturunan manusia adalah garis keturunan hominid, manusia belum lama berpisah dari garis keturunan kera besar Afrika (simpanse & gorila).

Menurut urutan zaman, beginilah evolusi primata yang konon kabarnya berakhir pada manusia.

No

Jenis

Tahun

1

Australopithecine

3,5-2,5 juta tahun SM

2

Homo Sapiens

250 ribu-100 ribu tahun SM

3

Manusia Neanderthal

100 ribu tahun SM

4

Manusia Modern (homo sapiens sapiens)

40 ribu -30 ribu tahun SM

5

———ada tekanan evolusi———

6

Nabi Adam

?

7

Nabi Nuh

1700 SM

Sekalipun terdapat rantai putus yang membingungkan antara manusia purba dengan manusia modern, tetap saja sebagian ahli beranggapan telah terjadi evolusi. Memang banyak kemiripan antara manusia dengan simpanse/ gorilla. Baca entri selengkapnya »

Back to campus!

Tiba-tiba kesempatan itu datang!

Ramadhan 1429 H, keajaiban-keajaiban dituntun oleh tanganNya. Aku sempat takut tapi bukankah tak ada bulan lain sebaik Ramadhan? 30-31 muswil di Blitar, pengukuhanku sebagai ketua FLP Jatim. 6  September pra-raker FLP Jatim. 21 September insyaAllah raker FLP Jatim. Dan….tanggal 9 september dengan diantar seorang teman aku test & mendaftar kuliah S1 Psikologi Untag, Universitas 17 Agustus Surabaya.

Hah? Gak salah?

Aku mulai kuliah Senin, 15 September kemarin. Deg-degan, aku paling tua sendiri mungkin. 34 tahun, tidakkah ini terlambat? Tidakkah ketika nanti selesai diwisuda aku telah berusia 38 tahun?Tetapi ada sesuatu yang menyala dalam diriku. Never ending learn! Para ulama sepanjang hayat hingga tua tetap membaca, membaca, membaca,  belajar, menghasilkan karya. Dan teman-temanku, mereka yang masih berusia kurang dari 20 tahun ternyata tak kurang struggle-nya dari diriku. Athena yang harus membagi waktu dengan bekerja di Matahari, Andrea yang berjilbab harus bekerja sore di hotel, Ajeng yang harus tetap nge-les-i. AKu senang bersama mereka, anak-anak mandiri yang tak menengadahkan tangan minta pada orangtua. Berjuang, bangkit, bekerja, maju, pantang menyerah. Itulah kaum muslimin seharusnya!

Jadi untuk apa merasa malu jika apa yang kulakukan adalah baik adanya?

Ramadhan tahun ini, masa kebangkitan diriku, FLP Jawa Timur, da’wah dimanapun bumi kupijak.