Pilih Psikolog atau Ahli Agama?

              Ketika kami sedang mendapatkan mata kuliah Psikologi Klinis, seorang teman bertanya : jika sakit jiwa, kenapa pilihannya tidak ke ahli agama saja? Pertanyaan simple yang membutuhkan jawaban panjang. Tadinya saya juga berpendapat seperti itu. Sebagai orang beriman, tentulah ketika menghadapi persoalan yang pertama kali terpikir adalah : saya harus menyelesaikan dengan cara religius. Hal ini tidak salah bahkan memang seharusnya demikian agar kita tak salah jalan ketika mencari jalan keluar atau obat dari setiap permasalahan.

              Pertanyaannya : Seberapa religius kita? Kadar agama yang bagaimana yang dapat menuntaskan banyak persoalan?

          Inilah sisi penting kenapa dalam Islam, agama insyaAllah selalu dapat disandingkan dengan ilmu pengetahuan. Ketika kita bernafsu dalam beragama tapi tak dilandasi oleh ilmu yang memadai, hasilnya adalah taqlid dan jumud, pada suatu saat jika kita anggap agama tidak mampu menyelesaikan persoalan maka jawabannya simple : agama ini salah!

Bingung? Jangan dulu.

 Contohnya begini. Katanya sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar. Kenyataannya, banyak orang sholat masih pemarah, penghasut, dll dsb etc yang jelek-jelek. Jadi ayat itu bohong kah? Sedikit membahas Psikologi Faal. Dalam teori tentang ”Tidur ”, otak manusia mempunya 4 jenis gelombang :

 1. Beta wave (13-30 hertz) — aktif

2. Alpha wave (9-12 hertz) —santai

3. Theta wave (4-8 hertz) — tenang

4. Delta wave (1-3 hertz) — tidur

{tentang berapa ketepatan frekuensi, ada beberapa perbedaan pendapat)

Beta wave adalah keadaan di mana kita sadar seutuhnya, melakukan aktivitas, meledak-ledak penuh gairah. Alpha wave saat santai-santai, misalnya duduk di kursi malas. Delta wave adalah kondisi dimana seseorang jatuh tertidur. Tahukah anda di gelombang mana orang bisa di hipnotis (baik terapi maupun ketika dalam kriminalitas)?

Mereka yang dihipnotis berada dalam Theta wave, suatu gelombang spesial yang mengindikasikan otak antara tidur dan tenang, tidak terlelap tapi juta tidak terjaga. Salah satu terapi dalam psikologi yang dapat dikatakan handal adalah metode meditasi, yoga, juga hipnotis yang rata-rata mempergunakan gelombang Theta wave untuk membuat pasien rileks dan ekstasi.

                         Naaah, kenapa ya, saat saya sholat, bersamaan itu dua pendekar saya lagi berantem bab masalah yang tidak karuan juntrungannya, maka dalam benak saya ketika sholat adalah ”….awas! Tunggu sampai Ummi selesai sholat nanti!” Maka begitu salam di ucapkan ke kanan ke kiri saya langsung berteriak memanggil nama mereka dengan marah.

              ”Nggak tau apa Ummi lagi sholat? Sampai Ummi nggak sempet wirid segala?!”

             Kenapa usai sholat (bahkan masih di dalam sholat!) emosi marah bisa tetap meledak?

             Ya. Karena saat sholat yang harusnya berada dalam Theta Wave atau gelombang Theta, saya masih membiarkan pikiran berkeliaran ke gelombang Beta dan Alpha. faktornya bisa macam-macam. Kalau kita melihat orang mau meditasi atau yoga, betapa penuh persiapannya. Tempat, baju, alas, lingkungan , suasana, segala yang bisa selaras dengan gelombang Theta di sinkronkan. Kalau kita mau sholat ya sholat aja. Wudlu buru-buru, baju sholat ya sama dengan baju habis masak tadi yang bau bawang terasi , menggelar sajadah dan mukena ala kadarnya dengan situasi dan suasana yang serba apa adanya. Pokoknya sholatnya selesai, titik. Sementara orang meditasi dan yoga sudah punya prinsip, komitmen, niat dan mengupayakan segala sesuatu bahwa meditasinya memang untuk mencari ketenangan.

                      Itulah sebabnya shlat kita ternyata tidak mencegah perbuatan keji & mungkar ya. Itu analogi saya setelah belajar konsep ”Tidur” Kembali pada persoalan memilih psikologi & ahli agama. Dua profesi ini alangkah indahnya jika disandingkan.

                    Sebagai sebuah ilmu, psikologi memiliki metode ilmiah sebagaimana ilmu-ilmu eksakta yang lain sehingga reliabilitas & validitasnya teruji. Jika kita memperlakukan materi lain harus demikian cermat, apatah lagi dalam memperlakukan jiwa manusia yang sedemikian unik, luhur, mulia dan istimewa.

                        Ada beberapa cerita sedih yang mungkin dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Seorang teman sebut saja namanya Eko tengah bermasalah dalam pernikahan. Ia jatuh cinta pada seorang gadis dan meminta si istri untuk bisa menerima pilihannya dengan konsep poligami. Elly (juga samaran) pada akhirnya menyetujui permintaan Eko karena ia seorang istri sholihah. Betapa sedih saya melihat tubuh dan wajahnya makin layu menyusut, ia sering terlihat melamun dan bermata bengkak. Anak-anaknya konon juga tak terurus lagi. Saya menyarankan kepada Eko untuk mendatangi psikolog, jika ia yakin poligami adalah sebuah pilihan yang tepat ; tidakkah lebih baik keluarganya dipersiapkan sebaik-baiknya baik istri, anak-anak, orangtuanya? Apa salahnya terapi ke piskolog sehingga semua pihak menjadi tangguh dan siap dengan segala kemungkinan? Eko menolak mentah-mentah saran kami.

                   Seorang kenalan, sebut namanya Yuni juga bermasalah dengan suaminya. Dalam permasalahan itu , mama Yuni seringkali mendatangi ustadz dan jawabannya adalah sabar. Psikolog & psikiater belum masuk hitungan karena mama Yuni memang seorang yang teguh dalam agama. Tanpa melihat bahwa Yuni didera permasalahan demikian berat (suami orang kayaraya, tak mau kerja, semua kebutuhan dipenuhi mertua, suaminya juga nggak faham agama, suka mabuk dst ). Ketika Yuni kemudian depresi dan sakit berkali-kali, barulah mereka mendatangi terapis. Di situlah setelah 5 tahun, mama Yuni melihat bahwa ketika Yuni mengingat suaminya saja, ia langsung memegang dadanya, setengah histeris dan terbungkuk-bungkuk mencoba mengatasi nyeri luarbiasa di dadanya (sejenis psikosomatis).

                     Seorang kenalan juga, memiliki suami yang demikian keras wataknya dan suka memukul istrinya. Sebut saja Eva. Eva sudah rajin ke pengajian dan mendatangi psikolog, ketika suaminya disarankan untuk datang ke psikolog yang keluar adalah ejekan. Hingga akhir hayatnya, Eva seringkali menerima perlakuan kasar dari sang suami dan juga anak-anaknya.

                   Masih banyak lagi kisah tragis yang membuat hati miris saat mengetahuinya. Lebih miris lagi bahwa kondisi kritis kejiwaan seseorang tidak hanya dialami mereka yang berada di bawah garis kemiskinan tetapi juga berada dalam kondisi mapan ekonomi dan pendidikan. Sebetulnya, kenapa sih nggak mau menerima jasa terapis , psikolog misalnya? Penyakit jiwa tidak identik dengan gila.

               Dewasa ini orang sering mengalami stress –frustasi – depresi (konsep ini saya tuliskan nanti ya..) Yang mengalami stress dan tahapan selanjutnya bukan hanya mereka yang tidak punya uang atau berada di jalur yang salah, tetapi mereka para pejuang da’wah dan keluarga baik-baik pun bisa mendapatkan stress yang jika tidak dikelola dengan baik akan menjadi depresi hebat.

                Saya sendiri pernah mengalami ketika tugas da’wah sedemikian padatnya, campur aduk dengan tugas rumahtangga dan segudang aktivitas. Alhasil yang ada adalah ledakan demi ledakan yang kemudian saya tafakuri : nggak mungkin agama dan da’wah ini yang salah kan? Pasti faktor manusia –saya- yang tidak bisa mengendalikan. Syukurlah sekarang saya kuliah di psikolog dan mulai belajar Psikologi Klinis, Psikologi Perkembangan Psikolgi Kepribadian, Psikologi Sosial dsb.

                Saya jadi bisa membaca ” oh, aku lagi banyak stressor. Kalau begitu jangan sampai meningkat jadi frustasi, ntar marah-marah ke suami dan anak-anak. Makanya aku harus begini-begini…..” Kelak, psikolog pun jika tak mampu menghadapi masalahnya sendiri juga harus mendatangi terapis yang bisa di percaya entah itu psikiater, ahli agama, dst. Disinilah juga ahli agama sangat berperan ketika memberikan masukan bagaimana cara mengatasi kendala-kendala kejiwaan. Terapi dzikir, sholat, puasa dst alangkah bagusnya jika dikawal dengan ilmu psikologi yang menggunakan alat terukur dan teruji.

                Saya membayangkan jika suatu saat punya klien.

               ”Saya frustasi.”

              ”Sejak kapan, Pak?”

              ”Sejak tidak menjadi anggota Dewan?”

             ”Memangnya apa yang Bapak rasakan sekarang?”

               ”Bla..bla..bla…”

               Lalu kita akan memilihkan metode bandwith atau fidelity. Sembari memberikan rujukan ,” kami punya terapis ahli agama yang dapat memandu Bapak berdzikir. Atau mungkin Bapak mau ikut terapi sholat tahajjud? Nanti kita ukur seberapa kadar insomnia Bapak, kecemasan dsb dst.”

              Duh, bayangkan sebuah Pusat Rehabilitasi, Centre of Crisis. Di sebuah alam yang indah, saat kita merasa punya segudang masalah (dan jangan menunggu sampai bertumpuk lalu kita mengisolasi, kehilangan kontak, sampai hilag ingatan !!) . Sang terapis mengukur kadar permasalahan kita lalu kita akan menjalani terapi sesuai sunnah : berolah raga, memasak, beraktivitas lainnya. Menjadi sukarelawan dan melatih ketrampilan. Lalu puasa bersama, sholat bersama, mendapatkan suntikan taujih. Semuanya terukur, terjadwal, terpercaya, dapat diandalkan. Lalu keluarlah kita dari rehabilitasi itu dengan semangat baru baik menghadapi anak-anak, pasangan, lingkungan kerja, da’wah dst.

             Hmh, indah ya?

Tapi & Meskipun

Jangan biasa gunakan tapi, pakailah meskipun Dosen Psikologi pendidikan kami yang nyentrik, sering bicara sufistik di sela-sela mengajarnya. Ia mengajarkan ha-hal yang baru kudengar. Jangan gunakan tapi, pakailah meskipun!

Apa yang ia sampaikan mungkin sama seperti yang tengah kuhadapi. Sama seperti bait-bait syair yang pernah kudengar :

jika minta kekayan , Tuhan memberimu pekerjaan

jika meminta kekuatan, Tuhan memberimu kesulitan

 jika meminta jalan keluar, Tuhan memberimu permasalahan

tidak adilkah Tuhan?

Beberapa waktu lalu, aku pernah merasakan hidup yang sangat teratur dengan 2 orang pembantu. Bukan sok kaya tetapi aku betul-betul ingin berkhidmat untuk da’wah di segala lini, bukan hanya kepenulisan. Kuhrapakan 2 pembantu itu mampu membantu kerja-kerja rumahtanggaku. Belum hanya itu, akupun punya EO yang mengelola acara-acara promosi bukuku. Jadi, aku dapat konsentrasi menulis, memikirkan FLP, mengecek PR anak-anak dan tugas primer lainnya. Mencuci, memasak, besih2 rumah dsb ’pekerjaan kasar’ sudah ada yang menangani.

Semakin banyak amanah dakwah, ternyata Allah menguji ketahanan diriku. Satu persatu pembantu-khadimah- ku pulang kampung karena menikah dll alasan. Begitupun EOku menikah. Jadilah aku sendiri menangani semua permasalahan.

Ibuku memberiku nasehat : ” Sinta, pekerjaan utama kamu adalah ibu dan istri. Jangan lupakan itu!”

Aku merenunginya. Mungkin….Allah SWT ingin mengembalikan sense-ku yang sekian lama sedikit terlupakan. Aku yang begitu mencintai da’wah kepenulisan, disibukkan oleh mengisi disana sini, akhirnya melimpahkan pekerjaan kepada orang lain. Tentu, selama kontribusi da’wah kita positif , insyaAllah tak masalah.

Beratkah? Tentu saja.

 Tetapi seperti kata ibuku yang bijak, perempuan itu tempatnya tirakat. Di zaman dulu, para istri Raja tak pernah hidup enak ketika telah berputra. Mereka banyak melek malam, banyak puasa. Karenanya mereka banyak menghasilkan para kesatria di zamannya, tidak seperti sekarang. Istri para ’raja’ dan ’bangsawan’ justru yang paling enak hidupnya.

Pasca Idul Fitri dan kembali ke Surabaya, aku benar-benar blank. Membayangkan kuliah, menulis, FLP, mengisi pengajian, dan segudang tugas rumahtangga…cukupkah 24 jam? Memang anak-anakku dapat dikerahkan tetapi mereka sudah sekolah dari sejak jam 06.00-17.00. Tetapi the show must go on. Kekuatan pikiranku harus bekerja ekstra.

Jika esok harus kuliah jam 7 pagi, malamnya aku mencuci dan menyiapkan bahan masakan. Jika kuliah jam 07.45 atau lebih siang sedikit, aku mencuci pagi sembari membereskan pekerjaan yang lebih berat : mengemasi seprei, mukena, pel2, memasak yang lebih istimewa. Sembari berangkat kuliah aku ke warung untuk belanja. Dari beras, air galon hingga garam dan minyak harus sudah terprediksi rapi. Di sela-sela kuliah aku harus membaca ulang Psikologi Kepribadian, Klinis Diagnostik dsb. Berusaha membuat catatan agar waktu belajarku efektif. Di sela-sela kuliah pula aku sempatkan sms dan telpon suamiku menanyakan kabar dirinya ;-)

Sepulang kuliah (12.00-13.00) aku bergegas ke rumah mempersiapkan masakan dll. Ba’da Asar dimulailah acara ibu-ibu : jemput menjemput, membereskan pernak pernik membalas email dan menulis sedikit. Ketika anak-anak pulang menyuruh mereka mandi, mempersiapkan makan dan menanyakan urusan sekolah. Alhamdulillah, Allah SWT memberiku khadimah seorang ibu paruh baya yang bisa membantu menyetrika dan membersihkan rumah. Ia tak bisa full, hanya bekerja pocokan. Sebagian besar tugas rumahtangga ada di kedua tanganku. Aku berangkat tidur dengan tubuh remuk redam. Tengah malam terbangun untuk melakukan pekerjaan yang kucintai : menulis dan mengurusi FLP. Entah sampai jam berapa tergantung situasi. Kadang memang, di pagi hari sejenak sebelum berangkat kuliah aku membaringkan tubuh sekitar 5 menit untuk memberikan rasa nyaman pada seluruh sendi tubuhku yang letih. Sesungguhnya, aku benar-benar lelah lahir batin.

 Tetapi justru, dalam kesulitan ini aku merasakan ketergantunganku pada Allah SWT demikian besar. Aku memohon agar bisa menunaikan dan wajib dan sunnah dengan baik. Aku tahu, bahwa di tengah kelelahanku yang sekarang, satu-satunya sandaran kekuatan utama adalah kekuatan ruhani. Sholat terasa demikian nikmat karena saat itulah aku benar-benar rileks. Doa terasa demikian lezat karena aku betul-betul memohon : Ya Allah, beri aku kecerdasan dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas-tugas sebagai ibu, istri, penulis, daiyah. Segala yang berat ini hanya dapat terobati ketika aku sholat dan membaca Quran.

Dulu….ketika semua serba mudah, kuanggap sholat dan baca Quran hanya rutinitas yang sewajarnya. Sekarang, aku membutuhkan terminal untuk mengobati lelah lahir batinku.

Kekurangannya.. mungkin tugas da’wah keluarku sedikit terhambat. Semua masih perlu penyesuaian.

Kelebihannya…. aku lebih berbagi ke anak-anak. Kujelaskan bahwa amanahku bukan hanya ibu tetapi juga kita semua harus punya andil bagi ummat. ”Kalau Ummi terlalu capek, nanti nggak bisa da’wah lagi…”Alhamdulillah, anak-anakku semakin bisa membantu. Begitupun kebahagian perempuan yang sesungguhnya ketika anak-anak & suami memuji masakanku. ”Sambal Ummi paling enak. Makasih ya Mi..” lalu mendaratlah kecupan di pipi kanan kiriku dari anak-anak.

Bagaimana dengan tulisan-tulisanku? Beberapa novelku mungkin tertunda, tetapi aku tak risau sebab aku berusaha mengerjakan dengan bersungguh-sungguh. Aku yakin , tulisanku yang dibumbui oleh keletihan jihad seorang ibu dan istri pastilah lebih memancarkan makna. Aku yakin, tulisan yang hanya bisa kukerjakan di sela-sela aku menyiapkan keperluan anak-anakku adalah tulisan yang mengalirkan kekuatan kepada khalayak. Aku yakin, bobot bicaraku dalam pengajian dan acara-acara akan lebih berisi ketika sehari-hari akupun bergelut dengan air mata dan keringat perjuangan menjadi seorang muslimah yang sesungguhnya. Ketika kemarahan menderaku karena target yang tak tercapai sebagai manusia akupun meledak. Lalu kusadari, kenapa aku tak memohon kepadaNya untuk memberiku bekal sabar & lapang dada? Sesungguhnya, Tuhan Maha Tahu. Segala kesulitan ini memberikan imbas lain kepadaku. Hafalan Quranku yang sempat banyak di masa lalu, sering tak terulang. Di saat sekarang, sembari mengerjakan ini itu aku lafalkan kembali apa yang pernah lupa. Di malam hari, sebelum tidur kusempatkan membaca referensi-referensi Islam dan Psikologi dsiamping membaca buku sastra. Setiap detikku bermakna kini.

 ”Aku mau nulis…….tapi….

Aku mau da’wah…. tapi…

Aku mau jadi ibu dan istri yang baik …tapi….”

Kiranya kalimat itu harus diganti : Aku mau nulis meskipun waktuku sedikit dan tubuhku lelah.

Aku mau da’wah meskipun sangat sibuk

Aku mau jadi istri dan ibu yang baik meskipun berkejaran dengan tugas dan waktu.”

Berbuka bersama anak-anak para PSK & Mucikari

 DSC03508   DSC03517   DSC03525   DSC03541

Mata anakku, Inayah, 2  SMP basah memandang foto-foto oleh-olehku dari Dolly. Jajaran wajah lucu menggemaskan dengan latar belakang rumah-rumah wisma yang di hari-hari bisa dipenuhi pekerka seks komersial (PSK). PSK yang memiliki hubungan darah dengan mereka : ibu, kakak, atau bibi. Atau juga orangtua mereka justru yang penyedia wisma alias induk semang atau mucikari.

Sebetulnya aku tidak menyambangi Girilaya dengan gang Dolly-nya yang terkenal. Banyak sekali gang di daerah Jarak yang menyediakan sarana kenikmatan. Salah satu yang kami kunjungi adalah Putat Jaya 2 A, daerah yang terkenal dengan beraneka ragam Wisma Kenikmatan. Tetapi daerah di sekitar Jarak memang lebih akrab disebut Dolly.

            Sejak di depan gang Putat Jaya 2 A, telah ditandai dengan larangan : TUTUP.

            Di gang itu banyak bertebaran neon box bertuliskan : Dilarang masuk bagi pengemis, pemulung, anjal dan banci.

            Sepanjang gang tersebut yang terdiri kurang lebih 50 rumah, mungkin sekitar 10 rumah yang bukan Wisma Kenikmatan. Di tiap jendela lebar seperti akuarium dan pintu tertulis larangan di atas kertas secara rapi ; TUTUP. Sekalipun duduk-duduk di depan gang wanita-wanita berbusana ketat dengan paha mulus terbuka.

            Disanalah aku mengenal Oka, Dimas, Riki, Degrit, Nanda, Angga, Riska, Ayu, Dwi, Oka, Dharma, Della, Nane, Catur, Guntur, Febri, Nadya dan masih banyak lagi.

            Anak-anak cantik.

            Anak-anak tampan.

            Anak yang molek.

            Anak siapa mereka?

            “Ayo, siapa nama nabi kalian?

            “Allaaaaah….”

            “Siapa nama malaikat?”

            “Rasuuuul…”

            “Sholat Shubuh ada berapa rokaat?”

            “Lima rokaat!”

            Jika anak TK yang menjawab, kita akan maklum.

            Tapi usia mereka sebagian kelas 6, kelas 5. Hanya beberapa yang masih balita. Jangankan mengenal syariat Islam seperti tuntunan sholat dan puasa. Mereka bahkan tak mengenal siapa Tuhan dan Nabi mereka sendiri. Kemana saja orangtua kalian, Nak?

            Kadang anak-anak itu tak terkendali. Kadang mereka begitu liar. Tetapi sekali waktu wajah mereka demikian lapar, haus, kering, ketika kami mengajarkan surat al Fatihah dan doa mau makan.

            Pak Kartono aktivis taman bacaan Kawan Kami banyak bercerita tentang kondisi Putat Jaya 2A.

            “Di sini memang berbeda dengan Dolly sana, Mbak,” paparnya. Dolly lebih ditekankan pada kawasan bisnis dengan sistem layanan perjam, minimal 80 ribu tiap 1,5 jam. Dolly juga termasuk kawasan bisnis elit sementara yang masuk gang seperti Putat Jaya 2 A termasuk hanya kelas menengah. “Semalam ada yang tipnya sampai 1 juta, karena memang cantik sekali.”

            Putat Jaya tidak ditekankan sistem perjam tetapi layanan sepuasnya.

            Bayanganku tentang kamar-kamar seperti hotel lenyap seketika.

            Putat Jaya (Puja) lebih mirip rusun (rumah susun) Penjaringan atau Wonorejo. Rumahnya kecil dengan ukuran 5 x 10 . Kamar-kamarnya juga kecil dengan pintu yang tidak selalu bisa terkunci rapat. Yang kupikirkan adalah bagaimaa puluhan anak-anak yang lalu lalang di situ menangkap pemandangan para ibu mereka berkasih-kasihan dengan pasangan bergonta ganti?

            ”Wah, itu sudah biasa, Mbak,” ungkap pak Kartono. ”Mereka sering melihat ibu mereka hanya pakai handuk sedang melayani tamu.”

            Aku menelan ludah, kering.

            Padahal beberapa waktu lalu kubaca bahwa pornografi merusak salah satu pusat keseimbangan di otak secara hormonal. Pantas saja anak-anak itu kadangkala begitu liar seperti hewan buruan.

            Persoalan pelacuran bagaikan benang ruwet, tumpang tindih, saling silang, berkelindan jalin menjalin , tiada tahu ujung pangkalnya. Debat panjang siapa yang harus mengentaskan : para ulama, pemerintah, LSM, aktivis, PSK atau mucikari itu sendiri; menjadi perdebatan panjang. Aku sendiri mendapatkan tanggapan pro dan kontra tentang keinginanku berkecimpung di Dolly.

            ”Percuma, menghabiskan tenaga.”

            ”Yang paling bertanggung jawab pemerintah.”

            ”Dasar perempuannya aja yang sudah gatel, keenakan. Nggak bakal mau kerja baik-baik karena sudah biasa dapat uang banyak.”

            Silang pendapat ini  kadang membuatku pepat, sedih, marah, kecewa. Entah pada siapa, mungkin pada diriku sendiri. Aku marah karena aku tidak bisa berbuat apa-apa juga. Yang lebih kupikirkan bukan para PSK tetapi anak-anak mereka. Memang itu ulah ibu mereka yang nista dengan lelaki yang aib pula, tetapi anak-anak itu tidak bersalah kan? Kita tidak menganut dosa turunan tetapi lingkungan yang diwariskan, memang iya.

            Aku senang bertemu pak Kartono.

            ”Saya melakukan apa yang saya bisa, Mbak.”

            Ia mengontrak 3 kamar di Puja, satu buat kamar tidur dan dua buat rumah baca Kawan Kami. Ia juga bergabung di Plan dan Indonesian ACTS (Against Child Trafficking). Selain mengumpulkan anak-anak, ia juga menjaring para remaja untuk ikut andil dalam Stop! Perdagangan Anak. Pak Kartono mengakui,  betapa sulitnya menutup Dolly tetapi ia berusaha semampu mungkin memutus rantai PSK.

            “Kalau ada yang masuk kemari nggak boleh di bawah umur lalu kami beri arahan untuk bekerja di bidang lain. Tapi kalau nggak mau ya bagaimana lagi,” akunya. Pak KArtono ingin Dolly suatu saat seperti Kramat Tunggak yang menjadi Islamic Centre.

            Ada satu cerita yang aneh, unik, menggeramkan dari pak Kartono yang membuat kita beristighfar dan mengambil hikmah. Sebanyak apapun PSK melayani lelaki, ternyata kebutuhan afeksi mereka kurang sehingga tetap saja punya pasangan atau pacar ‘peliharaan’. Ini memakan biaya besar.

            “Saya sering ajari ibu-ibu supaya mereka menabung  dan menyekolahkan anak-anak setinggi-tingginya. Saya nggak tau itu uang haram atau nggak ya Mbak, pokoknya saya bilang ‘kalau kamu sudah susah seperti ini jangan sampai anakmu ikut susah’. Soalnya, banyak Mbak, PSK yang malah punya pacar dan duitnya habis buat melihara si lelaki ini sehingga anak-anaknya terlantar.”

            Jadi begitulah kenapa seperti lingkaran setan yang makin lama makin menyempit tidak selesai-selesai. Cari uang waktu masih muda dan cantik, haus kesepian, cari lelaki (pastilah lelaki yang juga tidak berniat mengayomi), perlu banyak biaya untuk mengelola hubungan (mungkin perselingkuhan, atau juga di perempuan mengimingi harta karena haus kasih sayang), punya anak (kecelakaan atau memang keinginan), perlua keluar uang untuk memelihara kecantikan fisik, begitu seterusnya.

            “Kalau hanya keluar dari sini untuk jadi pembantu atau pelayan toko…wah, pasti balik lagi.”

            Agama. Syariat. Ketrampilan. Perlindungan hukum. Kesadaran. Semangat untuk berubah. Masyarakat yang kondusif. Lapangan Kerja. Betapa banyak PR kita.

            “Siapa sih yang paling banyak menyambangi PSK?” tanyaku ingin tahu.

            “Paling banyak lelaki yang punya masalah di rumah tangga,” kata pak Kartono.

            Hm, tambah lagi PR buat para wanita dan kaum ibu : jaga diri kalian baik-baik seutuhnya mencakup fisik, komunikasi, agama, keluarga. Up grade diri agar suami tidak berpaling!

            Kami bercerita tentang Masjid yang Bersedih (aku), Biola Tua (Aferu Fajar), Janji Cici (Citra Widuri). Kami berbagi minum, ta’jil kolak, nasi kotak dan bingkisan dari bu Diah Katarina (istri pak Bambang DH). Anak-anak itu berbaris usai sholat magrib yang berdesakan.

            “Bunda, kenapa kok anak laki-laki di depan sih?”

            Tidak tahukah kamu, Sayang, bahwa demikian shof orang sembahyang terutama di masjid?

            ”Siapa yang berpuasa?”

            Nyaris tak ada yang mengacungkan jadi.

            ”Siapa sholat tarawih?”

            Sepi.

            ”Siapa sholat 5 waktu?”

            Tak ada yang bereaksi.

            ”Siapa yang tadi pagi sholat Shubuh?”

            Beberapa orang ingin mengangkat tangan tapi ragu.

            Ketika magrib menjelang kami berbuka dengan tenggorokan kering, sakit, kehabisan suara. Dimas (entah anak siapa) mengumandangkan adzan dengan merdu. Mereka menatapku dengan mata bercahaya dan mulut tersenyum.

           

 

 

 

            “Bunda habis ini pulang?” tanya mereka.

            Aku mengiyakan.

            Wajah mereka sedih. Aku berpamitan. Aku menyalami para PSK dan mucikari juga orang-orang kampung sembari meminta maaf karena kami sudah menyebabkan banyak kegaduhan. Wajah mereka tentu saja menyimpan kehatian-hatian.

            Aku berjalan pulang meninggalkan gang Putat Jaya, meninggalkan dunia antah berantah yang jauuuuuh sekali dari kehidupanku yang normal, bahagia, bersama anak-anakku yang sehat & lucu. Di ujung gang aku menyapa Nanda dan Risma.

            “Nanda, rumah kamu di mana?”

            Ia menunjuk sebuah rumah biru dengan kaca lebar jernih dengan lampu-lampu menyala. Ada tulisan Wisma. Ada juga tempelan berbunyi : TUTUP.

Suntik Kecantikan : kulit indah & mulus!

Beberapa waktu yang lalu , teman-teman kampusku yang cantik, sexi dan muluuus banget kulitnya menawariku injeksi alias suntik untuk kecantikan. Macam-macam yang ditawarkan pihak penyedia : suntik silikon, whitening, serum C maupun  kolagen. Kata mereka : gak ada efek sampingnya! Suamiku nggak pernah nuntut macem-macem, tapi yang namanya perempuan ingin selalu mencoba. Wah, jangan-jangan aku jadi secantik temanku ya? Memang wajah dan bodinya mulus tanpa cela!

Untung, aku sempat menangguhkan keinginanku lalu mencari tahu dunia operasi plastik, implant dsb di internet. Aku banyak dapat info. Sedikit kusampaikan di bawah. Hati-hati ya!

 

 

Meski sudah banyak korban yang jatuh, orang ternyata belum jera juga untuk melakukan suntik silikon cair dan kolagen demi memburu kecantikan. Sebenarnya apa itu silikon cair dan kolagen serta bahayanya untuk anda ? Mungkin anda ingin terlihat cantik tetapi ternyata malah menjadi hancur. Karena harus menahan rasa sakit yang luar biasa pada daerah yang ingin anda ubah.

Sebaiknya anda lebih berhati-hati lagi bila ingin terlihat cantik dengan mengubah bentuk tubuh seperti memancungkan hidung, mengisi dagu atau menghilangkan kerutan. Jika anda ingin melakukan hal tersebut, sebaiknya anda lakukan di dokter spesialis bedah plastik dan jangan ke salon kecantikan atau tempat praktek ilegal. Karena apapun yang disuntikkan ke dalam tubuh akan berdampak negatif atau positif. Sisi positif adalah diharapkan menjadi kenyataan tetapi sisi negatif reaksi yang timbul dapat berupa alergi atau salah lokasi penyuntikan sehingga menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah.

Saat ini memang cukup banyak beautician atau ahli kecantikan dan dokter umum yang menjual jasa suntik silikon. Mereka mungkin bisa melakukan suntikan tapi mereka tidak bisa mempertanggungjawabkan hasilnya. Pemerintah pun masih saja membiarkan orang-orang yang tidak punya hak untuk melakukan suntik silikon di berbagai salon.

Suntikan silikon di salon kecantikan, biasanya akan menimbulkan keadaan yang tidak diinginkan pasien. Mungkin pasien tidak meninggal tapi hasilnya malah menimbulkan rasa sakit yang berkepanjangan seperti merah dan bengkak akibat suntikan tersebut. Akibatnya operasi tersebut dibongkar lagi dan diperbaiki sehingga anda dirugikan karena salon tersebut tidak mampu memperbaiki kerusakan yang terjadi pada wajah anda.

Sebaliknya, kalaupun cairan yang disuntikkan itu benar kolagen maka dokter tidak akan menyuntikkannya ke payudara. Kolagen lebih cocok untuk jaringan kulit, bukan pada jaringan lemak. Sedangkan payudara itu sendiri terdiri dari jaringan lemak.

Pada payudara juga terdapat banyak pembuluh darah besar atau vena sehingga zat yang disuntikkan bisa langsung menerobos pembuluh darah dan menyumbat pembuluh darah. Sehingga tidak ada dokter yang mau menyuntik payudara dengan kolagen. Cara yang paling aman adalah melalui operasi dengan memasukkan kantung silikon jeli. Ini lebih mudah dikeluarkan jika ada masalah seperti reaksi alergi.

Oleh sebab itu anda harus dicek, apa betul cairan yang disuntikkan itu kolagen. Apalagi, kolagen yang asli harganya cukup mahal. Satu cc harganya bisa mencapai 80 hingga 100 dolar AS. Padahal, untuk memperbesar payudara diperlukan cairan kolagen sebanyak 200 cc, yang artinya perlu dana sekitar 40 ribu dolar atau sekitar Rp 360 juta. Dalam pemakaian yang cukup besar, tentu saja harganya sangat mahal. Oleh sebab itu, kolagen biasanya dipakai untuk mengatasi kerutan kulit bukan untuk memperbesar payudara.

Selain mahal, kolagen juga memerlukan tempat penyimpanan khusus, yaitu pada suhu rendah dan konstan. Ini membuat banyak rumah sakit tidak sanggup menyediakan stok kolagen cair bagi pasien. Alhasil, untuk memberikan pelayanan suntikan kolagen tidaklah mudah dan murah.

Padahal banyak perempuan yang minta dibesarkan payudaranya dengan suntikan di salon kecantikan karena lebih murah, cepat dan tanpa harus perlu tindakan operasi. Tindakan operasi merupakan sesuatu yang menakutkan meski sampai sekarang belum pernah ada orang yang meninggal gara-gara menjalani bedah plastik.

Kolagen memang lebih alami karena diambil dari tunjang hewan (sapi) yang diproses menjadi berbentuk cair dan digunakan menjadi pengisi atau menambah volume bagian tubuh yang kurang. Para dokter biasanya menggunakannya untuk mengatasi kerutan di kulit wajah dengan jalan disuntik agar lebih rata. Bahan dasar kolagen mirip jaringan tubuh manusia sehingga bila disuntikkan ke dalam tubuh, sebagian akan diserap oleh tubuh. Tetapi sebulan setelah disuntikkan anda perlu dievaluasi dan selama dipergunakan dengan baik, kolagen sebenarnya cukup aman untuk tubuh. Apakah anda masih tertarik untuk menjalani hal ini ?

Sekalipun banyak yang sukses dengan implant dan injeksi , tak sedikit yang gagal!

Knots Landing actress Joan Van Ark's attempts to hold back the years with cosmetic procedures appears to have backfired[6]   kor3_1111850c


Kartini’s spirit Never Die

img2067aimg2068a img2074a

Alhamdulillah, tanggal 25 April kemarin aku berkesempatan mengisi acara Kartini di UNAIR. KArtini, kadang lebih diidentikan dengan perayaan berpakaian tradisional dengan sanggul dan kebaya. Padahal perjuangan Kartini lebih dari itu : pandangannya terhadap pendidikan, terhadap al Quran, terhadap orang2 yang berada di bawah derajatnya dan juga terhadap perempuan pada umumnya. Semoga kita bisa meneladani bukan hanya Kartini tapi juga seluruh contoh muslimah hebat yang kisahnya terukir dalam sejarah.

Ini materi yang kusampaikan :

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Kedudukan Perempuan dalam Islam

UNAIR 25 April 2009

  • Orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Taubah, 9: 71).

Pembahasan ‘aqidah,

  • sebagai basis awal seluruh ajaran keislaman, sulit ditemukan pernyataan teks apapun yang membedakan posisi laki-laki dari perempuan.Dalam wahyu pertama sama sekali tidak dinyatakan ‘hanya untuk laki-laki’ atau ‘tidak untuk perempuan’. Seluruh pernyataan Allah SWT diperuntukkan bagi seluruh hamba-Nya, tanpa membedakan laki-laki dan perempuan.

  • Tetapi dalam kaidah ushul fiqh maupun kaidah bahasa, redaksi laki-laki digunakan untuk mencakup kedua jenis kelamin (al-ashlu fi al-khithâb ya‘ummu adzakara wa al-untsâ), kecuali jika dinyatakan secara khusus untuk jenis kelamin tertentu (illâ in dallat al-qarinatu ‘alâ khushûsihi).

  • Perintah bertauhid, misalnya, sekalipun menggunakan redaksi laki-laki (khithâb al-dzukûr), tetapi mencakup kedua jenis kelamin (ya‘ummu al-dzukûr wa al-inâts). Sama juga dengan perintah untuk menjadi khalifah yang memakmurkan bumi dan menjadi saksi kemanusiaan (syuhadâ ‘alâ al-nâs), yang juga menggunakan redaksi laki-laki.

  • Untuk ajaran tauhid misalnya, yang secara vertikal berarti ketundukan kepada Tuhan yang hanya satu (ilâhun wâhid), dan secara horizontal berarti kesederajatan seluruh manusia dengan tanpa penghambaan di antara mereka dan tanpa diskriminasi.

  • Setiap ada perilaku diskriminasi dan yang merendahkan kemanusiaan, Nabi saw. selalu menyatakan kepada pelaku tersebut, “Kamu adalah orang yang masih terpengaruh budaya kebodohan” (Innaka rajulun fîka jahiliyyah). Begitu juga makna khalifah dan saksi kemanusiaan, sebagai turunan dari ajaran tauhid.

  • Mencari ilmu untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman, serta menyebarkannya adalah turunan dari ajaran ketauhidan, kekhalifahan, dan sebagai bentuk kesaksian untuk kemanusiaan. Laki-laki dan perempuan, keduanya dituntut meningkatkan pengetahuan dan mempertanggungjawabkan bagi kepentingan keumatan. Tugas ini dalam bahasa lain disebut sebagai amar ma‘ruf nahy munkar,

  • Tugas amar ma‘ruf dan nahy munkar, yang menjadi tanggung jawab bersama, laki-laki dan perempuan, menuntut kemampuan pengetahuan yang memadai dan pengalaman yang cukup. Pencapaian pengetahuan inilah yang kemudian menjadi pintu masuk ‘keulamaan’ laki-laki maupun perempuan. Seorang pakar hadis, al-Hafiz ibn al-Jawzi (w. 597 H) dalam kitabnya Ahkâm al-Nisâ’, menegaskan pentingnya pengajaran untuk perempuan. Sekalipun di dalam kitab ini, dia mengumpulkan berbagai teks-teks hadis yang sepertinya membelenggu perempuan, tetapi dia tetap mengatakan:
    “Bab ketiga: Kewajiban perempuan untuk menuntut ilmu. Perempuan, sama seperti laki-laki, diharuskan menuntut ilmu mengenai hal-hal yang menjadi kewajiban dirinya dalam kehidupan, agar ia bisa melaksanakan dengan penuh keyakinan..
    (Ibn al-Jawzi, Ahkâm al-Nisâ, 11).

  • Di akhir bab dari kitab ini, yaitu bab yang ke-110, Ibn al-Jawzi menuturkan 66 nama perempuan yang dinilai memiliki keagungan dan kemuliaan. Baik karena keilmuan yang dimiliki, pengajaran yang dilakukan, atau sikap agama dan ibadah yang dilaksanakan. Sejak masa Nabi Muhammad saw., para perempuan diberi kesempatan dan didorong untuk memperoleh pengetahuan yang menjadi kewajiban dan merupakan persoalan dirinya. Sayyidah ‘Aisyah ra., dalam suatu teks hadis, memuji perilaku beberapa perempuan Anshar Madinah yang memiliki semangat tinggi untuk datang ke rumah Nabi saw. untuk memperoleh ilmu pengetahuan. “Sebaik-baik perempuan adalah mereka yang dari Anshar, karena mereka tidak pernah malu untuk belajar memperdalam agama”. (Riwayat Bukhari, lihat: Ibn al-Atsir, Jâmi‘ al-Ushûl, juz 8, h. 196, no. hadis: 5352). Beberapa teks hadis yang lain, juga menceritakan mengenai tuntutan para perempuan yang meminta waktu khusus untuk belajar dari Nabi Muhammad saw. Di samping mereka juga biasa mendatangi masjid, ikut shalat lima waktu maupun Jum’at dan mendengar khutbah, baik Khutbah Jum‘at maupuan Khutbah Idul Fitri maupun Idul Adha.

  • Aktivitas ini yang membuat beberapa perempuan sahabat bergerak, sepeninggal Nabi saw., menjadi pengibar panji-panji keilmuan dalam peradaban Islam. Baik Ilmu Alquran, Hadis, Fiqh maupun sastra dan sejarah Bangsa Arab. Al-Hafiz al-Maqdisi (w. 600 H) mencatat dalam kitabnya al-Kamâl fî Asmâ ar-Rijâl, ada 824 nama perempuan di abad pertama, kedua dan ketiga hijriyah, yang memiliki kontribusi pengajaran ilmu-ilmu transmisi hadis (al-riwâyah).

  • Pada masa sahabat yang paling menonjol dalam pengajaran, di antaranya adalah

  • Aisyah bint Abi Bakr ra. yang memiliki 299 murid,

  • Ummu Salamah bint Abi Umayyah ra. dengan 101 murid,

  • Hafsah bint ‘Umar ra. dengan 20 murid, Asma’ bint Abi Bakr ra. dengan 21 murid,

  • Hajimah al-Wassabiyyah ra. dengan 22 murid,

  • Asma’ bint ‘Umais ra. dengan 13 murid,

  • Ramlah bint Abi Sufyan ra. dengan 21 murid dan

  • Fathimah bint Qays ra. dengan 11 murid.

  • (Lihat: al-Habasy, al-Mar’ah bain al-Syari‘ah wa al-Hayah, h. 16).

  • Ibn al-‘Arabi mencatat dalam kitabnya al-Futûhat al-Makkiyyah, ada lebih 40 orang sufi besar perempuan yang memiliki pengaruh terhadap literatur dan pengajaran tasawuf. Ulama perempuan pada abad pertama hijriah, yang terkenal di bidang fiqh adalah Zainab bint Abi Salamah al-Makhzumiyyah (w. 73 H), Hajmiyah bint Hayy al-Awshabiyyah al-Dimasyqiyyah yang biasa dipanggil Umm al-Darda’ (w. 81 H), ‘Umrah bint ‘Abd al-Rahman (w. 100 H). Ketiganya adalah ulama besar yang disaksikan para sahabat dan ulama-ulama mazhab. Sayyidah ‘Aisyah ra. orang yang langsung mendidik ‘Umrah bint ‘Abd al-Rahman, sehingga ia menjadi rujukan banyak ulama pada masanya. Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki, termasuk salah seorang yang banyak merujuk pada pandangan-pandangan ‘Umrah bint ‘Abd al-Rahman (lihat: al-Sa‘di: al-Faqîhat al-Mansiyyât, h. 12).

  •  

  • Ruth Roded dalam Kembang Peradaban, keterlibatan perempuan semakin ke depan (atau kemari) justru semakin sedikit. Abad-abad pertama justru lebih banyak keterlibatan perempuan dalam ilmu pengetahuan dan aktivitas keagamaan. Mungkin ini menjadi kritik keras terhadap realitas keterpurukan perempuan sepanjang sejarah Islam di abad pertengahan dan abad-abad akhir. Indonesiapun memiliki sejarah keulamaan yang signifikan, yang diakui dunia bahkan dikunjungi Rektor Universitas al-Azhar Mesir, yaitu Rahmah el-Yunusiah yang sempat diberi gelar al-Syaikhah atau Guru Besar (perempuan) dari universitas tersebut. Artinya, ia sesungguhnya setara dengan al-Syaikh Mahmud Syaltut pada saat itu.

  • Baca entri selengkapnya »

Career Planning for Muslimah

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

img2062a1

Alhamdulillah, tanggal 19 April 2009 aku diminta mengisi acara kemuslimahan ITS. Acara yang juga diisi oleh ustadzah Yoyoh Yusroh ini bertema bagaimana muslimah menapaki harinya pasca kampus.

Ini ringkasan materi yang kusampaikan di sana :

Kebutuhan manusia dewasa menurut penelitian Levinson (Isaacson, 1985) terdiri dari dua bagian utama :

1. Keluarga

2. Pekerjaan

Keluarga, adalah kebutuhan utama bagi setiap manusia. Lihatlah selebritis yang telah memiliki segalanya di dunia ini : harta, ketenaran, karir cemerlang, fisik sempurna. Toh, Nicole Kidman berusaha mempertahankan pernikahannya dengan Keith Urban. Angelina Jolie rela bersusah payah memboyong 6 anaknya. Diva controversial Madonna pun mengangkat anak demi melengkapi hidupnya. Britney Spears jatuh bangun usai dihempaskan oleh pasangan hidupnya.

Apalagi kita, muslimah. Memiliki suami dan anak-anak adalah impian indah yang diangankan perempuan.

Pekerjaan, bukan sekedar memenuhi kebutuhan hidup. Menurut Herr & Cramer(Isaacson 1985), pekerjaan punya tiga point penting. Bernilai ekonomis sebab pekerjaan menghasilkan nilai ekonomi berupa uang yang berfungsi untuk membeli barang & jasa. Pekerjaan bernilai sosial mampu meningkatkan status sosial seseorang, sebab mereka yang bekerja dianggap produktif. Lulus kuliah tidak bekerja? Apa kata dunia!

Pekerjaan punya nilai psikologis penting sebab bekerja meningkatkan harga diri & kompetensi. Seorang dewasa –terlebih kepala keluarga atau laki-laki- yang tidak memiliki pekerjaan cenderung depressi sebab merasa dirinya tak memiliki harga lagi.

Samakah pekerjaan dengan karir?

Baca entri selengkapnya »