Bolehkah siswa SD dan SMP membaca The Road to The Empire?

            Ketika beberapa waktu yang lalu JSIT SMPIT (Jaringan Sekolah Islam Terpadu- Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu) se Jawa Timur akan menggelar olimpiade dengan salah cabang lomba “ lomba resensi” , panitia dan para guru bertanya-tanya apakah buku yang pantas dihadirkan untuk dibaca oleh para siswa SMP?

            Saya sendiri bukan panitia, tentu saja.

            Lalu seorang panitia menghubungi , menanyakan kesediaan saya untuk menjadi salah seorang juri resensi novel TRTE- The Road to The Empire . Tentu saja senang dan gembira novel tersebut akan diapresiasi. Tetapi beberapa waktu kemudian muncul keraguan, beberapa guru protes dengan muatan TRTE : apakah novel tersebut pantas untuk anak SMP?

            Penasaran dengan ’protes’ para guru, saya memburu teman FLP yang betul-betul anak sastra UNAIR . Kebetulan ia juga menjabat sebagai ketua FLP Surabaya, namanya Aferu Fajar Nadhari. Dengan Veroe –sapaan akrabnya-, saya banyak berdiskusi.

            Di luar negeri, novel sejarah ternyata dibaca bukan hanya oleh orang dewasa dan para peminat sastra saja. Remaja pun banyak menyukai genre fiksi ini, bahkan, anak-anak SD pun terbiasa membaca novel sejarah.

            Masa sih?

            Saya cari di internet memang belum menemukan jawaban pasti. Tetapi tentang minat baca bangsa Indonesia terutama anak-anak & remaja memang sangat memprihatinkan.

Secara membanggakan , Indonesia  dianggap menjadi model untuk pemberantasan buta aksara di kawasan Asia Pasifik. Penilaian itu diberikan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Sejak 2007, buta aksara di Indonesia turun 1,7 juta orang, menjadi 10,1 juta. Sekitar 7 juta di antaranya perempuan. Sukses program pemberantasan buta aksara antara lain berkat dukungan 59 perguruan tinggi negeri dan swasta di berbagai daerah di Indonesia. Jendela dunia terbuka makin lebar bagi mereka yang melek aksara.

Namun, angka tadi tidak seiring dengan hasil survei UNESCO yang menunjukkan minat baca kita sangat rendah. Dua tahun lalu kita yang paling rendah di kawasan Asia. Sementara itu International Educational Achievement mencatat kemampuan membaca siswa Indonesia paling rendah di kawasan ASEAN. Kesimpulan itu diambil dari penelitian atas 39 negara. Indonesia menempati urutan ke-38. Dua hal itu antara lain menyebabkan United Nations Development Program (UNDP) menempatkan kita pada urutan rendah dalam hal pembangunan sumber daya manusia.

Kenyataan-kenyataan tadi membuktikan, melek aksara tidak menjamin peningkatan kemampuan maupun minat membaca. Kita perlu prihatin. Tanpa minat baca, dari mana kita bisa memperoleh ide-ide segar dan baru? Dilihat dari jumlah penduduk kita dan jumlah harian yang beredar tiap hari, persentase bacaan koran amat sangat kecil. Seputar 1%? UNESCO menetapkan, sebaiknya 10%.

Masyarakat di negara-negara maju,  kegiatan membaca sudah menjadi bagian dari hidup. Membaca juga memberi hiburan. Sistem dan fasilitas dibangun untuk mendukungnya. Begitu bertimbun bacaan-bacaan yang padat makna sejarah, makna ilmiah, atau padat nilai-nilai kemanusiaan, moral dan spiritual, maupun hiburan, sehingga masyarakat tinggal memilih sesuai selera. Membaca sudah menjadi bagian dari gaya hidup mereka.

            Kembali pada novel sejarah, bolehkan siswa SD membaca The Road to The Empire? Semua tergantung dari pihak orangtua. Memang ada bagian yang kurang pantas diketahui anak-anak seperti ketika Arghun menodai Almamuchi sekalipun, saya pribadi mencoba sehalus mungkin menggambarkan bagaimana peristiwa tersebut.

            Lalu kenapa harus terselip kasus penodaan?

            Jika kita membicarakan peristiwa perang yang kejam, maka disitu selalui disertai pelecehan terhadap anak-anak dan perempuan. Kasus Bosnia, Chechnya, Palestina, Vietnam dan masih banyak lagi gambaran peristiwa peperangan di dunia selalu diiringi pelecehan seksual. Bahkan di film Turtles Can Fly, peristiwa penodaan tersebut demikian tragisnya hingga si korban pada akhirnya memutuskan untuk commit suicide, meninggalkan bayi dan kakaknya yang cacat.

            Dalam TRTE tentu saya usahakan peristiwa itu muncul sehalus mungkin, bukan karena target pembacanya anak-anak & remaja, tetapi karena sebagai penulis saya merasa bertanggung jawab secara moril untuk tidak makin ’menjerumuskan’ tetapi ’mencerahkan’.

            Kalau dirasa anak SD belum mampu membaca TRTE, silakan saja dilewati. Tapi alangkah bagusnya jika para orangtua membaca dan kemudian menceritakannya dalam bentuk dongeng sebelum tidur. Menurut Kak Seto Mulyadi, saatnya kini para orang tua perlu memainkan peran untuk menumbuhkan kembali minat baca pada anak-anak.Caranya bisa dengan membacakan cerita dongeng kepada anak-anak baik pada saat menjelang tidur, atau pada waktu senggang. Menurut praktisi ’home schooling’ yang juga Ketua Umum Asah Pena (Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif Indonesia) ini, bercerita atau membacakan buku cerita untuk anak memiliki banyak manfaat.

Manfaat tersebut, di antaranya meningkatkan kemampuan konseptual, mendengar, berbahasa, berkomunikasi verbal dan memecahkan masalah.

Mengapa bacakan cerita sangat efektif ?

Otak manusia merupakan organ tubuh yang dipakai untuk belajar. Pondasi yang terbaik untuk belajar membaca adalah kata. Kata-kata merupakan materi yang penting dalam belajar membaca. Dua cara efisien untuk memasukkan kata-kata kedalam otak adalah melalui mata dan melalui telinga. Diperlukan waktu lebih lama oleh mata untuk bisa pergunakan membaca oleh anak, tetapi telinga dapat lebih cepat dipergunakan untuk membentuk pondasi belajar membaca.

Apa yang kita perdengarkan ditelinga anak berubah menjadi pondasi terbentuknya otak seorang anak. Deretan suara-suara yang mengandung arti yang masuk melalui telinga kecil seorang anak ternyata dapat membantu anak merangkai kata-kata yang dilihat kemudian hari ketika anak belajar membaca.

Alasan perlunya membacakan anak cerita sama dengan sama dengan alasan mengapa kita harus berkomunikasi dengan anak, yaitu to reassure, untuk mendekatkan diri dengan anak, untuk menghibur, untuk memberi informasi dan menerangkan, untuk meningkatkan keinginan tahu dan menginspirasi anak. Dengan membacakan cerita, anak juga memperoleh :
- Asosiasi membaca dengan hal-hal yang menyenangkan
- Pengetahuan
- Tambahan perbendaharaan kata
- Role model

Jika anak-anak kita yang masih SD tidak diperkenankan membaca langsung TRTE, saran dari kak Seto dapat digunakan. Menceritakan para pejuang Islam yang heroik, tak mudah patah semangat, berbudi luhur, berbakti pada orangtua dan mencintai sesama adalah nilai yang harus kita tanamkan kepada anak-anak sedari bayi hingga kelak mereka dewasa nanti. Menceritakan bagaimana pahit perihnya Takudar menjalani hidup yang semula bergelimang kemewahan lalu kemudian harus hidup dalam kesulitan, semoga tertanam dalam benak anak-anak kita bahwa demikianlah hidup. Suatu masa gemerlap, suatu masa gelap. Anak-anak harus dikokohkan bahwa bagaimanapun besar badai menghadang, mereka harus tetap berada di jalan kebenaran.

Bagaimana dengan anak-anak SMP?

            JSIT SMPIT telah membuktikan bahwa anak-anak SMP ternyata bisa mengabsorpsi cerita sejarah dengan baik. Bukan hanya diminta meresensi, dalam babak final pun mereka diminta untuk tampil ke depan membawakan makalahnya disertai tanya jawab. Dengan tangkas mereka menjawab pertanyaan undian dari para juri yang menanyakan :

  • Siapakan Arghun?
  • Bagaimanakah sumpah Anda?
  • Dimanakah pertempuran antara Takudar dan Buzun?
  • Siapakah para sahabat Takudar, dsb.

Sempat timbul rasa was-was dari para juri –termasuk saya- jangan-jangan yang membaca gurunya, yang membuatkan makalahnya juga gurunya!

Setelah maju dan tampil ke depan, pertanyaan undian yang dipilih secara acak, tampaklah bahwa para siswa itu membaca betul-betul TRTE dari awal sampai usai. Ketika ditanya berapa lama mereka membacanya? Rata-rata menjawab : 5 hari!

Alhamdulillah. Semoga kegemaran dan semangat para siswa SMPIT di Jawa Timur yang mau melalap novel bergenre sejarah menandakan bahwa remaja kita sudah menyukai dunia literasi.

Lomba Resensi The Road to The Empire diundur 20 Juli 2009!Bersiap menanti Takudar yang berikut…

Lomba resensi yang seharusnya ditutup 30 Juni 2009 diperpanjang hingga 20 Juli 2009 . Diharapkan mereka yang mungkin ingin ikut tapi masih takut-takut, ingin ikut tapi belum dapat bukunya dapat punya waktu menarik nafas untuk kemudian bersiap mengikuti lomba. 

Banyak yang bertanya, nantinya Takudar itu akan menikahi siapa sih? Almamuchi, Karadiza, Tien Nien? Atau jangan-jangan malah menikahi Qaratai & Juz Jani?

Salah satu keuntungan penulis, dia bebas menentukan karakter dan jalan cerita tokohnya :-) . Tetapi tentunya penulis tidak asal begitu saja menentukan nasib cerita pelaku. Saya pribadi nggak suka dengan gaya cerita Cinderella, sang pangeran tampan bertemu puteri cantik lalu hidup happily ever after. Memang sih di tengah masyarakata senang melihat pemuda tampan berjodoh dengan gadis cantik, tapi begitukah hidup selamanya?

Bukankah ada Manohara yang cantik tapi berakhir duka?

Bukankah ada pesta meriah milyaran rupiah bak raja ratu tetapi kandas dalam keperihan?

Kadangkala seorang pangeran bahagia dalam pelukan perempuan sederhana ataupun perempuan cantik justru bahagia didampingi lelaki bersahaja yang sederhana, tak punya apa-apa. Sebab cinta tidak berbanding lurus dengan harta, tahta, fisik semata. Cinta juga tidak berbanding terbalik dengan kekayaan dan kekuasaan. Demikian kata pujangga tentang cinta :

“Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan” (Kahlil Gibran)

Jangan katakan bahwa cintaku
Sebentuk cincin atau gelang
Cintaku ialah pengepungan benteng lawan
Ialah orang-orang nekat dan pemberani
Sambil menyelidik mencari-cari, mereka menuju mati.

Jangan katakan bahwa cintaku
Ialah bulan,
Cintaku bunga api bersemburan. (‘Ali Ahmad Sa’id-Anonis)

“Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk dan rupa; ia merupakan padang rumput bagi menjangan, biara bagi para rahib, kuil anjungan berhala, ka‘bah tempat orang bertawaf, batu tulis untuk Taurat, dan mushaf bagi al-Qur’an. Agamaku adalah agama cinta, yang senantiasa kuikuti kemana pun langkahnya; itulah agama dan keimananku”  (Ibn Arabi)

Tapi kisah tentang takudar bukan hanya berisi kisah romantisme cinta.

Takudar juga perjuangan, keperihan pengorbanan, fitnah, kesendirian dan kesepian, beratnya duduk di atas puncak kedudukan manusia. Tetapi aku juga ingin menuliskan tetnang makna persaudaraan yang tidak hanya diikat oleh darah dan sumpah “Anda”, persudaraan yang diikat oleh cita-cita mulia dan kesamaan sudut pandang. Aku ingin mengungkapkan bahwa di belantara manusia yang kadang lebih jahat dan kejam dari iblis sendiri, masih ditemukan manusia berhati luhur yang siap berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan.

2 HALAMAN yang LUARBIASA !!

Banyak orang berpendapat bahwa resensi suatu buku sudah ‘dipesan’ oleh pihak-pihak tertentu agar sebuah buku nilai jualnya terdongkrak naik.

 

Benarkah demikian?

 

Tampaknya bangsa kita memang masih membutuhkan banyak stimulus untuk belajar bersikap kritis. Salah satunya lomba resensi. Kalau kita mencermati perkembangan literasi di dunia barat, orang berlomba-lomba mereview sebuah buku pasca terbitnya.

 

Resensi buku bukan hanya untuk mendongkrak penjualan.

Dalam teori sastra, resensi buku berfungsi sebagai partner untuk memahami sebuah karya. Kita pasti pernah membaca karya-karya Gothic atau karya yang cenderung menonjolkan sadisme dan sisi suram manusia (penindasan, perkosaan, kebohongan, dsb). Bayangkan jika karya tersebut terus muncul tanpa ada yang meresensinya. Resensi menjadi partner untuk mendampingi pembaca bagaimana memahami sebuah karya sastra. Resensi akan memberikan pendampingan kepada khalayak “….oh, buku ini bagus sekali sebagai karya sastra tapi nilai-nilainya tak sesuai budaya kita.”

Atau”…karya yang luarbiasa! Tapi sudahkah penulis mempertimbangkan efeknya bagi pembaca, terutama anak-anak?”

 

Resensi buku di Indonesia masih menjadi hal yang tak lazim, padahal banyak produk yang masih harus dikritisi. Novel, buku, antologi, guidance sampai komik. Ada yang sudah pernah meresensi komik-komik Jepang yang banyak dibaca anak-anak kita? Banyak isinya tak sesuai budaya bangsa (pakaian, ciuman mesra, adegan erotis lainnya).

 

Demikian pula novel The Road to The Empire.

Lebih mudah bagi penerbit untuk memasang iklan besar, full colour di majalah/ Koran, lalu menunggu hasil penjualan. Tetapi dalam beberapa hal, baik penerbit maupun penulis punya komitmen untuk tak hanya menjual buku tapi juga meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat khususnya generasi muda dan pelajar –mahasiswa.

 

Bagi yang sudah membaca The Road to The Empire pasti punya segudang tanya yang membekas : sejauh mana sejarah Islam punya kontribusi bagi peradaban dunia?

Jika tak ada orang yang meresensi atau mengkritik darya tersebut, maka penulis ( saya) akan tenang-tenang saja menulis sesuai keinginan tanpa orientasi. Tetapi resensi yang sudah masuk, kritik yang sudah tertuang, membuat penulis kembali dan terus berusaha memperbaiki diri misalnya ;

-         mengapa dalam novel tidak dicantumkan peta seperti dalam karya Lord of the Rings?

-         mengapa tidak dibuat karya tentang Jenghiz Khan terlebih dahulu sebelum sampai kepada Takudar?

-         mengapa penulis terkesan sangat mencintai budaya asing dibanding budaya bangsa sendiri?

-         dsb

 

Kritik dan resensi akan membuat penulis jauh lebih mawas diri. Demikianlah seharusnya dunia literasi di Indonesia : pembaca tercerdaskan, penulis meningkatkan kapasitas, resensi memperbaiki buku yang telah terbit dan akan terbit, penerbit makin selektif dalam artian bukan makin sulit menumbuhkan karya tapi penerbit juga akan mendampingi penulis dengan editor handal, ilustrator makin kreatif, pemerintah pun akan turut berperan meningkatkan daya baca masyarakat.

 

Tidakkah anda lihat, resensi yang hanya 2 halaman punya dampak yang luarbiasa?

Novel The Road to The Empire : karya Terjemahan?

Aku bertemu beberapa orang yang berpendapat, the Road to The Empire bukanlah karya asli orang Indonesia. Mereka terkaget-kaget ketika tahu bahwa penulisnya malah anak FLP (……tahu sendiri kan, FLP sering tidak dianggap menghasilkan karya sastra :-) ).

Lebih kaget lagi ketika kisah perang seperti itu ditulis oleh perempuan, berjilbab pula?…he…he… Waktu aku mengisi di Kampus UNTAG, mahasiswi di sana tidak percaya yang menulis The Road to The Empire itu aku….aduh, bagaimana membuktikannya?:-)

Kiai Faizi dai AnNuqoyah , Guluk-guluk, Sumenep yang membedah bukuku di Pamekasan beberapa waktu lalupun sempat tidak percaya aku yang menulis ceritanya. Sinta Yudisia dipikir bukan orang muslim juga, mirip-mirip nama agama Hindu (Waktu ibuku hamil memang sangat gandrung dengan Dewi Sintanya Ramayana. Bahkan katanya kalau tidak kesampaian akan diberi nama Sintosina-nama sejenis obat di masa itu karena ibuku seorang apoteker). Nama Sinta Yudisia memang terdengar kurang muslimah ya?

Untungnya setelah bertemu denganku Kiai Faizi yakin bahwa memang akulah yang menulisnya sebab aku bisa menyampaikan , kenapa aku terobsesi betul untuk menuliskan sejarah Mongolia beserta para bangsawannya yang pernah memeluk agama Islam. Moga-moga setelah ini , Insyaallah aku mau menulis Takudar yang berikutnya, orang-orang tidak meragukan lagi bahwa itu asli tulisanku. Sinta Yudisia. Orang asli Indonesia, muslimah berjilbab, anak FLP juga. Aku cinta sekali pada negeriku sehingga ingin menghasilkan sesuatu yang membanggakan bagi bangsa dan negaraku, juga agamaku :-)

Jangan lupa ikuti Lomba Resensi Novel TRTE!

LOMBA RESENSI NOVEL THE ROAD TO THE EMPIRE

Cover

Sudahkah Anda membaca novel The Road to the Empire?

Ayo, jangan hanya jadi sekedar pembaca pasif!

Kesempatan teman-teman semua untuk berkarya, menulis gagasan dan ide dalam bentuk nonfiksi. Ayo, ketik idemu dan ikuti: Lomba Resensi Novel The Road to The Empire Peraih IKAPI-IBF Award 2009, kategori Fiksi Dewasa Terbaik Persyaratan dan ketentuan lomba sebagai berikut

A. Syarat umum:

1 Lomba terbuka untuk warga Negara Indonesia, di manapun berada, berapa pun usia Anda.

2. Resensi berupa karya asli, bukan terjemahan atau saduran.

3. Resensi yang dapat diikutsertakan adalah yang pernah dimuat, baik media cetak (koran, majalah), maupun media on-line dan blog. Yang telah dipublikasi rentang bulan Januari sampai Juni 2009.

B. Syarat khusus:

 1. Kirim bukti pemuatan resensi (berupa fotokopi atau scan dari media yang telah memuat)

2. Sertakan biodata peresensi plus fotokopi tanda pengenal peresensi (KTP/Kartu Pelajar) ke: PANITIA LOMBA RESENSI NOVEL THE ROAD TO THE EMPIRE Promosi Lingkar Pena Publishing House Jl. Raya Jagakarsa (Simadakarsa) No A-1 Jagakarsa, Jakarta Selatan 12620 Cantumkan “LOMBA RESENSI NOVEL THE ROAD TO THE EMPIRE” di pojok kiri atas amplop.

Ingat! Bukti resensi ditunggu selambat-lambatnya tanggal 30 Juni 2009 (cap pos)

Penghargaan bagi peresensi terbaik:

Penghargaan 1: Rp 1.000.000,- + paket buku senilai Rp150.000,-

Penghargaan 2: Rp 500.000,- + paket buku senilai Rp150.000,-

Penghargaan 3: Rp 300.000,- + paket buku senilai Rp150.000,-

3 pemenang hiburan mendapatkan paket buku @ Rp150.000,-

 Pemenang akan diumumkan pada bulan Juli 2009 di website Lingkar Pena Publishing House (www.lingkarpena.multiply.com) Untuk keterangan lebih lanjut hubungi kami di 021- 78882079

Happy review! Promosi Lingkar Pena Publishing House