Apa yang kita dapatkan dengan menulis?

 

            Tulisan ini saya peruntukkan bagi mereka yang pikir-pikir mau menulis, ragu-ragu mau menulis, mencoba menulis, patah arang dalam menulis atau yang sudah memantapkan diri di dunia tulis menulis, especially women, makhluk unik yang diciptakan Allah SWT untuk mengemban tugas penting sebagai pencipta peradaban dunia.

            Banyak adik-adik yang bertanya via sms, imel, fb dan blog yang bertanya : kak/bunda/mbak/bu…bagaimana sih menulis yang baik? Pertanyaan singkat yang membutuhkan jawaban yang amat-sangat-panjang.

            Sebelum saya berbagi ilmu saya yang sedikit tentang tulis menulis, ada baiknya kita semua memahami apa sih sebetulnya yang kita dapatkan dari dunia kepenulisan ini.

            Baiklah, apapun profesi anda saat ini (pengangguran, ibu RT, mahasiswa, pelajar, dokter, polisi, pembantu, buruh, dsb), apapun niatan anda saat pertama kali menulis , mungkin berikut ini akan memberi sedikit gambaran.

            Apa yang akan kita dapatkan dari menulis baik di media cetak, penerbit, blog dst adalah :

 

  1. Penghasilan / royalti *****

 

Waduh, bunda kita yang satu ini matre banget J !!

Tunggu dulu, bukankah ini yang pertama kali bermain-main di benak saat melatih jemari kita menari di atas kertas? Royalti, penghasilan, uang. Halal pula. Hm, senangnya…..

Rekan-rekanku sayang , menulis memang punya efek ekonomis apalagi yang sudah secara rutin menulis sehingga mendapatkan royalti per 3 bulan, 4, 6 bulan.

Tetapi tahukah anda berapa nilai uang anda sebenarnya?

Nilai uang anda sesungguhnya kecil sekali dibandingkan dengan…..

Deg-degan lagi ! Dibandingkan dengan apa? Laptop, hape, sepeda motor, rumah, buku-buku, uang sekolah, tabungan, biaya pendidikan, haji, dll?

 

Ow, kalau hanya itu daftar kebutuhan kita, mungkin dengan menulis selama 3-4 tahun daftar itu sudah dapat dipenuhi. Silakan saja kalkulasi sendiri jika 1 artikel/1 cerpen dihargai 200 ribu dan 1 buku flat putus dihargai sekian juta. Kalau setahun produktif menulis berapa uang di kantong? Lumayan J

 

Tetapi sekali lagi rekan-rekanku & adik-adikku sayang,

ibuku yang bijak pernah memberi nasehat ” Sinta, tugasmu mungkin mencari uang sebanyak-banyaknya tapi tidak untuk menghabiskan sebanyak-banyaknya.”

Artinya, kadang uang itu begitu mudah diraih oleh sepasang tangan kita tetapi ternyata daftar antrian yang menunggu di belakang sudah sangat banyaknya.

 

Pernahkah anda ketika 1 cerpen dimuat seharga 200 ribu lalu tiba-tiba saudara mendapat musibah, berita duka di sana-sini, ibu sakit, adik minta bantuan uang sekolah dan seterusnya? Begitulah harta ujian. Yang duaratus ribu itu belum tentu kita pakai untuk keperluan konsumtif atau untuk saving, tetapi sudah menunggu tangan-tangan tengadah membutuhkan bantuan.

Suatu saat nanti ketika royalti kita mencapai jutaan, jangan hanya berpikir menumpuk harta yang kita idam-idamkan sekian lama selama bertahun-tahun. Seringkali ketika uang ada di tangan, datanglah permintaan-permintaan yang tak dapat ditolak oleh nurani kita sebagai manusia. Memangnya anda dapat menolak permintaan pembantu anda yang anaknya membutuhkan obat karena sakit atau ingin sekolah? Atau tukang rujak langganan menangis tak punya modal sementara jumlahnya dapat ditanggulangi oleh jumlah royalti yang ada di tangan sebagai rahmat rizqi dari Allah SWT?

 

            Jadi bersiaplah, para penulis berbakat, bahwa royalti anda nanti  tak seperti harta karun yang tiba-tiba didapat dari mengirimkan sms. Karena apa? Ketika kita menulis , memulai dengan niat baik; ternyata ujian keikhlasan itu ada sejak awal, pertengahan hingga akhir sebuah amal. Capek, lelah, letih anda menyelesaikan sebuah novel lalu sekian jumlah uang yang rencananya di saving untuk keperluan masa depan ternyata orang-orang terdekat membutuhkan bantuan segera.

            Catat baik-baik dalam ingatan : yang melapangkan rizqi  termasuk mudahnya tulisan kita menembus media manapun seringkali tergantung seberapa besar niat baik kita. Tetapi begitu tulisan kita laku maka royalti itu ternyata tak sepenuhnya menjadi hak milik kita bahkan suatu masa hanya tercetak di slip tabungan untuk selanjutkan didistribusikan kepada kantong-kantong kaum muslimin.

            Kecewa? Rugi? Tentu tidak karena Allah Maha Kaya dan akan diganti dengan yang jauh lebih baik dari itu. Dan rezeki yang halal, sedikitpun akan terasa

 

 

 

  1. Ketangguhan & Kekuatan *****

 

Yang akan anda dapatkan dari dunia kepenulisan adalah ketangguhan dan kekuatan. Disini kita akan belajar bagaimana sedikit demi sedikit menempa diri, mental, jiwa membaja selapis demi selapis. Satu tulisan kita tak laku, ditolak, dikritisi habis-habisan. Begitu pula tulisan yang ke 2, 31, 104. Anda mungkin putus asa di tahap-tahap awal tetapi jika anda punya komunitas (seperti FLP misalnya) kesulitan itu akan punya nilai tersendiri. Digigit semut, tertusuk duri, terinjak paku lama-lama tak ada bandingnya jika disetarakan dengan pukulan godam. Lama-lama anda akan terbiasa dikritik dan diejek, tetap bangkit dan melaju bangun, memperbaiki diri.

Satu demi satu teman-teman berhasil menulis, anda akan iri. Iri yang baik kan? Lalu kita semakin memperbaiki diri, belajar dari sana-sini, memburu informasi, bertanya tak kenal lelah hingga suatu saat tulisan kita terbit dan dibaca sekian ribu kepala.

Bukan main bahagia dan bangga, sebab satu ide pikiran kita dapat ditransfer ke sekian banyak orang, dibaca, diresapi, dimaknai. Mungkin saja tulisan itu akan mengendap dan menjadi sejarah berharga bagi orang-orang kemudian.

Baja.

Hati sekeras itu yang membuat kita tangguh menghadapi sekian macam kesulitan.

Menulis, adalah satu profesi yang melatih kita untuk punya sikap mental yang tangguh, tak cepat melempem.

 

  1. Ilmu Pengetahuan *****

 

Menulis, menulis, menulis. Anda akan belajar banyak tentang dunia tulis menulis hingga menjadi bisa dan mahir. Sesudah tulisan demi tulisan terbit, anda akan seamkin dahaga dan haus untuk menimba banyak pengetahuan. Maka anda akan melengkapi diri dengan banyak membaca dan terus membaca. Melahap setiap suku, frase, kata, kalimat, bait, bab, hingga sekian banyak buku dikunyah-kunyah tanpa sisa.

            Saya pribadi, dahulu adalah seorang ibu rumah tangga yang baik J

            Bangun sebelum Shubuh, mencuci, memasak, membersihkan rumah dan begitulah seterusnya. Lalu dunia tulis menulis membuat saya jatuh cinta, begitupun dunia pengetahuan yang terkuak dengan terus membaca dan membaca.

            Lalu apalagi?

            Kliping, buku, internet, makalah, handout, semua diburu untuk melengkapi pengetahua. Tibalah pada satu titik : saya tak bisa terus menulis jika tetap sekerdil ini! Apa lagi saya mulai mencintai satu genre tulisan : sastra sejarah & sastra budaya.

            Aduh, bagaimana ini? terlebih saya kan hanya seorang perempuan….

            Kesempatan itu datang ketika seseorang menawarkan beasiswa ke fakultas negeri paling bergengsi di negeri ini, saya ditawari karena pernah, Alhamdulillah, menjuarai beberapa lomba tingkat nasional.

            Tapi bagaimana? Saya kan ikut suami dan baru pindah ke Surabaya. Sayangnya….padahal suami baru saja menolak pindah tugas ke Jakarta karena memang kami baru hijrah ke Surabaya.

            Saya sedih. Beasiswa itu tak jadi saya dapatkan akrena saya seorang ibu istri, perempuan yang terikat ’kontrak kerja surga’ dengan suami. tetapi cita-cita itu terus memburu. Alhamdulillah, Alalh SWT senantiasa membantu hambaNya. Saya memberanikan diri mengajukan beasiswa ke UNTAG dengan membawa beberapa sertifikat dan saya pun kuliah lagi di Psikologi.

            Menulis, membaca, memburu ilmu pengetahuan.

            Tak habisnya saya syukuri kesempatan ini datang di usia saya yang ke 35.

            Setiap pagi, dengan target untuk mencuci, memasak, mengisi buku laporan anak-anak, mengecek perlengkapan mereka , saya juga harus menyiapkan diri mengikuti Psi, Faal, Psi Klinis, Psi. Sosial dst yang harus diikuti dengan hati dan pikiran serius. Ketika sepeda motor saya melaju membelah udara pagi yang sejuk, daun-daun berembun, udara berkabut, burung bercicit; saya melaju bersama mereka yang berseragam putih merah, putih biru dan putih abu-abu. Kami sama-sama memburu ilmu pengetahun, makanan paling nikmat yang dikunyah akal sesudah Quran dan Sunnah nabiNya.

            Beapa indahnya dunia menulis, membayar saya dengan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekedar tumpukan uang dan royalti ; saya punya kesempatan melengkapi diri saya sebagai ibu, istri, perempuan, muslimah & daiyah

 

 

 

 

  1. Pengalaman berharga *****

 

Sesuatu yang tak dapat dibelia dalah pengalaman. Pengalaman memperkaya batin kita, tak dapat dibeli di bangku sekolah atau toko manapun. Pengalaman bertemu orang, pengalaman menjumpai peristiwa, pengalaman memaknai sesuatu.

            Dengan menulis saya bertemu adik2 FLP yang ada di Sumenep, Pamekasan, Bondowoso, Malang, Ciputat, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi…..ribuan orang yang terkontak lewat dunia maya. Mereka memberi saya pengetahuan yang demikian berharga.

            Bukan itu saja, menulis membuat saya harus mendalami karakter.

            Itulah yang menghantarkan saya bertemu buruh di rumah susun, anak-anak Dolly, para pelacur. Saya juga berkesempatan bedah buku di isntansi-instansi besar. Saya belajar memaknai dua dunia berbeda : ada komunitas intelektual di Indosat, Telkom, Kantor Pajak, lembaga2 lain. Ada komunitas kelam di sepanjang Dukuh Kupang, Dolly, Putat.

Saya belajar banyak tentang manusia. Saya belajar banyak tentang diri saya sendiri.

 

  1. Menimbun kekayaan hingga ajal nanti

Inilah kekayaan berharga yang dapat ditimbun, dihitung, dibagikan kepada siapa dan tak akan berkurang jumlahnya.Dengan menulis kita menumpuk kekayaan yang tak hanya berupa uang tapi juga handai tolan, teman, rekan, pengalaman, pembelajaran, ilmu dan masih banyak lagi.

 

 

  1. Banyak dan banyak lagi………

 

 

 

Nah, dengan imbalan sebanyak ini apakah anda masih ragu untuk memeras keringat dengan menulis?

FLP Jatim & 7 November : Pahlawan Baru Kami

 

            10 November Indonesia tentu masih mengingat kisah hari Pahlawan yang terkait dengan satu persitiwa sejarah di Surabaya. Esok, tepatnya 7 November, sebelum hiruk pikuk perayaan hari Pahlawan, di rumah ku yang sederhana tetapi nyaman karena berada tepat di depan masjid Rungkut Jaya rekan-rekan FLP Cabang akan berkumpul kembali.

            Apa sih yang akan kami lakukan?

  1. Silaturrahim : mengingat sejak MUNAS II kami belum pernah lagi bertatap muka maka kerinduan ini harus tertuntaskan ;-) Kenapa mengambil moment 7 November? Selain masih tanggal muda, bulan ini relatif agak jauh jaraknya dari lebaran yang pastinya menyita waktu, tenaga….and money of course. Kita semua tahu, para pejuang FLP tak pernah mendapatkan kucuran dana yang cukup untuk membantu mereka senantiasa terus menjalankan roda pemerintahan FLP. Setidaknya, hari-hari ini cukup realistis bagi kami semua untuk berkumpul, paling tidak masih tersedia dana di kantong sekalipun…Allah Maha Mencukupi.
  2. Konsolidasi :  dalam mencapai target-target yang tinggi, mulia, bermanfaat untuk ummat mungkinkah semua dilaksanakan oleh satu kepala, satu tubuh, satu semangat saja? Kita membutuhkan winning value, winning concept, winning system, winning team, winning goal. Tanpa perencanaan-perencanaan matang, SDM, dan semua resource yang didayagunakan semaksimal mungkin; mustahil FLP yang kita harapkan menjadi salah satu kontributor peradaban Islami ini dapat meraih capaian-capaian gemilang. Harapan kami FLP dapat menjadi winning team yang semakin menghasilkan karya & penulis (pejuang da’wah) cemerlang.
  3. Musyawarah : syuro adalah hal yang sangat utama dalam agama ini. Banyak langkah dan keputusan perlu diambil dengan melihat kapasitas masing-masing daerah.
  4. Sharing : Malang, Jombang, Surabaya, Blitar, Jember, Pamekasan, Sumenep adalah cabang yang cukup handal dalam menjaring peminat dan menjalankan program-program FLP. Cabang2 lain yang tak kalah semangatnya perlu mendapat tambahan ilmu dan pengalaman dari rekan-rekan mereka yang sudah lebih dahulu maju.
  5. Little Gift : kami, FLP Wilayah belum dapat memberikan reward yang layak. Memang, FLP lahir dari rahim da’wah dan selamanya akan dibesarkan oleh da’wah. Da’wah juga yang membuat kita tetap berjaya hingga sekarang. Tak pantas kita mencari kepentingan pribadi dari FLP, seharusnya kita yang memberikan harta terbaik kita bagi da’wah termasuk da’wah FLP. Tetapi bagaimanapun, manusia memiliki jiwa yang unik. Sedikit saja mereka mendapatkan penghargaan dan perlakuan istimewa, sedikit saja kita menghargai jerih payah mereka, maka hati-hati mereka yang telah letih berdarah-darah besama jalan da’wah ini akan kembali bertunas, tumbuh, berseri dan siap memikul jalan da’wah kembali. Rasanya, saya pribadi ingin memberikan reward yang pantas bagi para pejuang FLP. Kita pasti bisa membayangkan berapa cost Blitar-Surabaya PP dan daerah2 lain. Semua ditanggung sendiri, wilayah hanya menyediakan tempat sederhana (rumah saya J ) dan makanan ala kadarnya. Selebihnya mereka menanggung pembiayaan sendiri. Saya ingin memberikan gift kecil , mungkin buku, modul, pin, dll sebagai tanda cinta bagi mereka ; adik-adikku yang tak pernah lelah membantu berjuang bersama FLP
  6. Menguatkan semangat : tak dapat dipungkiri, banyaknya permasalahan pastilah mengikis ketangguhan kepribadian kita. Pertemuan ini insyaAllah selain menguatkan niat, semangat, harapan juga merapikan langkah-langkah ke depan. Bertemu dan melihat wajah orang-orang sholih –adik-adikku ini – rasanya sudah cukup mengobati semua dukalara. Apalagi mendengar sepakterjang kisah mereka yang juga memeras keringat membanting tenaga (kadang membanting harga diri!) di daerah masing-masing. Mereka exist. Mereka ada. Mereka bertahan. Mereka terus bergerak. Mereka akan berhenti nanti jika waktu yang menghentikan.

 

 

Mohon doa dari semua agar acara esok, 7 November 2009, berjalan lancar.

Dalam sujud malam nanti dan esok Dhuha, dalam kesempatan wirid dan dzikir malam ini, selipkan nama-nama kami FLP Wilayah Jawa Timur di doa anda, para pembaca. Semoga , FLP  ini adalah salah satu amal yang dapat kita banggakan di yaumil akhir kelak.

Dari Bedah Buku REINKARNASI UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat-Jakarta : antara supranatural & sastra

IMG_0314  IMG2623A  IMG2608A

9420_1250208617950_1311535629_732496_4202238_s[1]   IMG2629A

 

 

Alhamdulillah…Acara FLP Ciputat yang berlangsung di UIN Syarif Hidayatullah, tanggal 10 Oktober 2009 berlangsung dengan meriah. Dihadiri sekitar 100 orang peserta, silih berganti berkejaran ingin bertanya.

Rasanya, sebuah anugerah tak terhingga dari Allah SWT sehingga novelku dibedah oleh dua orang pakar yang masing-masing ahli di bidangnya. Mas Jamal D. Rahman, sastrawan penyair, pemimpin redaksi majalah sastra Horison, dan kini mahasiswa S3 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Alumnus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura dan kemudian IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Menyelesaikan S2 pada FIB-UI. Dia menulis puisi, esai, kritik sastra, masalah kesenian dan kebudayaan di berbagai media massa. Pria kelahiran Sumenep, Madura ini kerap diundang mengikuti acara-acara sastra di dalam dan luar negeri, antara lain Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara Bidang Esai di Cisarua, Bogor (1999), Seminar Kritikan Sastera Melayu Serantau, Kuala Lumpur (2001), dan Pertemuan Penulis Asia Tenggara (South-East Asian Writers’ Meet) di Kuala Lumpur (2001), festival Poetry on the Road di Bremen, Jerman (2004).

Apa Keunggulan Reinkarnasi?

Bagi Jamal D. Rahman; ada 3 novel yang mengupas tentang budaya Jawa :

1. Para Priyayi –Umar Khayam

2. Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari

3. Karya Pramoedya A.Toer

Reinkarnasi menurut mas Jamal mengupas budaya Jawa dari sudut pandang yang lain! Penyebaran Islam di Nusantara memiliki kisah yang panjang dengan beragam hikmah. Di luar Jawa, setidaknya proses ‘Islamisasi’ itu tuntas-sempurna (kalau tidak bisa dikatakan telah selesai 80-90%, kuranglebih). Sementara Jawa hinggá kini masih belum tuntas, budaya Jawa yang berasimilasi dengan Islam masih demikian menunjukkan jati diri aslinya. Puasa mutih, sekaten, tikarat, dan masih banyak lagi adalah gambaran budaza Jawa yang telah berasimilasi dengan Islam tetapi masih menunjukkan betul aura aslinya.

Reinkarnasi, mengupas keindahan budaya & filosofi Jawa, mau tidak mau harus berinteraksi dengan pusaka, sejarah, mitologi yang notabene berinteraksi dengan dunia mistik dan alam ghaib. Di sisi lain Reinkarnasi pun ingin mengakhiri dimensi mistik dalam budaya Jawa.

Reinkarnasi : hanya untuk orang Jawa?

Tidak. Mas Jamal berpendapat, salah satu sisi negatif otonomi daerah adalah masig-masing daerah kemudian ’mengabaikan’ ciri khas budaya lain dan lebih cenderung mempelajari budaya sendiri. Hal ini berbahaya bagi negara kesatuan RI. Masuk akal juga, mengingat mempelajari budaya sendiri sudah sangat susah (karena sudah cukup lama ditinggalkan, dianggap tidak dinamis dan sesuai dengan kultur zaman ini), apalagi mempelajari budaya daerah lain! Membaca Reinkarnasi dapat menjembatani orang di wilayah manapun untuk memahami budaya Jawa dari kacamata sastra.

Ingat bukan, apa kegunaan sastra dalam kehidupan manusia? Sastra memperhalus sebuah makna/hakekat/peristiwa agar intisarinya dapat sampai dengan mudah kepada pembaca. Mempelajari budaya masa lampau mungkin terasa berat dan sudah tidak sesuai zaman alias jadul, hanya cocok untuk mbah-mbah. Prasasti, keraton, serat Kalatidha, Ranggawarsito…duh, susahnya mempelajari mereka. Dengan sastra –Reinkarnasi, misalnya- pesan sampai lebih mudah kepada anak-anak, remaja, dewasa, ibu, bapak, buruh, karyawan, mahasiswa, rakyat jelata, bansgawan….siapapun agar setiap manusia Indonesia kembali pada jatidiri bangsannya yang agung. Para pendahulu kita adalah orang-orang ksatria, pemberani, welas asih. Orangtua yang penyayang, anak-anak yang penuh hormat, para sesepuh yang bijaksana, pejabat yang mengayomi, pekerja yang mengabdi, guru yang mumpuni & ikhlas, murid yang ta’dzim. Pedagang yang jujur, pembeli yang santun, prajurit yang mulyo. Kemana perginya semua kearifan lokal ini? Ketika Islam demikian mudah berinteraksi dan berasimilasi dengan budaya kita dimasa lampau, semua cair dan lebur; mudah teraduk & menyublim karena sama rasa. Sama bentuk. Sama sejati. Sama mulia, unggul, keutamaannya.

 Orang-orang non Jawa baik Sumatera, Kalimantan Sulawesi, Bali, NTB semoga dapat memahami citaras keindahan , keunikan keluhuran budaya Jawa yang semakin memperkaya khazanah pengetahuan; semoga membangkitkan kecintaan pada negeri ini. Yakinlah; budaya Sumatra, Bali, Kalimantan, Lombok, Sulawesi dsb menyimpan ciri khas dan keunikan yang luarbiasa indah untuk dapat dipelajari.

Prof. Dr. Abdul Mujib M.Ag said….

Guru Besar Psikologi Islam ini adalah Dosen Mata Kuliah Psikologi Islam; Psikologi Kepribadian Islam; Psikologi Dakwah dan Psikoterapi Islam. Staf Pengajar pada Fakultas Psikologi UIN Jakarta, Fak. Psikologi-Pendidikan Univ. Al Azhar Indonesia; Psikologi Univ. Paramadina; dan Pascasarjana Kajian Islam dan Psikologi PSTTI Univ. Indonesia. Pendidikan S1 Tarbiyah IAIN Malang; S2 Pendidikan Islam IAIN Padang; S3 Kajian Islam UIN Jakarta. Penulis beberapa buku dan jurnal ilmiah tentang Psikologi Islam. Kini menjadi Dewan Pakar Asosiasi Psikologi Islami (API) dan Dewan Ahli Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia (Imamupsi)

“saya appreciate dengan karya mbak Sinta,” ungkapnya.

 Beliau lebih menghimbau para peserta untuk berani tidak hanya mengupas karya, tapi juga mulai berkarya. Secara khusus pak Mujib memberikan wacana tentang Reinkarnasi dan memberi sekelumit Psikologi Islam. Saya sendiri baru tahu masalah lengkap Reinkarnasi di belahan dunia Timur dari beliau. Pendeknya, Reinkarnasi dikenal di seluruh agama Timur(kecuali Islam tentunya). Tentang Reinkarnasi ini insyaAllah saya kupas di tulisan yang lain.

Ilmu yang saya dapat….. tiap kali bedah buku, tiap kali mengisi acara, sayalah yang tambah kaya. Bayangkan, mendapatkan ilmu tentang ”Logika Cerita” dari mas Jamal D. Rahman, Reinkarnasi dan seluk beluk Psikologi Islam dari Prof.Dr. Abdul Mujib.

 ”Nih, saya beri inspirasi supaya kalian bisa menulis menyaingi Reinkarnasi,” jelas pak Mujib menjelaskan powerpoint. Beliau menyampaikan A-Z tentang ’kelahiran kembali’ dan sedikit tentang alam ruh. Wah, langsung sebuah ide cerita berkelebat….ide yang mungkin saja merupakan sekuel dari Reinkarnasi! (hmmm…ide ini rahasia, tetapi adik-adik FLP Ciputat pasti sudah mencatatnya!) Ternyata, kita bisa mengupas tema cerita tentang dunia supranatural dari sudut pandang yang menarik dan menambah wawasan : budaya Jawa, budaya daerah lain, sejarah, pusaka, alam ghaib (sekalipun ini harus dipadu dengan Quran & Sunnah). Jadi berbicara tentang dunia supranatural baik novel atau film tak melulu bicara mengenai pocong (1,2,3….), kuntilanak (1,2,3..), hantu jeruk purut, hantu sana sini, paku kuntilanak, pocong perawan, jelangkung dll yang sejenis.

Dunia supranatural bukan hanya setan gentayangan kan? Ada yang sangat berharga untuk dituliskan tetnang dunia supranatural : kedudukan alam ghaib, alam kubur, mimpi, alam barzakh dsb. Semuanya bisa diselaraskan dengan sudut pandang Islam yang mencerahkan. Ayo, siapa yang mau menulis tentang alam supranatural?

Berapa Tahun yang Dibutuhkan untuk jadi Penulis?

Berapa tahun dibutuhkan untuk berhasil dalam dunia kepenulisan?

‘Berhasil’ punya definisi bermacam-macam, secara materi cukup baik sandang, pangan, papan (plus kebutuhan lain yang tidak termasuk 3 itu tapi sangat mendesak : kendaraan, laptop, hape!, tabungan). Intinya, pencapaian materi.

Berhasil ada pula yang mengukurnya dengan waktu.

Pernikahan yang melewati angka 5, 7, dinyatakan berhasil (bagaimanapun ruwetnya ). Perusahaan yang melewati angka 5, 7 dinyatakan berhasil apalagi jika melewati angka 10-15 tahun, sebab konon kabarnya semua krisis termasuk krisis moneter berulang tiap satu decade. Pedagang yang bisa tetap eksis dan konsisten dengan produknya 5, 7 bahkan lebih juga akan menuai keberhasilan.

What about writer? Di titik mana ia menyatakan dirinya berhasil? Ketika bukunya best seller, terjual jutaan copy, bukunya laris manis? Ketika jumlah buku yang ditulisnya mencapai lebih dari 50 judul? Ketika bukunya difilmkan? Ketika bukunya meraih banyak penghargaan dan pujian dari para kritikus dan resensor?

Ada baiknya saya menceritakan histories kenapa saya menulis.

Manusia tidak boleh melupakan sejarah , belajar dari sejarah, mengevaluasi dari sejarah, bisa menimbang sejauh mana keberhasilan suatu kaum jika sudah dibandingkan dengan sejarah. Secara teknologi kita memang jauh lebih maju disbanding jaman untanya Rasul Saw tetapi secara moral kita bahkan meloncat memasuki zaman Nabi Luth, dan Nabi2 dengan kaum yang dibinasakan.

Baik, kembali pada histori menulis. Awalnya, saya jenuh menjadi ibu rumah tangga. Alhamdulillah, saya punya ibu yang luarbiasa yang selalu bilang “…Sinta, kamu itu punya potensi! Jadi ibu rumahtangga nggak melulu hanya urusan domestic kan?” Saya suka menjahit dan memasak kue. Hampir semua baju Inayah –putri I saya- gaunnya saya buat sendiri. Tiap kali teman-teman lihat mereka bilang “ bagus banget! Mbak Sinta bikin butik saja.”

Saya bercita-cita punya usaha garment, konveksi, butik, termasuk mengembangkan kesukaan saya pada patchwork. Saya punya mesin jahit dan kepekaan untuk mengkombinasikan kain-kain. Selain hobi menjahit, saya juga hobi bikin kue. Kue-kue saya titipkan ke pasar dan menghasilkan penghasilan yang luamyan. Saya dan adik saya, Erisa Kurnia Nanda, berencana bikin toko roti muslimah berlabel hala karena kami sama-sama suka masak dan makan! Bikin butik apa toko roti ya? Baju apa kue? Pakaian atau makanan? Nanda tetap suka bikin kue , terkenal enak dan selalu laris manis di kalangan teman-teman dan tetangga. Ini dilakukannya sambil kuliah dan kerja, kadang dilakukan ketika malam larut. Sayapun juga begitu, bikin kue saat anak-anak sudah tidur.

Tapi…saat punya anak 3 saya repot bukan main. Gak bisa bikin baju, gak bisa bikin kuet.

Akhirnya ada mesin ketik nganggur, jadilah saya corat coret dan ketik mengetik. Tahu nggak cerita saya pada awalnya yang dikirim ke Annida dan dimuat?

 • Langkah Awal, cerita tentang gadis manja yang memulai usaha

 • Gaun Biru, cerita seorang ibu rumahtangga yang kepingin bikin gaun tapi gak punya duit akhirnya bikin dari bahan seprei

• Jalinan Kasih Yang Terkoyak , juara II LMCPI Annida, setting nya Aceh (saya pernah ikut suami di Medan),dsb cerita saya nggak jauh-jauh dari kue dan baju!

Mana yang lebih dahulu melaju, itu yang saya pilih!

Ternyata menulis membuat saya kembali mencintai hobi yang sempat agak lama tertinggal : membaca dan mengkliping koran. Akhirnya saya meninggalkan cita-cita membuat butik dan bakery, lalu beralih profesi jadi penulis.

ADA TANTANGANNYA?

Ups, tentu ada. Saya sudah merintis bisnis jahit menjahit cukup lama demikian pula modal bikin kue. Memulai menulis dari awal seperti belajar merangkak lagi. Pertanyaan yang muncul :

1. Saya mau menulis cerita apa? Anak , remaja, dewasa?

2. saya mau bikin cerpen atau novel, atau cerita bersambung?

3. saya mau kirim ke mana sih, media Islam, nasional atau mau diterbitkan oleh penerbit?

 ……………..dalam perjalanan menulis, ah, bikin kue langsung sorenya terima duit. Bikin tulisan, kapan terima duitnya? Sebetulnya saya bakat nulis nggak sih? Setahun, dua tahun nulis, masih mau diteruskan apa nggak? Apa saya banting stir lagi jadi pengusaha seperti yang dari dulu saya impikan?

YANG PERTAMA DITULIS ….. Kumpulan Cerpen! Kenapa? Karena cerpen-cerpen itu kalau tidak dimuat di majalah atau media massa, bisa dikumpulkan dan dikirim ke penerbit. Nakal ya! Lagipula, bikin cerpen aja banyak-banyak 15-20, nanti diedit dan dipilih penerbit. Sisanya (kadang sisa 5 atau 7) kita tambahin lagi cerpen2 dan dikirim ke penerbit lain. Kumpulan cerpen yang pertama Cadas Kebencian, buku favorit saya, diterbitkan MIZAN. Kumcer ini mengokohkan niat bahwa saya MUNGKIN ada bakat di dunia kepenulisan. Masih mungkin lho…saya masih belum yakin ternyata;-(

Lalu saya mulai kenal mbak Asma Nadia. Beliau memasangkan dengan mbak Izzatul Jannah di Gadis Diujung Sajadah. Saya juga mengirimkan Kuntum-kuntum Bunga, Alhamdulillah diterbitkan oleh FBA Press, penerbit di Jakarta yang sekarang sudah gulung tikar.

Kapan ya pertama kali nulis? Oya, 2002. Akhirnya saya getol nulis, kirim kesana kemari, ditolak. Ada yang diterbitkan dengan revisi dll. Tentang liku2 menulis…nanti saja ya. Nah, ternyata selama tahun-tahun perjalanan itu saya masih dikejar pertanyaan : aku ini benar-benar mau menghabiskan umur dengan jadi penulis atau apa sih? Aku ini sebetulnya mau nulis apaaaa? Maka jadilah kutu loncat.

Menulis Kumcer.

Menulis cerita remaja.

Menulis cerita anak

Menulis non fiksi

Menulis novel.

Menulis antologi, keroyokan bareng teman-teman.

DI TITIK MANA AKU SEKARANG? Aku bingung dengan dentitas kepenulisanku lalu bertemulah aku dengan FLP (anugerah Tuhan untuk bangsa Indonesia –kata Taufik Ismail). Aku bertemu teman2 FLP Yogya : Ganjar, Jazimah, Iwul, Prima, Lilo, bunda Kun, mbak Koes, Zen, Aries. Juga teman-teman FLP lain. Semoga Allah SWT memberkahi Ganjar yang menitipkan pesan yan gmembakar semangatku : ”……mbak Sinta kayaknya konsen aja di fiksi sejarah. Bagus tuh nulis di situ.” Aku memang habis memenangkan lomba GIP sebagai juara I, Singa-singa di Padang Kekuasaan yang terbit dengan judul Sebuah Janji. Ucapan Ganjar membakar semangatku. Pertemuan dengan adik2 FLP memacuku. Ooooh, ternyata jadi penulis itu penting ya? Aku mulai merasa luwes menulis setelah 3-4 tahun. Pertama kali pindah ke Surabaya, aku menemukan Lafaz Cinta di Toga Mas. Aku bangga dan bahagia sekali ketika melihat covernya yang spesial. Waaah, aku sekarang beneran jadi penulis ya ? (Itu lagi pikiran konyol!) Pertemuan dengan mbak Helvy di ITS memacu kembali adrenalinku. ”Sinta, Lafaz Cinta mbak Helvi rekomendasikan jadi bahan bacaan anak2 sastra. Tapi kok ceritanya masih dangkal ya? Padahal kamu masih bisa lebih tajam, lebih dalam menceritakan.”

LEBIH TAJAM, LEBIH DALAM, LEBIH BAGUS…ITU SEPERTI APA? Semoga Allah SWT memberkahi pula mas Dul Mizan (sekarang dah nggak disana). ”….mbak Sinta coba baca Perempuan Suci –Qaisra Shahraz dan Taj Mahal-John Shors. Pelajari.” Aku memburu buku itu di Islamic bookfair. Aku juga menemukan Samarkand- Amin Malouf dan buku-buku lain. Aku baca berulang-ulang. Aku tersesap. Aku terpana. Ow, jadi menceritakan tokoh itu seperti Jahanara dan Isa, seperti Umar Khayam ya? Ow, jadi setting tentang Benteng Merah itu penggambarannya seperti itu ya? Ow, ternyata karakter Umar Khayyam dan Hassan Sabah itu penggambarannya begitu ya? Ow, ternyata buat plot, alur itu begitu rumitnya ya? Ow, konflik Khondamir, Aurangzeb, Dara itu demikian tajam menikam dan meninggalkan jejak di benak pembaca ya? Ow, ….ternyata….aku masih jauuuuuh…dari seorang penulis! Aku masih pembelajar!! Armanusa, Lafaz Cinta, Rival-rival istri dsb ..BELUM APA-APA. Padahal aku sudah lebih dari 5 tahun menulis, sekarang sudah 7 tahun malah. Kapan sih aku benar-benar berhasil jadi penulis?

…………..7 TAHUN KEMUDIAN BEP : Break Even Point 3 tahun. Perusahaan normalnya 3 tahun BEP, artinya modal harus kembali 3 tahun paling lambat . Kalau tidak, namanya rugi. Harus ganti haluan, harus ganti usaha dan pasar, harus ganti produk. 3 tahun jadi penulis sudah jadi apa? Royaltinya banyak, bukunya banyak? 7 tahun dari aku mulai memutuskan untuk benar-benar menulis Alhamdulillah hasil karyaku sudah diterbitkan 40 judul kurang lebih. Tetapi dari semua, tidak semuanya masterpiece. Lafaz Cinta menurutku cukup bagus, berikutnya The Road to The Empire dan Reinkarnasi Alhamdulillah lebih mendapat banyak apresiasi dari teman-teman. Artinya, 2 karyaku yang beelakangan dinilai cukup bagus bagi khalayak. Dibandingkan 40 judul yang lain, TRTE & Reinkarnasi memang menguras semua energiku. Energi doa, energi berpikir, energi kantong (referensi butuh biaya besar), energi2 yang lain. Apa buu2 ku yang digarap seenaknya? Tidak juga. Tapi belajar memang butuh waktu. Belajar membutuhkan kesabaran. Di atas segalanya belajar membutuhkan keikhlasan.

Maka aku teringat dialogku dengan suamiku suatu hari

”Lafaz Cinta best seller, Mas. Aku diminta menulis yang semacam itu lagi. Bagaimana?” ”Menurut Inta bagaimana?” (suamiku sampai 15 tahun menikah masih suka memanggilku dengan nama kecilku –Inta)

” Inta pingin nulis Takudar yang ke 3, sekalipun yang ke 1-2 jeblok di pasaran.” ”Memang kenapa pingin nulis itu?”

Aku merenung, tiap kali diskusi ini bolak balik menangis.

”…soalnya Inta terkesan sekali sama Takudar, sama kaisar2 Mongolia yang muslim. Sama Iskandar Beg. Sama Thariq bin Ziyad. Pokoknya sama para pejuang muslim yang bijaksana dan mulia.”

 ”Ya sudah, kalau gitu nulis Takudar lagi aja, Takudar 3.”

”Tapi…yang ini belum tentu laku di pasaran. Kalau sekuel Lafaz Cinta pasti best seller lagi. Royaltinya lumayan. Mas gak papa Inta gak bisa menyumbang royalti buat keperluan rumahtangga kita?”

 “Sudahlah, pakai gaji Mas saja apa adanya. Menulis Takudar saja sebagai ladang da’wah.”

“Tapi….gak papa Mas? Menulis Takudar setahun, royaltinya belum tentu, di pasar belum tentu laku. Beranti kalau Inta menulis Takudar lagi siap-siap 3 tahun ke depan gak punya royalti memadai?”

“Iya..sudah gapapa. Nulis Takudar aja buat da’wah. Urusan nafkah biar Mas aja, Inta yang penting nulis.”

Begitulah embrio The Road to The Empire dan Reinkarnasi. Ditulis dengan keringat dan airmata. Airmata karena aku terlanjur mencintai Takudar, sang pejuang yang rela melawan arus demi mengobarkan kebenaran. Airmata karena saat aku menulis Takudar lewat tengah malam, aku berdoa pada Robbku : “….ya Allah, Kau Maha Tahu, aku menulis Takudar ini karena ingin menuliskan kebaikan. Ini bukan novel laris yang diminati banyak orang tetapi Engkau Maha Kaya. Bukan penerbit yang memberiku rezeki melalui royalti. Engkau yang Memberi Rezeki orang-orang yang berjuang di jalanMu. Aku minta rezeki padaMu, aku minta uang padaMu, aku minta bantuan dan kecukupan dariMu.”

Tiap hari aku berdoa : Ya Allah barakahilah The Road to The Empire. Barakahillah Reinkarnasi. Bantu aku menyelesaikan sebaik-baiknya naskah Existere yang tengah kutulis. Jadikan buku-buku hamba barakah, best seller, mencerahkan bagi siapa saja yang membacanya. Ya Allah, Bantu aku agar amanah sebagai istri, ibu, penulis, mahasiswa, ketua FLP Jawa Timur.

 Sekarang aku adalah pembelajar. Aku masih belajar sebagai seraong istri & ibu, aku masih belajar untuk jadi penulis yang baik, akumasih belajar untuk jadi manager yang baik, aku masih belajar menjadi manusia yang baik. Bukankah belajar itu dari buaian sampai liang lahat?

Ramadhan hari ke 5, 1430 H

Foto-foto dari MUNAS FLP II di Solo, 14-16 Agustus 2009

DSC03220

Hartaku : Anak-anak & Kliping koran

Tak terasa sudah 2 tahun kami tinggal di Surabaya. Sebelumnya, kami tinggal di kota Tegal, suatu wilayah karesidenan di Jawa Tengah. 2 tahun yang lalu kami mengontrak, tahun ini masih mengontrak juga;-).

Banyak yang tanya, sudah 15 tahun nikah kok belum punya apa-apa? Suaminya kan kerja di kantor pajak? Dalam benak kebanyakan masyarakat, pegawai kantor pajak memang kaya-kaya. Rumahnya banyak, tanah bertebaran, mobil gonta ganti, jalan-jalan ke luar negeri, belum lagi barang elektronik yang dibeli ibarat beli semangkuk bakso.

Aku? Rumah masih mengontrak, mobil belum punya. Miskinkah aku? Kalau tolok ukurnya harta benda, mungkin ya. Tapi jika dilihat lebih jauh lagi, aku sangat kaya! Bayangkan, aku punya 4 orang anak yang sehat yang hingga kini masih diberikan oleh Allah SWT nikmat kebugaran dan kecerdasan. Ibuku pernah berpesan,”…suami kamu pegawai negeri. Nggak usah ngiler lihat punya orang lain. Yang penting investasi ke anak berupa kesehatan dan pendidikan. Kelak, anakmu itu yang akan menggantikan peran orangtuanya.” Selama 15 tahun menikah kami memang berpindah tempat beebrapa kali. Pertama kali di Medan sekitar tahun 1994-1998. Lalu suamiku ikut pendidikan ajun khusus akuntan di Jurangmangu, ditempatkan berikutnya di Yogyakarta. Kami tinggal di Yogyakarta kurang lebih 1 ½ tahun. Selanjutnya suamiku diterima pendidikan DIV di STAN, aku ikut pindah ke Jakarta. Usai pendidikan, berikutnya lalu penempatan di Tegal. Setelah 4 tahun di Tegal, kami pindah agi ke Surabaya sebab suamiku dimutasikan ke KPP Jagir Wonokromo. Kalau dihitung-hitung 5 kali kami boyongan dari satu tempat ke tempat lain. Ketika tabungan mulai terkumpul, kami harus pindah ke tempat lain yang notabene menghabiskan banyak biaya. Biaya pindah rumah, pindah sekolah anak-anak, rumah kontrakan baru, dan biaya tetek bengek yang lain. Maka dari itu, jika dilihat dari kepemilikan harta kami nyaris tak punya apa-apa.

 Tetapi Alhamdulillah, Allah SWT memberikan 4 anak yang merupakan harta luarbiasa. Membesarkan anak itu bukan perkara murah lho. Mobil dan rumah mungkin bisa dibeli dengan tabungan 300-500 juta. Tapi anak butuh ’harga’ yang lebih dari itu. Biaya sekolah, biaya kesehatan, biaya rekreasi, biaya pulang kampung, biaya baju-baju dsb yang tujuan utamanya meng up grade anak-anak agar kelak siap jadi generasi platinum. Begitulah, aku menganggap keluarga kami tak punya banyak harta.

 Tapi…. pas pindah rumah kontrakan baru, kok barangku buaaanyaakkk ya? Apa saja sih harta bendaku? Selain barang rumah tangga ala kadarnya, televisi sudah rusak tombolnya karena dipencet-pencet puluhan kali dalam sehari, VCD player, mesin cuci yang sudah usang, kulkas yang pintu freezernya ambrol akibat banyak tangan buka-tutup-buka-tutup. Dua sepeda motor, empat sepeda mini, mainan dinosaurus, laptop yang menemaniku sekian lama untuk menghasilkan karya-karya tulis. Meja, lemari, kursi, warisan dari orangtua. Baju-baju dan of course, buku-buku yang kami kumpulkan bertahun-tahun. tetapi yang membautku surprised adalah puluhan kotak yang berjajar bertumpuk di teras rumah menjelang kami move ke rumah baru. Ternyata, puluhan kotak-kotak yang membuat para tukang capek bukan main itu isinya adalah…..koran!! Yup, betul sekali. Sudah bertahun-tahun aku begitu mencintai dunia kliping mengkliping yang seolah tak tergantikan oleh kemudahan internet. Mengumpulkan berita hari demi hari membutuhkan kesabaran dan ketelitian tersendiri, dan hobbi yang mengasyikkan. Inilah berita yang kukliping sejak tahun 2000an :

1. Dunia Islam . Aku punya kliping banyak tentang Afghanistan, Iran Irak, Chechnya dan tentu saja…Palestina. Bahkan kukumpulkan berita dari beragam koran saat Israel menginvasi Palestina, berikut foto-foto dramatis yang membuatku bisa menangis. begitupun ketika Amerika menginvasi Afghanistan, Chechnya ketika berjuang melawan Rusia. Kliping ini mendasari kisah epikku ”Kamerad Mikail” dan ”Di Ujung Kota Jerash.” Kronologis pembunuhan Benazir Bhutto pun aku punya.

2. Berita Internasional Berita ini bermacam-macam. Kukumpulkan yang kuanggap menarik seperti hubungan bilateral antar negara, peristiwa-peristiwa perang, kejadian yang penting bagi sebuah negara seperti krisis ekonomi dan persaingan Obama Mc Cain di masa pemilu AS yang lalu. Tak lupa perjalanan wisata mancanegara mulai Petra, Vatikan, Den Haag hingga Mesir dll.

3. Berita Dalam Negeri Antasari, PSK, dunia pesantren, tsunami Aceh, Situ Gintung…warna-warni Indonesia. Tak lupa tempat-tempat indah di Indonesia seperti Lombok, Pulau Seribu. Rubrik Wisata atau Perjalanan di akhir pekan akan kusisihkan sebagai bahan tambahan referensi cerita, atau jika suatu saat nanti aku berkesempatan berkunjung ke luar negeri 

4. Kesehatan Ada koran yang menyuguhkan rubrik medika secara khusus, ada yang tergabung dalam rubrik iptek. Dari sini aku mengumpulkan artikel tentang lupus, sindrom kawasaki, kusta, alergi termasuk penemuan-penemuan terbaru di dunia paramedis.

5. Ilmu Pengetahuan Rubrik kecil Geoweek di akhir pekan rajin kukumpulkan. Beritanya singkat dengan gambar yang berwarna warni, menambah kahzanah pengetahuan. Artikel tentang atom ’partikel Tuhan’ hingga penemuan planet2 baru dan dunia jauh di luar tata surya termasuk artikel yang kugemari.

6. Keluarga Tips tentang karier, bagaimana menjadi orangtua yang baik, bagaimana menata rumah, memilih perabot (sekalipun belum bisa kubeli), resep-resep tradisional dan modern juga kusisihkan. Rubrik Muda dan Anak-anak yang berwarna-warni juga bagus untuk dibaca anakku atau aku sendiri

7. Kartun –kartun : Beni & Mice, kartun Suroboyoan dengan bahasa-bahasa unik (cak, ae, lapo, gak, mari),dsb.

8. Sastra meliputi cerpen, cerita bersambung, puisi-puisi, kritik dan artikel sastra.

9. Dan…..favorit klipingku adalah :

 Dialog Jumat ( Republika)

 Khazanah yang banyak mengupas ilmuwan muslim(Republika)

 Islamic Digest (Republika)

 Fokus dan Teropong (Kompas)

  Kehidupan (Kompas)

 Khusus Deteksi(Jawa Pos) dikliping anak gadisku Inilah harta berhargaku yang membuat rumahku penuh dan para tukang ngos-ngosan ketika pindah rumah! Jumlahnya sekitar 25 kardus!

Lomba Resensi The Road to The Empire diundur 20 Juli 2009!Bersiap menanti Takudar yang berikut…

Lomba resensi yang seharusnya ditutup 30 Juni 2009 diperpanjang hingga 20 Juli 2009 . Diharapkan mereka yang mungkin ingin ikut tapi masih takut-takut, ingin ikut tapi belum dapat bukunya dapat punya waktu menarik nafas untuk kemudian bersiap mengikuti lomba. 

Banyak yang bertanya, nantinya Takudar itu akan menikahi siapa sih? Almamuchi, Karadiza, Tien Nien? Atau jangan-jangan malah menikahi Qaratai & Juz Jani?

Salah satu keuntungan penulis, dia bebas menentukan karakter dan jalan cerita tokohnya :-) . Tetapi tentunya penulis tidak asal begitu saja menentukan nasib cerita pelaku. Saya pribadi nggak suka dengan gaya cerita Cinderella, sang pangeran tampan bertemu puteri cantik lalu hidup happily ever after. Memang sih di tengah masyarakata senang melihat pemuda tampan berjodoh dengan gadis cantik, tapi begitukah hidup selamanya?

Bukankah ada Manohara yang cantik tapi berakhir duka?

Bukankah ada pesta meriah milyaran rupiah bak raja ratu tetapi kandas dalam keperihan?

Kadangkala seorang pangeran bahagia dalam pelukan perempuan sederhana ataupun perempuan cantik justru bahagia didampingi lelaki bersahaja yang sederhana, tak punya apa-apa. Sebab cinta tidak berbanding lurus dengan harta, tahta, fisik semata. Cinta juga tidak berbanding terbalik dengan kekayaan dan kekuasaan. Demikian kata pujangga tentang cinta :

“Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan” (Kahlil Gibran)

Jangan katakan bahwa cintaku
Sebentuk cincin atau gelang
Cintaku ialah pengepungan benteng lawan
Ialah orang-orang nekat dan pemberani
Sambil menyelidik mencari-cari, mereka menuju mati.

Jangan katakan bahwa cintaku
Ialah bulan,
Cintaku bunga api bersemburan. (‘Ali Ahmad Sa’id-Anonis)

“Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk dan rupa; ia merupakan padang rumput bagi menjangan, biara bagi para rahib, kuil anjungan berhala, ka‘bah tempat orang bertawaf, batu tulis untuk Taurat, dan mushaf bagi al-Qur’an. Agamaku adalah agama cinta, yang senantiasa kuikuti kemana pun langkahnya; itulah agama dan keimananku”  (Ibn Arabi)

Tapi kisah tentang takudar bukan hanya berisi kisah romantisme cinta.

Takudar juga perjuangan, keperihan pengorbanan, fitnah, kesendirian dan kesepian, beratnya duduk di atas puncak kedudukan manusia. Tetapi aku juga ingin menuliskan tetnang makna persaudaraan yang tidak hanya diikat oleh darah dan sumpah “Anda”, persudaraan yang diikat oleh cita-cita mulia dan kesamaan sudut pandang. Aku ingin mengungkapkan bahwa di belantara manusia yang kadang lebih jahat dan kejam dari iblis sendiri, masih ditemukan manusia berhati luhur yang siap berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan.

2 HALAMAN yang LUARBIASA !!

Banyak orang berpendapat bahwa resensi suatu buku sudah ‘dipesan’ oleh pihak-pihak tertentu agar sebuah buku nilai jualnya terdongkrak naik.

 

Benarkah demikian?

 

Tampaknya bangsa kita memang masih membutuhkan banyak stimulus untuk belajar bersikap kritis. Salah satunya lomba resensi. Kalau kita mencermati perkembangan literasi di dunia barat, orang berlomba-lomba mereview sebuah buku pasca terbitnya.

 

Resensi buku bukan hanya untuk mendongkrak penjualan.

Dalam teori sastra, resensi buku berfungsi sebagai partner untuk memahami sebuah karya. Kita pasti pernah membaca karya-karya Gothic atau karya yang cenderung menonjolkan sadisme dan sisi suram manusia (penindasan, perkosaan, kebohongan, dsb). Bayangkan jika karya tersebut terus muncul tanpa ada yang meresensinya. Resensi menjadi partner untuk mendampingi pembaca bagaimana memahami sebuah karya sastra. Resensi akan memberikan pendampingan kepada khalayak “….oh, buku ini bagus sekali sebagai karya sastra tapi nilai-nilainya tak sesuai budaya kita.”

Atau”…karya yang luarbiasa! Tapi sudahkah penulis mempertimbangkan efeknya bagi pembaca, terutama anak-anak?”

 

Resensi buku di Indonesia masih menjadi hal yang tak lazim, padahal banyak produk yang masih harus dikritisi. Novel, buku, antologi, guidance sampai komik. Ada yang sudah pernah meresensi komik-komik Jepang yang banyak dibaca anak-anak kita? Banyak isinya tak sesuai budaya bangsa (pakaian, ciuman mesra, adegan erotis lainnya).

 

Demikian pula novel The Road to The Empire.

Lebih mudah bagi penerbit untuk memasang iklan besar, full colour di majalah/ Koran, lalu menunggu hasil penjualan. Tetapi dalam beberapa hal, baik penerbit maupun penulis punya komitmen untuk tak hanya menjual buku tapi juga meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat khususnya generasi muda dan pelajar –mahasiswa.

 

Bagi yang sudah membaca The Road to The Empire pasti punya segudang tanya yang membekas : sejauh mana sejarah Islam punya kontribusi bagi peradaban dunia?

Jika tak ada orang yang meresensi atau mengkritik darya tersebut, maka penulis ( saya) akan tenang-tenang saja menulis sesuai keinginan tanpa orientasi. Tetapi resensi yang sudah masuk, kritik yang sudah tertuang, membuat penulis kembali dan terus berusaha memperbaiki diri misalnya ;

-         mengapa dalam novel tidak dicantumkan peta seperti dalam karya Lord of the Rings?

-         mengapa tidak dibuat karya tentang Jenghiz Khan terlebih dahulu sebelum sampai kepada Takudar?

-         mengapa penulis terkesan sangat mencintai budaya asing dibanding budaya bangsa sendiri?

-         dsb

 

Kritik dan resensi akan membuat penulis jauh lebih mawas diri. Demikianlah seharusnya dunia literasi di Indonesia : pembaca tercerdaskan, penulis meningkatkan kapasitas, resensi memperbaiki buku yang telah terbit dan akan terbit, penerbit makin selektif dalam artian bukan makin sulit menumbuhkan karya tapi penerbit juga akan mendampingi penulis dengan editor handal, ilustrator makin kreatif, pemerintah pun akan turut berperan meningkatkan daya baca masyarakat.

 

Tidakkah anda lihat, resensi yang hanya 2 halaman punya dampak yang luarbiasa?

Novel The Road to The Empire : karya Terjemahan?

Aku bertemu beberapa orang yang berpendapat, the Road to The Empire bukanlah karya asli orang Indonesia. Mereka terkaget-kaget ketika tahu bahwa penulisnya malah anak FLP (……tahu sendiri kan, FLP sering tidak dianggap menghasilkan karya sastra :-) ).

Lebih kaget lagi ketika kisah perang seperti itu ditulis oleh perempuan, berjilbab pula?…he…he… Waktu aku mengisi di Kampus UNTAG, mahasiswi di sana tidak percaya yang menulis The Road to The Empire itu aku….aduh, bagaimana membuktikannya?:-)

Kiai Faizi dai AnNuqoyah , Guluk-guluk, Sumenep yang membedah bukuku di Pamekasan beberapa waktu lalupun sempat tidak percaya aku yang menulis ceritanya. Sinta Yudisia dipikir bukan orang muslim juga, mirip-mirip nama agama Hindu (Waktu ibuku hamil memang sangat gandrung dengan Dewi Sintanya Ramayana. Bahkan katanya kalau tidak kesampaian akan diberi nama Sintosina-nama sejenis obat di masa itu karena ibuku seorang apoteker). Nama Sinta Yudisia memang terdengar kurang muslimah ya?

Untungnya setelah bertemu denganku Kiai Faizi yakin bahwa memang akulah yang menulisnya sebab aku bisa menyampaikan , kenapa aku terobsesi betul untuk menuliskan sejarah Mongolia beserta para bangsawannya yang pernah memeluk agama Islam. Moga-moga setelah ini , Insyaallah aku mau menulis Takudar yang berikutnya, orang-orang tidak meragukan lagi bahwa itu asli tulisanku. Sinta Yudisia. Orang asli Indonesia, muslimah berjilbab, anak FLP juga. Aku cinta sekali pada negeriku sehingga ingin menghasilkan sesuatu yang membanggakan bagi bangsa dan negaraku, juga agamaku :-)

Jangan lupa ikuti Lomba Resensi Novel TRTE!

Foto-foto acara di Kampus UNTAG, Bedah Buku Hi Pretty!

DSC00200  DSC00205   DSC00209  DSC00202

Foto-foto acara KTN di villa Hidayatullah, Batu

IMG2185A  IMG2191A  IMG2197A  IMG2193A

IMG2208A  IMG2199A

Kiat Sukses Menerbitkan Karya : dari acara Kupas Tuntas Novel di villa Hidayatullah, Batu, Malang

Malang, 16 Mei 2009

  

Mengapa karya harus diterbitkan?

 

Setelah melewati proses panjang menulis yang menghabiskan waktu berminggu, berbulan, bahkan bertahun-tahun; seorang penulis dihadapkan pada proses perjuangan yang berikutnya : menerbitkan karya. Mengapa sebuah karya harus repot-repot diterbitkan?

 Sastra terlahir lewat proses rumit (bukan berarti sulit) yang menghabiskan seluruh energi penulis, terkadang menghabiskan pula seluruh sumber dananya untuk menggali referensi J. Bukan itu saja, saat menulis seringkali penulis harus menyingkirkan sekian banyak agenda agar tulisannya dapat diselesaikan tepat waktu ; agar idenya yang masih segar & actual secara tepat waktu disebarkan ke tengah masyarakat.

Sastra berisi kegelisahan pengarang, ada tujuan, pretensi (tuntutan), visi, harapan ideal yang menyuarakan kesenjangan antara apa yang seharusnya dengan apa yang ada. Sastra melembutkan sebuah makna agar esensinya sampai ke tangan para pembaca. Sebagai contoh, membangkitkan kesadaran tentang keharusan muslimah berjilbab seringkali tak dapat dilakukan secara dogmatis. Sastra, baik fiksi dan nonfiksi dapat menggiring pemahaman, penafsiran, kesadaran lalu memunculkan titik balik penting dalam kehidupan seseorang.

Baca entri selengkapnya »

Foto-foto di STAIN Pamekasan

FLP Pamekasan
FLP Pamekasan

   lmac-73  lmac-88 lmac-24   lmac-80 

STAIN, Pamekasan
STAIN, Pamekasan

  

LOMBA RESENSI NOVEL THE ROAD TO THE EMPIRE

Cover

Sudahkah Anda membaca novel The Road to the Empire?

Ayo, jangan hanya jadi sekedar pembaca pasif!

Kesempatan teman-teman semua untuk berkarya, menulis gagasan dan ide dalam bentuk nonfiksi. Ayo, ketik idemu dan ikuti: Lomba Resensi Novel The Road to The Empire Peraih IKAPI-IBF Award 2009, kategori Fiksi Dewasa Terbaik Persyaratan dan ketentuan lomba sebagai berikut

A. Syarat umum:

1 Lomba terbuka untuk warga Negara Indonesia, di manapun berada, berapa pun usia Anda.

2. Resensi berupa karya asli, bukan terjemahan atau saduran.

3. Resensi yang dapat diikutsertakan adalah yang pernah dimuat, baik media cetak (koran, majalah), maupun media on-line dan blog. Yang telah dipublikasi rentang bulan Januari sampai Juni 2009.

B. Syarat khusus:

 1. Kirim bukti pemuatan resensi (berupa fotokopi atau scan dari media yang telah memuat)

2. Sertakan biodata peresensi plus fotokopi tanda pengenal peresensi (KTP/Kartu Pelajar) ke: PANITIA LOMBA RESENSI NOVEL THE ROAD TO THE EMPIRE Promosi Lingkar Pena Publishing House Jl. Raya Jagakarsa (Simadakarsa) No A-1 Jagakarsa, Jakarta Selatan 12620 Cantumkan “LOMBA RESENSI NOVEL THE ROAD TO THE EMPIRE” di pojok kiri atas amplop.

Ingat! Bukti resensi ditunggu selambat-lambatnya tanggal 30 Juni 2009 (cap pos)

Penghargaan bagi peresensi terbaik:

Penghargaan 1: Rp 1.000.000,- + paket buku senilai Rp150.000,-

Penghargaan 2: Rp 500.000,- + paket buku senilai Rp150.000,-

Penghargaan 3: Rp 300.000,- + paket buku senilai Rp150.000,-

3 pemenang hiburan mendapatkan paket buku @ Rp150.000,-

 Pemenang akan diumumkan pada bulan Juli 2009 di website Lingkar Pena Publishing House (www.lingkarpena.multiply.com) Untuk keterangan lebih lanjut hubungi kami di 021- 78882079

Happy review! Promosi Lingkar Pena Publishing House

How close are you?

quran5xj1eu4quran

Seberapa dekat kita dengan al Quran? Berapa kali sehari kita membaca, menyimak, merenungkan tafsir kitab suci yang merupakan cahaya hidup kita?

Dalam dunia kepenulisan pun, jika ide-ide mentok, buntu, kehilangan kekuatan diksi, tak tahu harus bagaimana mereamu cerita maka obat paling mujarab untuk mencerahkan pikiran agar menghasilkan tulisan cemerlang adalah mengambil Quran dan membacanya.

« Entri lama