Apa yang kita dapatkan dengan menulis?

 

            Tulisan ini saya peruntukkan bagi mereka yang pikir-pikir mau menulis, ragu-ragu mau menulis, mencoba menulis, patah arang dalam menulis atau yang sudah memantapkan diri di dunia tulis menulis, especially women, makhluk unik yang diciptakan Allah SWT untuk mengemban tugas penting sebagai pencipta peradaban dunia.

            Banyak adik-adik yang bertanya via sms, imel, fb dan blog yang bertanya : kak/bunda/mbak/bu…bagaimana sih menulis yang baik? Pertanyaan singkat yang membutuhkan jawaban yang amat-sangat-panjang.

            Sebelum saya berbagi ilmu saya yang sedikit tentang tulis menulis, ada baiknya kita semua memahami apa sih sebetulnya yang kita dapatkan dari dunia kepenulisan ini.

            Baiklah, apapun profesi anda saat ini (pengangguran, ibu RT, mahasiswa, pelajar, dokter, polisi, pembantu, buruh, dsb), apapun niatan anda saat pertama kali menulis , mungkin berikut ini akan memberi sedikit gambaran.

            Apa yang akan kita dapatkan dari menulis baik di media cetak, penerbit, blog dst adalah :

 

  1. Penghasilan / royalti *****

 

Waduh, bunda kita yang satu ini matre banget J !!

Tunggu dulu, bukankah ini yang pertama kali bermain-main di benak saat melatih jemari kita menari di atas kertas? Royalti, penghasilan, uang. Halal pula. Hm, senangnya…..

Rekan-rekanku sayang , menulis memang punya efek ekonomis apalagi yang sudah secara rutin menulis sehingga mendapatkan royalti per 3 bulan, 4, 6 bulan.

Tetapi tahukah anda berapa nilai uang anda sebenarnya?

Nilai uang anda sesungguhnya kecil sekali dibandingkan dengan…..

Deg-degan lagi ! Dibandingkan dengan apa? Laptop, hape, sepeda motor, rumah, buku-buku, uang sekolah, tabungan, biaya pendidikan, haji, dll?

 

Ow, kalau hanya itu daftar kebutuhan kita, mungkin dengan menulis selama 3-4 tahun daftar itu sudah dapat dipenuhi. Silakan saja kalkulasi sendiri jika 1 artikel/1 cerpen dihargai 200 ribu dan 1 buku flat putus dihargai sekian juta. Kalau setahun produktif menulis berapa uang di kantong? Lumayan J

 

Tetapi sekali lagi rekan-rekanku & adik-adikku sayang,

ibuku yang bijak pernah memberi nasehat ” Sinta, tugasmu mungkin mencari uang sebanyak-banyaknya tapi tidak untuk menghabiskan sebanyak-banyaknya.”

Artinya, kadang uang itu begitu mudah diraih oleh sepasang tangan kita tetapi ternyata daftar antrian yang menunggu di belakang sudah sangat banyaknya.

 

Pernahkah anda ketika 1 cerpen dimuat seharga 200 ribu lalu tiba-tiba saudara mendapat musibah, berita duka di sana-sini, ibu sakit, adik minta bantuan uang sekolah dan seterusnya? Begitulah harta ujian. Yang duaratus ribu itu belum tentu kita pakai untuk keperluan konsumtif atau untuk saving, tetapi sudah menunggu tangan-tangan tengadah membutuhkan bantuan.

Suatu saat nanti ketika royalti kita mencapai jutaan, jangan hanya berpikir menumpuk harta yang kita idam-idamkan sekian lama selama bertahun-tahun. Seringkali ketika uang ada di tangan, datanglah permintaan-permintaan yang tak dapat ditolak oleh nurani kita sebagai manusia. Memangnya anda dapat menolak permintaan pembantu anda yang anaknya membutuhkan obat karena sakit atau ingin sekolah? Atau tukang rujak langganan menangis tak punya modal sementara jumlahnya dapat ditanggulangi oleh jumlah royalti yang ada di tangan sebagai rahmat rizqi dari Allah SWT?

 

            Jadi bersiaplah, para penulis berbakat, bahwa royalti anda nanti  tak seperti harta karun yang tiba-tiba didapat dari mengirimkan sms. Karena apa? Ketika kita menulis , memulai dengan niat baik; ternyata ujian keikhlasan itu ada sejak awal, pertengahan hingga akhir sebuah amal. Capek, lelah, letih anda menyelesaikan sebuah novel lalu sekian jumlah uang yang rencananya di saving untuk keperluan masa depan ternyata orang-orang terdekat membutuhkan bantuan segera.

            Catat baik-baik dalam ingatan : yang melapangkan rizqi  termasuk mudahnya tulisan kita menembus media manapun seringkali tergantung seberapa besar niat baik kita. Tetapi begitu tulisan kita laku maka royalti itu ternyata tak sepenuhnya menjadi hak milik kita bahkan suatu masa hanya tercetak di slip tabungan untuk selanjutkan didistribusikan kepada kantong-kantong kaum muslimin.

            Kecewa? Rugi? Tentu tidak karena Allah Maha Kaya dan akan diganti dengan yang jauh lebih baik dari itu. Dan rezeki yang halal, sedikitpun akan terasa

 

 

 

  1. Ketangguhan & Kekuatan *****

 

Yang akan anda dapatkan dari dunia kepenulisan adalah ketangguhan dan kekuatan. Disini kita akan belajar bagaimana sedikit demi sedikit menempa diri, mental, jiwa membaja selapis demi selapis. Satu tulisan kita tak laku, ditolak, dikritisi habis-habisan. Begitu pula tulisan yang ke 2, 31, 104. Anda mungkin putus asa di tahap-tahap awal tetapi jika anda punya komunitas (seperti FLP misalnya) kesulitan itu akan punya nilai tersendiri. Digigit semut, tertusuk duri, terinjak paku lama-lama tak ada bandingnya jika disetarakan dengan pukulan godam. Lama-lama anda akan terbiasa dikritik dan diejek, tetap bangkit dan melaju bangun, memperbaiki diri.

Satu demi satu teman-teman berhasil menulis, anda akan iri. Iri yang baik kan? Lalu kita semakin memperbaiki diri, belajar dari sana-sini, memburu informasi, bertanya tak kenal lelah hingga suatu saat tulisan kita terbit dan dibaca sekian ribu kepala.

Bukan main bahagia dan bangga, sebab satu ide pikiran kita dapat ditransfer ke sekian banyak orang, dibaca, diresapi, dimaknai. Mungkin saja tulisan itu akan mengendap dan menjadi sejarah berharga bagi orang-orang kemudian.

Baja.

Hati sekeras itu yang membuat kita tangguh menghadapi sekian macam kesulitan.

Menulis, adalah satu profesi yang melatih kita untuk punya sikap mental yang tangguh, tak cepat melempem.

 

  1. Ilmu Pengetahuan *****

 

Menulis, menulis, menulis. Anda akan belajar banyak tentang dunia tulis menulis hingga menjadi bisa dan mahir. Sesudah tulisan demi tulisan terbit, anda akan seamkin dahaga dan haus untuk menimba banyak pengetahuan. Maka anda akan melengkapi diri dengan banyak membaca dan terus membaca. Melahap setiap suku, frase, kata, kalimat, bait, bab, hingga sekian banyak buku dikunyah-kunyah tanpa sisa.

            Saya pribadi, dahulu adalah seorang ibu rumah tangga yang baik J

            Bangun sebelum Shubuh, mencuci, memasak, membersihkan rumah dan begitulah seterusnya. Lalu dunia tulis menulis membuat saya jatuh cinta, begitupun dunia pengetahuan yang terkuak dengan terus membaca dan membaca.

            Lalu apalagi?

            Kliping, buku, internet, makalah, handout, semua diburu untuk melengkapi pengetahua. Tibalah pada satu titik : saya tak bisa terus menulis jika tetap sekerdil ini! Apa lagi saya mulai mencintai satu genre tulisan : sastra sejarah & sastra budaya.

            Aduh, bagaimana ini? terlebih saya kan hanya seorang perempuan….

            Kesempatan itu datang ketika seseorang menawarkan beasiswa ke fakultas negeri paling bergengsi di negeri ini, saya ditawari karena pernah, Alhamdulillah, menjuarai beberapa lomba tingkat nasional.

            Tapi bagaimana? Saya kan ikut suami dan baru pindah ke Surabaya. Sayangnya….padahal suami baru saja menolak pindah tugas ke Jakarta karena memang kami baru hijrah ke Surabaya.

            Saya sedih. Beasiswa itu tak jadi saya dapatkan akrena saya seorang ibu istri, perempuan yang terikat ’kontrak kerja surga’ dengan suami. tetapi cita-cita itu terus memburu. Alhamdulillah, Alalh SWT senantiasa membantu hambaNya. Saya memberanikan diri mengajukan beasiswa ke UNTAG dengan membawa beberapa sertifikat dan saya pun kuliah lagi di Psikologi.

            Menulis, membaca, memburu ilmu pengetahuan.

            Tak habisnya saya syukuri kesempatan ini datang di usia saya yang ke 35.

            Setiap pagi, dengan target untuk mencuci, memasak, mengisi buku laporan anak-anak, mengecek perlengkapan mereka , saya juga harus menyiapkan diri mengikuti Psi, Faal, Psi Klinis, Psi. Sosial dst yang harus diikuti dengan hati dan pikiran serius. Ketika sepeda motor saya melaju membelah udara pagi yang sejuk, daun-daun berembun, udara berkabut, burung bercicit; saya melaju bersama mereka yang berseragam putih merah, putih biru dan putih abu-abu. Kami sama-sama memburu ilmu pengetahun, makanan paling nikmat yang dikunyah akal sesudah Quran dan Sunnah nabiNya.

            Beapa indahnya dunia menulis, membayar saya dengan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekedar tumpukan uang dan royalti ; saya punya kesempatan melengkapi diri saya sebagai ibu, istri, perempuan, muslimah & daiyah

 

 

 

 

  1. Pengalaman berharga *****

 

Sesuatu yang tak dapat dibelia dalah pengalaman. Pengalaman memperkaya batin kita, tak dapat dibeli di bangku sekolah atau toko manapun. Pengalaman bertemu orang, pengalaman menjumpai peristiwa, pengalaman memaknai sesuatu.

            Dengan menulis saya bertemu adik2 FLP yang ada di Sumenep, Pamekasan, Bondowoso, Malang, Ciputat, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi…..ribuan orang yang terkontak lewat dunia maya. Mereka memberi saya pengetahuan yang demikian berharga.

            Bukan itu saja, menulis membuat saya harus mendalami karakter.

            Itulah yang menghantarkan saya bertemu buruh di rumah susun, anak-anak Dolly, para pelacur. Saya juga berkesempatan bedah buku di isntansi-instansi besar. Saya belajar memaknai dua dunia berbeda : ada komunitas intelektual di Indosat, Telkom, Kantor Pajak, lembaga2 lain. Ada komunitas kelam di sepanjang Dukuh Kupang, Dolly, Putat.

Saya belajar banyak tentang manusia. Saya belajar banyak tentang diri saya sendiri.

 

  1. Menimbun kekayaan hingga ajal nanti

Inilah kekayaan berharga yang dapat ditimbun, dihitung, dibagikan kepada siapa dan tak akan berkurang jumlahnya.Dengan menulis kita menumpuk kekayaan yang tak hanya berupa uang tapi juga handai tolan, teman, rekan, pengalaman, pembelajaran, ilmu dan masih banyak lagi.

 

 

  1. Banyak dan banyak lagi………

 

 

 

Nah, dengan imbalan sebanyak ini apakah anda masih ragu untuk memeras keringat dengan menulis?

Dari Bedah Buku REINKARNASI UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat-Jakarta : antara supranatural & sastra

IMG_0314  IMG2623A  IMG2608A

9420_1250208617950_1311535629_732496_4202238_s[1]   IMG2629A

 

 

Alhamdulillah…Acara FLP Ciputat yang berlangsung di UIN Syarif Hidayatullah, tanggal 10 Oktober 2009 berlangsung dengan meriah. Dihadiri sekitar 100 orang peserta, silih berganti berkejaran ingin bertanya.

Rasanya, sebuah anugerah tak terhingga dari Allah SWT sehingga novelku dibedah oleh dua orang pakar yang masing-masing ahli di bidangnya. Mas Jamal D. Rahman, sastrawan penyair, pemimpin redaksi majalah sastra Horison, dan kini mahasiswa S3 Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI). Alumnus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura dan kemudian IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Menyelesaikan S2 pada FIB-UI. Dia menulis puisi, esai, kritik sastra, masalah kesenian dan kebudayaan di berbagai media massa. Pria kelahiran Sumenep, Madura ini kerap diundang mengikuti acara-acara sastra di dalam dan luar negeri, antara lain Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara Bidang Esai di Cisarua, Bogor (1999), Seminar Kritikan Sastera Melayu Serantau, Kuala Lumpur (2001), dan Pertemuan Penulis Asia Tenggara (South-East Asian Writers’ Meet) di Kuala Lumpur (2001), festival Poetry on the Road di Bremen, Jerman (2004).

Apa Keunggulan Reinkarnasi?

Bagi Jamal D. Rahman; ada 3 novel yang mengupas tentang budaya Jawa :

1. Para Priyayi –Umar Khayam

2. Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari

3. Karya Pramoedya A.Toer

Reinkarnasi menurut mas Jamal mengupas budaya Jawa dari sudut pandang yang lain! Penyebaran Islam di Nusantara memiliki kisah yang panjang dengan beragam hikmah. Di luar Jawa, setidaknya proses ‘Islamisasi’ itu tuntas-sempurna (kalau tidak bisa dikatakan telah selesai 80-90%, kuranglebih). Sementara Jawa hinggá kini masih belum tuntas, budaya Jawa yang berasimilasi dengan Islam masih demikian menunjukkan jati diri aslinya. Puasa mutih, sekaten, tikarat, dan masih banyak lagi adalah gambaran budaza Jawa yang telah berasimilasi dengan Islam tetapi masih menunjukkan betul aura aslinya.

Reinkarnasi, mengupas keindahan budaya & filosofi Jawa, mau tidak mau harus berinteraksi dengan pusaka, sejarah, mitologi yang notabene berinteraksi dengan dunia mistik dan alam ghaib. Di sisi lain Reinkarnasi pun ingin mengakhiri dimensi mistik dalam budaya Jawa.

Reinkarnasi : hanya untuk orang Jawa?

Tidak. Mas Jamal berpendapat, salah satu sisi negatif otonomi daerah adalah masig-masing daerah kemudian ’mengabaikan’ ciri khas budaya lain dan lebih cenderung mempelajari budaya sendiri. Hal ini berbahaya bagi negara kesatuan RI. Masuk akal juga, mengingat mempelajari budaya sendiri sudah sangat susah (karena sudah cukup lama ditinggalkan, dianggap tidak dinamis dan sesuai dengan kultur zaman ini), apalagi mempelajari budaya daerah lain! Membaca Reinkarnasi dapat menjembatani orang di wilayah manapun untuk memahami budaya Jawa dari kacamata sastra.

Ingat bukan, apa kegunaan sastra dalam kehidupan manusia? Sastra memperhalus sebuah makna/hakekat/peristiwa agar intisarinya dapat sampai dengan mudah kepada pembaca. Mempelajari budaya masa lampau mungkin terasa berat dan sudah tidak sesuai zaman alias jadul, hanya cocok untuk mbah-mbah. Prasasti, keraton, serat Kalatidha, Ranggawarsito…duh, susahnya mempelajari mereka. Dengan sastra –Reinkarnasi, misalnya- pesan sampai lebih mudah kepada anak-anak, remaja, dewasa, ibu, bapak, buruh, karyawan, mahasiswa, rakyat jelata, bansgawan….siapapun agar setiap manusia Indonesia kembali pada jatidiri bangsannya yang agung. Para pendahulu kita adalah orang-orang ksatria, pemberani, welas asih. Orangtua yang penyayang, anak-anak yang penuh hormat, para sesepuh yang bijaksana, pejabat yang mengayomi, pekerja yang mengabdi, guru yang mumpuni & ikhlas, murid yang ta’dzim. Pedagang yang jujur, pembeli yang santun, prajurit yang mulyo. Kemana perginya semua kearifan lokal ini? Ketika Islam demikian mudah berinteraksi dan berasimilasi dengan budaya kita dimasa lampau, semua cair dan lebur; mudah teraduk & menyublim karena sama rasa. Sama bentuk. Sama sejati. Sama mulia, unggul, keutamaannya.

 Orang-orang non Jawa baik Sumatera, Kalimantan Sulawesi, Bali, NTB semoga dapat memahami citaras keindahan , keunikan keluhuran budaya Jawa yang semakin memperkaya khazanah pengetahuan; semoga membangkitkan kecintaan pada negeri ini. Yakinlah; budaya Sumatra, Bali, Kalimantan, Lombok, Sulawesi dsb menyimpan ciri khas dan keunikan yang luarbiasa indah untuk dapat dipelajari.

Prof. Dr. Abdul Mujib M.Ag said….

Guru Besar Psikologi Islam ini adalah Dosen Mata Kuliah Psikologi Islam; Psikologi Kepribadian Islam; Psikologi Dakwah dan Psikoterapi Islam. Staf Pengajar pada Fakultas Psikologi UIN Jakarta, Fak. Psikologi-Pendidikan Univ. Al Azhar Indonesia; Psikologi Univ. Paramadina; dan Pascasarjana Kajian Islam dan Psikologi PSTTI Univ. Indonesia. Pendidikan S1 Tarbiyah IAIN Malang; S2 Pendidikan Islam IAIN Padang; S3 Kajian Islam UIN Jakarta. Penulis beberapa buku dan jurnal ilmiah tentang Psikologi Islam. Kini menjadi Dewan Pakar Asosiasi Psikologi Islami (API) dan Dewan Ahli Ikatan Mahasiswa Muslim Psikologi Indonesia (Imamupsi)

“saya appreciate dengan karya mbak Sinta,” ungkapnya.

 Beliau lebih menghimbau para peserta untuk berani tidak hanya mengupas karya, tapi juga mulai berkarya. Secara khusus pak Mujib memberikan wacana tentang Reinkarnasi dan memberi sekelumit Psikologi Islam. Saya sendiri baru tahu masalah lengkap Reinkarnasi di belahan dunia Timur dari beliau. Pendeknya, Reinkarnasi dikenal di seluruh agama Timur(kecuali Islam tentunya). Tentang Reinkarnasi ini insyaAllah saya kupas di tulisan yang lain.

Ilmu yang saya dapat….. tiap kali bedah buku, tiap kali mengisi acara, sayalah yang tambah kaya. Bayangkan, mendapatkan ilmu tentang ”Logika Cerita” dari mas Jamal D. Rahman, Reinkarnasi dan seluk beluk Psikologi Islam dari Prof.Dr. Abdul Mujib.

 ”Nih, saya beri inspirasi supaya kalian bisa menulis menyaingi Reinkarnasi,” jelas pak Mujib menjelaskan powerpoint. Beliau menyampaikan A-Z tentang ’kelahiran kembali’ dan sedikit tentang alam ruh. Wah, langsung sebuah ide cerita berkelebat….ide yang mungkin saja merupakan sekuel dari Reinkarnasi! (hmmm…ide ini rahasia, tetapi adik-adik FLP Ciputat pasti sudah mencatatnya!) Ternyata, kita bisa mengupas tema cerita tentang dunia supranatural dari sudut pandang yang menarik dan menambah wawasan : budaya Jawa, budaya daerah lain, sejarah, pusaka, alam ghaib (sekalipun ini harus dipadu dengan Quran & Sunnah). Jadi berbicara tentang dunia supranatural baik novel atau film tak melulu bicara mengenai pocong (1,2,3….), kuntilanak (1,2,3..), hantu jeruk purut, hantu sana sini, paku kuntilanak, pocong perawan, jelangkung dll yang sejenis.

Dunia supranatural bukan hanya setan gentayangan kan? Ada yang sangat berharga untuk dituliskan tetnang dunia supranatural : kedudukan alam ghaib, alam kubur, mimpi, alam barzakh dsb. Semuanya bisa diselaraskan dengan sudut pandang Islam yang mencerahkan. Ayo, siapa yang mau menulis tentang alam supranatural?

Berapa Tahun yang Dibutuhkan untuk jadi Penulis?

Berapa tahun dibutuhkan untuk berhasil dalam dunia kepenulisan?

‘Berhasil’ punya definisi bermacam-macam, secara materi cukup baik sandang, pangan, papan (plus kebutuhan lain yang tidak termasuk 3 itu tapi sangat mendesak : kendaraan, laptop, hape!, tabungan). Intinya, pencapaian materi.

Berhasil ada pula yang mengukurnya dengan waktu.

Pernikahan yang melewati angka 5, 7, dinyatakan berhasil (bagaimanapun ruwetnya ). Perusahaan yang melewati angka 5, 7 dinyatakan berhasil apalagi jika melewati angka 10-15 tahun, sebab konon kabarnya semua krisis termasuk krisis moneter berulang tiap satu decade. Pedagang yang bisa tetap eksis dan konsisten dengan produknya 5, 7 bahkan lebih juga akan menuai keberhasilan.

What about writer? Di titik mana ia menyatakan dirinya berhasil? Ketika bukunya best seller, terjual jutaan copy, bukunya laris manis? Ketika jumlah buku yang ditulisnya mencapai lebih dari 50 judul? Ketika bukunya difilmkan? Ketika bukunya meraih banyak penghargaan dan pujian dari para kritikus dan resensor?

Ada baiknya saya menceritakan histories kenapa saya menulis.

Manusia tidak boleh melupakan sejarah , belajar dari sejarah, mengevaluasi dari sejarah, bisa menimbang sejauh mana keberhasilan suatu kaum jika sudah dibandingkan dengan sejarah. Secara teknologi kita memang jauh lebih maju disbanding jaman untanya Rasul Saw tetapi secara moral kita bahkan meloncat memasuki zaman Nabi Luth, dan Nabi2 dengan kaum yang dibinasakan.

Baik, kembali pada histori menulis. Awalnya, saya jenuh menjadi ibu rumah tangga. Alhamdulillah, saya punya ibu yang luarbiasa yang selalu bilang “…Sinta, kamu itu punya potensi! Jadi ibu rumahtangga nggak melulu hanya urusan domestic kan?” Saya suka menjahit dan memasak kue. Hampir semua baju Inayah –putri I saya- gaunnya saya buat sendiri. Tiap kali teman-teman lihat mereka bilang “ bagus banget! Mbak Sinta bikin butik saja.”

Saya bercita-cita punya usaha garment, konveksi, butik, termasuk mengembangkan kesukaan saya pada patchwork. Saya punya mesin jahit dan kepekaan untuk mengkombinasikan kain-kain. Selain hobi menjahit, saya juga hobi bikin kue. Kue-kue saya titipkan ke pasar dan menghasilkan penghasilan yang luamyan. Saya dan adik saya, Erisa Kurnia Nanda, berencana bikin toko roti muslimah berlabel hala karena kami sama-sama suka masak dan makan! Bikin butik apa toko roti ya? Baju apa kue? Pakaian atau makanan? Nanda tetap suka bikin kue , terkenal enak dan selalu laris manis di kalangan teman-teman dan tetangga. Ini dilakukannya sambil kuliah dan kerja, kadang dilakukan ketika malam larut. Sayapun juga begitu, bikin kue saat anak-anak sudah tidur.

Tapi…saat punya anak 3 saya repot bukan main. Gak bisa bikin baju, gak bisa bikin kuet.

Akhirnya ada mesin ketik nganggur, jadilah saya corat coret dan ketik mengetik. Tahu nggak cerita saya pada awalnya yang dikirim ke Annida dan dimuat?

 • Langkah Awal, cerita tentang gadis manja yang memulai usaha

 • Gaun Biru, cerita seorang ibu rumahtangga yang kepingin bikin gaun tapi gak punya duit akhirnya bikin dari bahan seprei

• Jalinan Kasih Yang Terkoyak , juara II LMCPI Annida, setting nya Aceh (saya pernah ikut suami di Medan),dsb cerita saya nggak jauh-jauh dari kue dan baju!

Mana yang lebih dahulu melaju, itu yang saya pilih!

Ternyata menulis membuat saya kembali mencintai hobi yang sempat agak lama tertinggal : membaca dan mengkliping koran. Akhirnya saya meninggalkan cita-cita membuat butik dan bakery, lalu beralih profesi jadi penulis.

ADA TANTANGANNYA?

Ups, tentu ada. Saya sudah merintis bisnis jahit menjahit cukup lama demikian pula modal bikin kue. Memulai menulis dari awal seperti belajar merangkak lagi. Pertanyaan yang muncul :

1. Saya mau menulis cerita apa? Anak , remaja, dewasa?

2. saya mau bikin cerpen atau novel, atau cerita bersambung?

3. saya mau kirim ke mana sih, media Islam, nasional atau mau diterbitkan oleh penerbit?

 ……………..dalam perjalanan menulis, ah, bikin kue langsung sorenya terima duit. Bikin tulisan, kapan terima duitnya? Sebetulnya saya bakat nulis nggak sih? Setahun, dua tahun nulis, masih mau diteruskan apa nggak? Apa saya banting stir lagi jadi pengusaha seperti yang dari dulu saya impikan?

YANG PERTAMA DITULIS ….. Kumpulan Cerpen! Kenapa? Karena cerpen-cerpen itu kalau tidak dimuat di majalah atau media massa, bisa dikumpulkan dan dikirim ke penerbit. Nakal ya! Lagipula, bikin cerpen aja banyak-banyak 15-20, nanti diedit dan dipilih penerbit. Sisanya (kadang sisa 5 atau 7) kita tambahin lagi cerpen2 dan dikirim ke penerbit lain. Kumpulan cerpen yang pertama Cadas Kebencian, buku favorit saya, diterbitkan MIZAN. Kumcer ini mengokohkan niat bahwa saya MUNGKIN ada bakat di dunia kepenulisan. Masih mungkin lho…saya masih belum yakin ternyata;-(

Lalu saya mulai kenal mbak Asma Nadia. Beliau memasangkan dengan mbak Izzatul Jannah di Gadis Diujung Sajadah. Saya juga mengirimkan Kuntum-kuntum Bunga, Alhamdulillah diterbitkan oleh FBA Press, penerbit di Jakarta yang sekarang sudah gulung tikar.

Kapan ya pertama kali nulis? Oya, 2002. Akhirnya saya getol nulis, kirim kesana kemari, ditolak. Ada yang diterbitkan dengan revisi dll. Tentang liku2 menulis…nanti saja ya. Nah, ternyata selama tahun-tahun perjalanan itu saya masih dikejar pertanyaan : aku ini benar-benar mau menghabiskan umur dengan jadi penulis atau apa sih? Aku ini sebetulnya mau nulis apaaaa? Maka jadilah kutu loncat.

Menulis Kumcer.

Menulis cerita remaja.

Menulis cerita anak

Menulis non fiksi

Menulis novel.

Menulis antologi, keroyokan bareng teman-teman.

DI TITIK MANA AKU SEKARANG? Aku bingung dengan dentitas kepenulisanku lalu bertemulah aku dengan FLP (anugerah Tuhan untuk bangsa Indonesia –kata Taufik Ismail). Aku bertemu teman2 FLP Yogya : Ganjar, Jazimah, Iwul, Prima, Lilo, bunda Kun, mbak Koes, Zen, Aries. Juga teman-teman FLP lain. Semoga Allah SWT memberkahi Ganjar yang menitipkan pesan yan gmembakar semangatku : ”……mbak Sinta kayaknya konsen aja di fiksi sejarah. Bagus tuh nulis di situ.” Aku memang habis memenangkan lomba GIP sebagai juara I, Singa-singa di Padang Kekuasaan yang terbit dengan judul Sebuah Janji. Ucapan Ganjar membakar semangatku. Pertemuan dengan adik2 FLP memacuku. Ooooh, ternyata jadi penulis itu penting ya? Aku mulai merasa luwes menulis setelah 3-4 tahun. Pertama kali pindah ke Surabaya, aku menemukan Lafaz Cinta di Toga Mas. Aku bangga dan bahagia sekali ketika melihat covernya yang spesial. Waaah, aku sekarang beneran jadi penulis ya ? (Itu lagi pikiran konyol!) Pertemuan dengan mbak Helvy di ITS memacu kembali adrenalinku. ”Sinta, Lafaz Cinta mbak Helvi rekomendasikan jadi bahan bacaan anak2 sastra. Tapi kok ceritanya masih dangkal ya? Padahal kamu masih bisa lebih tajam, lebih dalam menceritakan.”

LEBIH TAJAM, LEBIH DALAM, LEBIH BAGUS…ITU SEPERTI APA? Semoga Allah SWT memberkahi pula mas Dul Mizan (sekarang dah nggak disana). ”….mbak Sinta coba baca Perempuan Suci –Qaisra Shahraz dan Taj Mahal-John Shors. Pelajari.” Aku memburu buku itu di Islamic bookfair. Aku juga menemukan Samarkand- Amin Malouf dan buku-buku lain. Aku baca berulang-ulang. Aku tersesap. Aku terpana. Ow, jadi menceritakan tokoh itu seperti Jahanara dan Isa, seperti Umar Khayam ya? Ow, jadi setting tentang Benteng Merah itu penggambarannya seperti itu ya? Ow, ternyata karakter Umar Khayyam dan Hassan Sabah itu penggambarannya begitu ya? Ow, ternyata buat plot, alur itu begitu rumitnya ya? Ow, konflik Khondamir, Aurangzeb, Dara itu demikian tajam menikam dan meninggalkan jejak di benak pembaca ya? Ow, ….ternyata….aku masih jauuuuuh…dari seorang penulis! Aku masih pembelajar!! Armanusa, Lafaz Cinta, Rival-rival istri dsb ..BELUM APA-APA. Padahal aku sudah lebih dari 5 tahun menulis, sekarang sudah 7 tahun malah. Kapan sih aku benar-benar berhasil jadi penulis?

…………..7 TAHUN KEMUDIAN BEP : Break Even Point 3 tahun. Perusahaan normalnya 3 tahun BEP, artinya modal harus kembali 3 tahun paling lambat . Kalau tidak, namanya rugi. Harus ganti haluan, harus ganti usaha dan pasar, harus ganti produk. 3 tahun jadi penulis sudah jadi apa? Royaltinya banyak, bukunya banyak? 7 tahun dari aku mulai memutuskan untuk benar-benar menulis Alhamdulillah hasil karyaku sudah diterbitkan 40 judul kurang lebih. Tetapi dari semua, tidak semuanya masterpiece. Lafaz Cinta menurutku cukup bagus, berikutnya The Road to The Empire dan Reinkarnasi Alhamdulillah lebih mendapat banyak apresiasi dari teman-teman. Artinya, 2 karyaku yang beelakangan dinilai cukup bagus bagi khalayak. Dibandingkan 40 judul yang lain, TRTE & Reinkarnasi memang menguras semua energiku. Energi doa, energi berpikir, energi kantong (referensi butuh biaya besar), energi2 yang lain. Apa buu2 ku yang digarap seenaknya? Tidak juga. Tapi belajar memang butuh waktu. Belajar membutuhkan kesabaran. Di atas segalanya belajar membutuhkan keikhlasan.

Maka aku teringat dialogku dengan suamiku suatu hari

”Lafaz Cinta best seller, Mas. Aku diminta menulis yang semacam itu lagi. Bagaimana?” ”Menurut Inta bagaimana?” (suamiku sampai 15 tahun menikah masih suka memanggilku dengan nama kecilku –Inta)

” Inta pingin nulis Takudar yang ke 3, sekalipun yang ke 1-2 jeblok di pasaran.” ”Memang kenapa pingin nulis itu?”

Aku merenung, tiap kali diskusi ini bolak balik menangis.

”…soalnya Inta terkesan sekali sama Takudar, sama kaisar2 Mongolia yang muslim. Sama Iskandar Beg. Sama Thariq bin Ziyad. Pokoknya sama para pejuang muslim yang bijaksana dan mulia.”

 ”Ya sudah, kalau gitu nulis Takudar lagi aja, Takudar 3.”

”Tapi…yang ini belum tentu laku di pasaran. Kalau sekuel Lafaz Cinta pasti best seller lagi. Royaltinya lumayan. Mas gak papa Inta gak bisa menyumbang royalti buat keperluan rumahtangga kita?”

 “Sudahlah, pakai gaji Mas saja apa adanya. Menulis Takudar saja sebagai ladang da’wah.”

“Tapi….gak papa Mas? Menulis Takudar setahun, royaltinya belum tentu, di pasar belum tentu laku. Beranti kalau Inta menulis Takudar lagi siap-siap 3 tahun ke depan gak punya royalti memadai?”

“Iya..sudah gapapa. Nulis Takudar aja buat da’wah. Urusan nafkah biar Mas aja, Inta yang penting nulis.”

Begitulah embrio The Road to The Empire dan Reinkarnasi. Ditulis dengan keringat dan airmata. Airmata karena aku terlanjur mencintai Takudar, sang pejuang yang rela melawan arus demi mengobarkan kebenaran. Airmata karena saat aku menulis Takudar lewat tengah malam, aku berdoa pada Robbku : “….ya Allah, Kau Maha Tahu, aku menulis Takudar ini karena ingin menuliskan kebaikan. Ini bukan novel laris yang diminati banyak orang tetapi Engkau Maha Kaya. Bukan penerbit yang memberiku rezeki melalui royalti. Engkau yang Memberi Rezeki orang-orang yang berjuang di jalanMu. Aku minta rezeki padaMu, aku minta uang padaMu, aku minta bantuan dan kecukupan dariMu.”

Tiap hari aku berdoa : Ya Allah barakahilah The Road to The Empire. Barakahillah Reinkarnasi. Bantu aku menyelesaikan sebaik-baiknya naskah Existere yang tengah kutulis. Jadikan buku-buku hamba barakah, best seller, mencerahkan bagi siapa saja yang membacanya. Ya Allah, Bantu aku agar amanah sebagai istri, ibu, penulis, mahasiswa, ketua FLP Jawa Timur.

 Sekarang aku adalah pembelajar. Aku masih belajar sebagai seraong istri & ibu, aku masih belajar untuk jadi penulis yang baik, akumasih belajar untuk jadi manager yang baik, aku masih belajar menjadi manusia yang baik. Bukankah belajar itu dari buaian sampai liang lahat?

Ramadhan hari ke 5, 1430 H

Hartaku : Anak-anak & Kliping koran

Tak terasa sudah 2 tahun kami tinggal di Surabaya. Sebelumnya, kami tinggal di kota Tegal, suatu wilayah karesidenan di Jawa Tengah. 2 tahun yang lalu kami mengontrak, tahun ini masih mengontrak juga;-).

Banyak yang tanya, sudah 15 tahun nikah kok belum punya apa-apa? Suaminya kan kerja di kantor pajak? Dalam benak kebanyakan masyarakat, pegawai kantor pajak memang kaya-kaya. Rumahnya banyak, tanah bertebaran, mobil gonta ganti, jalan-jalan ke luar negeri, belum lagi barang elektronik yang dibeli ibarat beli semangkuk bakso.

Aku? Rumah masih mengontrak, mobil belum punya. Miskinkah aku? Kalau tolok ukurnya harta benda, mungkin ya. Tapi jika dilihat lebih jauh lagi, aku sangat kaya! Bayangkan, aku punya 4 orang anak yang sehat yang hingga kini masih diberikan oleh Allah SWT nikmat kebugaran dan kecerdasan. Ibuku pernah berpesan,”…suami kamu pegawai negeri. Nggak usah ngiler lihat punya orang lain. Yang penting investasi ke anak berupa kesehatan dan pendidikan. Kelak, anakmu itu yang akan menggantikan peran orangtuanya.” Selama 15 tahun menikah kami memang berpindah tempat beebrapa kali. Pertama kali di Medan sekitar tahun 1994-1998. Lalu suamiku ikut pendidikan ajun khusus akuntan di Jurangmangu, ditempatkan berikutnya di Yogyakarta. Kami tinggal di Yogyakarta kurang lebih 1 ½ tahun. Selanjutnya suamiku diterima pendidikan DIV di STAN, aku ikut pindah ke Jakarta. Usai pendidikan, berikutnya lalu penempatan di Tegal. Setelah 4 tahun di Tegal, kami pindah agi ke Surabaya sebab suamiku dimutasikan ke KPP Jagir Wonokromo. Kalau dihitung-hitung 5 kali kami boyongan dari satu tempat ke tempat lain. Ketika tabungan mulai terkumpul, kami harus pindah ke tempat lain yang notabene menghabiskan banyak biaya. Biaya pindah rumah, pindah sekolah anak-anak, rumah kontrakan baru, dan biaya tetek bengek yang lain. Maka dari itu, jika dilihat dari kepemilikan harta kami nyaris tak punya apa-apa.

 Tetapi Alhamdulillah, Allah SWT memberikan 4 anak yang merupakan harta luarbiasa. Membesarkan anak itu bukan perkara murah lho. Mobil dan rumah mungkin bisa dibeli dengan tabungan 300-500 juta. Tapi anak butuh ’harga’ yang lebih dari itu. Biaya sekolah, biaya kesehatan, biaya rekreasi, biaya pulang kampung, biaya baju-baju dsb yang tujuan utamanya meng up grade anak-anak agar kelak siap jadi generasi platinum. Begitulah, aku menganggap keluarga kami tak punya banyak harta.

 Tapi…. pas pindah rumah kontrakan baru, kok barangku buaaanyaakkk ya? Apa saja sih harta bendaku? Selain barang rumah tangga ala kadarnya, televisi sudah rusak tombolnya karena dipencet-pencet puluhan kali dalam sehari, VCD player, mesin cuci yang sudah usang, kulkas yang pintu freezernya ambrol akibat banyak tangan buka-tutup-buka-tutup. Dua sepeda motor, empat sepeda mini, mainan dinosaurus, laptop yang menemaniku sekian lama untuk menghasilkan karya-karya tulis. Meja, lemari, kursi, warisan dari orangtua. Baju-baju dan of course, buku-buku yang kami kumpulkan bertahun-tahun. tetapi yang membautku surprised adalah puluhan kotak yang berjajar bertumpuk di teras rumah menjelang kami move ke rumah baru. Ternyata, puluhan kotak-kotak yang membuat para tukang capek bukan main itu isinya adalah…..koran!! Yup, betul sekali. Sudah bertahun-tahun aku begitu mencintai dunia kliping mengkliping yang seolah tak tergantikan oleh kemudahan internet. Mengumpulkan berita hari demi hari membutuhkan kesabaran dan ketelitian tersendiri, dan hobbi yang mengasyikkan. Inilah berita yang kukliping sejak tahun 2000an :

1. Dunia Islam . Aku punya kliping banyak tentang Afghanistan, Iran Irak, Chechnya dan tentu saja…Palestina. Bahkan kukumpulkan berita dari beragam koran saat Israel menginvasi Palestina, berikut foto-foto dramatis yang membuatku bisa menangis. begitupun ketika Amerika menginvasi Afghanistan, Chechnya ketika berjuang melawan Rusia. Kliping ini mendasari kisah epikku ”Kamerad Mikail” dan ”Di Ujung Kota Jerash.” Kronologis pembunuhan Benazir Bhutto pun aku punya.

2. Berita Internasional Berita ini bermacam-macam. Kukumpulkan yang kuanggap menarik seperti hubungan bilateral antar negara, peristiwa-peristiwa perang, kejadian yang penting bagi sebuah negara seperti krisis ekonomi dan persaingan Obama Mc Cain di masa pemilu AS yang lalu. Tak lupa perjalanan wisata mancanegara mulai Petra, Vatikan, Den Haag hingga Mesir dll.

3. Berita Dalam Negeri Antasari, PSK, dunia pesantren, tsunami Aceh, Situ Gintung…warna-warni Indonesia. Tak lupa tempat-tempat indah di Indonesia seperti Lombok, Pulau Seribu. Rubrik Wisata atau Perjalanan di akhir pekan akan kusisihkan sebagai bahan tambahan referensi cerita, atau jika suatu saat nanti aku berkesempatan berkunjung ke luar negeri 

4. Kesehatan Ada koran yang menyuguhkan rubrik medika secara khusus, ada yang tergabung dalam rubrik iptek. Dari sini aku mengumpulkan artikel tentang lupus, sindrom kawasaki, kusta, alergi termasuk penemuan-penemuan terbaru di dunia paramedis.

5. Ilmu Pengetahuan Rubrik kecil Geoweek di akhir pekan rajin kukumpulkan. Beritanya singkat dengan gambar yang berwarna warni, menambah kahzanah pengetahuan. Artikel tentang atom ’partikel Tuhan’ hingga penemuan planet2 baru dan dunia jauh di luar tata surya termasuk artikel yang kugemari.

6. Keluarga Tips tentang karier, bagaimana menjadi orangtua yang baik, bagaimana menata rumah, memilih perabot (sekalipun belum bisa kubeli), resep-resep tradisional dan modern juga kusisihkan. Rubrik Muda dan Anak-anak yang berwarna-warni juga bagus untuk dibaca anakku atau aku sendiri

7. Kartun –kartun : Beni & Mice, kartun Suroboyoan dengan bahasa-bahasa unik (cak, ae, lapo, gak, mari),dsb.

8. Sastra meliputi cerpen, cerita bersambung, puisi-puisi, kritik dan artikel sastra.

9. Dan…..favorit klipingku adalah :

 Dialog Jumat ( Republika)

 Khazanah yang banyak mengupas ilmuwan muslim(Republika)

 Islamic Digest (Republika)

 Fokus dan Teropong (Kompas)

  Kehidupan (Kompas)

 Khusus Deteksi(Jawa Pos) dikliping anak gadisku Inilah harta berhargaku yang membuat rumahku penuh dan para tukang ngos-ngosan ketika pindah rumah! Jumlahnya sekitar 25 kardus!

Bolehkah siswa SD dan SMP membaca The Road to The Empire?

            Ketika beberapa waktu yang lalu JSIT SMPIT (Jaringan Sekolah Islam Terpadu- Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu) se Jawa Timur akan menggelar olimpiade dengan salah cabang lomba “ lomba resensi” , panitia dan para guru bertanya-tanya apakah buku yang pantas dihadirkan untuk dibaca oleh para siswa SMP?

            Saya sendiri bukan panitia, tentu saja.

            Lalu seorang panitia menghubungi , menanyakan kesediaan saya untuk menjadi salah seorang juri resensi novel TRTE- The Road to The Empire . Tentu saja senang dan gembira novel tersebut akan diapresiasi. Tetapi beberapa waktu kemudian muncul keraguan, beberapa guru protes dengan muatan TRTE : apakah novel tersebut pantas untuk anak SMP?

            Penasaran dengan ’protes’ para guru, saya memburu teman FLP yang betul-betul anak sastra UNAIR . Kebetulan ia juga menjabat sebagai ketua FLP Surabaya, namanya Aferu Fajar Nadhari. Dengan Veroe –sapaan akrabnya-, saya banyak berdiskusi.

            Di luar negeri, novel sejarah ternyata dibaca bukan hanya oleh orang dewasa dan para peminat sastra saja. Remaja pun banyak menyukai genre fiksi ini, bahkan, anak-anak SD pun terbiasa membaca novel sejarah.

            Masa sih?

            Saya cari di internet memang belum menemukan jawaban pasti. Tetapi tentang minat baca bangsa Indonesia terutama anak-anak & remaja memang sangat memprihatinkan.

Secara membanggakan , Indonesia  dianggap menjadi model untuk pemberantasan buta aksara di kawasan Asia Pasifik. Penilaian itu diberikan United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Sejak 2007, buta aksara di Indonesia turun 1,7 juta orang, menjadi 10,1 juta. Sekitar 7 juta di antaranya perempuan. Sukses program pemberantasan buta aksara antara lain berkat dukungan 59 perguruan tinggi negeri dan swasta di berbagai daerah di Indonesia. Jendela dunia terbuka makin lebar bagi mereka yang melek aksara.

Namun, angka tadi tidak seiring dengan hasil survei UNESCO yang menunjukkan minat baca kita sangat rendah. Dua tahun lalu kita yang paling rendah di kawasan Asia. Sementara itu International Educational Achievement mencatat kemampuan membaca siswa Indonesia paling rendah di kawasan ASEAN. Kesimpulan itu diambil dari penelitian atas 39 negara. Indonesia menempati urutan ke-38. Dua hal itu antara lain menyebabkan United Nations Development Program (UNDP) menempatkan kita pada urutan rendah dalam hal pembangunan sumber daya manusia.

Kenyataan-kenyataan tadi membuktikan, melek aksara tidak menjamin peningkatan kemampuan maupun minat membaca. Kita perlu prihatin. Tanpa minat baca, dari mana kita bisa memperoleh ide-ide segar dan baru? Dilihat dari jumlah penduduk kita dan jumlah harian yang beredar tiap hari, persentase bacaan koran amat sangat kecil. Seputar 1%? UNESCO menetapkan, sebaiknya 10%.

Masyarakat di negara-negara maju,  kegiatan membaca sudah menjadi bagian dari hidup. Membaca juga memberi hiburan. Sistem dan fasilitas dibangun untuk mendukungnya. Begitu bertimbun bacaan-bacaan yang padat makna sejarah, makna ilmiah, atau padat nilai-nilai kemanusiaan, moral dan spiritual, maupun hiburan, sehingga masyarakat tinggal memilih sesuai selera. Membaca sudah menjadi bagian dari gaya hidup mereka.

            Kembali pada novel sejarah, bolehkan siswa SD membaca The Road to The Empire? Semua tergantung dari pihak orangtua. Memang ada bagian yang kurang pantas diketahui anak-anak seperti ketika Arghun menodai Almamuchi sekalipun, saya pribadi mencoba sehalus mungkin menggambarkan bagaimana peristiwa tersebut.

            Lalu kenapa harus terselip kasus penodaan?

            Jika kita membicarakan peristiwa perang yang kejam, maka disitu selalui disertai pelecehan terhadap anak-anak dan perempuan. Kasus Bosnia, Chechnya, Palestina, Vietnam dan masih banyak lagi gambaran peristiwa peperangan di dunia selalu diiringi pelecehan seksual. Bahkan di film Turtles Can Fly, peristiwa penodaan tersebut demikian tragisnya hingga si korban pada akhirnya memutuskan untuk commit suicide, meninggalkan bayi dan kakaknya yang cacat.

            Dalam TRTE tentu saya usahakan peristiwa itu muncul sehalus mungkin, bukan karena target pembacanya anak-anak & remaja, tetapi karena sebagai penulis saya merasa bertanggung jawab secara moril untuk tidak makin ’menjerumuskan’ tetapi ’mencerahkan’.

            Kalau dirasa anak SD belum mampu membaca TRTE, silakan saja dilewati. Tapi alangkah bagusnya jika para orangtua membaca dan kemudian menceritakannya dalam bentuk dongeng sebelum tidur. Menurut Kak Seto Mulyadi, saatnya kini para orang tua perlu memainkan peran untuk menumbuhkan kembali minat baca pada anak-anak.Caranya bisa dengan membacakan cerita dongeng kepada anak-anak baik pada saat menjelang tidur, atau pada waktu senggang. Menurut praktisi ’home schooling’ yang juga Ketua Umum Asah Pena (Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif Indonesia) ini, bercerita atau membacakan buku cerita untuk anak memiliki banyak manfaat.

Manfaat tersebut, di antaranya meningkatkan kemampuan konseptual, mendengar, berbahasa, berkomunikasi verbal dan memecahkan masalah.

Mengapa bacakan cerita sangat efektif ?

Otak manusia merupakan organ tubuh yang dipakai untuk belajar. Pondasi yang terbaik untuk belajar membaca adalah kata. Kata-kata merupakan materi yang penting dalam belajar membaca. Dua cara efisien untuk memasukkan kata-kata kedalam otak adalah melalui mata dan melalui telinga. Diperlukan waktu lebih lama oleh mata untuk bisa pergunakan membaca oleh anak, tetapi telinga dapat lebih cepat dipergunakan untuk membentuk pondasi belajar membaca.

Apa yang kita perdengarkan ditelinga anak berubah menjadi pondasi terbentuknya otak seorang anak. Deretan suara-suara yang mengandung arti yang masuk melalui telinga kecil seorang anak ternyata dapat membantu anak merangkai kata-kata yang dilihat kemudian hari ketika anak belajar membaca.

Alasan perlunya membacakan anak cerita sama dengan sama dengan alasan mengapa kita harus berkomunikasi dengan anak, yaitu to reassure, untuk mendekatkan diri dengan anak, untuk menghibur, untuk memberi informasi dan menerangkan, untuk meningkatkan keinginan tahu dan menginspirasi anak. Dengan membacakan cerita, anak juga memperoleh :
- Asosiasi membaca dengan hal-hal yang menyenangkan
- Pengetahuan
- Tambahan perbendaharaan kata
- Role model

Jika anak-anak kita yang masih SD tidak diperkenankan membaca langsung TRTE, saran dari kak Seto dapat digunakan. Menceritakan para pejuang Islam yang heroik, tak mudah patah semangat, berbudi luhur, berbakti pada orangtua dan mencintai sesama adalah nilai yang harus kita tanamkan kepada anak-anak sedari bayi hingga kelak mereka dewasa nanti. Menceritakan bagaimana pahit perihnya Takudar menjalani hidup yang semula bergelimang kemewahan lalu kemudian harus hidup dalam kesulitan, semoga tertanam dalam benak anak-anak kita bahwa demikianlah hidup. Suatu masa gemerlap, suatu masa gelap. Anak-anak harus dikokohkan bahwa bagaimanapun besar badai menghadang, mereka harus tetap berada di jalan kebenaran.

Bagaimana dengan anak-anak SMP?

            JSIT SMPIT telah membuktikan bahwa anak-anak SMP ternyata bisa mengabsorpsi cerita sejarah dengan baik. Bukan hanya diminta meresensi, dalam babak final pun mereka diminta untuk tampil ke depan membawakan makalahnya disertai tanya jawab. Dengan tangkas mereka menjawab pertanyaan undian dari para juri yang menanyakan :

  • Siapakan Arghun?
  • Bagaimanakah sumpah Anda?
  • Dimanakah pertempuran antara Takudar dan Buzun?
  • Siapakah para sahabat Takudar, dsb.

Sempat timbul rasa was-was dari para juri –termasuk saya- jangan-jangan yang membaca gurunya, yang membuatkan makalahnya juga gurunya!

Setelah maju dan tampil ke depan, pertanyaan undian yang dipilih secara acak, tampaklah bahwa para siswa itu membaca betul-betul TRTE dari awal sampai usai. Ketika ditanya berapa lama mereka membacanya? Rata-rata menjawab : 5 hari!

Alhamdulillah. Semoga kegemaran dan semangat para siswa SMPIT di Jawa Timur yang mau melalap novel bergenre sejarah menandakan bahwa remaja kita sudah menyukai dunia literasi.

Lomba Resensi The Road to The Empire diundur 20 Juli 2009!Bersiap menanti Takudar yang berikut…

Lomba resensi yang seharusnya ditutup 30 Juni 2009 diperpanjang hingga 20 Juli 2009 . Diharapkan mereka yang mungkin ingin ikut tapi masih takut-takut, ingin ikut tapi belum dapat bukunya dapat punya waktu menarik nafas untuk kemudian bersiap mengikuti lomba. 

Banyak yang bertanya, nantinya Takudar itu akan menikahi siapa sih? Almamuchi, Karadiza, Tien Nien? Atau jangan-jangan malah menikahi Qaratai & Juz Jani?

Salah satu keuntungan penulis, dia bebas menentukan karakter dan jalan cerita tokohnya :-) . Tetapi tentunya penulis tidak asal begitu saja menentukan nasib cerita pelaku. Saya pribadi nggak suka dengan gaya cerita Cinderella, sang pangeran tampan bertemu puteri cantik lalu hidup happily ever after. Memang sih di tengah masyarakata senang melihat pemuda tampan berjodoh dengan gadis cantik, tapi begitukah hidup selamanya?

Bukankah ada Manohara yang cantik tapi berakhir duka?

Bukankah ada pesta meriah milyaran rupiah bak raja ratu tetapi kandas dalam keperihan?

Kadangkala seorang pangeran bahagia dalam pelukan perempuan sederhana ataupun perempuan cantik justru bahagia didampingi lelaki bersahaja yang sederhana, tak punya apa-apa. Sebab cinta tidak berbanding lurus dengan harta, tahta, fisik semata. Cinta juga tidak berbanding terbalik dengan kekayaan dan kekuasaan. Demikian kata pujangga tentang cinta :

“Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, karena kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan” (Kahlil Gibran)

Jangan katakan bahwa cintaku
Sebentuk cincin atau gelang
Cintaku ialah pengepungan benteng lawan
Ialah orang-orang nekat dan pemberani
Sambil menyelidik mencari-cari, mereka menuju mati.

Jangan katakan bahwa cintaku
Ialah bulan,
Cintaku bunga api bersemburan. (‘Ali Ahmad Sa’id-Anonis)

“Hatiku telah mampu menerima aneka bentuk dan rupa; ia merupakan padang rumput bagi menjangan, biara bagi para rahib, kuil anjungan berhala, ka‘bah tempat orang bertawaf, batu tulis untuk Taurat, dan mushaf bagi al-Qur’an. Agamaku adalah agama cinta, yang senantiasa kuikuti kemana pun langkahnya; itulah agama dan keimananku”  (Ibn Arabi)

Tapi kisah tentang takudar bukan hanya berisi kisah romantisme cinta.

Takudar juga perjuangan, keperihan pengorbanan, fitnah, kesendirian dan kesepian, beratnya duduk di atas puncak kedudukan manusia. Tetapi aku juga ingin menuliskan tetnang makna persaudaraan yang tidak hanya diikat oleh darah dan sumpah “Anda”, persudaraan yang diikat oleh cita-cita mulia dan kesamaan sudut pandang. Aku ingin mengungkapkan bahwa di belantara manusia yang kadang lebih jahat dan kejam dari iblis sendiri, masih ditemukan manusia berhati luhur yang siap berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan.

2 HALAMAN yang LUARBIASA !!

Banyak orang berpendapat bahwa resensi suatu buku sudah ‘dipesan’ oleh pihak-pihak tertentu agar sebuah buku nilai jualnya terdongkrak naik.

 

Benarkah demikian?

 

Tampaknya bangsa kita memang masih membutuhkan banyak stimulus untuk belajar bersikap kritis. Salah satunya lomba resensi. Kalau kita mencermati perkembangan literasi di dunia barat, orang berlomba-lomba mereview sebuah buku pasca terbitnya.

 

Resensi buku bukan hanya untuk mendongkrak penjualan.

Dalam teori sastra, resensi buku berfungsi sebagai partner untuk memahami sebuah karya. Kita pasti pernah membaca karya-karya Gothic atau karya yang cenderung menonjolkan sadisme dan sisi suram manusia (penindasan, perkosaan, kebohongan, dsb). Bayangkan jika karya tersebut terus muncul tanpa ada yang meresensinya. Resensi menjadi partner untuk mendampingi pembaca bagaimana memahami sebuah karya sastra. Resensi akan memberikan pendampingan kepada khalayak “….oh, buku ini bagus sekali sebagai karya sastra tapi nilai-nilainya tak sesuai budaya kita.”

Atau”…karya yang luarbiasa! Tapi sudahkah penulis mempertimbangkan efeknya bagi pembaca, terutama anak-anak?”

 

Resensi buku di Indonesia masih menjadi hal yang tak lazim, padahal banyak produk yang masih harus dikritisi. Novel, buku, antologi, guidance sampai komik. Ada yang sudah pernah meresensi komik-komik Jepang yang banyak dibaca anak-anak kita? Banyak isinya tak sesuai budaya bangsa (pakaian, ciuman mesra, adegan erotis lainnya).

 

Demikian pula novel The Road to The Empire.

Lebih mudah bagi penerbit untuk memasang iklan besar, full colour di majalah/ Koran, lalu menunggu hasil penjualan. Tetapi dalam beberapa hal, baik penerbit maupun penulis punya komitmen untuk tak hanya menjual buku tapi juga meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat khususnya generasi muda dan pelajar –mahasiswa.

 

Bagi yang sudah membaca The Road to The Empire pasti punya segudang tanya yang membekas : sejauh mana sejarah Islam punya kontribusi bagi peradaban dunia?

Jika tak ada orang yang meresensi atau mengkritik darya tersebut, maka penulis ( saya) akan tenang-tenang saja menulis sesuai keinginan tanpa orientasi. Tetapi resensi yang sudah masuk, kritik yang sudah tertuang, membuat penulis kembali dan terus berusaha memperbaiki diri misalnya ;

-         mengapa dalam novel tidak dicantumkan peta seperti dalam karya Lord of the Rings?

-         mengapa tidak dibuat karya tentang Jenghiz Khan terlebih dahulu sebelum sampai kepada Takudar?

-         mengapa penulis terkesan sangat mencintai budaya asing dibanding budaya bangsa sendiri?

-         dsb

 

Kritik dan resensi akan membuat penulis jauh lebih mawas diri. Demikianlah seharusnya dunia literasi di Indonesia : pembaca tercerdaskan, penulis meningkatkan kapasitas, resensi memperbaiki buku yang telah terbit dan akan terbit, penerbit makin selektif dalam artian bukan makin sulit menumbuhkan karya tapi penerbit juga akan mendampingi penulis dengan editor handal, ilustrator makin kreatif, pemerintah pun akan turut berperan meningkatkan daya baca masyarakat.

 

Tidakkah anda lihat, resensi yang hanya 2 halaman punya dampak yang luarbiasa?

Novel The Road to The Empire : karya Terjemahan?

Aku bertemu beberapa orang yang berpendapat, the Road to The Empire bukanlah karya asli orang Indonesia. Mereka terkaget-kaget ketika tahu bahwa penulisnya malah anak FLP (……tahu sendiri kan, FLP sering tidak dianggap menghasilkan karya sastra :-) ).

Lebih kaget lagi ketika kisah perang seperti itu ditulis oleh perempuan, berjilbab pula?…he…he… Waktu aku mengisi di Kampus UNTAG, mahasiswi di sana tidak percaya yang menulis The Road to The Empire itu aku….aduh, bagaimana membuktikannya?:-)

Kiai Faizi dai AnNuqoyah , Guluk-guluk, Sumenep yang membedah bukuku di Pamekasan beberapa waktu lalupun sempat tidak percaya aku yang menulis ceritanya. Sinta Yudisia dipikir bukan orang muslim juga, mirip-mirip nama agama Hindu (Waktu ibuku hamil memang sangat gandrung dengan Dewi Sintanya Ramayana. Bahkan katanya kalau tidak kesampaian akan diberi nama Sintosina-nama sejenis obat di masa itu karena ibuku seorang apoteker). Nama Sinta Yudisia memang terdengar kurang muslimah ya?

Untungnya setelah bertemu denganku Kiai Faizi yakin bahwa memang akulah yang menulisnya sebab aku bisa menyampaikan , kenapa aku terobsesi betul untuk menuliskan sejarah Mongolia beserta para bangsawannya yang pernah memeluk agama Islam. Moga-moga setelah ini , Insyaallah aku mau menulis Takudar yang berikutnya, orang-orang tidak meragukan lagi bahwa itu asli tulisanku. Sinta Yudisia. Orang asli Indonesia, muslimah berjilbab, anak FLP juga. Aku cinta sekali pada negeriku sehingga ingin menghasilkan sesuatu yang membanggakan bagi bangsa dan negaraku, juga agamaku :-)

Jangan lupa ikuti Lomba Resensi Novel TRTE!

Foto-foto acara di Kampus UNTAG, Bedah Buku Hi Pretty!

DSC00200  DSC00205   DSC00209  DSC00202

Bedah Buku Bedah Buku Hi, Prettty : Cantik dalam 30 hari!

Alhamdulillah tanggal 30 Mei kemarin aku diundang kampusku sendiri , UNTAG, oleh departemen keputrian untuk bedah buku Hi Pretty.

Sebetulnya aku diminta unutk mengisi tema kemuslimahan, apakah kecantikan itu? Sesuai buku Hi Pretty, cantik itu 3 B : Brain, Behaviour, Beauty. Perempuan di katakana cantik bukan karena fisiknya sekalipun fisik memang memegang peranan cukup penting dalam pergaulan sosial.

Beauty is a characteristic of a person, animal, place, object, or idea that provides a perceptual experience of pleasure, meaning, or satisfaction. Beauty is studied as part of aesthetics, sociology, social psychology, and culture. As a cultural creation, beauty has been extremely commercialized. An “ideal beauty” is an entity which is admired, or possesses features widely attributed to beauty in a particular culture.

Perlu digaris bawahi, bahwa kecantikan memang identik dengan kultur seseorang. Orang Eropa dikatakan cantik ketika ia berambut pirang, bertubuh tinggi, berhidung mancung. Orang Afrika dikatakan cantik bila bertubuh segar, bergigi putih, dengan rambut hitam keriting. Orang Asia (termasuk Indonesia) punya kecantikan khas berupa tubuh mungil, kulit kecoklatan (warna caramel lho, kata orang Perancis!), rambut hitam bergelombang, retina hitam. Orang Indonesia pastilah aneh bila berambut pirang, dengan retina biru, kulit diputihkan sementara kontur wajahnya (hidung, bibir, pipi, dsb) sangat Asia. Ketika sebuah produk kecantikan mau diluncurkan di Indonesia, mereka melakukan survey panjang. Setelah dirunut histories bangsa Indonesia yang telah dijajah Belanda 250 tahun, perempuan Indonesia yang merasa cantik hanya 1 %! Sisanya tidak merasa cantik dan ingin merubah seluruh penampilan mereka.

 Beauty is in the eye of the beholder The classical Koine Greek for beauty : the ripe of fruit

Orang Yunani kuno beranggapan cantik adalah seperti buah matang. Jadi gadis yang dalam keadaaan matang itulah masa tercantik. Sesungguhnya cantik adalah consensus, kesepakatan tidak tertulis, tidak dapat diklaim begitu saja oleh sekelompok orang yang mengatakan bahwa cantik haruslah puith, ramping, berhidung mancung.

 The characterization of a person as “beautiful”, whether on an individual basis or by community consensus, is often based on some combination of Inner Beauty, which includes psychological factors such as personality, intelligence, grace, congeniality, charm, integrity, congruity and elegance, and Outer Beauty, (i.e. physical attractiveness) which includes physical factors, such as health, youthfulness, sexiness, symmetry, averageness, and complexion.

Sekarang cantik sering dikaitkan dengan hal-hal komersial. Padahal kecantikan sesungguhnya adalah kecantikan yang memancarkan kelebihan seseorang apa adanya. Apa salahnya dengan seorang gadis yang bertubuh pendek, bulat, tetapi ia menguasai banyak bahasa? Apa salahnya dengan gadis berjerawat batu tapi ia sangat suka terjun di kegiatan sosial? Apa salahnya dengan gadis bertubuh ceking, berhidung pesek, berbibir ndower tapi punya kemampuan persuasif yang bagus sehingga bisa jadi psikolog handal, dimanapun orang merasa nyaman di dekatnya? Tentunya, bukan berarti kita mengabaikan masalah fisik. Seorang muslimah haruslah tampil segar, bersih, menarik, sehat. Merawat wajah dan tubuh harus dilakukan sebab tubuh yang fresh juga akan membawa percaya diri yang besar.

 Di buku Hi Pretty terselip pesan bahwa merawat kecantikan ala tradisional Indonesia yang murah meriah dapat dilakukan dan memperoleh hasil maksimal. Contoh : memutihkan kulit. Aku sendiri sudah mempraktekan dan hasilnya Subhanallah. Ambil bengkoang, parut, peras, endapkan. Pada endapannya yang berupa saripati seperti bedak dioleskan ke wajah dan leher. Rasanya dingin dan segar. Wajah jadi terlihat terang dan noda-noda pun menipis lalu hilang, ketika dilakukan berulang. Tomat pun begitu. Tiap kali mencuci tangan jadi keriput, kuoleskan tomat yang diremas-remas, kulit jadi segar dan halus sekali. Menjadi cantik tidak harus mengeluarkan biaya besar lho. Peserta menanyakan hal2 sebagai berikut : bagaimana bisa PD? bagaimana cara bergaul dengan cowok? bagaimana memasang foto di facebook? (…ada yang gak connect dengan materi memang :-) )

Masalah PD, kita bisa melihat di cermin apa kelebihan kita. Pasti ada! Yang namanya Sinta Yudisia itu berkulit gelap tapi punya lesung pipi (….haha). Tidak mungkin Allah SWT tak menitipkan satu potensi dalam diri kita, kan?

Resensi The Road to The Empire, catatan indah dari Kiai Faizi

IMG2134A

IMG2141A

  IMG2142A 

“Sejarah Rasa Fiksi : Sebuah Bacaan Pendamping The Road To The Empire.”

Kiai Faizi, M.Hum ( Pesantren AnNuqoyyah -Guluk-guluk, Sumenep)

 

 

            Novel, sekuat apapun data-data faktual yang dirujuknya, tetaplah menjadi karya fiksi. Karena itu, seseorang yang bersiap-siap membaca sebuah karya fiksi, sepatutnya ia juga menyadari bahwa  ia akan berhadapan dengan sebuah “ cerita yang tak ada”. Lalu, bagaimana dengan novel berlatar sejarah? Atau menyelip-nyelipkan elemen kesejarahan? Ya begitulah, ia tetaplah fiksi ; sesuatu yang tidak pernah terjadi tetapi mungkin pula terjadi.

Karya sastra akan tetap dibaca masyarakat , betapapun itu bukanlah hal yang nyata. Ini menyangkut selera nurani, bahkan naluri : bahwa manusia tidak selalu ingin yang nyata. Ia juga ingin imajinasi yang kaya.

Namun begitu, kelebihan novel yang ditulis berdasarkan data-data sejarah seperti novel The Road to The Empire karya Sinta Yudisia ini, adalah bahwa dalam sekali kesempatan, ia bisa menyuguhkan data-data faktual pada saat dia juga menyampaikan sesuatu yang tak nyata (fiksi).

Ada banyak alasan yang dapat diajukan menyankut novel sejenis ini; fakta yang diangkat terlalu riskan jika disajikan dalam bentuk aslinya (jurnalisme /nonfiksi) seperti kasus Timortimur dalam Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidharma; atau, penulis ingin agar sejarah yang disuguhkan lebih berkesan jika disuguhkan dalam fiksi ; ataupula menjadi upaya memperkenalkan data-data sejarah yang tidak terangkat , dan menganggap fiksi sebagai cara yang tepat memperkenalkannya pada masyarakat yang tidak begitu rajin membaca. Dalam posisi seperti ini , berada dimanakah Sinta Yudsiai? Entahlah.

 

 

*************

 

 

Novel merupakan genre sastra yang banyak dipilih kaum perempuan untuk berekspresi, mengingat semua penulis perempuan di tanah air yang saya ketahui memilih genre ini sebagai media tulisannya. Ini adalah asumsi awal. Selasih adalah orang peratama yang dikenal sebagai orang perempuan pertama yang menulis novel. Kalau Tak Untung , novelnya itu, dikemudian hari, menandai bermunculannnya keberadaan penulis-penulis perempuan Indonesia. Lambat laun, pelan tapi pasti, keberadaan mereka menyita banyak perhatian : baik secara kuantitas maupun kualitasnya.

Tengarai yang disampaikan oleh Korrie Layun Rampan (Kompas, 25/02/1996) bahwa menulis novel bukan menjadi pilihan perempuan-perempuan penulis di Indonesia. Dalam amatan saya, dimaksudkan untuk menunjukkan angka atau jumlah. Artinya, nama-nama seperti Fatimah Hasan Delais, Suwarsih Djojopuspito, Arianti, Luwarsih Pringgoadisuryo, Hana Rambe, Titi Said dll. belum seberapa banyak jika dibandingkan dengan penulis laki-laki. Yang patut disyukuri adalah bahwa kecenderungnan perempuan untuk menulis, hari demi hari, terus membaik. Demikian pula teknik, pencitraan, serta gagasan yang diusungnya, juga menunjukkan perkembangan yang menyenangkan.

Wiyatmi mencatat ( Kompas, 21/04/1996) dalam hal produktivitas, para perempuan penulis lama cukup bagus. Namun dalam soal pemikiran, pada awalnya novel-novel tentang perempuan, baik yang ditulis laki-laki maupun yang ditulis oleh perempuan sendiri, selalu menuturkan nasib kaum mereka yang tidak beruntung, lemah, dan selalu menjadi korban. Biasanya, hal itu dikaitkan dengan persoalan cinta dan adat. Sitti Nurbaya-walaupun ia disebut roman-merupakan representasi kuat untuk itu.

 

 

***************

 

 

Novel yang ditulis oleh Sinta Yudisia, The Road to The Empire ( TRTTE ), merupakan salah satu bukti bahwa perkembangan kepengarangan penulis perempuan di tanah air telah jauh lebih maju dan berkembang daripada yang dicatat oleh pendapat di atas. Dalam novel ini, Sinta Yudisia begitu berani mengangkat tema perang/kekuasaan dengan bumbu romantika dalam satu bingkai latar sejarah; suatu hal yang jarang ditemui dalam peta kepengarangan penulis perempuan Indonesia. Novel ini mengandalkan latar cerita yaitu kekaisaran Mongol sejak Tuqluq Timur Khan hingga generasi selanjutnya, Arghun Khan / Albuqa Khan, hingga Baruji atau Takudar.

Buku setebal 560 halaman ini merupakan ramuan kisah taktik, perang, cinta, yang telah diolah campur-aduk dan disuguhkan dalam sebentuk novel berlatar sejarah yang nikmat, tetapi juga berat. Mengapa demikian ? Tradisi bacaan  (fiksi prosa) masyarakat selama ini terlalu dimanja oleh bacaan-bacaan kekalahan perempuan, tren dunia remaja metropolitan, kisah cinta segitiga, pemberontakan, yang garis brunya adalah : persoalan cinta asmara semata. Bahkan, belakangan novel-novel tanah air  hanya menunjukkan perkembangan dua aliran yang berarti ; yaitu novel-novel bertema cinta-agama-tradisi (seperti Ayat-Ayat Cinta dan sebangsanya) ; kedua, novel-novel kontemporer yang mengedepankan penggarapan di bidang bahasa dan ideology. Novel-novel “lulusan” Dewan Kesenian Jakarta seperti Saman – Ayu Utami, Genijora – Abidah el Khalieqy, Hubbu Mashuri dll merupakan beberapa diantara banyak contoh.

 

Novel TRTTE tampaknya harus menunggu waktu lebih lama untuk menemukan komunitas pembaca di tanah air. Selera bacaan yang telanjur diciptakan sejak lama oleh novel-novel yang lebih dulu popular sebagaimana disebutan di atas, telah begitu mengakar dan tertanam dalam peta penerbit –pembaca. Novel sejenis TRTTE, di samping tidak menemukan “kawan sebaya –sepermainan” juga karena “muatan” yang ditanggungnya yang tidak sepenuhnya ngepop meskipun disajikan sedemikian renyah sekalipun. Poppish dan seelera pop tetaplah tidak bisa diabaikan dalam menakar nasib sebuah karya, terkhusus dalam persoalan laku tidaknya, meskipun bukan timbangan bermutu tidaknya.

 

Berikut sedikit catatan pembacaan saya atas novel TRTTE. Karena tidak mungkin saya menulis sebegitu jauh hinggá membahas segala detil unsur/struktur novel, artikel ini saya tulis hanya sebagai “bacaan pendamping” (semacam further reading) bagi rekan-rekan yang hendak / telah membaca TRTTE karya Sinta Yudisia ini :

Pertama, sinopsis tentang Tuqluq Timar Khan yang dikembangkan di awal-awal cerita terasa terlalu sedikit jika dibandingkan dengan keinginan penulis untuk mengantarkan emosi pembaca dan kearah konflik cerita yang sebenarnya. Lebih dari itu , latar belakang penaklukan –penaklukan yang telah dilakukan oleh kaisar Jenghiz Khan, justru lebih sedikit lagi. Dalam anggapan saya, kisah tentang Tuqluq atau Jenghiz kHan harusnya ditulis dalam bab tersendiri. , baik yang mengikut plot lurus ataupun dengan pola plot balik.  Hal itu dimaksudkan agar pembaca lebih dulu memiiliki pijakan pemahaman latar sejarah untuk melanjutkan cerita. Banyak pembaca barangkali yang tidak tahu menahu tentang Tuqluq dan Takudar, tetapi hampir semua orang tahu siapa itu Jenghiz Khan.

Kedua, terlampau banyaknya nama dan istilah asing cukup mengganggu. Hal ini mungkin tidak akan berakibat demikian jika nama dan istilah berasal dari bahasa Arab yang nota bene begitu mudah dikenali oleh tradisi dan khazanah masyarakat Melayu/Indonesia. Namun demikian usaha penulis dengan membubuhkan catatan/glosarium di bagian bawah halaman merupakan cara yang tepat untuk meminimalisir kesenjangan tersebut.

 

Ketiga, saat pertama kali membaca judul The Road to The Empire, saya langsung  berburuk sangka dengan cara beringgris-inggris ria ini. Saya tidak tahu, apakah hanya dengan cara serperti ini kita dapat mendapat “baraokah” kesuksesan judul-judul novel luar dengan cara sukses dengan ta’aful, minimal pada gaya penjudulan semisal The Lord of The Ring, misalnya? Ataukah cara ini ditempuh agar lebih mudah ditemukan oleh mesin pencari sejenis Google atau Altavista? Atau , sekali lagi mohon maaf, karena sekedar gagah-gagahan saja. Untuk apa? Pertanyaan ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam TRTTE sama sekali tidak ada hubungan penting dengan bahasa manapun kerajaan Inggris J

Masih beruntung, novel ini tidak belepotan dengan kosa kata bahasa Inggris yang diadopsi, diadaptasi, maupun dipakai secara serampangan sebagai mana banyak terjadi dalam banyak genre chicklit dan teenlit yang marak beberapa tahun sila. Terus terang  di antara keberatan saya yang terpenting, penamaan judul berbahasa Inggris inilah yang paling mendalam bagi saya selaku orang yang turut membesarkan bahasa Indonesia dengan menjadi warga dan penulis yang menggunakan bahasa ini sebagai medianya.

 

Keempat, setting /latar merupakan hal mendasar dalam perencanaan sebuah novel terlebih novel yang digali dari kekayaan sejarah. Nah, karena itu  terasa janggal jika TRTTE seolah-olah terlalu asyik menggali latar tempat namur terlena pada penggarapan latar waktu. Peristiwa demi peristiwa dalam novel , meskipun diberi label “sangat filmis” sekalipunm nyatanya tidak didukung oleh deskripsi latar waktu yang kuat. Data tahun tanggal baru muncul pada halaman 74, itupun secara sepintas dan sekedar penunjukan tahun hijriyah, tanpa Masehi.

 

 

Demikianlah bacaan Sepintas saya, ini merupakan upaya untuk memberikan catatan pendek atas struktur cerita yang panjang. Dan tidak bijak rasanya jika saya, pada akhir catatan ini, jika tidak memberikan tepuk tangan untuk sang penulis, Sinta Yudisia, atas karya tulisnya yang tentunya memakan waktu berbulan-bulan untuk mengumpulkan rujukan dan menata alur ceritanya.

 

Sekedar tambahan, bahwa seorang penulis yang ingin mendapatkan hasil terbaik, tentu tidak dapat bekerja seorang diri. Ia membutuhkan penyunting, editor, dan kawan diskusi. Bukankah novel War and Piece nya Leo Tolstoi menjadi masterpiece setelah ditulis ulang sebanyak 7 kali. Ini menunjukan bahwa menulis karya tidak dapat sekali jadi. Ia butuh waktu untuk diendapkan, didiskusikan, salah satunya dengan cara didiskusikan seperti forum ini. Wallahu A’lam.

 

 

Wa maa min kaatibin illaa yublaawa yabqooddahra maa kassabat yadaahu falaa taktub bikhoththika khoiro syay-in tasurruka fii –l qiyaamati an-mmarooh

(Dznunnun Misro-in)

 

Setiap penulis akan diberi cobaan sepanjang tulisan itu masih ada.

Maka janganlah kamu menulis kecuali jika tulisan kamu itu dapat membuatmu berbahagia kelak di hari Kiamat.

 

 

Catatan berkesan dari acara Romántica Menulis Kreatif & Bedah buku The Road To The Empire di STAIN, Pamekasan :

 

            Alhamdulillah, bedah buku dan diskusi yang dihadiri oleh ratusan peserta dalam situasi yang ‘panas’ berlangsung luarbiasa. Pertanyaan-pertanyaan yang masuk menggugah membangkitkan semangat diskusi, tentunya bukan jidal belaka. Ada beberapa catatan pertanyaan dan pernyataan yang penting untuk disimak :

  1. Kivi Faizi berkata : tujuan utama kritik sastra  adalah supaya  sang penulis tidak riya ketika karyanya diterbitkan dan mendapat pujian.
  2. Hana, Faqih, (pak Rusdi Zaki di DKS) juga bertanya : kenapa judulnya harus The Road to The Empire?

Awalnya, novel ini berjudul Tahta Awan atau Singgasana Halimun. Setelah diskusi dengan penerbit masalah mekanisme pasar, mau tidak mau kita harus obyektif bahwa ketika sebuah karya dilempar ke pasar kita juga berharap karya tersebut diserap dengan baik dan buah pikiran kita mewarnai banyak pembaca. Kita tidak hanya bicara royalty, kita bicara masalah nasyrul fikrah dan bagaimana masyarakat semakin dekat dengan produk karya sastra yang mencerahkan dan berkualitas. Sementara ini, jira sebuah judul ‘masih dapat ditawar’ okelah , sepanjang isi tak banyak diedit. InsyaAllah ke depan, jika pasar lebih menerima dan kita lebih mencintai produk karya sendiri; penerbit akan semakin berani menerbitkan karya-karya yang sangat khas Indonesia.

  1. Mengenai harga yang 63.000 : kemahalan? Kiai faizi bercerita bahwa ia sangat suka menulis puisi. Ia menulis puisi bertahun-tahun, baru diterbitkan 2007, baru menerima royalty 2009. 9 tahun ia baru bisa merasakan royalty. Beliau berkata, anda (para peserta) tidak adil jira mengatakan novel tabal TRTTE berharga 60-70 ribu kemahalan! Apakah anda tidak berpikir berapa lama sang penulis menulis, meriset, mengedit, mencari ide, menyempurnakan dst? Belum lagi kerja penerbit yang berkseinambungan? Jika masih menganggap karya sebegitu mahal…ya, kapan akan punya karya berkualtias? Jika penulis hanya dihargai murah, ia enggan menulis dengan ide-ide brilian.
  2. Duh terima kasih sekali kiai Faizi, nasehat anda tentang riya, tentang kata mutiara dari Dzunnun –Nabi Yunus As, dan pembelaan Kiai Faizi tentang ’harga mahal’ tersebut sangat membahagiakan.
  3. Dalamkesempatan tersebut dan banyak kesempatan saya selalu berkata, bahwa salah satu motivator di belakang saya adalah pak Maman S. Mahayana yang selalu mendorong ”….tidak selamanya penulis harus berorientasi pada royalti. Sudah waktunya anda berpikir tentang menghasilkan karya berkualitas.” Kalimat inilah yang menegaskan kita sebagai penulis, sebagai dai, sama seperti kata kiai Faizi yang menyitir dari Nabi Yunus….sebuah tulisan dapat membuat kita berbahagia, kelak di akhirat. Amiin yaa Robbal ’Alamin

LOMBA RESENSI NOVEL THE ROAD TO THE EMPIRE

Cover

Sudahkah Anda membaca novel The Road to the Empire?

Ayo, jangan hanya jadi sekedar pembaca pasif!

Kesempatan teman-teman semua untuk berkarya, menulis gagasan dan ide dalam bentuk nonfiksi. Ayo, ketik idemu dan ikuti: Lomba Resensi Novel The Road to The Empire Peraih IKAPI-IBF Award 2009, kategori Fiksi Dewasa Terbaik Persyaratan dan ketentuan lomba sebagai berikut

A. Syarat umum:

1 Lomba terbuka untuk warga Negara Indonesia, di manapun berada, berapa pun usia Anda.

2. Resensi berupa karya asli, bukan terjemahan atau saduran.

3. Resensi yang dapat diikutsertakan adalah yang pernah dimuat, baik media cetak (koran, majalah), maupun media on-line dan blog. Yang telah dipublikasi rentang bulan Januari sampai Juni 2009.

B. Syarat khusus:

 1. Kirim bukti pemuatan resensi (berupa fotokopi atau scan dari media yang telah memuat)

2. Sertakan biodata peresensi plus fotokopi tanda pengenal peresensi (KTP/Kartu Pelajar) ke: PANITIA LOMBA RESENSI NOVEL THE ROAD TO THE EMPIRE Promosi Lingkar Pena Publishing House Jl. Raya Jagakarsa (Simadakarsa) No A-1 Jagakarsa, Jakarta Selatan 12620 Cantumkan “LOMBA RESENSI NOVEL THE ROAD TO THE EMPIRE” di pojok kiri atas amplop.

Ingat! Bukti resensi ditunggu selambat-lambatnya tanggal 30 Juni 2009 (cap pos)

Penghargaan bagi peresensi terbaik:

Penghargaan 1: Rp 1.000.000,- + paket buku senilai Rp150.000,-

Penghargaan 2: Rp 500.000,- + paket buku senilai Rp150.000,-

Penghargaan 3: Rp 300.000,- + paket buku senilai Rp150.000,-

3 pemenang hiburan mendapatkan paket buku @ Rp150.000,-

 Pemenang akan diumumkan pada bulan Juli 2009 di website Lingkar Pena Publishing House (www.lingkarpena.multiply.com) Untuk keterangan lebih lanjut hubungi kami di 021- 78882079

Happy review! Promosi Lingkar Pena Publishing House

Novel Misteri

keris  bima

Bagaimana jika kita memiliki satu indera di luar panca indera?

Indera yang mampu melihat apa yang tak dilihat oleh mata, dapat merasa apa yang tak diraba kulit. Haruskah kekuatan diluar batas normal manusia dipertahankan, ataukah harus dilenyapkan?

Novelku yang akan terbit berikut, sedang dalam edit dan persiapan oleh sebuah penerbit bercerita tentang seorang pemuda yang memiliki indera ke tujuh. Indera yang lebih dari sekedar kemampuan mengetahui, tetapi indera untuk mengendalikan sesuatu sesuai kehendaknya. Settin novel ini menjawab pertanyaan banyak orang yang bertanya : kok Sinta hanya bisa menulis setting luar negeri?

Bukan berarti tidak mencintai negeri sendiri tetapi aku ingin menulis sesuatu yang meninggalkan kesan mendalam. Terutama, aku sangat terkesan oleh filosofi yang menggambarkan kecintaan pada kebijaksanaan. Jika pada the Road to The Empire sudah banyak termaktub falsafah Mongolia, makan kali ini akan tersisipkan filosofi Jawa, tentunya yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, InsyaAllah.

Semoga novel ini membawa manfaat untuk ummat, semoga novel ini barakah dan best seller.

Bedah buku The Road to the Empire

p10505801

 

 

p1050563  p1050589  p1050587

peserta yg hadir                three musketeers           bu sirikit

 

Alhamdulillah, acara bedah buku The Road  the Empire hari Jum’at tanggal 16 Januari 2009 jam 19.00 berjalan lancar. Sekalipun hujan dan ditengah suarau bising karena di DKS sedang berlangsung acara musik. Acara dihadiri oleh bapak Rusdi Zaki, sastrawan dan penulis, juga dosen. Bu Sirikit dan pak Khoirul Anam mendampingi sepanjang acara, juga mendukung baik  moril materil. Hanya Allah yang dapat membalasnya.

Banyak pertanyaan muncul seperti :

1.      Bagi siapa buku dini tertuju?

2.      Apa sih kelebihan buku ini?

3.      Mengapa menulis fiksi sejarah?

4.      Dimanakah kedudukanku dalam sastra Indonesia?

5.      Mungkinkah buku ini difilmkan?

  

Alhamdulillah, buku ini dapat di down load lewat e-book. Bagi yang punya nomer Indosat bisa didownload dengan menekan *386# dan ikuti petunjuknya. Satu link seharga Rp.2000, satu link berkisar antara 10-15 halaman buku.

Mungkinkah orang membaca e-book? apa nggak lebih enak punya bukunya?

Setiap orang punya jawaban masing-masing. Bagi yang suka buku dalam bentuk real memang nggak tertarik dengan e-book. Tapi bagi mereka yang suka bepergian lalu enggan bawa yang berat-berat, e –book sangat membantu.

The Road to the Empire is coming!

 cover

Alhamdulillah, tiada kata yang pantas untuk diucapkan selain hanya syukur kehadapanNya.

Jika bukan karena kemurahan dan bantuan Allah SWT tidak mungkin naskah The Road to The Empire selesai dan masuk ke LPPH untuk kemudian di acc. Naskah ini diedit pak Maman S. Mahayana, seorang sastrawan UI. Beliau banyak membantu dengan semangatnya untuk merevisi bagian-bagian TRoTTEm ini. Alhamdulillah, cover sudah terselesaikan, semoga buku ini bermanfaat sebesar-besarnya bagi kaum muslimin.

 

Orang mungkin bertanya, kenapa sih repot-repot menulis roman sejarah?

Repot, perlu banyak riset, makan biaya dan waktu, sudah begitu belum tentu responsnya bagus. Hal yang paling penting dilakukan seorang pekerja (baca : penulis) adalah ia tak boleh kehilangan idealismenya. Boleh jadi kebutuhan hidup menghimpit, materi mendesak, uang menjadi kebutuhan primer. Tetap saja penulis harus mampu menelorkan karya-karya yang spektakuler yang tak lekang dihempas masa meski sang penulis sudah berkalang tanah.

 

Jika Ibnu Sina tenar dengan Al Qanun fi Tibbs (The Canons of Medicine), Al Biruni dengan Qânûn al-Mas’ûdi, Ibnu Rusyd dengan Al Kuliyat Fil-Tibb (Hal-Hal yang Umum tentang Ilmu Pengobatan), Ibnu Batutah dengan Tuhfatun Nazhar fi Gharaibil Amshar, Ibnu Khaldun dengan Al-Muqaddimah yang mengupas masalah-masalah sosial manusia dan juga menulis kitab Al-`Ibar (Sejarah Umum),Al Kindi menyusun Al-Falsafa al-Ula , Al Khwarizmi menghasilkan Al Jabr Wa Al Muqabilah dan masih banyak lagi ilmuwan muslim yang meninggalkan karya-karya pencerahan yang membimbing ummat pasca mereka tiada….bagaimana tanggung jawab kita sebagai kaum muslimin yang hidup saat ini?

Menyedihkan sekali bahwa jangankan menulis, membacapun kita masih enggan.

Melihat masih sedikitnya buku-buku yang mengupas sejarah para pahlawan heroik kaum msulimin yang sepak terjangnya tiada tara, ada satu tanggung jawab dari dalam diri untuk menuliskan novel fiksi sejarah Takudar. Semoga, novel ini membangkitkan semangat kecintaan kaum muslimin, remaja khususnya pada pahlawan yang benar-benar pahlawan. Bukan pahlawan khayalan seperti Inuyasa, Saint Seiya, Avatar, Naruto, dsb.

 

« Entri lama