Apa yang kita dapatkan dengan menulis?

 

            Tulisan ini saya peruntukkan bagi mereka yang pikir-pikir mau menulis, ragu-ragu mau menulis, mencoba menulis, patah arang dalam menulis atau yang sudah memantapkan diri di dunia tulis menulis, especially women, makhluk unik yang diciptakan Allah SWT untuk mengemban tugas penting sebagai pencipta peradaban dunia.

            Banyak adik-adik yang bertanya via sms, imel, fb dan blog yang bertanya : kak/bunda/mbak/bu…bagaimana sih menulis yang baik? Pertanyaan singkat yang membutuhkan jawaban yang amat-sangat-panjang.

            Sebelum saya berbagi ilmu saya yang sedikit tentang tulis menulis, ada baiknya kita semua memahami apa sih sebetulnya yang kita dapatkan dari dunia kepenulisan ini.

            Baiklah, apapun profesi anda saat ini (pengangguran, ibu RT, mahasiswa, pelajar, dokter, polisi, pembantu, buruh, dsb), apapun niatan anda saat pertama kali menulis , mungkin berikut ini akan memberi sedikit gambaran.

            Apa yang akan kita dapatkan dari menulis baik di media cetak, penerbit, blog dst adalah :

 

  1. Penghasilan / royalti *****

 

Waduh, bunda kita yang satu ini matre banget J !!

Tunggu dulu, bukankah ini yang pertama kali bermain-main di benak saat melatih jemari kita menari di atas kertas? Royalti, penghasilan, uang. Halal pula. Hm, senangnya…..

Rekan-rekanku sayang , menulis memang punya efek ekonomis apalagi yang sudah secara rutin menulis sehingga mendapatkan royalti per 3 bulan, 4, 6 bulan.

Tetapi tahukah anda berapa nilai uang anda sebenarnya?

Nilai uang anda sesungguhnya kecil sekali dibandingkan dengan…..

Deg-degan lagi ! Dibandingkan dengan apa? Laptop, hape, sepeda motor, rumah, buku-buku, uang sekolah, tabungan, biaya pendidikan, haji, dll?

 

Ow, kalau hanya itu daftar kebutuhan kita, mungkin dengan menulis selama 3-4 tahun daftar itu sudah dapat dipenuhi. Silakan saja kalkulasi sendiri jika 1 artikel/1 cerpen dihargai 200 ribu dan 1 buku flat putus dihargai sekian juta. Kalau setahun produktif menulis berapa uang di kantong? Lumayan J

 

Tetapi sekali lagi rekan-rekanku & adik-adikku sayang,

ibuku yang bijak pernah memberi nasehat ” Sinta, tugasmu mungkin mencari uang sebanyak-banyaknya tapi tidak untuk menghabiskan sebanyak-banyaknya.”

Artinya, kadang uang itu begitu mudah diraih oleh sepasang tangan kita tetapi ternyata daftar antrian yang menunggu di belakang sudah sangat banyaknya.

 

Pernahkah anda ketika 1 cerpen dimuat seharga 200 ribu lalu tiba-tiba saudara mendapat musibah, berita duka di sana-sini, ibu sakit, adik minta bantuan uang sekolah dan seterusnya? Begitulah harta ujian. Yang duaratus ribu itu belum tentu kita pakai untuk keperluan konsumtif atau untuk saving, tetapi sudah menunggu tangan-tangan tengadah membutuhkan bantuan.

Suatu saat nanti ketika royalti kita mencapai jutaan, jangan hanya berpikir menumpuk harta yang kita idam-idamkan sekian lama selama bertahun-tahun. Seringkali ketika uang ada di tangan, datanglah permintaan-permintaan yang tak dapat ditolak oleh nurani kita sebagai manusia. Memangnya anda dapat menolak permintaan pembantu anda yang anaknya membutuhkan obat karena sakit atau ingin sekolah? Atau tukang rujak langganan menangis tak punya modal sementara jumlahnya dapat ditanggulangi oleh jumlah royalti yang ada di tangan sebagai rahmat rizqi dari Allah SWT?

 

            Jadi bersiaplah, para penulis berbakat, bahwa royalti anda nanti  tak seperti harta karun yang tiba-tiba didapat dari mengirimkan sms. Karena apa? Ketika kita menulis , memulai dengan niat baik; ternyata ujian keikhlasan itu ada sejak awal, pertengahan hingga akhir sebuah amal. Capek, lelah, letih anda menyelesaikan sebuah novel lalu sekian jumlah uang yang rencananya di saving untuk keperluan masa depan ternyata orang-orang terdekat membutuhkan bantuan segera.

            Catat baik-baik dalam ingatan : yang melapangkan rizqi  termasuk mudahnya tulisan kita menembus media manapun seringkali tergantung seberapa besar niat baik kita. Tetapi begitu tulisan kita laku maka royalti itu ternyata tak sepenuhnya menjadi hak milik kita bahkan suatu masa hanya tercetak di slip tabungan untuk selanjutkan didistribusikan kepada kantong-kantong kaum muslimin.

            Kecewa? Rugi? Tentu tidak karena Allah Maha Kaya dan akan diganti dengan yang jauh lebih baik dari itu. Dan rezeki yang halal, sedikitpun akan terasa

 

 

 

  1. Ketangguhan & Kekuatan *****

 

Yang akan anda dapatkan dari dunia kepenulisan adalah ketangguhan dan kekuatan. Disini kita akan belajar bagaimana sedikit demi sedikit menempa diri, mental, jiwa membaja selapis demi selapis. Satu tulisan kita tak laku, ditolak, dikritisi habis-habisan. Begitu pula tulisan yang ke 2, 31, 104. Anda mungkin putus asa di tahap-tahap awal tetapi jika anda punya komunitas (seperti FLP misalnya) kesulitan itu akan punya nilai tersendiri. Digigit semut, tertusuk duri, terinjak paku lama-lama tak ada bandingnya jika disetarakan dengan pukulan godam. Lama-lama anda akan terbiasa dikritik dan diejek, tetap bangkit dan melaju bangun, memperbaiki diri.

Satu demi satu teman-teman berhasil menulis, anda akan iri. Iri yang baik kan? Lalu kita semakin memperbaiki diri, belajar dari sana-sini, memburu informasi, bertanya tak kenal lelah hingga suatu saat tulisan kita terbit dan dibaca sekian ribu kepala.

Bukan main bahagia dan bangga, sebab satu ide pikiran kita dapat ditransfer ke sekian banyak orang, dibaca, diresapi, dimaknai. Mungkin saja tulisan itu akan mengendap dan menjadi sejarah berharga bagi orang-orang kemudian.

Baja.

Hati sekeras itu yang membuat kita tangguh menghadapi sekian macam kesulitan.

Menulis, adalah satu profesi yang melatih kita untuk punya sikap mental yang tangguh, tak cepat melempem.

 

  1. Ilmu Pengetahuan *****

 

Menulis, menulis, menulis. Anda akan belajar banyak tentang dunia tulis menulis hingga menjadi bisa dan mahir. Sesudah tulisan demi tulisan terbit, anda akan seamkin dahaga dan haus untuk menimba banyak pengetahuan. Maka anda akan melengkapi diri dengan banyak membaca dan terus membaca. Melahap setiap suku, frase, kata, kalimat, bait, bab, hingga sekian banyak buku dikunyah-kunyah tanpa sisa.

            Saya pribadi, dahulu adalah seorang ibu rumah tangga yang baik J

            Bangun sebelum Shubuh, mencuci, memasak, membersihkan rumah dan begitulah seterusnya. Lalu dunia tulis menulis membuat saya jatuh cinta, begitupun dunia pengetahuan yang terkuak dengan terus membaca dan membaca.

            Lalu apalagi?

            Kliping, buku, internet, makalah, handout, semua diburu untuk melengkapi pengetahua. Tibalah pada satu titik : saya tak bisa terus menulis jika tetap sekerdil ini! Apa lagi saya mulai mencintai satu genre tulisan : sastra sejarah & sastra budaya.

            Aduh, bagaimana ini? terlebih saya kan hanya seorang perempuan….

            Kesempatan itu datang ketika seseorang menawarkan beasiswa ke fakultas negeri paling bergengsi di negeri ini, saya ditawari karena pernah, Alhamdulillah, menjuarai beberapa lomba tingkat nasional.

            Tapi bagaimana? Saya kan ikut suami dan baru pindah ke Surabaya. Sayangnya….padahal suami baru saja menolak pindah tugas ke Jakarta karena memang kami baru hijrah ke Surabaya.

            Saya sedih. Beasiswa itu tak jadi saya dapatkan akrena saya seorang ibu istri, perempuan yang terikat ’kontrak kerja surga’ dengan suami. tetapi cita-cita itu terus memburu. Alhamdulillah, Alalh SWT senantiasa membantu hambaNya. Saya memberanikan diri mengajukan beasiswa ke UNTAG dengan membawa beberapa sertifikat dan saya pun kuliah lagi di Psikologi.

            Menulis, membaca, memburu ilmu pengetahuan.

            Tak habisnya saya syukuri kesempatan ini datang di usia saya yang ke 35.

            Setiap pagi, dengan target untuk mencuci, memasak, mengisi buku laporan anak-anak, mengecek perlengkapan mereka , saya juga harus menyiapkan diri mengikuti Psi, Faal, Psi Klinis, Psi. Sosial dst yang harus diikuti dengan hati dan pikiran serius. Ketika sepeda motor saya melaju membelah udara pagi yang sejuk, daun-daun berembun, udara berkabut, burung bercicit; saya melaju bersama mereka yang berseragam putih merah, putih biru dan putih abu-abu. Kami sama-sama memburu ilmu pengetahun, makanan paling nikmat yang dikunyah akal sesudah Quran dan Sunnah nabiNya.

            Beapa indahnya dunia menulis, membayar saya dengan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekedar tumpukan uang dan royalti ; saya punya kesempatan melengkapi diri saya sebagai ibu, istri, perempuan, muslimah & daiyah

 

 

 

 

  1. Pengalaman berharga *****

 

Sesuatu yang tak dapat dibelia dalah pengalaman. Pengalaman memperkaya batin kita, tak dapat dibeli di bangku sekolah atau toko manapun. Pengalaman bertemu orang, pengalaman menjumpai peristiwa, pengalaman memaknai sesuatu.

            Dengan menulis saya bertemu adik2 FLP yang ada di Sumenep, Pamekasan, Bondowoso, Malang, Ciputat, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi…..ribuan orang yang terkontak lewat dunia maya. Mereka memberi saya pengetahuan yang demikian berharga.

            Bukan itu saja, menulis membuat saya harus mendalami karakter.

            Itulah yang menghantarkan saya bertemu buruh di rumah susun, anak-anak Dolly, para pelacur. Saya juga berkesempatan bedah buku di isntansi-instansi besar. Saya belajar memaknai dua dunia berbeda : ada komunitas intelektual di Indosat, Telkom, Kantor Pajak, lembaga2 lain. Ada komunitas kelam di sepanjang Dukuh Kupang, Dolly, Putat.

Saya belajar banyak tentang manusia. Saya belajar banyak tentang diri saya sendiri.

 

  1. Menimbun kekayaan hingga ajal nanti

Inilah kekayaan berharga yang dapat ditimbun, dihitung, dibagikan kepada siapa dan tak akan berkurang jumlahnya.Dengan menulis kita menumpuk kekayaan yang tak hanya berupa uang tapi juga handai tolan, teman, rekan, pengalaman, pembelajaran, ilmu dan masih banyak lagi.

 

 

  1. Banyak dan banyak lagi………

 

 

 

Nah, dengan imbalan sebanyak ini apakah anda masih ragu untuk memeras keringat dengan menulis?

FLP Jatim & 7 November : Pahlawan Baru Kami

 

            10 November Indonesia tentu masih mengingat kisah hari Pahlawan yang terkait dengan satu persitiwa sejarah di Surabaya. Esok, tepatnya 7 November, sebelum hiruk pikuk perayaan hari Pahlawan, di rumah ku yang sederhana tetapi nyaman karena berada tepat di depan masjid Rungkut Jaya rekan-rekan FLP Cabang akan berkumpul kembali.

            Apa sih yang akan kami lakukan?

  1. Silaturrahim : mengingat sejak MUNAS II kami belum pernah lagi bertatap muka maka kerinduan ini harus tertuntaskan ;-) Kenapa mengambil moment 7 November? Selain masih tanggal muda, bulan ini relatif agak jauh jaraknya dari lebaran yang pastinya menyita waktu, tenaga….and money of course. Kita semua tahu, para pejuang FLP tak pernah mendapatkan kucuran dana yang cukup untuk membantu mereka senantiasa terus menjalankan roda pemerintahan FLP. Setidaknya, hari-hari ini cukup realistis bagi kami semua untuk berkumpul, paling tidak masih tersedia dana di kantong sekalipun…Allah Maha Mencukupi.
  2. Konsolidasi :  dalam mencapai target-target yang tinggi, mulia, bermanfaat untuk ummat mungkinkah semua dilaksanakan oleh satu kepala, satu tubuh, satu semangat saja? Kita membutuhkan winning value, winning concept, winning system, winning team, winning goal. Tanpa perencanaan-perencanaan matang, SDM, dan semua resource yang didayagunakan semaksimal mungkin; mustahil FLP yang kita harapkan menjadi salah satu kontributor peradaban Islami ini dapat meraih capaian-capaian gemilang. Harapan kami FLP dapat menjadi winning team yang semakin menghasilkan karya & penulis (pejuang da’wah) cemerlang.
  3. Musyawarah : syuro adalah hal yang sangat utama dalam agama ini. Banyak langkah dan keputusan perlu diambil dengan melihat kapasitas masing-masing daerah.
  4. Sharing : Malang, Jombang, Surabaya, Blitar, Jember, Pamekasan, Sumenep adalah cabang yang cukup handal dalam menjaring peminat dan menjalankan program-program FLP. Cabang2 lain yang tak kalah semangatnya perlu mendapat tambahan ilmu dan pengalaman dari rekan-rekan mereka yang sudah lebih dahulu maju.
  5. Little Gift : kami, FLP Wilayah belum dapat memberikan reward yang layak. Memang, FLP lahir dari rahim da’wah dan selamanya akan dibesarkan oleh da’wah. Da’wah juga yang membuat kita tetap berjaya hingga sekarang. Tak pantas kita mencari kepentingan pribadi dari FLP, seharusnya kita yang memberikan harta terbaik kita bagi da’wah termasuk da’wah FLP. Tetapi bagaimanapun, manusia memiliki jiwa yang unik. Sedikit saja mereka mendapatkan penghargaan dan perlakuan istimewa, sedikit saja kita menghargai jerih payah mereka, maka hati-hati mereka yang telah letih berdarah-darah besama jalan da’wah ini akan kembali bertunas, tumbuh, berseri dan siap memikul jalan da’wah kembali. Rasanya, saya pribadi ingin memberikan reward yang pantas bagi para pejuang FLP. Kita pasti bisa membayangkan berapa cost Blitar-Surabaya PP dan daerah2 lain. Semua ditanggung sendiri, wilayah hanya menyediakan tempat sederhana (rumah saya J ) dan makanan ala kadarnya. Selebihnya mereka menanggung pembiayaan sendiri. Saya ingin memberikan gift kecil , mungkin buku, modul, pin, dll sebagai tanda cinta bagi mereka ; adik-adikku yang tak pernah lelah membantu berjuang bersama FLP
  6. Menguatkan semangat : tak dapat dipungkiri, banyaknya permasalahan pastilah mengikis ketangguhan kepribadian kita. Pertemuan ini insyaAllah selain menguatkan niat, semangat, harapan juga merapikan langkah-langkah ke depan. Bertemu dan melihat wajah orang-orang sholih –adik-adikku ini – rasanya sudah cukup mengobati semua dukalara. Apalagi mendengar sepakterjang kisah mereka yang juga memeras keringat membanting tenaga (kadang membanting harga diri!) di daerah masing-masing. Mereka exist. Mereka ada. Mereka bertahan. Mereka terus bergerak. Mereka akan berhenti nanti jika waktu yang menghentikan.

 

 

Mohon doa dari semua agar acara esok, 7 November 2009, berjalan lancar.

Dalam sujud malam nanti dan esok Dhuha, dalam kesempatan wirid dan dzikir malam ini, selipkan nama-nama kami FLP Wilayah Jawa Timur di doa anda, para pembaca. Semoga , FLP  ini adalah salah satu amal yang dapat kita banggakan di yaumil akhir kelak.

Biarkan Harta Kita Bicara! (untuk Sdr. Nurkholis FLP Aceh & gempa Padang)

Assalamu’alaikumwrwb.

 

rekan-rekan FLP Jawa Timur tercinta…

usai Ramadhan yang berkesan, Syawal yang hangat karena silaturrahim, rupanya Allah SWT menagih sesuatu amalan kepada kita.

 

Seorang ustadz pernah menyampaikan di sholat tarawih :

“….saya, anda, kita semua itu bakhil! Pelit! Kikir! Nggak ada orang yang pada dasarnya suka berbagi dan memberi. Akui saja, nggak ada manusia itu yang nggak cinta sama hartanya. Tetapi sekali lagi, Allah ingin memberikan kesempatan kepada kita untuk menyucikan diri, menyucikan harta. Tahukah Anda bahwa ketika harta itu diinfaq kan, ia akan berkata 4 hal ; jauh sebelum harta itu sampai ke tangan si penerima :

aku fana, lalu kau kekalkan

aku sedikit, lalu kau banyakkan

aku kecil, lalu kau besarkan

aku dulu kau jaga, sekarang aku yang menjagamu.

 

 

            Teman-teman…

ucapan ustadz ini menggetarkan saya. Semoga kali ini tidak riya. Usai mendengar cerita beliau, saya sisihkan sedikit terutama kalau pas dapat lembar uang yang bagus. Diam-diam saya infaq kan. Nggak mesti jumlahnya, kadang 5 ribu kadang 10 ribu, kadang 50 ribu.

 

            Teman-teman,

ternyata memang harta itu berbicara. Allah Maha Kaya dan Maha Membalas. Inilah balasannya di ramadhan kemarin :

                  DP novel yg biasanya hanya berjumlah x tiba-tiba jadi 5x!

                  royalti sebuah novel yang lamaaaa saya tunggu tiba-tiba turun

                  menjelang Idul Fitri seorang teman meng sms : ”mbak, naskah mbak ada royaltinya tuh di antologi XX. Mbak ngirim 2 naskah kan?”

 

Subhanallah….

 

teman-temanku tercinta…

Sisihkan uang kita untuk saudara kita tercinta Nurkholis, FLP Aceh yang tertimpa musibah kecelakaan menjelang lebaran kemarin hingga koma dan harus diamputasi.

Sisihkan uang kita untuk saudara-saudara kita di Padang, Sumbar.

Rp 1000, Rp 2000, Rp 5000, Rp 10.000, berapapun.

Allah tahu isi kantung kita. Kalau kita tak mampu 10 ribu, toh kita masih punya seribu. Kalau yang seribu pun tak ada, ajaklah orang-orang sekeliling anda.

 

With Love…

Semoga sedekah kita selain diganti berlipat ganda, membuat kita dijauhkanNya dari musibah. Siapa yang dapat memastikan gempa tidak menimpa Surabaya, Jember, Malang, Jombang, atau kota-kota lain di Jawa Timur?

 

Kirimkan bantuan anda ke :

 

Aferu Fajar Nadari BCA  cab. Tangerang  6030115102                          (08179376664)

Rumanti Dyan Cahyani Bank Muamalat cab. Madiun 9148885499              (085649118656)   

Sinta Yudisia    BRI cabang Tegal 0101-01-009291-50-9                         (08563229782)

(Silakan pilih yang termudah)

 

Tolong konfirmasikan ke nomer handphone yang bersangkutan, jumlah dan peruntukannya (Sdr. Nurkholis atau Gempa Padang); insyaAllah akan dilaporkan secara transparansi & accountable.

Jazakumullah Khoiron Katsiron.

 

Wassalamwrwb

Berbuka bersama anak-anak para PSK & Mucikari

 DSC03508   DSC03517   DSC03525   DSC03541

Mata anakku, Inayah, 2  SMP basah memandang foto-foto oleh-olehku dari Dolly. Jajaran wajah lucu menggemaskan dengan latar belakang rumah-rumah wisma yang di hari-hari bisa dipenuhi pekerka seks komersial (PSK). PSK yang memiliki hubungan darah dengan mereka : ibu, kakak, atau bibi. Atau juga orangtua mereka justru yang penyedia wisma alias induk semang atau mucikari.

Sebetulnya aku tidak menyambangi Girilaya dengan gang Dolly-nya yang terkenal. Banyak sekali gang di daerah Jarak yang menyediakan sarana kenikmatan. Salah satu yang kami kunjungi adalah Putat Jaya 2 A, daerah yang terkenal dengan beraneka ragam Wisma Kenikmatan. Tetapi daerah di sekitar Jarak memang lebih akrab disebut Dolly.

            Sejak di depan gang Putat Jaya 2 A, telah ditandai dengan larangan : TUTUP.

            Di gang itu banyak bertebaran neon box bertuliskan : Dilarang masuk bagi pengemis, pemulung, anjal dan banci.

            Sepanjang gang tersebut yang terdiri kurang lebih 50 rumah, mungkin sekitar 10 rumah yang bukan Wisma Kenikmatan. Di tiap jendela lebar seperti akuarium dan pintu tertulis larangan di atas kertas secara rapi ; TUTUP. Sekalipun duduk-duduk di depan gang wanita-wanita berbusana ketat dengan paha mulus terbuka.

            Disanalah aku mengenal Oka, Dimas, Riki, Degrit, Nanda, Angga, Riska, Ayu, Dwi, Oka, Dharma, Della, Nane, Catur, Guntur, Febri, Nadya dan masih banyak lagi.

            Anak-anak cantik.

            Anak-anak tampan.

            Anak yang molek.

            Anak siapa mereka?

            “Ayo, siapa nama nabi kalian?

            “Allaaaaah….”

            “Siapa nama malaikat?”

            “Rasuuuul…”

            “Sholat Shubuh ada berapa rokaat?”

            “Lima rokaat!”

            Jika anak TK yang menjawab, kita akan maklum.

            Tapi usia mereka sebagian kelas 6, kelas 5. Hanya beberapa yang masih balita. Jangankan mengenal syariat Islam seperti tuntunan sholat dan puasa. Mereka bahkan tak mengenal siapa Tuhan dan Nabi mereka sendiri. Kemana saja orangtua kalian, Nak?

            Kadang anak-anak itu tak terkendali. Kadang mereka begitu liar. Tetapi sekali waktu wajah mereka demikian lapar, haus, kering, ketika kami mengajarkan surat al Fatihah dan doa mau makan.

            Pak Kartono aktivis taman bacaan Kawan Kami banyak bercerita tentang kondisi Putat Jaya 2A.

            “Di sini memang berbeda dengan Dolly sana, Mbak,” paparnya. Dolly lebih ditekankan pada kawasan bisnis dengan sistem layanan perjam, minimal 80 ribu tiap 1,5 jam. Dolly juga termasuk kawasan bisnis elit sementara yang masuk gang seperti Putat Jaya 2 A termasuk hanya kelas menengah. “Semalam ada yang tipnya sampai 1 juta, karena memang cantik sekali.”

            Putat Jaya tidak ditekankan sistem perjam tetapi layanan sepuasnya.

            Bayanganku tentang kamar-kamar seperti hotel lenyap seketika.

            Putat Jaya (Puja) lebih mirip rusun (rumah susun) Penjaringan atau Wonorejo. Rumahnya kecil dengan ukuran 5 x 10 . Kamar-kamarnya juga kecil dengan pintu yang tidak selalu bisa terkunci rapat. Yang kupikirkan adalah bagaimaa puluhan anak-anak yang lalu lalang di situ menangkap pemandangan para ibu mereka berkasih-kasihan dengan pasangan bergonta ganti?

            ”Wah, itu sudah biasa, Mbak,” ungkap pak Kartono. ”Mereka sering melihat ibu mereka hanya pakai handuk sedang melayani tamu.”

            Aku menelan ludah, kering.

            Padahal beberapa waktu lalu kubaca bahwa pornografi merusak salah satu pusat keseimbangan di otak secara hormonal. Pantas saja anak-anak itu kadangkala begitu liar seperti hewan buruan.

            Persoalan pelacuran bagaikan benang ruwet, tumpang tindih, saling silang, berkelindan jalin menjalin , tiada tahu ujung pangkalnya. Debat panjang siapa yang harus mengentaskan : para ulama, pemerintah, LSM, aktivis, PSK atau mucikari itu sendiri; menjadi perdebatan panjang. Aku sendiri mendapatkan tanggapan pro dan kontra tentang keinginanku berkecimpung di Dolly.

            ”Percuma, menghabiskan tenaga.”

            ”Yang paling bertanggung jawab pemerintah.”

            ”Dasar perempuannya aja yang sudah gatel, keenakan. Nggak bakal mau kerja baik-baik karena sudah biasa dapat uang banyak.”

            Silang pendapat ini  kadang membuatku pepat, sedih, marah, kecewa. Entah pada siapa, mungkin pada diriku sendiri. Aku marah karena aku tidak bisa berbuat apa-apa juga. Yang lebih kupikirkan bukan para PSK tetapi anak-anak mereka. Memang itu ulah ibu mereka yang nista dengan lelaki yang aib pula, tetapi anak-anak itu tidak bersalah kan? Kita tidak menganut dosa turunan tetapi lingkungan yang diwariskan, memang iya.

            Aku senang bertemu pak Kartono.

            ”Saya melakukan apa yang saya bisa, Mbak.”

            Ia mengontrak 3 kamar di Puja, satu buat kamar tidur dan dua buat rumah baca Kawan Kami. Ia juga bergabung di Plan dan Indonesian ACTS (Against Child Trafficking). Selain mengumpulkan anak-anak, ia juga menjaring para remaja untuk ikut andil dalam Stop! Perdagangan Anak. Pak Kartono mengakui,  betapa sulitnya menutup Dolly tetapi ia berusaha semampu mungkin memutus rantai PSK.

            “Kalau ada yang masuk kemari nggak boleh di bawah umur lalu kami beri arahan untuk bekerja di bidang lain. Tapi kalau nggak mau ya bagaimana lagi,” akunya. Pak KArtono ingin Dolly suatu saat seperti Kramat Tunggak yang menjadi Islamic Centre.

            Ada satu cerita yang aneh, unik, menggeramkan dari pak Kartono yang membuat kita beristighfar dan mengambil hikmah. Sebanyak apapun PSK melayani lelaki, ternyata kebutuhan afeksi mereka kurang sehingga tetap saja punya pasangan atau pacar ‘peliharaan’. Ini memakan biaya besar.

            “Saya sering ajari ibu-ibu supaya mereka menabung  dan menyekolahkan anak-anak setinggi-tingginya. Saya nggak tau itu uang haram atau nggak ya Mbak, pokoknya saya bilang ‘kalau kamu sudah susah seperti ini jangan sampai anakmu ikut susah’. Soalnya, banyak Mbak, PSK yang malah punya pacar dan duitnya habis buat melihara si lelaki ini sehingga anak-anaknya terlantar.”

            Jadi begitulah kenapa seperti lingkaran setan yang makin lama makin menyempit tidak selesai-selesai. Cari uang waktu masih muda dan cantik, haus kesepian, cari lelaki (pastilah lelaki yang juga tidak berniat mengayomi), perlu banyak biaya untuk mengelola hubungan (mungkin perselingkuhan, atau juga di perempuan mengimingi harta karena haus kasih sayang), punya anak (kecelakaan atau memang keinginan), perlua keluar uang untuk memelihara kecantikan fisik, begitu seterusnya.

            “Kalau hanya keluar dari sini untuk jadi pembantu atau pelayan toko…wah, pasti balik lagi.”

            Agama. Syariat. Ketrampilan. Perlindungan hukum. Kesadaran. Semangat untuk berubah. Masyarakat yang kondusif. Lapangan Kerja. Betapa banyak PR kita.

            “Siapa sih yang paling banyak menyambangi PSK?” tanyaku ingin tahu.

            “Paling banyak lelaki yang punya masalah di rumah tangga,” kata pak Kartono.

            Hm, tambah lagi PR buat para wanita dan kaum ibu : jaga diri kalian baik-baik seutuhnya mencakup fisik, komunikasi, agama, keluarga. Up grade diri agar suami tidak berpaling!

            Kami bercerita tentang Masjid yang Bersedih (aku), Biola Tua (Aferu Fajar), Janji Cici (Citra Widuri). Kami berbagi minum, ta’jil kolak, nasi kotak dan bingkisan dari bu Diah Katarina (istri pak Bambang DH). Anak-anak itu berbaris usai sholat magrib yang berdesakan.

            “Bunda, kenapa kok anak laki-laki di depan sih?”

            Tidak tahukah kamu, Sayang, bahwa demikian shof orang sembahyang terutama di masjid?

            ”Siapa yang berpuasa?”

            Nyaris tak ada yang mengacungkan jadi.

            ”Siapa sholat tarawih?”

            Sepi.

            ”Siapa sholat 5 waktu?”

            Tak ada yang bereaksi.

            ”Siapa yang tadi pagi sholat Shubuh?”

            Beberapa orang ingin mengangkat tangan tapi ragu.

            Ketika magrib menjelang kami berbuka dengan tenggorokan kering, sakit, kehabisan suara. Dimas (entah anak siapa) mengumandangkan adzan dengan merdu. Mereka menatapku dengan mata bercahaya dan mulut tersenyum.

           

 

 

 

            “Bunda habis ini pulang?” tanya mereka.

            Aku mengiyakan.

            Wajah mereka sedih. Aku berpamitan. Aku menyalami para PSK dan mucikari juga orang-orang kampung sembari meminta maaf karena kami sudah menyebabkan banyak kegaduhan. Wajah mereka tentu saja menyimpan kehatian-hatian.

            Aku berjalan pulang meninggalkan gang Putat Jaya, meninggalkan dunia antah berantah yang jauuuuuh sekali dari kehidupanku yang normal, bahagia, bersama anak-anakku yang sehat & lucu. Di ujung gang aku menyapa Nanda dan Risma.

            “Nanda, rumah kamu di mana?”

            Ia menunjuk sebuah rumah biru dengan kaca lebar jernih dengan lampu-lampu menyala. Ada tulisan Wisma. Ada juga tempelan berbunyi : TUTUP.

Foto-foto dari MUNAS FLP II di Solo, 14-16 Agustus 2009

DSC03220

2 HALAMAN yang LUARBIASA !!

Banyak orang berpendapat bahwa resensi suatu buku sudah ‘dipesan’ oleh pihak-pihak tertentu agar sebuah buku nilai jualnya terdongkrak naik.

 

Benarkah demikian?

 

Tampaknya bangsa kita memang masih membutuhkan banyak stimulus untuk belajar bersikap kritis. Salah satunya lomba resensi. Kalau kita mencermati perkembangan literasi di dunia barat, orang berlomba-lomba mereview sebuah buku pasca terbitnya.

 

Resensi buku bukan hanya untuk mendongkrak penjualan.

Dalam teori sastra, resensi buku berfungsi sebagai partner untuk memahami sebuah karya. Kita pasti pernah membaca karya-karya Gothic atau karya yang cenderung menonjolkan sadisme dan sisi suram manusia (penindasan, perkosaan, kebohongan, dsb). Bayangkan jika karya tersebut terus muncul tanpa ada yang meresensinya. Resensi menjadi partner untuk mendampingi pembaca bagaimana memahami sebuah karya sastra. Resensi akan memberikan pendampingan kepada khalayak “….oh, buku ini bagus sekali sebagai karya sastra tapi nilai-nilainya tak sesuai budaya kita.”

Atau”…karya yang luarbiasa! Tapi sudahkah penulis mempertimbangkan efeknya bagi pembaca, terutama anak-anak?”

 

Resensi buku di Indonesia masih menjadi hal yang tak lazim, padahal banyak produk yang masih harus dikritisi. Novel, buku, antologi, guidance sampai komik. Ada yang sudah pernah meresensi komik-komik Jepang yang banyak dibaca anak-anak kita? Banyak isinya tak sesuai budaya bangsa (pakaian, ciuman mesra, adegan erotis lainnya).

 

Demikian pula novel The Road to The Empire.

Lebih mudah bagi penerbit untuk memasang iklan besar, full colour di majalah/ Koran, lalu menunggu hasil penjualan. Tetapi dalam beberapa hal, baik penerbit maupun penulis punya komitmen untuk tak hanya menjual buku tapi juga meningkatkan minat baca di kalangan masyarakat khususnya generasi muda dan pelajar –mahasiswa.

 

Bagi yang sudah membaca The Road to The Empire pasti punya segudang tanya yang membekas : sejauh mana sejarah Islam punya kontribusi bagi peradaban dunia?

Jika tak ada orang yang meresensi atau mengkritik darya tersebut, maka penulis ( saya) akan tenang-tenang saja menulis sesuai keinginan tanpa orientasi. Tetapi resensi yang sudah masuk, kritik yang sudah tertuang, membuat penulis kembali dan terus berusaha memperbaiki diri misalnya ;

-         mengapa dalam novel tidak dicantumkan peta seperti dalam karya Lord of the Rings?

-         mengapa tidak dibuat karya tentang Jenghiz Khan terlebih dahulu sebelum sampai kepada Takudar?

-         mengapa penulis terkesan sangat mencintai budaya asing dibanding budaya bangsa sendiri?

-         dsb

 

Kritik dan resensi akan membuat penulis jauh lebih mawas diri. Demikianlah seharusnya dunia literasi di Indonesia : pembaca tercerdaskan, penulis meningkatkan kapasitas, resensi memperbaiki buku yang telah terbit dan akan terbit, penerbit makin selektif dalam artian bukan makin sulit menumbuhkan karya tapi penerbit juga akan mendampingi penulis dengan editor handal, ilustrator makin kreatif, pemerintah pun akan turut berperan meningkatkan daya baca masyarakat.

 

Tidakkah anda lihat, resensi yang hanya 2 halaman punya dampak yang luarbiasa?

Foto-foto acara KTN di villa Hidayatullah, Batu

IMG2185A  IMG2191A  IMG2197A  IMG2193A

IMG2208A  IMG2199A

Kiat Sukses Menerbitkan Karya : dari acara Kupas Tuntas Novel di villa Hidayatullah, Batu, Malang

Malang, 16 Mei 2009

  

Mengapa karya harus diterbitkan?

 

Setelah melewati proses panjang menulis yang menghabiskan waktu berminggu, berbulan, bahkan bertahun-tahun; seorang penulis dihadapkan pada proses perjuangan yang berikutnya : menerbitkan karya. Mengapa sebuah karya harus repot-repot diterbitkan?

 Sastra terlahir lewat proses rumit (bukan berarti sulit) yang menghabiskan seluruh energi penulis, terkadang menghabiskan pula seluruh sumber dananya untuk menggali referensi J. Bukan itu saja, saat menulis seringkali penulis harus menyingkirkan sekian banyak agenda agar tulisannya dapat diselesaikan tepat waktu ; agar idenya yang masih segar & actual secara tepat waktu disebarkan ke tengah masyarakat.

Sastra berisi kegelisahan pengarang, ada tujuan, pretensi (tuntutan), visi, harapan ideal yang menyuarakan kesenjangan antara apa yang seharusnya dengan apa yang ada. Sastra melembutkan sebuah makna agar esensinya sampai ke tangan para pembaca. Sebagai contoh, membangkitkan kesadaran tentang keharusan muslimah berjilbab seringkali tak dapat dilakukan secara dogmatis. Sastra, baik fiksi dan nonfiksi dapat menggiring pemahaman, penafsiran, kesadaran lalu memunculkan titik balik penting dalam kehidupan seseorang.

Baca entri selengkapnya »

Resensi The Road to The Empire, catatan indah dari Kiai Faizi

IMG2134A

IMG2141A

  IMG2142A 

“Sejarah Rasa Fiksi : Sebuah Bacaan Pendamping The Road To The Empire.”

Kiai Faizi, M.Hum ( Pesantren AnNuqoyyah -Guluk-guluk, Sumenep)

 

 

            Novel, sekuat apapun data-data faktual yang dirujuknya, tetaplah menjadi karya fiksi. Karena itu, seseorang yang bersiap-siap membaca sebuah karya fiksi, sepatutnya ia juga menyadari bahwa  ia akan berhadapan dengan sebuah “ cerita yang tak ada”. Lalu, bagaimana dengan novel berlatar sejarah? Atau menyelip-nyelipkan elemen kesejarahan? Ya begitulah, ia tetaplah fiksi ; sesuatu yang tidak pernah terjadi tetapi mungkin pula terjadi.

Karya sastra akan tetap dibaca masyarakat , betapapun itu bukanlah hal yang nyata. Ini menyangkut selera nurani, bahkan naluri : bahwa manusia tidak selalu ingin yang nyata. Ia juga ingin imajinasi yang kaya.

Namun begitu, kelebihan novel yang ditulis berdasarkan data-data sejarah seperti novel The Road to The Empire karya Sinta Yudisia ini, adalah bahwa dalam sekali kesempatan, ia bisa menyuguhkan data-data faktual pada saat dia juga menyampaikan sesuatu yang tak nyata (fiksi).

Ada banyak alasan yang dapat diajukan menyankut novel sejenis ini; fakta yang diangkat terlalu riskan jika disajikan dalam bentuk aslinya (jurnalisme /nonfiksi) seperti kasus Timortimur dalam Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidharma; atau, penulis ingin agar sejarah yang disuguhkan lebih berkesan jika disuguhkan dalam fiksi ; ataupula menjadi upaya memperkenalkan data-data sejarah yang tidak terangkat , dan menganggap fiksi sebagai cara yang tepat memperkenalkannya pada masyarakat yang tidak begitu rajin membaca. Dalam posisi seperti ini , berada dimanakah Sinta Yudsiai? Entahlah.

 

 

*************

 

 

Novel merupakan genre sastra yang banyak dipilih kaum perempuan untuk berekspresi, mengingat semua penulis perempuan di tanah air yang saya ketahui memilih genre ini sebagai media tulisannya. Ini adalah asumsi awal. Selasih adalah orang peratama yang dikenal sebagai orang perempuan pertama yang menulis novel. Kalau Tak Untung , novelnya itu, dikemudian hari, menandai bermunculannnya keberadaan penulis-penulis perempuan Indonesia. Lambat laun, pelan tapi pasti, keberadaan mereka menyita banyak perhatian : baik secara kuantitas maupun kualitasnya.

Tengarai yang disampaikan oleh Korrie Layun Rampan (Kompas, 25/02/1996) bahwa menulis novel bukan menjadi pilihan perempuan-perempuan penulis di Indonesia. Dalam amatan saya, dimaksudkan untuk menunjukkan angka atau jumlah. Artinya, nama-nama seperti Fatimah Hasan Delais, Suwarsih Djojopuspito, Arianti, Luwarsih Pringgoadisuryo, Hana Rambe, Titi Said dll. belum seberapa banyak jika dibandingkan dengan penulis laki-laki. Yang patut disyukuri adalah bahwa kecenderungnan perempuan untuk menulis, hari demi hari, terus membaik. Demikian pula teknik, pencitraan, serta gagasan yang diusungnya, juga menunjukkan perkembangan yang menyenangkan.

Wiyatmi mencatat ( Kompas, 21/04/1996) dalam hal produktivitas, para perempuan penulis lama cukup bagus. Namun dalam soal pemikiran, pada awalnya novel-novel tentang perempuan, baik yang ditulis laki-laki maupun yang ditulis oleh perempuan sendiri, selalu menuturkan nasib kaum mereka yang tidak beruntung, lemah, dan selalu menjadi korban. Biasanya, hal itu dikaitkan dengan persoalan cinta dan adat. Sitti Nurbaya-walaupun ia disebut roman-merupakan representasi kuat untuk itu.

 

 

***************

 

 

Novel yang ditulis oleh Sinta Yudisia, The Road to The Empire ( TRTTE ), merupakan salah satu bukti bahwa perkembangan kepengarangan penulis perempuan di tanah air telah jauh lebih maju dan berkembang daripada yang dicatat oleh pendapat di atas. Dalam novel ini, Sinta Yudisia begitu berani mengangkat tema perang/kekuasaan dengan bumbu romantika dalam satu bingkai latar sejarah; suatu hal yang jarang ditemui dalam peta kepengarangan penulis perempuan Indonesia. Novel ini mengandalkan latar cerita yaitu kekaisaran Mongol sejak Tuqluq Timur Khan hingga generasi selanjutnya, Arghun Khan / Albuqa Khan, hingga Baruji atau Takudar.

Buku setebal 560 halaman ini merupakan ramuan kisah taktik, perang, cinta, yang telah diolah campur-aduk dan disuguhkan dalam sebentuk novel berlatar sejarah yang nikmat, tetapi juga berat. Mengapa demikian ? Tradisi bacaan  (fiksi prosa) masyarakat selama ini terlalu dimanja oleh bacaan-bacaan kekalahan perempuan, tren dunia remaja metropolitan, kisah cinta segitiga, pemberontakan, yang garis brunya adalah : persoalan cinta asmara semata. Bahkan, belakangan novel-novel tanah air  hanya menunjukkan perkembangan dua aliran yang berarti ; yaitu novel-novel bertema cinta-agama-tradisi (seperti Ayat-Ayat Cinta dan sebangsanya) ; kedua, novel-novel kontemporer yang mengedepankan penggarapan di bidang bahasa dan ideology. Novel-novel “lulusan” Dewan Kesenian Jakarta seperti Saman – Ayu Utami, Genijora – Abidah el Khalieqy, Hubbu Mashuri dll merupakan beberapa diantara banyak contoh.

 

Novel TRTTE tampaknya harus menunggu waktu lebih lama untuk menemukan komunitas pembaca di tanah air. Selera bacaan yang telanjur diciptakan sejak lama oleh novel-novel yang lebih dulu popular sebagaimana disebutan di atas, telah begitu mengakar dan tertanam dalam peta penerbit –pembaca. Novel sejenis TRTTE, di samping tidak menemukan “kawan sebaya –sepermainan” juga karena “muatan” yang ditanggungnya yang tidak sepenuhnya ngepop meskipun disajikan sedemikian renyah sekalipun. Poppish dan seelera pop tetaplah tidak bisa diabaikan dalam menakar nasib sebuah karya, terkhusus dalam persoalan laku tidaknya, meskipun bukan timbangan bermutu tidaknya.

 

Berikut sedikit catatan pembacaan saya atas novel TRTTE. Karena tidak mungkin saya menulis sebegitu jauh hinggá membahas segala detil unsur/struktur novel, artikel ini saya tulis hanya sebagai “bacaan pendamping” (semacam further reading) bagi rekan-rekan yang hendak / telah membaca TRTTE karya Sinta Yudisia ini :

Pertama, sinopsis tentang Tuqluq Timar Khan yang dikembangkan di awal-awal cerita terasa terlalu sedikit jika dibandingkan dengan keinginan penulis untuk mengantarkan emosi pembaca dan kearah konflik cerita yang sebenarnya. Lebih dari itu , latar belakang penaklukan –penaklukan yang telah dilakukan oleh kaisar Jenghiz Khan, justru lebih sedikit lagi. Dalam anggapan saya, kisah tentang Tuqluq atau Jenghiz kHan harusnya ditulis dalam bab tersendiri. , baik yang mengikut plot lurus ataupun dengan pola plot balik.  Hal itu dimaksudkan agar pembaca lebih dulu memiiliki pijakan pemahaman latar sejarah untuk melanjutkan cerita. Banyak pembaca barangkali yang tidak tahu menahu tentang Tuqluq dan Takudar, tetapi hampir semua orang tahu siapa itu Jenghiz Khan.

Kedua, terlampau banyaknya nama dan istilah asing cukup mengganggu. Hal ini mungkin tidak akan berakibat demikian jika nama dan istilah berasal dari bahasa Arab yang nota bene begitu mudah dikenali oleh tradisi dan khazanah masyarakat Melayu/Indonesia. Namun demikian usaha penulis dengan membubuhkan catatan/glosarium di bagian bawah halaman merupakan cara yang tepat untuk meminimalisir kesenjangan tersebut.

 

Ketiga, saat pertama kali membaca judul The Road to The Empire, saya langsung  berburuk sangka dengan cara beringgris-inggris ria ini. Saya tidak tahu, apakah hanya dengan cara serperti ini kita dapat mendapat “baraokah” kesuksesan judul-judul novel luar dengan cara sukses dengan ta’aful, minimal pada gaya penjudulan semisal The Lord of The Ring, misalnya? Ataukah cara ini ditempuh agar lebih mudah ditemukan oleh mesin pencari sejenis Google atau Altavista? Atau , sekali lagi mohon maaf, karena sekedar gagah-gagahan saja. Untuk apa? Pertanyaan ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam TRTTE sama sekali tidak ada hubungan penting dengan bahasa manapun kerajaan Inggris J

Masih beruntung, novel ini tidak belepotan dengan kosa kata bahasa Inggris yang diadopsi, diadaptasi, maupun dipakai secara serampangan sebagai mana banyak terjadi dalam banyak genre chicklit dan teenlit yang marak beberapa tahun sila. Terus terang  di antara keberatan saya yang terpenting, penamaan judul berbahasa Inggris inilah yang paling mendalam bagi saya selaku orang yang turut membesarkan bahasa Indonesia dengan menjadi warga dan penulis yang menggunakan bahasa ini sebagai medianya.

 

Keempat, setting /latar merupakan hal mendasar dalam perencanaan sebuah novel terlebih novel yang digali dari kekayaan sejarah. Nah, karena itu  terasa janggal jika TRTTE seolah-olah terlalu asyik menggali latar tempat namur terlena pada penggarapan latar waktu. Peristiwa demi peristiwa dalam novel , meskipun diberi label “sangat filmis” sekalipunm nyatanya tidak didukung oleh deskripsi latar waktu yang kuat. Data tahun tanggal baru muncul pada halaman 74, itupun secara sepintas dan sekedar penunjukan tahun hijriyah, tanpa Masehi.

 

 

Demikianlah bacaan Sepintas saya, ini merupakan upaya untuk memberikan catatan pendek atas struktur cerita yang panjang. Dan tidak bijak rasanya jika saya, pada akhir catatan ini, jika tidak memberikan tepuk tangan untuk sang penulis, Sinta Yudisia, atas karya tulisnya yang tentunya memakan waktu berbulan-bulan untuk mengumpulkan rujukan dan menata alur ceritanya.

 

Sekedar tambahan, bahwa seorang penulis yang ingin mendapatkan hasil terbaik, tentu tidak dapat bekerja seorang diri. Ia membutuhkan penyunting, editor, dan kawan diskusi. Bukankah novel War and Piece nya Leo Tolstoi menjadi masterpiece setelah ditulis ulang sebanyak 7 kali. Ini menunjukan bahwa menulis karya tidak dapat sekali jadi. Ia butuh waktu untuk diendapkan, didiskusikan, salah satunya dengan cara didiskusikan seperti forum ini. Wallahu A’lam.

 

 

Wa maa min kaatibin illaa yublaawa yabqooddahra maa kassabat yadaahu falaa taktub bikhoththika khoiro syay-in tasurruka fii –l qiyaamati an-mmarooh

(Dznunnun Misro-in)

 

Setiap penulis akan diberi cobaan sepanjang tulisan itu masih ada.

Maka janganlah kamu menulis kecuali jika tulisan kamu itu dapat membuatmu berbahagia kelak di hari Kiamat.

 

 

Catatan berkesan dari acara Romántica Menulis Kreatif & Bedah buku The Road To The Empire di STAIN, Pamekasan :

 

            Alhamdulillah, bedah buku dan diskusi yang dihadiri oleh ratusan peserta dalam situasi yang ‘panas’ berlangsung luarbiasa. Pertanyaan-pertanyaan yang masuk menggugah membangkitkan semangat diskusi, tentunya bukan jidal belaka. Ada beberapa catatan pertanyaan dan pernyataan yang penting untuk disimak :

  1. Kivi Faizi berkata : tujuan utama kritik sastra  adalah supaya  sang penulis tidak riya ketika karyanya diterbitkan dan mendapat pujian.
  2. Hana, Faqih, (pak Rusdi Zaki di DKS) juga bertanya : kenapa judulnya harus The Road to The Empire?

Awalnya, novel ini berjudul Tahta Awan atau Singgasana Halimun. Setelah diskusi dengan penerbit masalah mekanisme pasar, mau tidak mau kita harus obyektif bahwa ketika sebuah karya dilempar ke pasar kita juga berharap karya tersebut diserap dengan baik dan buah pikiran kita mewarnai banyak pembaca. Kita tidak hanya bicara royalty, kita bicara masalah nasyrul fikrah dan bagaimana masyarakat semakin dekat dengan produk karya sastra yang mencerahkan dan berkualitas. Sementara ini, jira sebuah judul ‘masih dapat ditawar’ okelah , sepanjang isi tak banyak diedit. InsyaAllah ke depan, jika pasar lebih menerima dan kita lebih mencintai produk karya sendiri; penerbit akan semakin berani menerbitkan karya-karya yang sangat khas Indonesia.

  1. Mengenai harga yang 63.000 : kemahalan? Kiai faizi bercerita bahwa ia sangat suka menulis puisi. Ia menulis puisi bertahun-tahun, baru diterbitkan 2007, baru menerima royalty 2009. 9 tahun ia baru bisa merasakan royalty. Beliau berkata, anda (para peserta) tidak adil jira mengatakan novel tabal TRTTE berharga 60-70 ribu kemahalan! Apakah anda tidak berpikir berapa lama sang penulis menulis, meriset, mengedit, mencari ide, menyempurnakan dst? Belum lagi kerja penerbit yang berkseinambungan? Jika masih menganggap karya sebegitu mahal…ya, kapan akan punya karya berkualtias? Jika penulis hanya dihargai murah, ia enggan menulis dengan ide-ide brilian.
  2. Duh terima kasih sekali kiai Faizi, nasehat anda tentang riya, tentang kata mutiara dari Dzunnun –Nabi Yunus As, dan pembelaan Kiai Faizi tentang ’harga mahal’ tersebut sangat membahagiakan.
  3. Dalamkesempatan tersebut dan banyak kesempatan saya selalu berkata, bahwa salah satu motivator di belakang saya adalah pak Maman S. Mahayana yang selalu mendorong ”….tidak selamanya penulis harus berorientasi pada royalti. Sudah waktunya anda berpikir tentang menghasilkan karya berkualitas.” Kalimat inilah yang menegaskan kita sebagai penulis, sebagai dai, sama seperti kata kiai Faizi yang menyitir dari Nabi Yunus….sebuah tulisan dapat membuat kita berbahagia, kelak di akhirat. Amiin yaa Robbal ’Alamin

FLP Jatim ngunduh mantu (lagi….)

img2107a          img2096a 

img2088a  

Alhamdulillah….setelah Henny Puspitarini, Prayulia, Rofa, Faris Anam, Adi Subiyakto berikutnya menyusul Vina-Fierza dan Vita-Arifin. Si Kembar yang selalu berdua kemana-mana termasuk mengurus FLP juga akhirnya menikah bersama. Kami sekeluarga berkesempatan datang ke Bojonegoro sekaligus menikmati keindahan pantai Lamongan. Siapa menyusul Vina Vita?

bersama Valerie Miner

img1975a img1974a

Alhamdulillah, kamis kemarin tanggal 2 April aku menghadiri acara diskusi sastra di balai Pemuda DKS . Acara yang menghadirkan Valerie Miner , penulis dari Amerika ini dihadiri sekitar 50 orang dan diskusi kami sungguh membuka cakrawalaku tentang dunia kepenulisan

“Sebuah kisah bukan hanya punya dua sisi, hitam & putih, tapi ia bisa menggambarkan 4000 kisah hikmah di baliknya!”

Al Ishlah, Bondowoso

dsc00745 dsc00790

Alhamdulillah, tanggal 28 maret 2009, aku berkesempatan mengisi pelatihan di pesantren Al Ishlah, Dadapan, Grujugan Bondowoso. Pesantren yang berdiri di tanah seluas 10 hekatr lebiih ini dihuni santri yang berasal dari beragam penjuru tanah air. Luarbiasa, mereka sungguh sosok santri yang tangguh dan gemar mencari ilmu.

Bayangkan, hari dimulai dengan sholat malam 02.30 dini hari dan semua kegiatan berakhir pukul 22.00 malam! Ketika aku bertanya, “…kalian nggak capek?”

“Kami sudah terbiasa, Bunda.”

Subhanallah. Mereka dipisahkan ribuan kilo dari ayah, bunda, orang-orang yang mereka cintai. Banyak yang bertahun-tahun menghabiskan waktu di pondok, tak bertemu orangtua sebab mereka harus prihatin mengingat biaya perjalanan yang tak sedikit. Lebaran pun harus dihabiskan di al Ishlah jika tak ada sanak saudara berkunjunga dan menjemput. Ketika aku bertanya, tidakkah mereka rindu kampung halaman dan orang tua?

“Ya, memang beginilah, Bunda, perjuangan orang mencari ilmu…”

Subhanallah, aku teringat bagaimana dulu para salafussholih berjuang mencari ilmu , meninggalkan apa yang mereka cintai di belakang.

Milad FLP ke-12 : Temu Komunitas Sastra se Jawa Timur

img_14991   img_1554 img_15561

 

FLP Wilayah Jawa Timur mengucapkan Jazakumullah Khoiron Katsiro bagi semua pihak yang telah mendukung acara img_15511Milad FLP ke-12 : Silaturrahim Komunitas Sastra se Jawa Timur. Banyak hal yang kami peroleh dari pertemuan dengan komunitas sastra, teater, pecinta buku, dsb.

  1. Menurut pengakuan mas Fahrudin – Lembah Pring, semoga FLP bisa mewadahi komunitas2 sastra (bukan hanya mewadahi penulis!) sebab menurutnya komunitas2 sastra yang ada selama ini bersifat sporadis sementara FLP terbukti bisa memiliki banyak jaringan. FLP Jatim saja 18 cabang dan 9 ranting.
  2.  Sedih sekali mendengar komunitas “Nasi Putih “…mereka hanya beranggotakan 4 orang dan sudah berkata bahwa mereka tidak punya generasi penerus.
  3. CDR – Cak Di Rezim ; salah seorang anggotanya berkata bahwa intrik-intrik antar komunitas demikian tajam. Misalnya (contoh kasus) : Kampus X saling meng-sms dengan kampus A (hari ini  kampus X 5, kapus A 3). Artinya kampu X dimuat 5 tulisan anggotanya sementara kampus A hanya 3. Begitulah setiap hari mereka saling memprovokasi. Hm, sedihnya, jika persaingan sastra jadi tidak sehat. FLP tidak pernah merasa….”ini lho kami sudah punya 500 buku. Kalian mana?” atau “…karya anak FLP difilmkan. Kalian mana?” Bagi FLP pena adalah senjata da’wah yang lain selain peluru, pedang, dsb.
  4. Komunitas Rabu Sore berkata bahwa mereka bisa bergerak kadang-kadang karena dibiayai caleg satu partai.
  5. Emperan Sastra Cok terbiasa menggelar diskusi sastra di alun-alun, targetnya para pedagang dan anak-anak yang ada di situ. Mereka hanya berbekal tikar dan buku-buku seadanya. Khusus komunitas ini meminta bantuan buku bacaan untuk SD-SMP bagi korban Lapindo.
  6. Ada beberapa hal menyedihkan dalam komunitas sastra ini ; mereka umumnya mengawali diskusi jam 21.00 malam, ngobrol kesana kemari hingga dini hari jam 00.00. Barulah agenda serius dimulai jam 00.00 ke atas hingga jam 3 pagi. Wah, kapan sholat malamnya ya? Biasanya kalau melek malam hingga pagi, badan lemas dan lelah sekali. Jangankan sholat malam, sholat Shubuh pun rasanya enggan.
  7. Rasanya, FLP bukan hanya Forum Lingkar Pena tapi juga Forum Lingkar Persaudaraan, Forum Lingkar Persahabatan, Forum Lingkar Pengorbanan. Di setiap acara, teman-teman FLP kita selalu berjuang dari awal hingga akhir acara tanpa imbalan memadai kecuali sebersit rasa berharap pahala pada Robbnya. Betapa lelahnya teman-teman FLP mengisi hari-hari yang sibuk dengan kerja, kuliah, da’wah, tuntutan banyak pihak, tetap menyempatkan diri mencurahkan tenaga dan pikiran demi berlangsungnya da’wah FLP.

 

 

Special Thanks to :

 

  • FLP Pusat yang telah mendukung dengan dukungan moril dan materil
  • Pak Cahyo –Indosat  & staf yang turut membantu dengan spanduk & merchandise. Semoga Allah SWT melimpahkan rizqi berlipat ganda dan kemudahan.
  • Mas Bahtiar Hayat Suhesta ex ketua FLP Jatim yang telah menyumbangkan dana
  • Mbak Lilik Hendarwati yang turut menyumbang dana dengan Helwa Agency-nya
  • Grafio percetakan yang membantu terbitnya profil FLP dan pamphlet
  • Seluruh staf UNTAG; para cleaning service ; pak Roni, pak Agus, pak Sutris, mas Huda. Orang-orang ‘kecil’ yang punya kontribusi besar…merekalah the real heroes.

 

Much thanks, very-very special thanks to :

  • Teman-teman FLP Jember (Lukman, Badrus, Rinda dan Wahyu) yang sudah bersedia mampir ke rumah kontrakan mbak Sinta, makan seadanya. Maaf jika tidak berkenan dan kurang memadai.
  • Sari dari FLP Blitar, semoga semangatnya untuk berjuang bersama FLP tak akan pernah luntur.
  • Iing dari FLP Pamekasan dan teman-teman , Lentera dari Madura; kalian sungguh luar biasa. Maaf jika tak bisa menjamu dengan baik.
  • Semua komunitas sastra yang datang dari penjuru Jawa Timur bersedia sharing banyak hal dengan FLP.
  • Asril, Veru, Lutfi, Adi (FLP Surabaya & Jatim) yang sudah bersusah payah menjemput teman-teman dari luar kota. Terimakasih sudah menjadi om-om yang manis bagi anak-anak mbak Sinta.
  • Vina & Vita, si kembar. Sebetulnya hanya Vina yang anak FLP tapi Vita ikut kecipratan ‘getah’nya.
  • Puput, ketua panitia yang mengurus A-Z, Ismi, Erma, Novi,Arum, Tuti. Wajah-wajah cantik tak kenal lelah yang menghiasi FLP dengan senyum dan semangat. Lemahlembutnya akhwat FLP tak sebanding dengan kekuatan mereka di layar da’wah!
  • Teman-teman FLP yang berhalangan hadir tapi mengirimkan doa mereka demi da’wah FLP

 

 

…….sesudah ini, silakan beristirahat sejenak sebelum menyelesaikan LPJ dan mengevaluasi. Esok, bersamaan terbit matahari tugas yang lain menanti. Semoga, ketika timbangan amal kita dipertanyakan, maka da’wah di FLP adalah salah satu yang menjadi pemberat timbangan hingga kita selamat. Semoga, sebaik-baik tempat kembali adalah saat kita saling menyapa di Firdaus yang abadi nanti.

Luv U all, my brothers & sisters.

 

 

IBF Award

 img_14291   sinta-2

tak dapat terlukiskan rasa hati saat mendapat kabar bahwa saya menerima IBF Award untuk kategori novel fiksi dewasa terbaik. Bahagia, haru, tak percaya. Awalnya mas Ali Muakhir sempat membocorkan kabar tersebut, begitupun mas Salman Iskandar. Saya tetap tak percaya,”…masa sih?” Ketika konfirmasi ke mbak Dee, beliau juga bilang,”…ntar aja deh, Mbak, kita nunggu kepastian dari pihak panitia IBF.”

Alhamdulillah, keputusan itu akhirnya datang juga. Bukannya berharap kemenangan, justru karena sudah tahu dapat ‘bocoran’ saya ingin kepastian. Kalau iya ya iya, kalau enggak juga enggak apa-apa. Asal jangan mengambang.

Alhamdulillah, Subhanallah, MasyaAllah, Innalillah. Berangkatlah saya ke Jakarta pada Jum’at pagi naik kereta api didampingi suami yang terpaksa ijin dari kantor demi mengantar sang istri. Sepanjang jalan, melewati sungai, sawah, laut , hutan, banyak yang dapat direkam oleh ingatan dan kamera hape. Anak-anak yang mengamati laju kereta kami dengan takjub di atas sepeda onthel yang usang, gerombolan petani yang berpanas-panas menghalau burung di sawah, mereka yang menggembalakan kambing, para petani yang hingga menjelang maghrib tetap bersabar merawat tanaman padi mereka demi kehidupan dirinya dan banyak manusia lain. Air mata menetes. Mereka tak merasakan enaknya naik kereta api Argo Bromo, tak merasakan enaknya menginap di hotel Alia-Cikini, tak merasakan kenyamanan pesawat terbang.

Tapi bukan berarti diri ini –yang telah meraih kemenangan- jauh lebih baik dari mereka yang menanam kebaikan dengan setiap tetes peluh.

Ketika penghargaan ini menghampiri, teringatlah pada :

1. Pak Maman S. Mahayana, yang pastinya lelah sekali membaca kalimat demi kalimat. Mengoreksi, mengkritisi, memberikan masukan. Kok budaya masyarakatnya nggak detil? Kok ada dialog yang aneh?

2. Mbak Rahmadianti, yang selalu menanggapi jika saya butuh bantuan ini itu. Membalas sms, menerima telepon, mengurusi hotel dan tetak bengek lain hingga sebagai seorang penulis saya merasa amat sangat dihargai , dicintai, dihormati dan diperlakukan dengan respectable.

3. Mbak Imazahra, yang demikian aktif dinamis membantu promosi buku dengan terobosan-terobosan yang mencengangkan. Semangatnya membuat kita terbakar bahwa kita harus berbuat yang terbaik untuk setiap karya kita. 4. Mas Taufan, editor yang lelah membaca karya saya. Sering saya sms-in dengan beragam problem naskah. Ia pula yang mencoba menyiapkan lay out dan cover yang terbaik

5. Mbak Asma Nadia, kakak saya yang satu ini termasuk motivator yang luarbiasa. Tanpa semangat, dukungan, dorongan mbak Asma; penghargaannya atas naskah-naskah saya mustahil Sinta bisa sampai di titik ini.

6. Mbak Helvy, legenda FLP. Sesibuk apapun, bunda kita ini mencoba membalas sms. Sekalipun ketokohan beliau tak diragukan. Mau diajak main ke rumah di Wnorungkut Utara, makan mie rebus seadanya. Memberikan nasehat yang mebuat kita merenung dan menyala,”…..Sinta, ayo, tulislah yang terbaik!”

7. Crew LPPH : mas Ratno, Azzura Dayana, mbak Nita, Mbak Aisyah. Merekalah yang mengurusi kelengkapan seorang penulis. Tahu sendiri kan, penulis tidak hanya masalah naskah dan cover?

8. Para distributor MMU yang mendukung acara saya di setiap event. Tanpa orang-orang seperti mas Fauzi, mas Musa, mas Yusuf, mustahil buku saya ada di toko-toko, sampai ke tangan pembaca, royalti masuk ke rekening.

9. Teman-teman FLP yang membantu jika mbak Sinta punya acara. Orang-orang di belakang layar yang membantu dengan dukungan moril, materil, doa. Anak-anak FLP Jatim, Cabang : Surabaya, Malang, Blitar, Jombang, Jember, dsb. Saat saya diwawancarai Citra FM Malang; Faris dan Yunus, juga Ismi menemani. Saat saya diwawancarai Giga FM, Ismi menemani. Saat saya ke Jakarta, anak-anak saya titipkan pada si kembar Vina-Vita; juga mbak Tuti di rumah. Saat saya minta doa, teman-teman FLP meng-amini. Sari, Lukman, Lutfi (Jombang & Surabaya), Asril, dsb….ustadz Fathoni, mas Beh, mas Haikal…mereka yang menghidupkan FLP cabang dan melaporkan perkembangan sehingga saya selalu diingatkan. ”Bunda Sinta….inilah dakwah pena kita yang sesungguhnya. Jangan terlena dengan royalti & penghargaan!”

10. Mas Ali Muakhir, mas Salman Iskandar, Mas Benny, mas Doel. Motivator penulis yang amazing.

11. Kang Irfan, ketua suku FLP yang selalu membesarkan hati kita semua untuk terus berjuang. Semoga beliau dapat terus amanah & istiqomah.

12. Juga suami saya ,tentu saja, yang selalu mengutip nasehat Abu Hanifah, Imam Ahmad, Hasan Al Banna dst. Ketika saya lelah, jenuh, tertekan, maka ia berujar,”….cobalah obati dengan baca Qur’an.” Anak-anak saya yang luarbiasa, bukan karena mereka super jenius atau indigo. Justru karena kesederhanaan berpikir dan berbahasa,”…..Ummi nulis buat apa sih?”

13. Seluruh wajah adik-adik FLP yang bergairah di dunia kepenulisan

14. Sms-sms yang masuk mengabarkan ,”mbak, aku dah nulis. Mbak tolong bantuain edit. ”dll Jika demikian, sesungguhkan buat siapakah piala IBF Award ini tertuju? Terlalu selfish jika hanya berpikir piala ini hanya untuk Sinta Yudisia dan The Road to The Empire. Terlalu pongah ketika saya berpikir,”…. akhirnya! Akhirnya aku bisa mengalahkan si A dan si B.”

• Jika ada kebanggaan di sini, marilah kita semua berbangga karena bisa menghidupkan syiar Islam. Lihatlah, da’wah Islam semakin berkilau dan berjaya.

• Jika ada piala di sini marilah kita jadikan perenungan tiap kali menulis, ”saya tak lagi boleh menulis sesuatu yang asal jadi, sekedar bisa dijual. Toh kalau royalti kecil, minimal dapat DP 1 juta atau jual flat putus 2-3 juta.”

• Jika ada piagam disini, marilah…saling mengingatkan bahwa kesombongan, ujub, merasa diri paling baik adalah saat kita justru terseret dalam kehancuran yang paling dalam

• Jika ada uang sebagai penghargaan, marilah kita renungkan beberapa ucapan berikut :

 Pak Nazaruddin Umar ,” profesi penulis belum bisa dijadikan sandaran di Indonesia. Tapi saya salut, anak-anak muda kita terjun di dunia kepenulisan karena syiar Islam.”

 Mbak Imazahra,”….menulislah yang bagus, Mbak. Nggak usah takut tidak akan dihargai. Begitu tulisan mbak bagus, penghargaan pasti datang berikut materi.”

 Maka mulailah segala sesuatu dengan niat da’wah. Sakit. Perih. Sulit. Ketika teman-teman menikmati royalti besar, kita gigit jari karena tulisan kita belum jadi-jadi akibat riset dan timbunan pekerjaan dakwah yang lain. Ketika si X bukunya sudah sekian, kita belum jadi-jadi karena ingin maksimal menulis dengan gaya terbaik yang kita miliki.

 Saat menulis Takudar & The Road to The Empire saya yakin, saya tahu, Allah tak buta. Ia tahu apa yang ada dalam bisikan hati kita. Ia tahu apa yang kita niatkan. Mahasuci Allah, tak pernah menyia-nyiakan tiap usaha hambaNya, tak lupa jerih payah hambaNya. Jangan khawatir. Keletihan kita pasti terbayar.

dengan segala kerendahan hati, Jazakumullah atas doa dan dukungan rekan-rekan semua. Adik-adik FLP tercinta, saudara-saudara da’wahku yang mengerti. Semoga penghargaan ini menjadi penyemangat bagi kita semua, secercah harapan bahwa tak ada yang sia-sia jika kita berusaha dan berkorban dengan yang terbaik. Jangan lupa doakan semoga novel-novel saya barakah, best seller, bermanfaat untuk ummat. Doakan pula kami sekeluarga dalam meniti jalan dakwah ini.

Setting, Kekuatan cerita

charlesdickensitwasthebesto          marktwain

charles dickens                    mark twain

 

‘Tempat’ untuk sebuah Tempat.

Sastrawan besar zaman dahulu banyak menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan membiarkan kota ‘bersuara’ untuk mereka.  Honore de Balzac menghabiskan waktu jalan-jalan di Paris, Charles Dickens menghabiskan waktu berjalan-jalan di London , Fyodor  Dostoyevski menghabiskan waktu jalan-jalan di St. Petersburg.

Josip Novakovich beranggapan bahwa setting adalah sumber utama cerita fiksi Ketika ia meninggalkan Kroasia menuju Amerika, Novakovich menuliskan kisahnya. Orang-orang bertanya apakah kisahnya merupakan autobiografi? Ia menjawab ,”..bukan, meliankan sebuah topografi.”

Ada pendapat umum yang mengatakan bahwa menggambarkan sebuah setting yang mendeti bisa sangat membosankan. Karena ingin segera mendapatkan ketegangan, seorang pembaca melewati saja kalimat-kalimat setting. PAdahal setting sebuah tempat dapat menimbulkan sensasi yang luarbiasa. Apa jadinya jika Mark Twain menggambarkan Huckleberry Finn tanpa Sungai Mississipi?

 

Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan setting adalah :

 

1.Jika penggambaran lokasi terkesan bertele-tele, kesalahan bukan pada setting tapi pada bagaimana mengungkapkan setting yang lamban. Penggambaran harus cepat dan dinamis., tampilkan setting sesuai tokoh dan kejadian yang akan terjadi.

 

2. Ambil contoh sebuah babak drama/film. Jika semua bagian pentas di tampilkan di babak pertama, makanakan terasa janggal. Tampilkan saja yang relevan. Menggambarkan penjara dapat dilukiskan dengan tembok, jeruji, makanan, WC. Pilih yang betul-betul sesuai dengan tokoh. Jika tokoh seorang terdakwa yang berasal dari kalangan bawah, tak mungkin menyewa sel penjara yang seharga 3-5 juta perbulan, bukan? Tentu gambarannya adalah penjara kumuh, bukan penjara elit.

 

3. Henry James dalam The Art of Fiction menggambarkan bahwa seni melukis sama dengan seni menulis, baik  inspirasi dan prosesnya. Tulisan tidak hanya menggambarkan egoisme – hanya tentang diriku tetapi juga berbicara masalah interior dan eksterior.

 

Setting dapat menjadi dasar sebuah cerita yang kokoh seperti pada penulisan beberapa gaya di bawah ini:

1. Josip Novakovich dalam Rust menggambarkan plot cerita berdasar setting Perang Dunia II. Menceritakan Marko , mantan serdadu Perang Dunia II yang tidak tahu bagaimana cara hidup berdamai hingga ia selalu berperang melaan rekan-rekannya sesame pejuang, melawan kota, melawan dirinya sendiri. Setting cerita menggambarkan Yugoslavia yang runtuh; kekuatan bajanya mulai melapuk, terkapar, tak bisa menyesuaikan diri samaseperti kepribadian Marko yang perlahan membusuk hancur karena terceburnya ia dalam perang yang kejam….

 

 

           

 

 

 

« Entri lama