Posted by sintayudisia | Filed under Cinta & Love, Fight for Palestina!, Gaza Kami, ~RINAI~ Sinta Yudisia
Happy Palestine’s (not Valentine’s) Day
16 Sabtu Feb 2013
16 Sabtu Feb 2013
Posted by sintayudisia | Filed under Cinta & Love, Fight for Palestina!, Gaza Kami, ~RINAI~ Sinta Yudisia
03 Senin Des 2012
Membahas Palestina , baik Tepi Barat atau Jalur Gaza, memunculkan polemic tiada habis. Ideologi, agama, aqidah, hingga kepentingan politik dan ekonomi mewarnai. Tetapi membincang Palestina, rasa yang sama muncul mulai anak-anak, remaja hingga golongan dewasa. Tanpa bermaksud memperuncing friksi, inilah rangkuman perjalanan Bedah Buku #Rinai yang banyak diwarnai diskusi seru dan kisah-kisah menarik
1. Naik apa ke Gaza? (Baitul Quran, Sragen)
2. Bagaimana cara membuat bom? (Baitul Quran, Sragen)
3. Bagaimana anak-anak Gaza? (Nuruzzaman, UNAIR)
4. Apa yang paling menginspirasi dari Gaza? (Nuruzzaman, UNAIR)
5. Bagaimana cara perempuan mendidik anak? (Gema Muslimah, UNS)
6. Apa yang dapat kita lakukan untuk Gaza? (Gema Muslimah, UNS)
7. Bagaimana menceritakan Palestina pada anak-anak? (ICMI, Jatim)
8. Bagaimana kode etik jurnalistik? (ICMI Jatim)
9. Israel VS Palestine : Who is becoming loser? (ICMI Jatim)
10. Bagaimana pendidikan dan karir perempuan Gaza? (Temu Muslimah Kampus Swasta, Sby)
11. Tentang Nasionalisme (ICMI, Jatim)
Simak hasil diskusi kami, semoga bermanfaat.
1. Naik apa ke Gaza? (Baitul Quran, Sragen)
Perjalanan ke Palestina bukan main melelahkan. Tim BSMI 2010 saat itu harus menembus Rafah di era rezim Mubarok. Sejak di Indonesia persiapan barang-barang, fisik, tekanan mental untuk “tidak bisa menembus Rafah” yang berarti tidak berhasil memasuki Palestina, sudah harus disiapkan. Check point berkali-kali, asykar Mesir (saat itu) seringkali tidak ramah. Juga, visa kami yang sempat jadi bulan-bulanan di Rafah Mesir. Secara singkat ini rutenya.
* Surabaya – Jakarta : pesawat
* Jakarta –Singapur (transit) – Abu Dhabi (transit) – Cairo : pesawat
* Cairo-Ismailiyah-Sinai-El Arish-Rafah : mobil
* Rafah Mesir – Rafah Palestina : bis, beberapa menit saja
* Khan Younis- Deir al Balah- Gaza City- Jabaliya : mobil dinas
2. Bagaimana cara membuat bom? (Baitul Quran, Sragen)
Inteligensi kaum Yahudi , kerapkali dianggap hanya dapat dikalahkan oleh orang-orang istimewa macam bangsa Palestina. Konon, pemuda Gaza mampu merakit apapun menjadi bom : sayur, kopi, sampo, dsb. Dalam situasi terjepit, sebagaimana bangsa kita dulu yang mampu menjadikan bamboo runcing sebagai senjata, warga Gaza tak hilang akal menjadikan apapun sebagai senjata.
Tapi, jangan tanyakan bagaimana merakitnya, asli saya tidak tahu!
Saya bukan teknisi, tapi calon psikolog, insyaAllah. Jadi lebih faham bagaimana manusia bisa dirakit, daripada merakit senjata. Bukan orientasi membuat bom itu yang menjadi focus utama, tetapi bagaimana mampu tetap sekolah, meraih prestasi akademis, hidup berkorban dan berjuang, selalu punya tujuan mulia, selalu peduli sesama; nilai-nilai itu yang saya bagi terutama kepada peserta anak-anak dan remaja.
3. Bagaimana anak-anak Gaza? (Nuruzzaman, UNAIR)
Sama saja seperti anak-anak lain.
Senang main bola, main perang-perangan tapi kalau bermain peran prajurit Qossam VS Yahudi, rata-rata tidak mau jadi tentara Israel, haha. Suka permen dan es krim, suka bermanja-manja pada orangtua, pakai topeng Batman juga. Bedanya, sejak kecil mereka sangat dekat dengan Quran.
Menjadi penghafal Quran, bukan hanya keinginan orangtua belaka yang mendamba anak sholih, tapi tampaknya pemerintah menyadari anak-anak adalah asset Negara sehingga kurikulum menghafap Quran masuk dalam system pendidikan ; bersinergi dengan kementrian lain termasuk Ministry of Women Affairs.
4. Apa yang paling menginspirasi dari Gaza? (Nuruzzaman, UNAIR)
Salah satu yang sangat menginspirasi sepulang dari Palestina adalah sinergi antara pemerintah dan rakyat. Pemerintah melayani, rakyat percaya. Beberapa kisah dibawah, cukup mewakili.
* Ministry of Culture
Ketika rumah-rumah hancur akibat serangan rudal Israel, tugas kementrian budaya adalah memugar rumah tersebut sebagai warisan sejarah dan budaya. “Ini rumah Asy Syahid fulan….”. Perlakuan pemerintah terhadap kejadian ini setidaknya membuat anak-anak yang ditinggal syahid orangtuanya merasa bangga, merasa bahwa pengorbanan mereka menjadi yatim piatu tidak sia-sia. Negara menghargai dan anak-anak tersebut dipelihara, tidak terlantar menjadi anak jalanan.
* Ministry of Women Affairs
Kementrian perempuan melatih perempuan-perempuan memiliki ketrampilan sehingga mampu mandiri secara financial. Ditinggalkan suami/ayah sebagai tulang punggung keluarga, menyebabkan tugas pencari nafkah beralih kepada kaum perempuan.
Tidak hanya focus pada perempuan, kementrian perempuan bersama kementrian-kementrian lain menjadwalkan program menghafal Quran tiap kali summer camp, sehingga anak-anak menambah hafalam Quran secara signifikan dalam 2-3 bulan.
* Militer/tentara
Peran militer memberikan rasa aman pada rakyat. Sejak HAMAS memerintah, masyarakat merasa aman melepas putri kecil mereka belanja sendiri ke supermarket. Prostitusi dan drug abuse terhapus, minuman keras juga tidak merajalela. Malam hari, pasukan Qossam menjaga hingga ke gang-gang kecil sehingga rumah-rumah dibiarkan tidak terkunci dan situasi tetap aman. Yang mengharukan, prajurit Qossam terbiasa puasa Senin Kamis. Malam hari, para ibu atau warga lain menyiapkan makan sahur; menghantarkan ke pos-pos penjagaan :’)
* Angkutan umum
Pejabat dibiasakan naik Fiat tahun 70an yang mungkin pabriknya sudah tidak memproduksi lagi. Tetapi rakyat disiapkan angkutan warna kuning cerah, berAC, baru, sehingga warga merasa aman menggunakan kendaraan umum, tidak terpicu untuk memiliki mobil pribadi karena angkutan umum yang tidak nyaman.
5. Bagaimana cara perempuan mendidik anak? (Gema Muslimah, UNS)
“We believe in Allah,” itu kata Mrs. Rehab Shubair. Itu yang diajarkan para ibu kepada anak-anaknya dengan percaya pada Allah SWT, percaya pada janji Quran.
Anak-anak biasa diajarkan menghafal Quran di rumah, terutama surat pendek, sehingga di summer camp , mereka telah memiliki dasar untuk masuk ke tahap berikut menghafal , ibarat tahap advance & intermediate. Selain itu, para ibu mengajarkan bagaimana harus beradaptasi dengan situasi darurat seperti menjauhi jendela saat bumi terasa bergetar, dsb.
6. Apa yang dapat kita lakukan untuk Gaza? (Gema Muslimah, UNS)
Doa yang tiada putus, terutama di waktu istijabah, Bukan hanya buat Palestina tapi juga buat Rohingya, Mesir dan belahan manapun dari bumiNya yang terdapat kaum muslimin. Menyisihkan dana, berjuang lewat pena, lewat media social (tetapi juga harus berhati-hati)
7. Bagaimana menceritakan Palestina pada anak-anak? (ICMI, Jatim)
Ada sebuah cerita menarik seorang guru di Surabaya. Ia mengisahkan perang di Palestina, tanpa bermaksud menebar kebencian. Ternyata, anak-anak mampu menangkap cerita. Suatu saat, mereka diminta presentasi tentang Negara-negara dunia, sembari memperlihatkan bendera Negara yang b ersangkutan. Sampai pada Negara Israel, sang murid menginjak-injak bintang David.
Menceritakan Palestina kepada anak-anak di masa sensitive perkembangan, memang harus berhati-hati. Anak-anak sangat perasa, imajinatif, mudah cemas dan panic. Di usia TK –SD, kemampuan operasional formal belum berkembang sempurna dimana mereka dapat berpikir abstrak dan menghubungkan ABC dst. Memperlihatkan foto-foto berdarah, anak-anak terluka dengan organ tubuh tak utuh lagi dapat menyebabkan trauma.
Saya pribadi, di Kelas Menulis SDIT Al Uswah mengajarkan terutama 2 hal :
* Bagaimana anak-anak Palestina tetap bersemangat sekolah meski kepedihan mendera. Tetap sekolah di bawah desing peluru, di bawah ancaman bom sewaktu-waktu, terancam terkena peluru nyasar.
* Bagaimana anak-anak Palestina menyadari harga orangtua yang harus dihormati dan dicintai. Mereka berangkat sekolah mungkin masih menyalami orangtua, memeluk dan mencium mereka, ketika pulang besar kemungkinan orangtua syahid atau kakak yang tiba-tiba tewas.
Ternyata, mengisahkan tentang semangat sekolah dan kecintaan pada orangtua, sangat membekas pada diri anak-anak. Kelak, di usia yang lebih matang, sekitar SMP akhir atau SMA, foto-foto yang lebih real dapat kita perlihatkan. Itupun harus melihat jika anak-anak tidak sedang dalam trauma tertentu. Mereka yang tengah bermasalah berat dengan orangtua dan lingkungan akan menjadi sensitive, terimpuls melakukan hal negative ketika melihat foto-foto miris.
8. Bagaimana kode etik jurnalistik? (ICMI Jatim)
Etiskah meng unggah foto-foto kekejaman Israel, foto anak-anak atau remaja dengan luka mengenaskan? Foto para perempuan yang terluka parah? Menurut bu Sirikit Syah, pakar media, ada 2 aliran besar jurnalistik. Pertama, sangat menjaga “kesopanan” artinya memilih betul foto-foto yang relative bisa “diterima” semua pihak. Kedua, yang jujur apa adanya, sekalipun menimbulkan efek tertentu –kengerian, muak, jijik, amarah.
Sekarang pun muncul Jurnalisme Perasaan. Dulu, jurnalis diminta meliput cover both-side; artinya ia harus menceritakan secara fair dari dua sisi. Misal, RS Asy Syifa hancur, yang diwawancarai harus pihak Palestina dan Israel. Peraturan itu tak berlaku kini. Jurnalis boleh melaporkan cover one-side, bahkan dengan nilai subyektif. Ia berhak melaporkan kondisi Gaza hanya dari kacamata Palestina, tanpa perlu mewawancarai pihak Israel; mengingat mewawancarai Israel juga menimbulkan kesulitan tertentu dan ada kemungkinan ketidak jujuran muncul.
9. Israel VS Palestine : Who is becoming loser? (ICMI Jatim)
Perang Israel VS Palestina kali ini diramaikan dengan perang media social. Ungkapan-ungkapan pedas menyakitkan kaum muslimin : mana Tuhan kamu? Toh Palestina tetap terjajah, Israel menang!
Sejarah mengajarkan , Tuhan kerapkali menunda kekalahan dan kemenangan untuk menimbulkan dampak yang jauh lebih dramatis. Kisah Firaun Musa yang legendaries buktinya, atau Qarun dan Musa.
Qarun yang semula sholih, setelah kayaraya berbalik memusuhi Musa bahkan ingkar tiap kali diingatkan masalah berbagi harta pada kaum miskin. Tak cukup sampai disitu, Qarun beralih menyembah Sobek, dewa Buaya penguasa Nil. Suatu ketika, Qarun minta adu kekuatan. Ia memanggil Sobek, memintanya menenggelamkan Musa. Hasilnya nihil. Musa berdoa pada Allah SWT dan Qarun ditenggelamkan beserta hartanya yang berlimpah.
Darimana kita tahu Israel sebetulnya menderita kekalahan, setidaknya kekalahan mental?
* Tentara Israel dikenal memakai pampers, tak berani turun kencing ketika menyerang darat. Mereka tetap di dalam tank, khawatir tangan-tangan mungil penggenggam batu melempar kearah mereka
* Suburnya rahim perempuan Palestina, mampu melahirkan anak-anak kembar. Ratio penduduk Gaza, meski seringkali dimusnahkan, semakin beranjak naik dari tahun ke tahun
• 2000: 1.120.000
• 2001 : 1.167.000
• 2002: 1.200.000
* Homoseksual di Israel merajalela, dengan dalih HAM. Homoseks tak melahirkan anak, bukan? Akibatnya penduduk Yahudi menyusut
* Banyak pemuda Israel lari keluar negeri, tak mau ikut wajib militer. Berbeda dengan pemuda Palestina yang bertekad mempertahankan tanah air, bahkan sekalipun mereka sukses di Negara manapun (Amerika, Jerman, dll) mereka tetap kembali ke Gaza
* Ancaman Israel untuk mampu menghancurkan Gaza tak didukung kekuatan personil. Sangat sedikit warga Israel yang siap maju ke medan perang, maka Israel meminta bantuan internasional. Pernahkah kita mendengar Palestina meminta bantuan dikirimkan tambahan pasukan? Tidak.
10. Tentang nasionalisme Palestina (ICMI , Jatim)
11. Bagaimana pendidikan dan karir perempuan Gaza? (Temu Muslimah Kampus Swasta, Sby)
Mengingat perempuan menjadi salah satu tulang punggung Negara, perempuan harus disiapkan sejak dini dengan bekal pendidikan dan ketrampilan. Banyaknya lelaki (suami, ayah, anak) yang syahid menjadikan perempuan maju ke garda depan. Belum lagi bila, lelaki di tengah keluarga sengaja dibuat cacat, agar beban perempuan bertambah. Tanpa persiapan apa-apa, perempuan tak akan sanggup memikul ekonomi dan segala macam kesulitan. Memang, Negara membantu, tetapi akan sangat baik bila bantuan Negara didukung kesiapan SDM sehingga terjalin kerjasama to take and to give. Bila memungkinkan, perempuan Gaza sekolah setinggi-tingginya, bahkan mengambil beasiswa ke luar negeri dan kelak kembali membangun Negara. Mereka diberikan kesempatan bekerja yang sama : dosen, salon, pegawai, dokter, perawat, guru, koki dsb.
01 Sabtu Des 2012
19 Senin Nov 2012
Posted in Fight for Palestina!, Gaza Kami, Tulisan Sinta Yudisia
Gaza, Relawan, Legiun Cyber
Sinta Yudisia
Penulis, Relawan BSMI, tinggal lima hari di Khan Younis- Gaza 2010
Di awal tahun Hijriyah 1434, kaum muslimin dikejutkan oleh kematian Ahmad Jabari, komando Izzuddin al Qossam, sayap militer HAMAS. Pembunuhan salah satu tokoh penting di jajaran HAMAS ini memang sudah diisyaratkan oleh Shaul Mofaz, mantan kepala staf militer Israel (Republika 14/11/12). Ahmad Jabari dan Ismail Haaniyah, disebut-sebut sebagai tokoh kunci yang akan merapuhkan Palestina, khususnya Gaza, bila dilenyapkan.
Situasi politik menjelang pemilu 22 Januari tahun depan, menjadi alasan PM Beyamin Netanyahu dan menteri pertahanan Ehud Barak untuk mencari muka di kalangan rakyat dengan menghantam musuh paling oposisional. Menjadikan Suriah, Tunisia, atau bahkan Mesir sekalipun sebagai musuh; tak sedramatis ketika menjadikan Palestina sebagai sasaran serangan. Selalu, bila tindakan keras dan arogan terhadap musuh Israel mengemuka, sang pemilik keputusan diperkirakan mendapatkan simpati dan suara yang melonjak.
Joe Sacco, pemenang American Book Award 1996 untuk karya yang berjudul Palestine; selama tiga bulan tinggal berkeliling di Gaza, Nablus, dan Tel Aviv merangkum pendapat tentang pendudukan dari kaca mata Palestina dan Israel. Penduduk Israel mengaku lelah terus menerus dipojokkan harus meminta maaf atas tindakan pendudukan. Sacco pun merasa Tel Aviv demikian dekat dengan kehidupan beradab ala masyarakat Barat : pasaraya, pantai Mediterrania, masalah keseharian. Berbeda dengan Palestina yang demikian suram. Tetapi warga Israel pun menyebut Kampung Arab Silwan yang bersebelahan dengan pemukiman Yahudi dengan perbandingan sebuah desa yang indah dan pemukiman yang tak pada tempatnya. Sebagaimana Raja Shehadeh dalam Palestinian Walks, Notes on Vanishing Landscape menyebutkan, warga Palestina senang memelihara kebun zaitun dan tiin sementara Israel merampas bukit-bukit dan memahatnya melingkar dengan bangunan-bangunan pemukiman, bagai sabuk tak beraturan.
Tindakan Israel tentang pemukiman, pendudukan, aneksasi, blokade, menyelisihi perjanjian membuat geram banyak pihak. Reaksi keras muncul dari warga Israel sendiri yang menolak serangan ke Gaza awal Muharram ini, dan tentu saja kaum muslimin yang menggelar sekian banyak aksi di dunia maya. Hashtag beragam muncul di twitter : SavePalestine, prayforgaza, savegaza dan masih banyak lagi. Lembaga zakat dan lembaga kemanusiaan bersegera menggalang dana. Berita-berita keadaan terkini Gaza mengalir cepat lewat media sosial. Relawan yang bergerak dari nurani kemanusiaan terdalam, bergerak tanpa dukungan biaya ataupun seruan pemerintah. Dimanapun bencana kemanusiaan muncul –bencana alam, tragedi kemanusiaan dan perang- akan selalu muncul sekelompok orang yang bahu membahu membantu saudaranya sesama manusia, entah dari belahan bumi manapun.
Legiun tanpa nama atau dikenal sebagai Hactivist ikut memberikan suara dukungan bagi Gaza. Didukung kepiawaian mereka dalam IT, kelompok ini menjadi prajurit cyber yang handal disaat media lain tersendat memberitakan kondisi kritis terkini. Hactivist adalah sebutan bagi sekelompok orang –mirip prajurit sehingga disebut legiun- yang mampu menembus keamanan dunia maya. Sasarannya bukan finasial tetapi cenderung politis; kehadirannya dibenci, tapi juga dinanti. Tindakan Hactivist yang terkenal antara lain mengumumkan dukungan terhadap Wikileaks dan meluncurkan serangan terhadap Amazon, PayPal, MasterCard, Visa dan PostFinance pada Desember 2010. Hactivist melakukan operasi Robin Hood pada November 2011 : mencuri data kartu kredit untuk didonasikan pada kaum papa. Sasarannya Chase, Bank of America dan Citibank. Untuk saat ini, salah satu Hactivist yang memberitakan menit per menit kondisi Gaza adalah akun dengan sebutan AnonymousPress. Rajin meng update informasi, memberi panduan bagaimana cara berkomunikasi saat listrik diputus oleh Israel –lewat komunikasi radio yang sudah sangat lama ditinggalkan-, juga mengunggah foto-foto. Akibatnya mereka juga mendapatkan sumpah serapah dari kelompok pro Israel yang mengatakan bahwa HAMAS bersikap pengecut dan melanggar kode etik dengan menampilkan foto anak-anak dalam kondisi mengenaskan.
Everything is fair in love and war, kredo itu boleh jadi dipegang Israel. Apapun halal dilakukan bila menyangkut perang melawan Palestina. Joe Sacco melaporkan pandangan mata bagaimana tentara Israel menginterogasi anak Palestina tanpa mengindahkan hukum kemanusiaan konvesi Jenewa : para serdadu berteduh sementara sang anak harus berdiri di tengah hujan, basah kuyup kedinginan dalam todongan senjata dan interogasi. Bila Palestina membalas, itu kejahatan. Bila Israel menyerang, itu pertahanan. Cast Lead 2008-2009 digelar dalam keadaan jauh dari kondisi fairness, imbang dan bermartabat. Gaza terblokade, listrik sulit, pasokan makanan dan obat minim. Satu-satunya yang membuat masyarakat bertahan adalah kepercayaan mereka kepada Tuhan dan syukurlah, kepada pemerintahan.
Pasca Cast Lead, Gaza bangkit cepat. UCAS, salah satu universitas di Gaza City mampu membangun kembali bangunan enam tingkat dengan menggunakan batu, semen, besi-besi yang hancur. Tambak ikan berkolam-kolam di Asdaa land, diikuti produksi susu. Kebun zaitun dan tiin terpelihara; begitupun timun, tomat dan jeruk. Perempuan-perempuan disiapkan untuk terdidik dan terlatih sehingga kelak mampu tampil, bila diharuskan. Nyaris setiap keluarga di Palestina harus merelakan anggota lelaki, tulang punggung keluarga untuk terpenjara, cacat atau terbunuh. Warga Gaza, termasuk anak-anak memiliki ambisi besar untuk mampu menghafalkan Quran di usia muda. Jangan heran bila di masjid-masjid Gaza, imam masjid seorang remaja tujuh belas tahun, bercelana jins, diizinkan memimpin sholat disebabkan hafalannya 30 juz sempurna. Warga Gaza juga tak kalah cerdas dibanding orang Yahudi yang sering diakui keunggulan inteligensinya; bukan saja karena para ibu sangat concern masalah asupan makanan anak, pemerintah sangat memperhatikan pendidikan dan pembangunan perpustakaan-perpustakaan, dan tentu saja – hafalan Quran yang diakui mampu meningkatkan kualitas memory, suatu metode yang dipercaya meningkatkan kapasitas IQ.
Israel boleh jadi mengerahkan kemampuan fisik terbaiknya – tentara, peralatan perang, sekutu, media massa. Tetapi peperangan, tidak selalu dimenangkan kuantitas. Perang Badar dan pertempuran Thalut-Jalut adalah salah satu bukti, kualitas kelompok kecil dapat menumbangkan dominasi lawan. Perang Vietnam di era tujuh puluhan, menampar malu wajah Amerika yang harus angkat kaki melawan pasukan Vietkong. Rusiapun tak sanggup terus menerus berkonfrontasi dengan suku Cossack, Chechnya. Gaza, terbukti mampu bertahan dan bangkit dengan kemampuan terbaik.
Dukungan para relawan yang terus bergelombang, baik moril dan materil, menjadi bahan bakar bagi Palestina untuk terus bertahan; sekaligus menunjukkan pada dunia bahwa bukan hanya Israel yang memiliki sekutu. Sekutu Palestina mungkin dianggap lebih lemah, tapi ikatan nurani dan kemanusiaan seringkali berlangsung jujur, berkesinambungan; berbeda dengan sekutu Israel yang hanya dilandasi kepentingan finasial dan politis.
Prajurit cyber bersiap menghadang tindakan merugikan Israel dengan terus memberikan informasi dyadic ; bagaimana para relawan dapat terus mengakses informasi terkini untuk disebarluaskan demi kepentingan penggalangan bantuan dan bagaimana Palestina dapat secara teknis mengatasi kendala informasi dibantu para Hactivist. Bila Israel masih merasa menang, ada baiknya kita merenungkan akhir Yitzhak Shamir, Perdana Menteri ketujuh. Saat Shamir menjabat sebagai menteri luarnegeri, dengan Menachem Begin sebagai perdana menteri, ia diduga terlibat dalam pembantaian keji Shabra Shatila 1982 di kamp pengungsi Libanon. Tahun 2004, Shamir menderita Alzheimer parah yang membutuhkan dana pengobatan tak sedikit. Pemerintah Israel berlepas tangan dari pemberian bantuan dana kesehatan, Shamir hidup memilukan hingga ajal menjemput 2012.
Akan selalu ada invisible hand, untuk memberikan akhir yang pantas bagi tiap pemain.
(versi asli sebelum diedit ^_^)
17 Sabtu Mar 2012
“Andai hidung Cleopatra sedikit lebih pendek, wajah dunia tak akan berubah.”
Blaise Pascal (1623-1662) ternyata tidak hanya merumuskan segitiga Pascal yang terkenal. Ia pun menuliskan tentang bagaimana kecantikan Cleopatra membius banyak lelaki pada zamannya.
Sejarah mencatat, dunia terkadang takluk di bawah kecantikan perempuan. Benua Afrika memiliki sejarah legendaris berkenaan dengan kedudukan perempuan berikut paras rupawan mereka. Nefertiti, permaisuri Akhenaten; Cleopatra VII dari dinasti Ptolemaic yang disebut-sebut menjadi pemikat Julius Caesar dan Mark Anthony; Queen Farida Safinaz Zulfikar – istri I raja Farouk.
Perempuan tercantik di dunia, salah satunya berasal dari Alexandria, Mesir. Bukan hanya kebetulan Cleopatra VII dan Safinaz Zulfikar pun berasal dari kota tersebut.
Kecantikan, seolah menjadi syarat mutlak bagi perempuan era modern untuk menampilkan ciri khas kepribadiannya. Tengok saja idola anak muda zaman sekarang yang menggandrungi grup musik asal Korea dan Jepang, dimana sebagian besar mereka berwajah mulus cantik tanpa cela. Bahkan grup band lelaki.
Persyaratan menjadi anggota grup penyanyi tersebut : bersuara indah, bertubuh proporsional, cantik sempurna secara fisik, dan bersedia operasi plastik. Tren operasi plastik tampaknya mewabah di Asia Timur, tak peduli memakan korban nyawa seperti Wang Bei, artis China yang demikian cantik dan terpaksa kehilangan nyawa di meja operasi akibat kegagalan dokter saat membiusnya.
Indonesia, mulai memasuki gejala mempercantik fisik secara operasi plastik, tak peduli harga yang harus dibayar.
Seharusnya, kita belajar mempercantik diri seperti perempuan-perempuan Palestina. Layaknya kaum hawa, perempuan Palestina biasa mengolesi wajah mereka dengan minyak zaitun, minyak yang dipercaya terbaik merawat kekenyalan kulit dan mempertahankan kemudaannya.
Saat berada di Cairo, mata terbelalak menatap kecantikan gadis-gadis Mesir yang lalu lalang di tengah cuaca panas terik. Wajah aristokrat, kulit putih bercahaya, mata indah dan kontur wajah sempurna! Pantaslah salah satu kota di Mesir, Alexandria, dinobatkan sebagai penghasil gadis tercantik dengam mahar termahal : minimal 80.000 dollar! Itu belum termasuk biaya apartemen dan pernikahan. Tentu, jumlah uang itu mewakili betapa kecantikan gadis Alexandria pantas menjadi buah bibir.
Subhanallah, Maha Sempurna Allah menciptakan manusia dengan segala kelebihannya. Menurut kisah yang beredar, salah satu yang memelihara kecantikan wanita Mesir adalah mereka senang mengkonsumsi susu sejak kecil sehingga kehalusan kulit terjaga.
Bagaimana dengan perempuan-perempuan Gaza?
Kecantikan kaum hawa Gaza, tak kalah menakjubkan.
Tetapi sungguh, kecantikan mereka berbeda dengan perempuan-perempuan di negeri lain. Kesederhanaan, ketekunan, kecerdasan, ketangguhan tampak dalam perilaku keseharian. Rehab Shubair, Ittimad Tarbawi, Abeer Barakat, Lina Ameer, Noha Sabhan adalah segelintir perempuan Palestina yang kami temui. Sorot mata mereka menunjukkan kesungguhan dalam menapaki masa depan. Tutur bahasa sopan dengan intonasi tegas. Tanpa polesan make up apapun, mereka tampil cantik dalam balutan abaya dan scarf warna warni. Polesan luar tampaknya tak mendominasi meski sekali waktu, dalam acara pernikahan gadis-gadis tampil lebih attraktif dalam dandanan dan pakaian.
Di Mesir, perempuan muslimah tetap mengenakan busana menutup aurat namun dalam corak dan model yang jauh lebih glamour, mengenakan perhiasan-perhiasan dan sebagian bermake up tebal; hal yang tidak dijumpai pada perempuan Palestina. Bukan dogma fundamentalis yang melarang perempuan tabarruj berlebihan, tetapi lebih kepada karakter perempuan Palestina yang suka bersikap sederhana serta lebih mengedepankan kecerdasan intelektual serta kekuatan pancaran cahaya ruhani.
Di tengah perempuan Palestina, pembicaraan adalah seputar bagaimana tetap mengurus keluarga secara baik sembari meningkatkan kapasitas diri. Di sisi lain, membahas ummat dan masyarakat menjadi agenda penting. Abeer Barakat sendiri menyatakan ia memiliki yayasan yatim piatu sekalipun kondisi keluarga mereka tak berlebih sangat. Memiliki yayasan yatim piatu sebagai bentuk kepedulian pada masyarakat, di samping Abeer bercita-cita kelak menjadi teman dekat Rasulullah Saw di surga seperti dua jari yang tak terpisahkan. Noha Sabhan sendiri tak main-main dengan aktivitasnya : tengah hamil besar dan tetap mengurus pengajian. Hari-hari biasa murid pengajiannya mencapai 100-150 orang, di musim panas bisa dua kali lipat!
Efisiensi waktu, menjadi penting bagi perempuan Palestina.
Mereka membagi waktu sebaik mungkin untuk beragam kegiatan dan tak tersisa untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Televisi, agaknya juga dimaksimalkan bagi perkembangan mental keluarga.
Menikmati kecantikan perempuan Mesir dan Palestina tentu berbeda. Ada gelora metropolis di Cairo, menyaksikan tawa canda raut rupawan para duplikat Cleopatra. Di Gaza; ramuan kecantikan adalah kesungguhan dan kesederhanaan, sholat malam dan hafalan Quran, kepatuhan pada suami dan pengembangan diri, mengurus anak-anak dan peduli masyarakat. Selain minyak zaitun yang juga biasa dikenakan Cleopatra sebagai pemelihara kecantikan; perempuan Gaza memelihara pesona diri mereka dengan tidak mengkonsumsi junk food atau makanan instant.
Telur rebus, tomat, timun, yoghurt adalah makanan keseharian.
Berpuasa, bukan hal yang aneh dilakukan. Giat beraktivitas, hanya memakai khadimah yang dibayar 24 dollar sehari sekali dalam seminggu. Menghabiskan waktu dengan bersosialisai dan berorganisasi, turut berpartisipasi dalam kerja-kerja pemerintah membangun ummat. Pantas saja, mereka tetap ramping dan cantik tanpa harus sedot lemak apalagi operasi plastik.
18 Sabtu Feb 2012
Posted in Cinta & Love, da'wahku, Dunia Islam, Fight for Palestina!, Gaza Kami, mother's corner, Oase
18 Februari : Allah SWT tidak memberiku kekayaan berlimpah. Tapi Dia berikanku orangtua (abah ummi, mamah & alm.ayah), suami, anak2, saudara2, teman2, kesempatan2 berharga. Jazakumullah atas doa yg mengalir. Ada satu hadiah indah untukku hari ini, sebuah kiriman foto. Jika Gaza ada di hati kita, percayalah…suatu saat kita akan menginjakkan kaki ke tanah para nabi:) Luv u all..
30 Jumat Des 2011
Arab Spring, atau gelombang Revolusi Arab diklaim terjadi Sabtu 18 Desember 2010. Gelombang ini menghentak mulai Tunisia dengan tergulingnya Zine el Abidin Ben Ali, bergolaknya Tahrir Square dan terlemparnya Mubarrak dari kursi kekuasaan, jatuhnya Libya dengan kematian Qadaffi yang mengenaskan.
Aljazair, Libanon, Sudan, Oman dan Saudi Arabia menyusul.
King Abdullah II memecat PM Rifai dan membubarkan kabinet, selang beberapa bulan kembali memecat PM Bakhit dan kabinet sebab rakyat tak puas dengan pemerintahan yang bergerak lamban. Presiden Bashir menyatakan tak akan mencalonkan diri lagi di Sudan 2015. Sultan Qaboos melakukan konsesi ekonomi dan memecat menteri yang tidak kompeten. Saudi Arabia menghelat pemilu 29 September 2011 –khusus lelaki- dan mencanangkan perempuan punya hak suara di tahun 2015.
Jika Arab Spring atau Arab Awakening disebut-sebut sebagai babak baru dunia Arab, dimanakah posisi Palestina? Menangkah Palestina ketika Mahmoud Abbas berhasil memasukkan Palestina sebagai bangsa yang terdaftar di PBB dan benderanya sudah berkibar di UNICEF?
Biarkan saja Palestina berjuang, sebagaimana bangsa Arab di sekelilingnya berjuang.
Muhammad Amin al Husayn
Di tengah pergolakan Palestina, mufti besar Al Aqsha 1937 berhasil menyelinap keluar al Aqsha dan bergabung dengan tokoh legendaris pejuang Palestina, Izzuddin al Qossam. Di sela-sela kesulitan bangsa Palestina, sang mufti senantiasa mengumandangkan pendapat bahwa bangsa Palestina harus mendukung sebuah bangsa nun jauh di seberang benua dan samudera. Bangsa yang sama terjajah, sama bergulat dengan kemiskinan dan penindasan. Bisa dipastikan syaikh al Husayn belum pernah melihat apalagi menginjakkan kaki ke Indonesia. Tetapi hatinya yang dipenuhi ikatan persaudaraan merasakan geletar kobar perjuangan dari negeri nun jauh.
Jika saja, beliau masih hidup saat ini.
Akankah mufti besar Palestina itu kecewa sebab pembelaannya terhadap Indonesia tak mendapatkan balasan yang sama? Jangankan mengingat Palestina, Indonesia tengah berkutat dengan indeks korupsi bernilai ”3” (bandingkan dengan Swiss, Demark, Singapur yang 9,…). Indonesia tengah mejadi pasar facebook ke 2 dan twitter ke 3 se dunia. Indonesia tengah berkiblat pada boyzband dan girlband K-Pop dan J-Pop.
Indonesia-Palestina Bersaudara
Tetapi tak setiap orang Indonesia tak peduli.
Arab Spring 18 Desember 2010, nyaris sebuah pengulangan dengan intifadhah yang diperkirakan meletus sebagai Intifadhah Pertama Desember 1987. Gelombang Intifadhah tidak hanya berhenti di satu titik tetapi meluas mejadi Intifadhah Kedua yang meletus sejak September 2000 hingga 2005.
Banyak orang berpendapat : mengapa harus peduli pada Palestina sementara banyak pula orang di Indonesia yang perlu dibantu? Kasus Mesuji dan sekian banyak sengeketa tanah, kecelakaan kapal, TKI & TKW, tawuran pelajar hingga mahasiswa yang protes membakar diri; tidakkah cukup sudah PR besar bangsa ini dan tak perlu sok peduli dan sok baik hati mengurusi bangsa lain?
Dalan hierarki Maslow, puncak tertinggi piramida adalah upaya-upaya aktualisasi, transedental atau bagaimana manusia peduli pada orang lain. Daniel Gilbert PhD dari Harvard University meneliti predictor of happiness. Pernikahan, anak, dan uang adalah syarat bahagia. Uang? Adalah bagaimana kita spent it untuk orang lain, bukan bagaimana cara menghabiskannya. Membantu orang lain, peduli pada orang lain sesungguhnya bukan perilaku sok baik hati tetapi salah satu kebutuhan tertinggi manusia yang merasa damai dan bahagia ketika posisinya sebagai manusia ternyata berarti bagi orang lain. Seorang altruist, bisa dipastikan lebih bahagia dari koruptor meski status kekayaan keduanya berbeda jauh.
Membantu Palestina, membantu orang-orang yang butuh kepedulian di sekitar kita dengan kapasitas yang kita miliki; sesungguhnya adalah memenuhi kebutuhan asasi diri kita sendiri untuk merasa mulia dan berharga.
Ada banyak lembaga di Indonesia yang menolehkan kepala ke arah Palestina. Salah satunya Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI).
BSMI telah berupaya membangung capacity building untuk rakyat Palestina dengan meyekolahkan dua dokter umum Palestina, Dr. Ameen Al Annajhwa dan Dr. Moin Al Shurafa. Pada (7/10) BSMI membawa dua lulusan ‘aliyah (sekolah menengah atas) sebagai penerima beasiswa untuk melanjutkan pendidikan dokter umum di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dua warga Gaza penerima beasiswa pendidikan dokter umum tersebut adalah Mohammed Shabat (19) dan Abdelrahman Elnweiri (19). Keduanya memulai pendidikannya pada akhir Oktober 2011 dengan memasuki kelas Bahasa Indonesia selama enam bulan yang dilanjutkan dengan matrikulasi dan selanjutnya perkuliahan umum.
Ada banyak hal untuk menyatakan kepedulian pada Palestina.
Apa yang kita berikan mungkin tak selantang syaikh Al Husayn atau bagaimana para pemuda Mesir bernaung di kepanduan (sekitar tahun 1940-50 an) secara sukarela berangkat menuju el Arish untuk masuk ke Gaza. Kita mungkin pun lupa menyisihkan harta. Tetapi setidaknya jangan lupa menyisihkan waktu untuk berdoa, dana, menuliskan suara hati dan pikiran dalam blog masing-masing.
Anak & Perempuan Gaza
Jika,
suatu masa atas rizki Allah SWT sepasang kaki menginjakkan kaki ke Gaza.
Rasakan seolah kehadiran Muhajirin Anshor di sekeliling. Senyum tulus, bukan lip service. Hafalan Quran yang menjadi program pemerintah. Perempuan-perempuan yang berlatih setiap hari bagaimana menghadapi situasi perang, bagaimana cara menyelamatkan anak-anak dan menjauh dari jendela bila roket Israel mendadak menyerang. Perempuan yang tetap menjalani kodratnya sebagai gadis, mempelai, ibu; terus memburu kesempatann beasiswa dan senantiasa meng upgrade diri
Anak-anak Gaza adalah anak-anak dengan senyum terbaik di dunia. Tetap mampu tertawa meski kedua orangtuanya syahid, atau hidup sebatang kara. Tetapi bagaimana mereka mampu bertahan? Sebab kementrian Budaya memugar rumah-rumah yang hancur, menjadikannya Monumen Syahid. Kementrian Budaya senantiasa memberikan semangat kepada anak-anak yatim piatu bahwa orangtua mereka memiliki andil besar dalam perjalanan sejarah Palestina dan tak akan pernah dilupakan. Rumah yang hancur adalah saksi sejarah yang harus senantiasa dilestarikan.
Ada banyak anak-anak mengalami speech disorder, perempuan yang bisu tuli karena trauma peperangan. Tetapi mereka bangkit, mengasah skill, bersiap menjadi tulang punggung manakala lelaki di tengah keluarga tewas, sakit atau cacat seumur hidup.
Gaza adalah negeri yang terblokade. Gaza adalah negeri seribu luka.
Tapi Gaza adalah cuaca jernih dan malam yang tenang.
Apalagi kehidupan yang lebih baik daripada bertetangga, berteman, berdagang, dengan para penghafal Quran?
Beberapa Puisi Gaza
Pahatan pada nisan seorang anak Gaza
Aku hidup, sehebat yang kubisa
Berhati-hatilah dengan langkahmu : pemakaman terbentang lebar
….
Namun kita tidak melabuhkan kebencian demi kebencian
Tapi berdoa, bahwa perdamaian tetap menjadi masa terbaik bagi kemanusiaan
Khalid Nusaibah
15 Sabtu Okt 2011
Alhamdulillah, essay Palestina : Seberapa Jauh Kita Harus Peduli ( Sinta Yudisia) terpilih sebagai juara I lomba essay yg diadakan oleh KAZI -Kajian Zionis Interbasional- FLP Depok 2011.
Palestine, our second homeland!
22 Jumat Okt 2010
Posted in da'wahku, Fight for Palestina!, Jurnal Harian, mother's corner, Oase
Assalamu’alaykumwrwb.
Rekan-rekan…bersyukurlah kita mendapatkan perhatian penuh cinta dari saudari-saudari di Gaza. Dalam kesibukan da’wah, meeka sempat mengirimkan email ini, tolong sebarkan demi kesehatan orang-orang yang kita cintai dan kasihi…
Answer the phone by LEFT ear
استخدم اذنك اليسرى للمكالمات بالهاتف الجوال
Do not drink coffee TWICE a day
لا تشرب أكثر من فنجانين من القهوة في اليوم
Do not take pills with COOL water Continue reading »
05 Sabtu Jun 2010
Posted in Catatan Perjalanan, da'wahku, Dunia Islam, Fight for Palestina!, Oase
Suatu malam, sms masuk ke hapeku :
Info Valid Palestina dari Mer-C :
Saat ini kapal ”Mavi Marmara” yang ditumpangi tim Mer-C pukul 23.30 waktu Turki telah berlayar menuju Gaza bersama 8 kapal lainnya dengan 800 penumpang dari 50 negara. Waktu tempuh ke Gaza diperkirakan 15-20 jam. Angkatan laut Israel telah bersiap menghadang untuk menembak kapal2 bantuan kemanusiaan utk Palestina ini & memenjarakan para penumpang. Mohon doa dari seluruh masyarakat Indonesia smoga mereka selamat sampai tujuan. Tolong sebarkan!
(www.mer-c.org # sms dari Dr..Yose Rizal) mohon forward ke rekan2 yg lain semoga saudara2 kita disana diberi kemudahan untuk mleintasi hadangan pasukan Israel.
Mendapat sms ini, hati siapa tak gemetar?
Siapa punya cukup keberanian untuk berangkat kesana, dengan misi kemanusiaan, walau terdengar mustahil karena kita ibarat melawan raksasa zaman ini? Tapi orang-orang ini tetap berangkat dengan segala kemustahilan, kemusykilan, ketakberdayaan, bersandar pada satu kekutan : bahwa kebenaran dan keadilan harus ditegakkan di atas muka bumi.
Kuforward ke teman2. MasyaAllah! pulsaku habis. Sudah malam, aku tak bisa beli. Maka baru tadi pagi kuforward ke teman2 yang sekalipun sangat terlambat, kuharap, daya gentarnya memacu kita untuk senantiasa memanjatkan doa dan menguatkan tekad, masih ada saudara2 kita yang punya keberanian luarbiasa berjihad dengan cara yang mereka mampu lakukan.
Sungguh, secara teori, jika seluruh kaum muslimin di atas dunia ini bersatu, meng embargo Israel dan antek2nya, menembakkan senjata apapun yang kita punya dari arah Arab, Iran, Mesir, Turki, Indonesia, Malaysia dsb, mustahil Israel tak rata dengan tanah. Tapi begitulah teori, sementara kaum muslimin di belahan dunia lain masih disibukkan dengan kecintaan pada dunia. Maka, apa yang ada pada kita sekarang, apapun itu, tak boleh menjadi penghambat untuk mendukung Palestina. Kita mungkin tak punya senjata, tak punya uang, kedudukan, jabatan, apapun yang dinisbatkan pada kekuatan. Kita masih punya air, sajadah dan tempat sholat. Kita masih bisa melantunkan al fatihah.
Janganlah kemudian segala keterbatasan ini menjadikan kita menganggap : mustahil dan percuma saja membantu Palestina! Mustahil dan percuma saja mengirimkan bantuan kesana.
Segala yang kita upayakan tak akan sia-sia.
Kata siapa perjuangan itu butuh waktu pendek, satu generasi, dengan satu macam pola perjuangan saja? Perjuangan Indonesia meraih kemerdekaan ditempuh dengan ribuan cara : belajar, bekerja, berdiplomasi, berperang, berdagang, bernegosiasi dan seterusnya. Yang lain harus tetap berjalan sesuai sunatullah seperti menikah dan memiliki anak, agar regenerasi terus berjalan.
Banyak pejuang belum berhasil meraih apa yang mereka upayakan, tapi tongkat estafet mereka serahkan pada golongan dan generasi sesudahnya.
Bantulah Palestina dengan apa yang kita punya.
Doa. Sholat malam. Uang. Jangan lupa, wariskan kepada anak-anak kita satu cita-cita: jika Abi-Ummi, Ayah Bunda, Papa Mama, Bapak Ibu, suatu saat nanti tua dan tak sanggup lagi berjalan, kalianlah yang bertugas untuk membela Palestina hingga ia kembali ke pangkuan kaum muslimin.
Jujur, mungkin kita penakut dan pengecut untuk berjihad ke sana, tetapi kita masih punya sisa kebaikan untuk mewariskan keberanian pada anak-anak kita : ayo nak, jadi orang pandai biar bisa membuat pesawat yang dapat menghancurkan kantong-kantong kekuatan Israel.
17 Selasa Feb 2009
Posted in Dunia Islam, Fight for Palestina!
Hari Kasih Sayang, 14 Februari atau 2 Oktober?

14 Februari, dimaknai dengan coklat dan segala sesuatu berwarna pink
14 Februari, ditandai sebagai hari kasih sayang
14 Februari, orang menyebutnya hari Valentine
Beberapa perbedaan pendapat menyebutkan cikal bakal lahirnya hari Valentin. Versi Romawi mengatakan bahwa tanggal 14 Februari merupakan hari memperingati Dewi Juno, dewi perempuan dan pernikahan. Dilanjutkan dengan tanggal 15 Februari yang diperingati sebagai Lupercalia, para jomblo boyz and girlz saling berkenalan untuk kemudian jatuh cinta dan menikah.
Versi lain mengatakan, hari Valentine diperingati bertepatan dengan dipancungnya Santo Valentino yang membela sepasang mudamudi dari tirani Claudius II.
Sesungguhnya, suatu masyarakat memperingati hari raya karena makna yang terkandung di dalamnya. Idul Fitri = kemenangan. Idul Adha = pengorbanan. Muharram = tahun baru Islam. Hari kasih sayang = tanggal berapa?
14 Februari = 2 Oktober?
Kalau orang menobatkan tanggal 14 Februari sebagai hari kasih sayang, harusnya kita kaum muslimin punya acuan tersendiri.Bagaimana kalau kita sepakati bahwa 2 Oktober adalah hari kasih sayang sedunia?Apa yang keramat dari tangggal 2 Oktober itu?
2 Oktober, bukan selisih satu hari dari 1 Oktober, Hari Kesaktian Pancasila.
2 Oktober, bukan tanggal muda pegawai negeri menerima gaji
2 Oktober, bukan awal bulan orang mentraktir teman-teman
2 Oktober adalah hari bersejarah
2 Oktober 1187, Shalahuddin al Ayyubi menaklukan Jerusalem, usai mengalahkan pasukan para baron dan comte di Tanduk Hattin, mengalahkan ordo milter Templar dan Hospitaller

David Nicole yang menulis Perang Hattin, Kemenangan Terbesar Shalahuddin sempat menukil beberapa kritik pedas para sejarawan tentang sang pemimpin :
”orang yang ambisius, politikus keji. Dia tak sehebat yang diceritakan. Bahkan ada catatan kelam kemanusiaan ketika Shalahuddin membunuh 230 orang tentara ordo militer yang menolak menukar keyakinannya saat ia menaklukan Jerusalam.” Tetapi David Nicole juga menuliskan bahwa Shalahuddin adalah seorang pemimpin cerdas yang mampu mengelola kekuasaan, prajurit, sumber daya, semua yang dia miliki demi menyatukan kekuatan. Terdapat 2 pemimpin kaum Salib yang sempat ditawan oleh kaum muslimin, jauh sebelum peristiwa penaklukan. Mereka adalah comte Raymond III du Tripoli dan comte Renaud du Chatillon. Tetapi, hati manusia adalah samudra yang tak mampu diselami siapapun. Raymond III, 8 tahun dalam tahanan menyebabkannya fasih berbahasa Arab dan mengetahui seluk beluk kaum muslimin. Ia menyadari bahwa kaum muslimin bukanlah kaum yang pantas dimusuhi. Raymond III pada akhirnya menjadi sahabat karib Shalahuddin sekalipun ia tetap beragama nasrani. Berbeda dengan Renaud du Chatillon yang semakin menaruh dendam membara terhadap kaum muslimin hingga kelak , ketika pecah perang antara kaum muslimin dan kaum salib, Raymond dan Renauld berseteru.
Raymond III, menghargai persahabatannya dengan Shalahuddin sehingga ia tak mau ambil bagian dalam perang salib. Tetapi , demi hubungan baiknya dengan raja Guy de Lusignan, penguasa Jerusalem dan juga upayanya memperbaiki hubungan dengan Renaud du Chatillon pada akhirnya Raymond III du Tripoli berterus terang pada Shalahuddin bahwa ia tak bisa terus menerus berada di pihak kaum muslimin. Dengan kebijaksanaan, Shalahuddin sangat memahami buah simalakama yang dihadapai Raymond. Sang pemimpin muslim akhirnya memerintahkan anak buahnya mengawal Ramond sekeluarga kembali bergabung ke raja Guy du Lusignan .
Shalahuddin, ketika menaklukan Jerusalem mengatakan bahwa pasukan Salib harus pergi sementara orang-orang Nasrani boleh tinggal setelah membayar pajak. Laki-laki 10 dinar, perempuan 5 dinar, anak-anak 1 dinar. Perlu dicatat disini bahwa Shalahuddin memperlakukan setiap orang sama, tidak peduli ia kalangan bawah atau uskup sekalipun (yang seharusnya membayar lebih mahal sesuai status dirinya). Mereka yang berniat pergi boleh membawa harta benda mereka. Ada yang mengatakan orang miskin Nasrani sekitar 7000 orang, catatan lain mengatakan 15.000 orang. Ketika orang-orang miskin ini tidak dapat membayar tebusan, 2 ordo militer (Templar dan Hospitaller) menolak membayari mereka dan memilih mengangkut harta benda mereka sendiri keluar dari Jerusalem.
Baik para amir maupun orang-orang Nasrani muak melihat para pemimpin Nasrani. David Nicole menyebutkan ”…..kala warga Kristen yang kayaraya sibu memboyong harta mereka ke arah pesisir, Shalahuddin justru membayar uang tebusan banyak orang miskin.”
Tokoh –tokoh yang menyerah kalah diperlakukan Shalahuddin secara hormat : Raja Guy de Lusignan, Geoffrey de Lusignan, Connetable Amaury de Lusignan, Marquis Guglielmo del Monferrato, Humphrey II de Toron, Pemimpin Ordo Templar- Gerard de Ridefort, Pemimpin Ordo Hospitaller-uskup Lidde, Renaud de Chatillon, masih banyak baron yang lain.
Shalahuddin bermurah hati kecuali pada Renaud de Chatillon yang selalu mengobarkan peperangan dan melanggar perjanjian. Renaud dipenggal kepalanya, sebuah sumber menyebutkan Shalahuddin sendiri yang mengayunkan pedang, sumber lain menyebutkan salah seorang prajurit muslim yang melakukannya.
Jika pada 1099 kaum muslimin dibantai di Jerusalem, bisa saja Shalahuddin memberlakukan hal yang sama bagi musuh-musuhnya tetapi tidak dilakukan. Renaud de Chatillon punya semboyan Die to all muslims! tetapi Shalahuddin senantiasa memperingatkan prajuritnya agar teguh memegang janji. Mereka telah berjanji menjaga kesucian Baitul Maqdis , tidak akan merempas harta, tidak akan bertindak sewenang-wenang apalagi membantai orang-orang yang telah ditaklukan.
Jadi, tidakkah sebaiknya 14 Februari yang diperingati sebagai hari kasih sayang digeser tanggal 2 Oktober?
03 Sabtu Jan 2009
Posted in Dunia Islam, Fight for Palestina!
Perempuan, harum & cantik
Perempuan, lembut & pengasih
Perempuan, gemulai & pesona
Perempuan, kerling mata & penggoda hati
tapi bunga Palestina
rahimnya subur menumbuhkan mujahid
tangannya terbiasa menggenggam peluru & pelatuk
pesonanya adalah berangkat pergi ke garis depan
airmata,darah,senyum & cintanya
hanya bagi bumi jihad Palestina


02 Jumat Jan 2009
Posted in Dunia Islam, Fight for Palestina!

Kamis 2 Januari 2009 kami berkumpul di Grahadi Surabaya untuk memprotes kekejaman Yahudi atas Palestina. Massa yang hadir sekitar 1000 orang. Dana yang terkumpul sekitar 80 juta rupiah. Allahu Akbar! Terik, lelah yang kami rasakan tak sebanding dengan pengorbanan dan perjuangan saudara-saudara kita di Palestina.
Ketika laras senapan meretakkn tulang-tulang
Ketika anjing-anjing Rabin merobek kehormatan
Ketika dengan batu dan iman kami bertahan
Ketika timah panas melenyapkan kesadaran
Sedang apakah kalian, sedang apa?
Ingatkah pada nasyid itu?
