Quran indah, sangat berseni? Saya tahu, tapi tak mampu menjelaskan secara detil mengapa ia indah. Membaca Atlas Budaya Islam karya sejoli syahid syahidah (insyaAllah) Ismail Faruqi dan Lois Lamya Faruqi, mau tak mau saya ingin menuliskannya secara ringkas dan membagikannya kepada anda.
Saya bukan sastrawan, hanya seorang penulis yang kata pak Maman S. Mahayana dalam “9 Jawaban Sastra”; seorang penulis berusaha menterjemahkan, merenungkan, menafsiran segala hikmah kehidupan dengan caranya sendiri yang unik (kurang lebih demikian). Dari 8 Seni Sastra dalam Quran, saya coba tambahkan pengalaman pribadi.

Coba simak hakikat keagungan dan keindahan sastra Quran!

400-04532330

1. Pertama

Quran bukan syair, bukan sajak.
Syair adalah bait-bait matra (jumlah, panjang, posisi suku kata) dan sajaknya (konsonan dan vokalisasi suku terakhir) identik.
Sajak adaah prosa yang kalimat dan frasenya ditandai dengan sajak diseluruh komposisinya.
Quran tidak menyerupai keduanya, tetapi memanfaatkan keduanya dengan leluasa untuk mengembankan tujuannya. Karena itu kategori baru harus ditentukan untuk menggolongkan Quran di luar syair dan prosa yaitu “ Al natsr al muthlaq” (mutlak bebas dari prosa)

2. Kedua

Quran tersusun dari kata dan frase yang sangat sesuai maknanya. Artikulasinya benar dan sempurna. Perubahan, bagaimanapun kecilnya , berarti perubahan yang lebih buruk. Tidak satu katapun boleh hilang, yang akan menghancurkan aliran dan makna ayat.

3. Ketiga

Kata-kata dan frase dalm Quran untuk satu ayat, atau satu bagian ayat, sebanding atau kontras sama sekali dengan kata dan frase ayat sebelumnya atau sesudahnya, baik dalam susunan maupun maknanya.
Aliran kata-katanya dengan demikian melahirkan tekanan dan harapan besar, serta ketenangan dan kedamaian. Kualitas komposisi Quran ini disebut “tawazun” atau keseimbangan, dan komposisi ini berlaku dalam bentuk maupun dalam kadungan teks.

(untuk point ini saya jadi merenung. Sempat bertanya-tanya mengapa ayat puasa 183-185, lalu sesudahnya ada 1 ayat – 186 tentang doa yang sangat berbeda dimana ayat 187 juga masih tentang puasa? Kalau mengkaji pendapat Faruqi, rasanya beliau benar. Ayat 186 tentang doa dan betapa dekatnya Allah SWT melahirkan “tekanan dan harapan besar”)

4. Keempat

Kata dan frase Quran mengungkapkan makna terkaya dan terkuat dalam bentuk tersingkat.

(ini saya rasakan betul ketika mencoba membaca arti – baru membaca arti, belum membaca tafsir dan asbabun nuzul- tentang ayat sedekah misalnya, mulai dari QS 2 :261 – 274. Sedekah termasuk dibahas secara panjang dan istimewa di al Baqarah, mencakup 14 ayat. Mulai balasan sedekah seperti satu biji yang berlipat menjadi tujuh tangkai, tiap tangkai ada seratus biji (2:261) atau seperti kebun di dataran tinggi yang bahkan hanya disirami embun saja berbuah lebat, apalagi hujan (2 : 265). Sedekah ini harus yang terbaik (2 : 267) tetapi dilarang menyakitkan hati si penerima ; missal denga berkata “….lha, elo lagi, elo lagi! Mintaaa melulu, apa gak ada usaha sama sekali?”

Sedekah bisa berupa perkataan yang baik dan pemberian maaf (2 : 263), tidak mesti materi. Quran menunjukkan sifat manusiawi insan, suatu saat ingin memperlihatkan/mengumumkan sedekah tidak apa-apa (2:271). Infaq, sedekah siang malam, sembunyi atau terang, semuanya dapat pahala (2 :274)

Dengan 14 ayat, sedekah bisa memiliki makna yang sedemikian luas dan dalam! Bahkan sedekah selain mencari ridho Allah, juga untuk meneguhkan hati seseorang (entah benar atau tidak, saya pernah menasehati teman yang tengah galau luarbiasa padahal ia sudah Qiyamullail, istikharah dan segala macam ibadah tapi tetap bingung dengan langkah yang diambil maka saya menyitir 2 : 275. Mungkin saja sedekah dapat memperteguh jiwanya saat mengambil keputusan pelik!)

5. Kelima

Tamsil dan kiasan Quran, konjungsi dan disjungsi konsep dan petunjuknya, mengandung daya tarik. Tamsil dan kiasan ini menimbulkan imajinasi yang begitu besar kekuatannya sehingga membuatnya terengah-engah karena terguncang dan terpesona.
Untuk kualitas Quran yang unik ini, ahli estetika sastra Arab menciptakan istilah “badi’”- kreatif secara sublime.

(pernah membayangkan “jannah/firdaus” seperti apa? Pernah membayangkan “malapetaka langit” seperti apa? – QS 2 : 59? Rasanya imaji kita menjadi terengah-engah dan terpesona oleh keindahan surgawi sekaligus tak berani membayangkan murkaNya…)

6. Keenam

Komposisi Quran selalu tepat, terjalin baik, disampaikan benar, seperti karya seni yang sempurna mutlak. Aliran dan susunannya sama sekali bebas kendala atau kelemahan-kelemahan.

7. Ketujuh

Gaya Quran kuat, empatik, tegas; juga lancar dan halus.
Orang yang membaca Quran merasakan jatuh menimpa dirinya seperti batu karang atau dengan kelembutan yang luarbiasa. Inilah yang disebut “husn al-iqa’” (keindahan yang menimpa kesadaran).
Apakah ia berbisaik seperti aliran yang tenang, menghantam seperti aliran deras, atau melompat dan menerjang dengan cepat seperti serbuan pasukan berkuda yang pasti iqa’- nya selalu sempurna

(sesekali saya malas baca Quran. Tapi kalau sudah dilawan keinginan itu, lalu timbul minat membaca Quran, rasanya gak mau berhenti. Bahkan, saat malam larut bisa tahan lama bercengkrama dengan Quran atau murojaah.
Tentang aliran yang menghantam seperti aliran deras, merasa tertimpa batu karang atau kelembutan yang luarbiasa; saya pernah merasa demikian tersayat sedih, menangis padahal tidak sedang membaca bab surga atau neraka. Saya membayangkan kepedihan Nabi Musa as : membawa bani Israil melawan Firaun, menyebrang laut Merah, memintakan Allah SWT agar menampakkan diriNya, memasuki negeri Palestina, memintakan hidangan-hidangan yang diminta, memukulkan batu agar keluar 12 mata air. Semua dilakukan Nabi Musa as demi kecintaannya pada Bani Israil tetapi balasan yang didapatkan dari ummatnya adalah penentangan, bahkan untuk seekor sapi betina.

Saya pernah bercerita pada anak-anak kami, bahwa kita bangga menjadi kaum muslimin. Ketika Nabi Muhammad Saw mencontohkan menyembelih Qurban, hingga sekarang, setiap kaum muslimin akan berjuang untuk membeli kambing Qurban. Meski harus menabung, meski harus berkorban uang dan harta. Tidak ada pertanyaan dan sanggahan, sebagai bukti ketaatan dan kecintaan pada Nabi Saw dan Nabi Ibrahim as yang mencontohkan. Juga bukti ketaatan, kepasrahan pada Allah SWT.
Kita tidak aka berdalih macam-macam sebagaimana kasus sapi betina.
Dan, saya teringat sebuah syair yang intinya kurang lebih :

“Para pelaku kebenaran akan sangat kesepian, sebab mereka berjalan seorang diri
Dan siapa yang paling tidak ditemani seperti para Nabi?”

Membayangkan Nabi Musa as yang sudah memperjuangkan ummatnya sedemikian rupa dan masih mendapatkan pembangkangan…ah, kisah itu ada di Quran al Baqarah 40-93.)

8. Kedelapan

Komposisi Quran tidak mempunyai struktur pengertian umum. Komposisi Quran menggabungkan bentuk sekarang, lampau, akan datang, dan kalimat perintah dalam halaman yang sama. Komposisi Quran bergerak dari pembicaraan orang ketiga yang bersifat melaporkan kepada orang kedua yang menerima. Dari deskriptif ke normative, dari pertanyaan ke seruan dan perintah. Komposisi Quran berulang, meski dalam setiap pengulangannya terkandung pesan yang berbeda.
Aliran Quran melahirkan momentum yang mengalahkan sikap keras kepala pendengarnya, kepicikan pendengarnya dengan serangan yang beraneka ragam dan pada akhirnya membawa pendengarnya ke tujuan Al Quran.

(sumber dari the Cultural Atlas of Islam, bab 19 : Seni Sastra, Ismail Faruqi – Lois Lamya Faruqi)
ismail faruqi

About these ads