
Foto-foto acara di Kampus UNTAG, Bedah Buku Hi Pretty!
Mei 31, 2009 pada 3:52 am (Catatan Perjalanan, Jurnal Harian, Karyaku, Kepenulisan, My campus)
Bedah Buku Bedah Buku Hi, Prettty : Cantik dalam 30 hari!
Mei 31, 2009 pada 3:26 am (Catatan Perjalanan, Jurnal Harian, Karyaku, My campus, resep cantik Sinta)
Alhamdulillah tanggal 30 Mei kemarin aku diundang kampusku sendiri , UNTAG, oleh departemen keputrian untuk bedah buku Hi Pretty.
Sebetulnya aku diminta unutk mengisi tema kemuslimahan, apakah kecantikan itu? Sesuai buku Hi Pretty, cantik itu 3 B : Brain, Behaviour, Beauty. Perempuan di katakana cantik bukan karena fisiknya sekalipun fisik memang memegang peranan cukup penting dalam pergaulan sosial.
Beauty is a characteristic of a person, animal, place, object, or idea that provides a perceptual experience of pleasure, meaning, or satisfaction. Beauty is studied as part of aesthetics, sociology, social psychology, and culture. As a cultural creation, beauty has been extremely commercialized. An “ideal beauty” is an entity which is admired, or possesses features widely attributed to beauty in a particular culture.
Perlu digaris bawahi, bahwa kecantikan memang identik dengan kultur seseorang. Orang Eropa dikatakan cantik ketika ia berambut pirang, bertubuh tinggi, berhidung mancung. Orang Afrika dikatakan cantik bila bertubuh segar, bergigi putih, dengan rambut hitam keriting. Orang Asia (termasuk Indonesia) punya kecantikan khas berupa tubuh mungil, kulit kecoklatan (warna caramel lho, kata orang Perancis!), rambut hitam bergelombang, retina hitam. Orang Indonesia pastilah aneh bila berambut pirang, dengan retina biru, kulit diputihkan sementara kontur wajahnya (hidung, bibir, pipi, dsb) sangat Asia. Ketika sebuah produk kecantikan mau diluncurkan di Indonesia, mereka melakukan survey panjang. Setelah dirunut histories bangsa Indonesia yang telah dijajah Belanda 250 tahun, perempuan Indonesia yang merasa cantik hanya 1 %! Sisanya tidak merasa cantik dan ingin merubah seluruh penampilan mereka.
Beauty is in the eye of the beholder The classical Koine Greek for beauty : the ripe of fruit
Orang Yunani kuno beranggapan cantik adalah seperti buah matang. Jadi gadis yang dalam keadaaan matang itulah masa tercantik. Sesungguhnya cantik adalah consensus, kesepakatan tidak tertulis, tidak dapat diklaim begitu saja oleh sekelompok orang yang mengatakan bahwa cantik haruslah puith, ramping, berhidung mancung.
The characterization of a person as “beautiful”, whether on an individual basis or by community consensus, is often based on some combination of Inner Beauty, which includes psychological factors such as personality, intelligence, grace, congeniality, charm, integrity, congruity and elegance, and Outer Beauty, (i.e. physical attractiveness) which includes physical factors, such as health, youthfulness, sexiness, symmetry, averageness, and complexion.
Sekarang cantik sering dikaitkan dengan hal-hal komersial. Padahal kecantikan sesungguhnya adalah kecantikan yang memancarkan kelebihan seseorang apa adanya. Apa salahnya dengan seorang gadis yang bertubuh pendek, bulat, tetapi ia menguasai banyak bahasa? Apa salahnya dengan gadis berjerawat batu tapi ia sangat suka terjun di kegiatan sosial? Apa salahnya dengan gadis bertubuh ceking, berhidung pesek, berbibir ndower tapi punya kemampuan persuasif yang bagus sehingga bisa jadi psikolog handal, dimanapun orang merasa nyaman di dekatnya? Tentunya, bukan berarti kita mengabaikan masalah fisik. Seorang muslimah haruslah tampil segar, bersih, menarik, sehat. Merawat wajah dan tubuh harus dilakukan sebab tubuh yang fresh juga akan membawa percaya diri yang besar.
Di buku Hi Pretty terselip pesan bahwa merawat kecantikan ala tradisional Indonesia yang murah meriah dapat dilakukan dan memperoleh hasil maksimal. Contoh : memutihkan kulit. Aku sendiri sudah mempraktekan dan hasilnya Subhanallah. Ambil bengkoang, parut, peras, endapkan. Pada endapannya yang berupa saripati seperti bedak dioleskan ke wajah dan leher. Rasanya dingin dan segar. Wajah jadi terlihat terang dan noda-noda pun menipis lalu hilang, ketika dilakukan berulang. Tomat pun begitu. Tiap kali mencuci tangan jadi keriput, kuoleskan tomat yang diremas-remas, kulit jadi segar dan halus sekali. Menjadi cantik tidak harus mengeluarkan biaya besar lho. Peserta menanyakan hal2 sebagai berikut : bagaimana bisa PD? bagaimana cara bergaul dengan cowok? bagaimana memasang foto di facebook? (…ada yang gak connect dengan materi memang
)
Masalah PD, kita bisa melihat di cermin apa kelebihan kita. Pasti ada! Yang namanya Sinta Yudisia itu berkulit gelap tapi punya lesung pipi (….haha). Tidak mungkin Allah SWT tak menitipkan satu potensi dalam diri kita, kan?
Suntik Kecantikan : kulit indah & mulus!
Mei 21, 2009 pada 6:13 pm (Catatan Perjalanan, mother's corner, resep cantik Sinta)
Tags: resep cantik Sinta
Beberapa waktu yang lalu , teman-teman kampusku yang cantik, sexi dan muluuus banget kulitnya menawariku injeksi alias suntik untuk kecantikan. Macam-macam yang ditawarkan pihak penyedia : suntik silikon, whitening, serum C maupun kolagen. Kata mereka : gak ada efek sampingnya! Suamiku nggak pernah nuntut macem-macem, tapi yang namanya perempuan ingin selalu mencoba. Wah, jangan-jangan aku jadi secantik temanku ya? Memang wajah dan bodinya mulus tanpa cela!
Untung, aku sempat menangguhkan keinginanku lalu mencari tahu dunia operasi plastik, implant dsb di internet. Aku banyak dapat info. Sedikit kusampaikan di bawah. Hati-hati ya!
Meski sudah banyak korban yang jatuh, orang ternyata belum jera juga untuk melakukan suntik silikon cair dan kolagen demi memburu kecantikan. Sebenarnya apa itu silikon cair dan kolagen serta bahayanya untuk anda ? Mungkin anda ingin terlihat cantik tetapi ternyata malah menjadi hancur. Karena harus menahan rasa sakit yang luar biasa pada daerah yang ingin anda ubah.
Sebaiknya anda lebih berhati-hati lagi bila ingin terlihat cantik dengan mengubah bentuk tubuh seperti memancungkan hidung, mengisi dagu atau menghilangkan kerutan. Jika anda ingin melakukan hal tersebut, sebaiknya anda lakukan di dokter spesialis bedah plastik dan jangan ke salon kecantikan atau tempat praktek ilegal. Karena apapun yang disuntikkan ke dalam tubuh akan berdampak negatif atau positif. Sisi positif adalah diharapkan menjadi kenyataan tetapi sisi negatif reaksi yang timbul dapat berupa alergi atau salah lokasi penyuntikan sehingga menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah.
Saat ini memang cukup banyak beautician atau ahli kecantikan dan dokter umum yang menjual jasa suntik silikon. Mereka mungkin bisa melakukan suntikan tapi mereka tidak bisa mempertanggungjawabkan hasilnya. Pemerintah pun masih saja membiarkan orang-orang yang tidak punya hak untuk melakukan suntik silikon di berbagai salon.
Suntikan silikon di salon kecantikan, biasanya akan menimbulkan keadaan yang tidak diinginkan pasien. Mungkin pasien tidak meninggal tapi hasilnya malah menimbulkan rasa sakit yang berkepanjangan seperti merah dan bengkak akibat suntikan tersebut. Akibatnya operasi tersebut dibongkar lagi dan diperbaiki sehingga anda dirugikan karena salon tersebut tidak mampu memperbaiki kerusakan yang terjadi pada wajah anda.
Sebaliknya, kalaupun cairan yang disuntikkan itu benar kolagen maka dokter tidak akan menyuntikkannya ke payudara. Kolagen lebih cocok untuk jaringan kulit, bukan pada jaringan lemak. Sedangkan payudara itu sendiri terdiri dari jaringan lemak.
Pada payudara juga terdapat banyak pembuluh darah besar atau vena sehingga zat yang disuntikkan bisa langsung menerobos pembuluh darah dan menyumbat pembuluh darah. Sehingga tidak ada dokter yang mau menyuntik payudara dengan kolagen. Cara yang paling aman adalah melalui operasi dengan memasukkan kantung silikon jeli. Ini lebih mudah dikeluarkan jika ada masalah seperti reaksi alergi.
Oleh sebab itu anda harus dicek, apa betul cairan yang disuntikkan itu kolagen. Apalagi, kolagen yang asli harganya cukup mahal. Satu cc harganya bisa mencapai 80 hingga 100 dolar AS. Padahal, untuk memperbesar payudara diperlukan cairan kolagen sebanyak 200 cc, yang artinya perlu dana sekitar 40 ribu dolar atau sekitar Rp 360 juta. Dalam pemakaian yang cukup besar, tentu saja harganya sangat mahal. Oleh sebab itu, kolagen biasanya dipakai untuk mengatasi kerutan kulit bukan untuk memperbesar payudara.
Selain mahal, kolagen juga memerlukan tempat penyimpanan khusus, yaitu pada suhu rendah dan konstan. Ini membuat banyak rumah sakit tidak sanggup menyediakan stok kolagen cair bagi pasien. Alhasil, untuk memberikan pelayanan suntikan kolagen tidaklah mudah dan murah.
Padahal banyak perempuan yang minta dibesarkan payudaranya dengan suntikan di salon kecantikan karena lebih murah, cepat dan tanpa harus perlu tindakan operasi. Tindakan operasi merupakan sesuatu yang menakutkan meski sampai sekarang belum pernah ada orang yang meninggal gara-gara menjalani bedah plastik.
Kolagen memang lebih alami karena diambil dari tunjang hewan (sapi) yang diproses menjadi berbentuk cair dan digunakan menjadi pengisi atau menambah volume bagian tubuh yang kurang. Para dokter biasanya menggunakannya untuk mengatasi kerutan di kulit wajah dengan jalan disuntik agar lebih rata. Bahan dasar kolagen mirip jaringan tubuh manusia sehingga bila disuntikkan ke dalam tubuh, sebagian akan diserap oleh tubuh. Tetapi sebulan setelah disuntikkan anda perlu dievaluasi dan selama dipergunakan dengan baik, kolagen sebenarnya cukup aman untuk tubuh. Apakah anda masih tertarik untuk menjalani hal ini ?
Sekalipun banyak yang sukses dengan implant dan injeksi , tak sedikit yang gagal!

Foto-foto acara KTN di villa Hidayatullah, Batu
Mei 17, 2009 pada 6:47 pm (Catatan Perjalanan, FLP, Jurnal Harian, Kepenulisan)


Kiat Sukses Menerbitkan Karya : dari acara Kupas Tuntas Novel di villa Hidayatullah, Batu, Malang
Mei 17, 2009 pada 5:29 am (Catatan Perjalanan, FLP, Jurnal Harian, Kepenulisan)
Malang, 16 Mei 2009
Mengapa karya harus diterbitkan?
Setelah melewati proses panjang menulis yang menghabiskan waktu berminggu, berbulan, bahkan bertahun-tahun; seorang penulis dihadapkan pada proses perjuangan yang berikutnya : menerbitkan karya. Mengapa sebuah karya harus repot-repot diterbitkan?
Sastra terlahir lewat proses rumit (bukan berarti sulit) yang menghabiskan seluruh energi penulis, terkadang menghabiskan pula seluruh sumber dananya untuk menggali referensi J. Bukan itu saja, saat menulis seringkali penulis harus menyingkirkan sekian banyak agenda agar tulisannya dapat diselesaikan tepat waktu ; agar idenya yang masih segar & actual secara tepat waktu disebarkan ke tengah masyarakat.
Sastra berisi kegelisahan pengarang, ada tujuan, pretensi (tuntutan), visi, harapan ideal yang menyuarakan kesenjangan antara apa yang seharusnya dengan apa yang ada. Sastra melembutkan sebuah makna agar esensinya sampai ke tangan para pembaca. Sebagai contoh, membangkitkan kesadaran tentang keharusan muslimah berjilbab seringkali tak dapat dilakukan secara dogmatis. Sastra, baik fiksi dan nonfiksi dapat menggiring pemahaman, penafsiran, kesadaran lalu memunculkan titik balik penting dalam kehidupan seseorang.
Foto-foto di STAIN Pamekasan
Mei 14, 2009 pada 3:13 am (Catatan Perjalanan, Jurnal Harian, Kepenulisan)

- FLP Pamekasan

- STAIN, Pamekasan
Resensi The Road to The Empire, catatan indah dari Kiai Faizi
Mei 11, 2009 pada 6:51 am (Catatan Perjalanan, FLP, Jurnal Harian, Karyaku)


“Sejarah Rasa Fiksi : Sebuah Bacaan Pendamping The Road To The Empire.”
Kiai Faizi, M.Hum ( Pesantren AnNuqoyyah -Guluk-guluk, Sumenep)
Novel, sekuat apapun data-data faktual yang dirujuknya, tetaplah menjadi karya fiksi. Karena itu, seseorang yang bersiap-siap membaca sebuah karya fiksi, sepatutnya ia juga menyadari bahwa ia akan berhadapan dengan sebuah “ cerita yang tak ada”. Lalu, bagaimana dengan novel berlatar sejarah? Atau menyelip-nyelipkan elemen kesejarahan? Ya begitulah, ia tetaplah fiksi ; sesuatu yang tidak pernah terjadi tetapi mungkin pula terjadi.
Karya sastra akan tetap dibaca masyarakat , betapapun itu bukanlah hal yang nyata. Ini menyangkut selera nurani, bahkan naluri : bahwa manusia tidak selalu ingin yang nyata. Ia juga ingin imajinasi yang kaya.
Namun begitu, kelebihan novel yang ditulis berdasarkan data-data sejarah seperti novel The Road to The Empire karya Sinta Yudisia ini, adalah bahwa dalam sekali kesempatan, ia bisa menyuguhkan data-data faktual pada saat dia juga menyampaikan sesuatu yang tak nyata (fiksi).
Ada banyak alasan yang dapat diajukan menyankut novel sejenis ini; fakta yang diangkat terlalu riskan jika disajikan dalam bentuk aslinya (jurnalisme /nonfiksi) seperti kasus Timortimur dalam Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidharma; atau, penulis ingin agar sejarah yang disuguhkan lebih berkesan jika disuguhkan dalam fiksi ; ataupula menjadi upaya memperkenalkan data-data sejarah yang tidak terangkat , dan menganggap fiksi sebagai cara yang tepat memperkenalkannya pada masyarakat yang tidak begitu rajin membaca. Dalam posisi seperti ini , berada dimanakah Sinta Yudsiai? Entahlah.
*************
Novel merupakan genre sastra yang banyak dipilih kaum perempuan untuk berekspresi, mengingat semua penulis perempuan di tanah air yang saya ketahui memilih genre ini sebagai media tulisannya. Ini adalah asumsi awal. Selasih adalah orang peratama yang dikenal sebagai orang perempuan pertama yang menulis novel. Kalau Tak Untung , novelnya itu, dikemudian hari, menandai bermunculannnya keberadaan penulis-penulis perempuan Indonesia. Lambat laun, pelan tapi pasti, keberadaan mereka menyita banyak perhatian : baik secara kuantitas maupun kualitasnya.
Tengarai yang disampaikan oleh Korrie Layun Rampan (Kompas, 25/02/1996) bahwa menulis novel bukan menjadi pilihan perempuan-perempuan penulis di Indonesia. Dalam amatan saya, dimaksudkan untuk menunjukkan angka atau jumlah. Artinya, nama-nama seperti Fatimah Hasan Delais, Suwarsih Djojopuspito, Arianti, Luwarsih Pringgoadisuryo, Hana Rambe, Titi Said dll. belum seberapa banyak jika dibandingkan dengan penulis laki-laki. Yang patut disyukuri adalah bahwa kecenderungnan perempuan untuk menulis, hari demi hari, terus membaik. Demikian pula teknik, pencitraan, serta gagasan yang diusungnya, juga menunjukkan perkembangan yang menyenangkan.
Wiyatmi mencatat ( Kompas, 21/04/1996) dalam hal produktivitas, para perempuan penulis lama cukup bagus. Namun dalam soal pemikiran, pada awalnya novel-novel tentang perempuan, baik yang ditulis laki-laki maupun yang ditulis oleh perempuan sendiri, selalu menuturkan nasib kaum mereka yang tidak beruntung, lemah, dan selalu menjadi korban. Biasanya, hal itu dikaitkan dengan persoalan cinta dan adat. Sitti Nurbaya-walaupun ia disebut roman-merupakan representasi kuat untuk itu.
***************
Novel yang ditulis oleh Sinta Yudisia, The Road to The Empire ( TRTTE ), merupakan salah satu bukti bahwa perkembangan kepengarangan penulis perempuan di tanah air telah jauh lebih maju dan berkembang daripada yang dicatat oleh pendapat di atas. Dalam novel ini, Sinta Yudisia begitu berani mengangkat tema perang/kekuasaan dengan bumbu romantika dalam satu bingkai latar sejarah; suatu hal yang jarang ditemui dalam peta kepengarangan penulis perempuan Indonesia. Novel ini mengandalkan latar cerita yaitu kekaisaran Mongol sejak Tuqluq Timur Khan hingga generasi selanjutnya, Arghun Khan / Albuqa Khan, hingga Baruji atau Takudar.
Buku setebal 560 halaman ini merupakan ramuan kisah taktik, perang, cinta, yang telah diolah campur-aduk dan disuguhkan dalam sebentuk novel berlatar sejarah yang nikmat, tetapi juga berat. Mengapa demikian ? Tradisi bacaan (fiksi prosa) masyarakat selama ini terlalu dimanja oleh bacaan-bacaan kekalahan perempuan, tren dunia remaja metropolitan, kisah cinta segitiga, pemberontakan, yang garis brunya adalah : persoalan cinta asmara semata. Bahkan, belakangan novel-novel tanah air hanya menunjukkan perkembangan dua aliran yang berarti ; yaitu novel-novel bertema cinta-agama-tradisi (seperti Ayat-Ayat Cinta dan sebangsanya) ; kedua, novel-novel kontemporer yang mengedepankan penggarapan di bidang bahasa dan ideology. Novel-novel “lulusan” Dewan Kesenian Jakarta seperti Saman – Ayu Utami, Genijora – Abidah el Khalieqy, Hubbu Mashuri dll merupakan beberapa diantara banyak contoh.
Novel TRTTE tampaknya harus menunggu waktu lebih lama untuk menemukan komunitas pembaca di tanah air. Selera bacaan yang telanjur diciptakan sejak lama oleh novel-novel yang lebih dulu popular sebagaimana disebutan di atas, telah begitu mengakar dan tertanam dalam peta penerbit –pembaca. Novel sejenis TRTTE, di samping tidak menemukan “kawan sebaya –sepermainan” juga karena “muatan” yang ditanggungnya yang tidak sepenuhnya ngepop meskipun disajikan sedemikian renyah sekalipun. Poppish dan seelera pop tetaplah tidak bisa diabaikan dalam menakar nasib sebuah karya, terkhusus dalam persoalan laku tidaknya, meskipun bukan timbangan bermutu tidaknya.
Berikut sedikit catatan pembacaan saya atas novel TRTTE. Karena tidak mungkin saya menulis sebegitu jauh hinggá membahas segala detil unsur/struktur novel, artikel ini saya tulis hanya sebagai “bacaan pendamping” (semacam further reading) bagi rekan-rekan yang hendak / telah membaca TRTTE karya Sinta Yudisia ini :
Pertama, sinopsis tentang Tuqluq Timar Khan yang dikembangkan di awal-awal cerita terasa terlalu sedikit jika dibandingkan dengan keinginan penulis untuk mengantarkan emosi pembaca dan kearah konflik cerita yang sebenarnya. Lebih dari itu , latar belakang penaklukan –penaklukan yang telah dilakukan oleh kaisar Jenghiz Khan, justru lebih sedikit lagi. Dalam anggapan saya, kisah tentang Tuqluq atau Jenghiz kHan harusnya ditulis dalam bab tersendiri. , baik yang mengikut plot lurus ataupun dengan pola plot balik. Hal itu dimaksudkan agar pembaca lebih dulu memiiliki pijakan pemahaman latar sejarah untuk melanjutkan cerita. Banyak pembaca barangkali yang tidak tahu menahu tentang Tuqluq dan Takudar, tetapi hampir semua orang tahu siapa itu Jenghiz Khan.
Kedua, terlampau banyaknya nama dan istilah asing cukup mengganggu. Hal ini mungkin tidak akan berakibat demikian jika nama dan istilah berasal dari bahasa Arab yang nota bene begitu mudah dikenali oleh tradisi dan khazanah masyarakat Melayu/Indonesia. Namun demikian usaha penulis dengan membubuhkan catatan/glosarium di bagian bawah halaman merupakan cara yang tepat untuk meminimalisir kesenjangan tersebut.
Ketiga, saat pertama kali membaca judul The Road to The Empire, saya langsung berburuk sangka dengan cara beringgris-inggris ria ini. Saya tidak tahu, apakah hanya dengan cara serperti ini kita dapat mendapat “baraokah” kesuksesan judul-judul novel luar dengan cara sukses dengan ta’aful, minimal pada gaya penjudulan semisal The Lord of The Ring, misalnya? Ataukah cara ini ditempuh agar lebih mudah ditemukan oleh mesin pencari sejenis Google atau Altavista? Atau , sekali lagi mohon maaf, karena sekedar gagah-gagahan saja. Untuk apa? Pertanyaan ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam TRTTE sama sekali tidak ada hubungan penting dengan bahasa manapun kerajaan Inggris J
Masih beruntung, novel ini tidak belepotan dengan kosa kata bahasa Inggris yang diadopsi, diadaptasi, maupun dipakai secara serampangan sebagai mana banyak terjadi dalam banyak genre chicklit dan teenlit yang marak beberapa tahun sila. Terus terang di antara keberatan saya yang terpenting, penamaan judul berbahasa Inggris inilah yang paling mendalam bagi saya selaku orang yang turut membesarkan bahasa Indonesia dengan menjadi warga dan penulis yang menggunakan bahasa ini sebagai medianya.
Keempat, setting /latar merupakan hal mendasar dalam perencanaan sebuah novel terlebih novel yang digali dari kekayaan sejarah. Nah, karena itu terasa janggal jika TRTTE seolah-olah terlalu asyik menggali latar tempat namur terlena pada penggarapan latar waktu. Peristiwa demi peristiwa dalam novel , meskipun diberi label “sangat filmis” sekalipunm nyatanya tidak didukung oleh deskripsi latar waktu yang kuat. Data tahun tanggal baru muncul pada halaman 74, itupun secara sepintas dan sekedar penunjukan tahun hijriyah, tanpa Masehi.
Demikianlah bacaan Sepintas saya, ini merupakan upaya untuk memberikan catatan pendek atas struktur cerita yang panjang. Dan tidak bijak rasanya jika saya, pada akhir catatan ini, jika tidak memberikan tepuk tangan untuk sang penulis, Sinta Yudisia, atas karya tulisnya yang tentunya memakan waktu berbulan-bulan untuk mengumpulkan rujukan dan menata alur ceritanya.
Sekedar tambahan, bahwa seorang penulis yang ingin mendapatkan hasil terbaik, tentu tidak dapat bekerja seorang diri. Ia membutuhkan penyunting, editor, dan kawan diskusi. Bukankah novel War and Piece nya Leo Tolstoi menjadi masterpiece setelah ditulis ulang sebanyak 7 kali. Ini menunjukan bahwa menulis karya tidak dapat sekali jadi. Ia butuh waktu untuk diendapkan, didiskusikan, salah satunya dengan cara didiskusikan seperti forum ini. Wallahu A’lam.
Wa maa min kaatibin illaa yublaawa yabqooddahra maa kassabat yadaahu falaa taktub bikhoththika khoiro syay-in tasurruka fii –l qiyaamati an-mmarooh
(Dznunnun Misro-in)
Setiap penulis akan diberi cobaan sepanjang tulisan itu masih ada.
Maka janganlah kamu menulis kecuali jika tulisan kamu itu dapat membuatmu berbahagia kelak di hari Kiamat.
Catatan berkesan dari acara Romántica Menulis Kreatif & Bedah buku The Road To The Empire di STAIN, Pamekasan :
Alhamdulillah, bedah buku dan diskusi yang dihadiri oleh ratusan peserta dalam situasi yang ‘panas’ berlangsung luarbiasa. Pertanyaan-pertanyaan yang masuk menggugah membangkitkan semangat diskusi, tentunya bukan jidal belaka. Ada beberapa catatan pertanyaan dan pernyataan yang penting untuk disimak :
- Kivi Faizi berkata : tujuan utama kritik sastra adalah supaya sang penulis tidak riya ketika karyanya diterbitkan dan mendapat pujian.
- Hana, Faqih, (pak Rusdi Zaki di DKS) juga bertanya : kenapa judulnya harus The Road to The Empire?
Awalnya, novel ini berjudul Tahta Awan atau Singgasana Halimun. Setelah diskusi dengan penerbit masalah mekanisme pasar, mau tidak mau kita harus obyektif bahwa ketika sebuah karya dilempar ke pasar kita juga berharap karya tersebut diserap dengan baik dan buah pikiran kita mewarnai banyak pembaca. Kita tidak hanya bicara royalty, kita bicara masalah nasyrul fikrah dan bagaimana masyarakat semakin dekat dengan produk karya sastra yang mencerahkan dan berkualitas. Sementara ini, jira sebuah judul ‘masih dapat ditawar’ okelah , sepanjang isi tak banyak diedit. InsyaAllah ke depan, jika pasar lebih menerima dan kita lebih mencintai produk karya sendiri; penerbit akan semakin berani menerbitkan karya-karya yang sangat khas Indonesia.
- Mengenai harga yang 63.000 : kemahalan? Kiai faizi bercerita bahwa ia sangat suka menulis puisi. Ia menulis puisi bertahun-tahun, baru diterbitkan 2007, baru menerima royalty 2009. 9 tahun ia baru bisa merasakan royalty. Beliau berkata, anda (para peserta) tidak adil jira mengatakan novel tabal TRTTE berharga 60-70 ribu kemahalan! Apakah anda tidak berpikir berapa lama sang penulis menulis, meriset, mengedit, mencari ide, menyempurnakan dst? Belum lagi kerja penerbit yang berkseinambungan? Jika masih menganggap karya sebegitu mahal…ya, kapan akan punya karya berkualtias? Jika penulis hanya dihargai murah, ia enggan menulis dengan ide-ide brilian.
- Duh terima kasih sekali kiai Faizi, nasehat anda tentang riya, tentang kata mutiara dari Dzunnun –Nabi Yunus As, dan pembelaan Kiai Faizi tentang ’harga mahal’ tersebut sangat membahagiakan.
- Dalamkesempatan tersebut dan banyak kesempatan saya selalu berkata, bahwa salah satu motivator di belakang saya adalah pak Maman S. Mahayana yang selalu mendorong ”….tidak selamanya penulis harus berorientasi pada royalti. Sudah waktunya anda berpikir tentang menghasilkan karya berkualitas.” Kalimat inilah yang menegaskan kita sebagai penulis, sebagai dai, sama seperti kata kiai Faizi yang menyitir dari Nabi Yunus….sebuah tulisan dapat membuat kita berbahagia, kelak di akhirat. Amiin yaa Robbal ’Alamin
LOMBA RESENSI NOVEL THE ROAD TO THE EMPIRE
Mei 7, 2009 pada 11:51 pm (Karyaku, Kepenulisan, Lomba Resensi The Road to The Empire)

Sudahkah Anda membaca novel The Road to the Empire?
Ayo, jangan hanya jadi sekedar pembaca pasif!
Kesempatan teman-teman semua untuk berkarya, menulis gagasan dan ide dalam bentuk nonfiksi. Ayo, ketik idemu dan ikuti: Lomba Resensi Novel The Road to The Empire Peraih IKAPI-IBF Award 2009, kategori Fiksi Dewasa Terbaik Persyaratan dan ketentuan lomba sebagai berikut
A. Syarat umum:
1 Lomba terbuka untuk warga Negara Indonesia, di manapun berada, berapa pun usia Anda.
2. Resensi berupa karya asli, bukan terjemahan atau saduran.
3. Resensi yang dapat diikutsertakan adalah yang pernah dimuat, baik media cetak (koran, majalah), maupun media on-line dan blog. Yang telah dipublikasi rentang bulan Januari sampai Juni 2009.
B. Syarat khusus:
1. Kirim bukti pemuatan resensi (berupa fotokopi atau scan dari media yang telah memuat)
2. Sertakan biodata peresensi plus fotokopi tanda pengenal peresensi (KTP/Kartu Pelajar) ke: PANITIA LOMBA RESENSI NOVEL THE ROAD TO THE EMPIRE Promosi Lingkar Pena Publishing House Jl. Raya Jagakarsa (Simadakarsa) No A-1 Jagakarsa, Jakarta Selatan 12620 Cantumkan “LOMBA RESENSI NOVEL THE ROAD TO THE EMPIRE” di pojok kiri atas amplop.
Ingat! Bukti resensi ditunggu selambat-lambatnya tanggal 30 Juni 2009 (cap pos)
Penghargaan bagi peresensi terbaik:
Penghargaan 1: Rp 1.000.000,- + paket buku senilai Rp150.000,-
Penghargaan 2: Rp 500.000,- + paket buku senilai Rp150.000,-
Penghargaan 3: Rp 300.000,- + paket buku senilai Rp150.000,-
3 pemenang hiburan mendapatkan paket buku @ Rp150.000,-
Pemenang akan diumumkan pada bulan Juli 2009 di website Lingkar Pena Publishing House (www.lingkarpena.multiply.com) Untuk keterangan lebih lanjut hubungi kami di 021- 78882079
Happy review! Promosi Lingkar Pena Publishing House
FLP Jatim ngunduh mantu (lagi….)
Mei 6, 2009 pada 5:56 pm (Catatan Perjalanan, FLP, Jurnal Harian)
Alhamdulillah….setelah Henny Puspitarini, Prayulia, Rofa, Faris Anam, Adi Subiyakto berikutnya menyusul Vina-Fierza dan Vita-Arifin. Si Kembar yang selalu berdua kemana-mana termasuk mengurus FLP juga akhirnya menikah bersama. Kami sekeluarga berkesempatan datang ke Bojonegoro sekaligus menikmati keindahan pantai Lamongan. Siapa menyusul Vina Vita?