Hari Kasih Sayang, 14 Februari atau 2 Oktober?

Hari Kasih Sayang, 14 Februari atau 2 Oktober?

valentine-day-63 valentine-gifts001-8001 valentine_love

14 Februari, dimaknai dengan coklat dan segala sesuatu berwarna pink

14 Februari, ditandai sebagai hari kasih sayang

14 Februari, orang menyebutnya hari Valentine

Beberapa perbedaan pendapat menyebutkan cikal bakal lahirnya hari Valentin. Versi Romawi mengatakan bahwa tanggal 14 Februari merupakan hari memperingati Dewi Juno, dewi perempuan dan pernikahan. Dilanjutkan dengan tanggal 15 Februari yang diperingati sebagai Lupercalia, para jomblo boyz and girlz saling berkenalan untuk kemudian jatuh cinta dan menikah.

Versi lain mengatakan, hari Valentine diperingati bertepatan dengan dipancungnya Santo Valentino yang membela sepasang mudamudi dari tirani Claudius II.

Sesungguhnya, suatu masyarakat memperingati hari raya karena makna yang terkandung di dalamnya. Idul Fitri = kemenangan. Idul Adha = pengorbanan. Muharram = tahun baru Islam. Hari kasih sayang = tanggal berapa?

14 Februari = 2 Oktober?

Kalau orang menobatkan tanggal 14 Februari sebagai hari kasih sayang, harusnya kita kaum muslimin punya acuan tersendiri.Bagaimana kalau kita sepakati bahwa 2 Oktober adalah hari kasih sayang sedunia?Apa yang keramat dari tangggal 2 Oktober itu?

2 Oktober, bukan selisih satu hari dari 1 Oktober, Hari Kesaktian Pancasila.

2 Oktober, bukan tanggal muda pegawai negeri menerima gaji

2 Oktober, bukan awal bulan orang mentraktir teman-teman

2 Oktober adalah hari bersejarah

2 Oktober 1187, Shalahuddin al Ayyubi menaklukan Jerusalem, usai mengalahkan pasukan para baron dan comte di Tanduk Hattin, mengalahkan ordo milter Templar dan Hospitaller

al-ayyubi al-ayyubi1

David Nicole yang menulis Perang Hattin, Kemenangan Terbesar Shalahuddin sempat menukil beberapa kritik pedas para sejarawan tentang sang pemimpin :

orang yang ambisius, politikus keji. Dia tak sehebat yang diceritakan. Bahkan ada catatan kelam kemanusiaan ketika Shalahuddin membunuh 230 orang tentara ordo militer yang menolak menukar keyakinannya saat ia menaklukan Jerusalam.” Tetapi David Nicole juga menuliskan bahwa Shalahuddin adalah seorang pemimpin cerdas yang mampu mengelola kekuasaan, prajurit, sumber daya, semua yang dia miliki demi menyatukan kekuatan. Terdapat 2 pemimpin kaum Salib yang sempat ditawan oleh kaum muslimin, jauh sebelum peristiwa penaklukan. Mereka adalah comte Raymond III du Tripoli dan comte Renaud du Chatillon. Tetapi, hati manusia adalah samudra yang tak mampu diselami siapapun. Raymond III, 8 tahun dalam tahanan menyebabkannya fasih berbahasa Arab dan mengetahui seluk beluk kaum muslimin. Ia menyadari bahwa kaum muslimin bukanlah kaum yang pantas dimusuhi. Raymond III pada akhirnya menjadi sahabat karib Shalahuddin sekalipun ia tetap beragama nasrani. Berbeda dengan Renaud du Chatillon yang semakin menaruh dendam membara terhadap kaum muslimin hingga kelak , ketika pecah perang antara kaum muslimin dan kaum salib, Raymond dan Renauld berseteru.

Raymond III, menghargai persahabatannya dengan Shalahuddin sehingga ia tak mau ambil bagian dalam perang salib. Tetapi , demi hubungan baiknya dengan raja Guy de Lusignan, penguasa Jerusalem dan juga upayanya memperbaiki hubungan dengan Renaud du Chatillon pada akhirnya Raymond III du Tripoli berterus terang pada Shalahuddin bahwa ia tak bisa terus menerus berada di pihak kaum muslimin. Dengan kebijaksanaan, Shalahuddin sangat memahami buah simalakama yang dihadapai Raymond. Sang pemimpin muslim akhirnya memerintahkan anak buahnya mengawal Ramond sekeluarga kembali bergabung ke raja Guy du Lusignan .

Shalahuddin, ketika menaklukan Jerusalem mengatakan bahwa pasukan Salib harus pergi sementara orang-orang Nasrani boleh tinggal setelah membayar pajak. Laki-laki 10 dinar, perempuan 5 dinar, anak-anak 1 dinar. Perlu dicatat disini bahwa Shalahuddin memperlakukan setiap orang sama, tidak peduli ia kalangan bawah atau uskup sekalipun (yang seharusnya membayar lebih mahal sesuai status dirinya). Mereka yang berniat pergi boleh membawa harta benda mereka. Ada yang mengatakan orang miskin Nasrani sekitar 7000 orang, catatan lain mengatakan 15.000 orang. Ketika orang-orang miskin ini tidak dapat membayar tebusan, 2 ordo militer (Templar dan Hospitaller) menolak membayari mereka dan memilih mengangkut harta benda mereka sendiri keluar dari Jerusalem.

Baik para amir maupun orang-orang Nasrani muak melihat para pemimpin Nasrani. David Nicole menyebutkan ”…..kala warga Kristen yang kayaraya sibu memboyong harta mereka ke arah pesisir, Shalahuddin justru membayar uang tebusan banyak orang miskin.”

Tokoh –tokoh yang menyerah kalah diperlakukan Shalahuddin secara hormat : Raja Guy de Lusignan, Geoffrey de Lusignan, Connetable Amaury de Lusignan, Marquis Guglielmo del Monferrato, Humphrey II de Toron, Pemimpin Ordo Templar- Gerard de Ridefort, Pemimpin Ordo Hospitaller-uskup Lidde, Renaud de Chatillon, masih banyak baron yang lain.

Shalahuddin bermurah hati kecuali pada Renaud de Chatillon yang selalu mengobarkan peperangan dan melanggar perjanjian. Renaud dipenggal kepalanya, sebuah sumber menyebutkan Shalahuddin sendiri yang mengayunkan pedang, sumber lain menyebutkan salah seorang prajurit muslim yang melakukannya.

Jika pada 1099 kaum muslimin dibantai di Jerusalem, bisa saja Shalahuddin memberlakukan hal yang sama bagi musuh-musuhnya tetapi tidak dilakukan. Renaud de Chatillon punya semboyan Die to all muslims! tetapi Shalahuddin senantiasa memperingatkan prajuritnya agar teguh memegang janji. Mereka telah berjanji menjaga kesucian Baitul Maqdis , tidak akan merempas harta, tidak akan bertindak sewenang-wenang apalagi membantai orang-orang yang telah ditaklukan.

Jadi, tidakkah sebaiknya 14 Februari yang diperingati sebagai hari kasih sayang digeser tanggal 2 Oktober?

Setting, Kekuatan cerita

charlesdickensitwasthebesto          marktwain

charles dickens                    mark twain

 

‘Tempat’ untuk sebuah Tempat.

Sastrawan besar zaman dahulu banyak menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan membiarkan kota ‘bersuara’ untuk mereka.  Honore de Balzac menghabiskan waktu jalan-jalan di Paris, Charles Dickens menghabiskan waktu berjalan-jalan di London , Fyodor  Dostoyevski menghabiskan waktu jalan-jalan di St. Petersburg.

Josip Novakovich beranggapan bahwa setting adalah sumber utama cerita fiksi Ketika ia meninggalkan Kroasia menuju Amerika, Novakovich menuliskan kisahnya. Orang-orang bertanya apakah kisahnya merupakan autobiografi? Ia menjawab ,”..bukan, meliankan sebuah topografi.”

Ada pendapat umum yang mengatakan bahwa menggambarkan sebuah setting yang mendeti bisa sangat membosankan. Karena ingin segera mendapatkan ketegangan, seorang pembaca melewati saja kalimat-kalimat setting. PAdahal setting sebuah tempat dapat menimbulkan sensasi yang luarbiasa. Apa jadinya jika Mark Twain menggambarkan Huckleberry Finn tanpa Sungai Mississipi?

 

Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan setting adalah :

 

1.Jika penggambaran lokasi terkesan bertele-tele, kesalahan bukan pada setting tapi pada bagaimana mengungkapkan setting yang lamban. Penggambaran harus cepat dan dinamis., tampilkan setting sesuai tokoh dan kejadian yang akan terjadi.

 

2. Ambil contoh sebuah babak drama/film. Jika semua bagian pentas di tampilkan di babak pertama, makanakan terasa janggal. Tampilkan saja yang relevan. Menggambarkan penjara dapat dilukiskan dengan tembok, jeruji, makanan, WC. Pilih yang betul-betul sesuai dengan tokoh. Jika tokoh seorang terdakwa yang berasal dari kalangan bawah, tak mungkin menyewa sel penjara yang seharga 3-5 juta perbulan, bukan? Tentu gambarannya adalah penjara kumuh, bukan penjara elit.

 

3. Henry James dalam The Art of Fiction menggambarkan bahwa seni melukis sama dengan seni menulis, baik  inspirasi dan prosesnya. Tulisan tidak hanya menggambarkan egoisme – hanya tentang diriku tetapi juga berbicara masalah interior dan eksterior.

 

Setting dapat menjadi dasar sebuah cerita yang kokoh seperti pada penulisan beberapa gaya di bawah ini:

1. Josip Novakovich dalam Rust menggambarkan plot cerita berdasar setting Perang Dunia II. Menceritakan Marko , mantan serdadu Perang Dunia II yang tidak tahu bagaimana cara hidup berdamai hingga ia selalu berperang melaan rekan-rekannya sesame pejuang, melawan kota, melawan dirinya sendiri. Setting cerita menggambarkan Yugoslavia yang runtuh; kekuatan bajanya mulai melapuk, terkapar, tak bisa menyesuaikan diri samaseperti kepribadian Marko yang perlahan membusuk hancur karena terceburnya ia dalam perang yang kejam….