Jazakumullah, Thanx a lot to FLP Bondowoso & FLP Jember

Selama acara launching FLP Bondowoso kemarin, ketua FLP Jember Lukman Hadi dan ketua panitia launching FLP Bondowoso, Budi Triatmaja terpaksa mengerjakan hal-hal yang jauh dari bayangan anak-anak FLP pada umumnya.

            Mobil kami yang mengalami kerusakan cukup parah harus diganti laker & tromolnya. Sejak Shubuh, Budi sudah berkutat dengan mobil kijang sewaan FLP Jatim yang diderek sejak hutan Wringin hingga sampai ke Bondowoso. Bahkan, Budi yang tahu tentang perbengkelan harus memperbaiki sendiri mobil kijang kami sebab bengkel di hari libur tak ada yang buka. Ketika tiba waktunya memberikan kata sambutan , Budi naik ke podium dengan tangan menghitam karena belepotan oli. Selesai memberikan kata sambutan selama kuranglebih 15 menit, Budi kembali memperbaiki mobil.

            Ternyata laker & tromol tidak dijual di toko onderdil di Bondowoso. Terpaksa ketika hari menjelang sore, harus hunting keluar kota jika ingin rombongan kembali ke Surabaya hari Minggu itu juga. Kota yang memungkinkan tersedianya onderdil adalah Jember. Sore itu Lukman Hadi dan Budi Triatmaja mengendarai sepeda motor selama 1,5 jam menuju Jember,  ngublek-ublek Jember mencari onderdil yang dibutuhkan.

            Sejak lama saya ingin bertemu Lukman, ingin membahas FLP Jember yang termasuk pesat perkembangannya di Jatim. Di Jatim ada beberapa FLP cabang yang aktif sekali : Surabaya, Malang, Jombang, Jember, Blitar, Pamekasan. Sayangnya, tiap kali ketemu Lukman ada aja halangannya untuk bicara tatap muka lebih lama termasuk kejadian di Bondowoso kemarin , Lukman terpaksa harus keliling2 menemani Budi mencari onderdil.

            Alhamdulillah, mobil kami bisa dibawa pulang ke Surabaya sekitar jam 1 malam. Bayangkan! Anak-anak FLP yang biasa berkutat dengan pena dan kertas sekarang harus mampu mengatasi masalah yang lain. Ketika tiba di Surabaya, teman-teman berkelakar bahwa FLP Jatim bisa membuka divisi baru, divisi dana usaha dengan lini perbengkelan.

 img1516a 100_45612

img1509a2 s5000014 100_4551

            Jazakumullah Lukman, Lukluk Atiqoh, Budi Triatmaja. Juga keluarga bapak Junaedi yang selama usai acara hingga kami kembali ke Surabaya rela dijadikan tempat transit. Makan malamnya sangat istimewa : terung mini yang diambil dari sawah di belakang rumah. Lezatnya….

Semoga Allah SWT membalas antum semua dengan balasan yang jauh lebih baik di dunia & akhirat.  Doakan kami semua ya….

FLP Bondowoso : 13 jam & taruhan nyawa!

Segala puji hanya milik Allah SWT yang senantiasa melindungi dan melimpahkan rezeki. Shalawat &salam tercurah bagi nabi yang mulia, Nabi Muhammad Saw beserta keluarga dan para pengikutnya yang senantiasa istiqomah hingga akhir zaman.
Alhamdulillah, rombongan FLP Wilayah Jawa Timur pada hari Minggu, 28 Desember 2008 berhasil menorehkan sejarah perjuangan pena merambah salah satu daerah tapal kuda di Jawa Timur Bondowoso. Kami meresmikan FLP cabang Bondowoso sekaligus roadshow buku terbaru saya The Road to The Empire. Rombongan yang berangkat terdiri dari saya (Sinta-ketua FLP Jatim), didampingi Agus Sofyan (suami). Ada Asril (FLP ranting Unair), Puput (div.nonfiksi – FLP Jatim) Kukuh Santoso (FLP Malang). Perjalanan menuju Bondowoso benar-benar akan kami simpan sebagai perjalanan berharga sebab disinilah kami merasakan maut dan hidup hanyalah selapis tipis kesempatan. Menurut Asril, sebelum FLP Jatim berkeinginan memecahkan rekor MURI dengan membuat cerpen terbanyak selama 6 bulan , kami telah memecahkan rekor MURI dengan membuat perjalanan Surabaya-Bondowoso yang serharusnya hanya memakan waktu 5 jam menjadi…hampir 13 jam!
Tak ada perjalanan da’wah yang mudah.
Tak selamanya jalan jihad dipenuhi sukacita dan kemulusan.
Sekarang kami mengerti, bahwa jalan yang telah dipilih rekan-rekan FLP ada kalanya memang (nyaris) dihargai dengan nyawa.
Awalnya, kenalan yang berjanji meminjamkan mobil tiba-tiba tak mengurungkan niat. Bersamaan itu pula, kami hunting rental mobil yang selama ini biasa kami sewa jika pulang kampung. Berhubung waktu mendesak dan saat itu libur panjang natal-tahun baru hijriyah, kami dijanjikan mobil tetapi tak pasti kapan dan bagaimana kondisinya. Padahal acara di Bondowoso berlangsung hari Minggu, 28 Desember,esok hari. Kami baru mendapat kepastian Minggu pagi. Berhubung tak ada alternatif lain, terpaksa mobil kijang dengan kondisi yang agak meragukan itu diiyakan juga.

Pertama kali pak Misdi –sopir langganan kami- mencobanya keluar dari areal Rungkut Jaya, sebetulnya ada sesuatu yang agak tidak beres. Dimulai ketika mobil serasa berguncang, sering terdengar gledek-gledek di ban depan, dsb (perempuan nggak ngerti masalah mobil). Kami sempat ke rental dan komplain, tapi pemilik mobil mengatakan tidak apa-apa. As- bagus, semua baik asal nggak dipakai ngebut. Jadilah kami berangkat kembali dengan berbekal doa. Kami mulai keluar Surabaya karena macet liburan dan kendala teknis menjelang pukul lima sore.
Subhanallah, di Porong Sidoarjo kami nyaris tak bergerak. Tidak sampai 1 km kami lalui di mobil selama 1 jam. Sehingga ketika kami memasuki Porong hingga keluar Porong yang panjangnya sekitar 3 km….3 jam! Tahu sendiri kan kasus Porong dengan lumpur Lapindo? Tiap kali jam kantor apalagi musim liburan, ruas ini padatnya naudzubillahi mindzalik. Apalagi warga sekarang menyebutnya : Kawasan Wisata Lumpur Lapindo. Hujan deras, macet, keruwetan ini ditambah orang-orang yang berseliweran di sela-sela kendaraan sembari membawa tulisan : Jalan Pintas Menuju Pasuruan.
Pasuruan, Probolinggo, Besuki, Budukan dilalui Alhamdulillah dengan selamat. 20 tahun menjadi supir membuat pak Misdi tahu bagaimana harus memperlakukan mobil kijang kami yang terdengar glothak-glothak makin keras. Malam semakin larut, jalan makin sepi, langit makin gelap pertanda hujan sebentar lagi mengguyur bumi Jawa Timur.
Pukul 1 malam dini hari lewat beberapa menit, mobil kami menanjak melalui hutan Wringin dan tiba-tiba….cciiiiiit, sreeet, gubrak…kkk!!! Mobil berhenti di tikungan, agak ke tepi, dengan ban mobil depan mencuat keluar….semua murnya hilang entah kemana dan ban depan itu sebentar lagi terpental keluar.
Disinilah kami. Dini hari. Di tengah hutan, di tepi tebing curam Wringin , mobil yang lampunya juga mati itu tak bisa digerakkan lagi. Kami semua keluar dari mobil sembari berpikir keras mencari bagaimana harus menuju Bondowoso dengan selamat. Gelap gulita, langit tanpa bintang satupun apalagi bulan. Yang terlihat hanya bayang pohon-pohon rapat berikut wajah-wajah anak FLP yang sama-sama cemasnya. Satu sepeda motor bersimpati berhenti, melihat betapa parahnya mobil kami rusak dan mengajak Asril menuju kota Bondowoso mencari polisi atau mobil derek.
Saya, suami, Kukuh dan Puput tinggal berjaga menunggu mobil. Pak Misdi yang tua harus segera diungsikan dengan menumpang mobil yang lewat, kembali ke Surabaya. Bergantian, kami menjaga jika truk, bis, mobil, pick up yang melaju dari arah bawah/atas dengan kencang dan tak melihat sebuah mobil teronggok agak ke tengah jalan. Pulsa kami habis untuk mengontak panitia FLP Bondowoso. Tak ada yang mudah dihubungi sebab anak-anak FLP Bondowoso pun tampaknya kelelahan mempersiapkan acara.
Mobil lewat, truk lewat, sepeda motor lewat, hanya satu dua orang menyapa : kenapa paak?
Suami saya dan kukuh menjawab : lakhernya rusak!
Tak satupun tergerak menolong.
Kami tahu, modus operandi kejahatan sekarang makin variatif. Mungkin orang-orang juga khawatir jangan-jangan kami hanya orang-orang penipu yang pura-pura rusak mobilnya lalu berniat mencegat orang yang lewat di tengah hutan sepi Wringin.
Hujan deras.
Kukuh kemudian sholat malam di aspal, di bawah derai hujan. Puput sholat malam di mobil, saya muroja’ah al Qur’an. Suami menjaga mobil dari hantaman yang mungkin muncul. Asril tak kunjung tiba, bahkan hapenya mati. Kami juga khawatir jangan-jangan orang-orang yang membawa Asril pun berniat tak baik… Saya sempat mengontak orang DPW dan meminta ikhwah DPD Bondowoso. Serentak saya mendapat calling dari ustadz Dano dan mbak Yuliawati, mereka segera berusaha mengirimkan bantuan ke hutan Wringin yang curam mengerikan.
Lalu terdengar lolongan aneh sahut menyahut.
Lutut saya gemetar. Bulu kuduk merinding. Suara-suara itu lirih tapi jelas dan menguat, seperti kelompok yang saling bersahutan.
”Mas…,” bisikku bertanya pada suami, “…..apa itu?”
Kami tak punya senter, korek api. Satu-satunya yang menyala hanya lampu sein mobil. Hape kami sudah low bat semua. Pulsa habis.
Suamiku tiba-tiba terkesiap.
”Sebaiknya Ummi dan Puput masuk ke mobil.”
Aku dan Puput meloncat ke mobil, mengunci pintu rapat-rapat.
”Aku masih punya pulsa indosat,” Kukuh meraba di kegelapan malam. ”Coba ganti ke hape Bunda Sinta.”
Kukuh biasa memanggilku ’bunda’, ia meraba kantong kecil berisi kartu-kartu seluler dan mencoba memasangkan ke hapeku yang masih lumayan batereinya.
Asril katanya sudah dapat mobil derek, tapi baru datang 30 menit lagi. Ikhwah DPD berhasil mengontak teman-teman di Wringin bawah, tapi belum juga datang. Aku dan Puput pengap di dalam lalu kami keluar.
Lalu berikutnya terdengar raungan sepeda motor sahut menyahut. Aku harap ini adalah rombongan penebang, penjual atau apalah. Kami bersembunyi di kegelapan malam dan melihat….rombongan lelaki dan pemuda menaiki motor beriring-iringan layaknya pawai kampanye sembari mengibarkan bendera besar berwarna oranye kemerahan. Apa? Pikirku tak mengerti. Kampanye di hutan jam 2 malam?
Suami menyuruh kami masuk kembali sebab rombongan itu seperti sekelompok geng yang mabuk menuju satu areal tertentu. Dalam kegelapan malam yang sepi mencekam, tanpa siapapun yang dapat dihubungi kecuali hanya Allah SWT…aku dan Puput yang terengah di dalam mencoba keluar lagi.
”Ummi! Puput! Masuk! Rombongan itu datang lagi!”
Sekali lagi rombongan lelaki sekitar 20-30 orang itu kembali melintasi kami, melihat kami, sembari mengibar-ngibarkan bendera mereka. Siapa sebetulnya mereka? Mau apa di tengah hutan macam begini? Usai kembali meneliti kondisi mobil kami, beberapa pasang sepeda motor bolak balik mengitari tikungan mengawasi mobil kami yang teronggok. Suamiku mulai curiga. Aku mengontak Asril dan ustadz Dano.
”Pak, tolong cepatlah. Ada dua akhwat disini, kami khawatir. Asril, ayo cepat bawa bantuan!”
Wajah anak-anakku terbayang.
Kukuh mencari besi pengungkit roda.
”Ada yang bisa dijadikan senjata?” bisiknya.
Aku dan Puput mencari-cari, tapi tak ada apa-apa di dalam mobil selain baju dan buku. Kami tak pernah memegang senjata selain pisau dapur. Kukuh berhasil mendapat besi panjang yang ia loloskan dari bawah mobil , dan dipersiapkannya jika salah seorang dari gerombolan laki-laki itu berniat menyerang. Kukuh masih sempat berseloroh ,”…lumayan, aku punya samurai.” Aku tersenyum kecut. Besi itu tak akan mampu menghadang sekian banyak orang jika kami dikeroyok. Suamiku bersenjatakan payung runcing yang dari tadi dipakainya untuk melindungi diri dari hujan. Aku dan Puput hanya dapat melantunkan doa.
Jika sesuatu terjadi, semoga ini berakhir tak sia-sia.
Ketika suara-suara raungan menghentak, tiba-tiba sebuah lampu sorot menyala di belakang. Sebuah mobil pick up berhenti. Ustadz Dano mengirim dua orang ikhwah:pak Faisal dan pak Harsono tepat waktu. Mereka berteriak-teriak untuk menimbulkan suasana gaduh seolah banyak pertolongan tiba. Aku dan Puput segera dievakuasi, walau tak tega meninggalkan suamiku dan Kukuh di tengah hutam sepi macam itu. Tapi kami harus segera beranjak sebab tak tahu bahaya macam apa yang nanti mengancam.
Tak lama adzan Shubuh berkumandang. Mobil derek yang dibawa Asril dan anak-anak FLP Bondowoso tiba menjemput suamiku. Ketika aku dan Puput melaju di atas mobil pick up yang menolong kami tiba-tiba mobil terhenti mendadak hingga kami nyaris terjungkal. Aku dan Puput berpandangan pucat pasi. Hujan masih mengguyur sekalipun kelegaan mulai membayang sebab Shubuh begini biasanya penduduk mulai bangun.
Aku menelepon suamiku.
“Ada apa?”teriak suamiku di seberang dengan panik.
Kami belum keluar dari Wringin dan itu artinya situasi belum aman.
“Mobil pick up yang mengangkut kami rusak!”
”Rusak kenapa?”
”Bannya lepas!”
Untuk pertama kalinya suamiku terbahak.
MasyaAllah. Kijang dan pick up sama nasibnya. Mengangkut anak-anak FLP lalu rusak sebab bannya lepas dengan mur yang merontok. Apa anak-anak FLP keberatan ide?

Alhamdulillah sekarang semua sudah berlalu.
Kami tiba di Surabaya.
Kata teman-teman di Bondowoso dan Surabaya,”pak Agus, Anda tahu tidak hutan Wringin itu apa? Di situ biasa muncul macan tutul, babi hutan, juga ular-ular berbisa. Belum lagi begalnya…”

Rombongan yang kami temui itu konon kabarnya memang segerombolan laki-laki yang senang melaju menuju pantai berombongan. Kondisinya kadang dalam keadaan mabuk. Dan biasanya mereka bertindak buruk pada orang yang ditemui. Alhamdulillah…hanya Allah sebaik-baik penolong.

100_4561

14 tahun pernikahan

25 Desember punya makna istimewa bagiku.
Tepatnya 25 Desember 1994 aku menikah dengan seorang pemuda asal Tegal bernama Agus Sofyan. Kami sama-sama kuliah di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Aku ambil jurusan Akuntansi, suamiku Pajak.Kami tidak saling mengenal satu sama lain.
Ustadz kami yang memperkenalkan lewat foto dan biodata, lalu proses berjalan demikian cepat kurang lebih dua bulan.
Pernikahan kami sederhana, pakaian kami sederhana. Aku masih ingat suguhan pernikahan kami yang dipesankan ibu dari catering : lontong dan sayur opor. Kuenya bolu lapis coklat dan roti keju. Teman dan handai tolan berdatangan, terkejut sekaligus memberikan selamat. Aku menangis di pelaminan, tak menyangka semua berjalan mendadak dan begitu cepat, ada rasa takut dan bahagia. Harapanku kami dapat membangun sebuah pondasi da’wah yang kokoh.

dsc00442 img0455a img0932a

14 tahun sudah berjalan.
Sekarang kami berdomisili di Surabaya, anak kami 4 orang. Yang terbesar Inayah (1 SMP), kedua Ayyasy (5 SD), ketiga Ahmad (3 SD), keempat Nisrina (TKB). Anak-anakku, sebagaimana anak-anak yang lain, punya kelebihan sekaligus kekurangan. Kadang rumah kami dipenuhi canda, kadang teriakan-teriakan. Tetapi kami banyak belajar dari kekurangan orangtua kami dahulu. Anak-anakku kuberikan gambaran bahwa mereka mempunya tugas bukan hanya sebagai individu, tapi juga sebagai bagian dari kaum muslimin.

Alhamdulillah, sekalipun anak-ankku kadang menguji kami dengan tingkah polah yang memusingkan, mereka seringkali mengerti ketika aku dan suami harus keluar rumah bahkan di hari libur.
”Abah ummi mau berjihad ya? Mau cari rizki yang banyak?”
Kukatakan kami memang akan mencari rizki dari berda’wah. Sebab rizki kan bisa berarti uang, kesehatan, hidayah, rasa aman dan seterusnya. Kukatakan juga kami berda’wah dan berjihad untuk mencari rizki supaya bisa membeli rumah yang buesssaaar, seperti impian anak-anakku. Kepada anakku yang pertama dan kedua, kami sudah saling memahami bahwa rumah buessar kami mungkin tidak di sini, di dunia ini, tapi suatu saat kelak di yaumil akhir. Anakku yang ketiga dan keempat masih belum punya gambaran abstrak. Mereka masih memahami ’mobil’ sebagai mobil dan ’rumah’sebagai rumah. Jadi ketika aku dan suamiku keluar rumah mereka bertanya
”Ummi mau berjidah ya? Berda’wah/ Mau cari rizki buat beli rumah dan mobil?”
Kukatakan, InsyaAllah. Sebab Dia Maha membukakan pintu rezeki. Berapa banyak sudah ikhwah yang berjuang di jalan da’wah tanpa pamrih, Allah cukupkan rezeki mereka, bahkan berlimpah, dari arah yang tak disangka.

14 tahun kami sudah berjalan.
Banyak penyesuaian, bahkan sampai sekarang. Banyak hikmah yang baru dapat kupetik ketika usia manusia sudah merambat makin naik menuju titik akhir. Baru di titik ini aku betul-betul mempercayai hadits Rasulullah Saw : pilihlah seseorang karena agamanya. Setiap kali aku dan suamiku punya perselisihan, dari kecil hingga gawat, kami punya cara masing-masing untuk menentramkan hati. Pernah suamiku menyusuri dari satu masjid ke masjid lain di Surabaya untuk berdzikir dan membaca Qur’an ketika kami tak menemukan titik temu. Sama seperti suamiku, kalau hatiku panas membara, aku memilih mengulang hafalan atau membaca Qur’an keras-keras, atau menyetel murottal keras-keras. Jika bosan, aku menyetel nasyid. ’Perang’ kami seringkali tak lebih dari satu hari , aku menangis sesudahnya demikian pula suamiku menyesali kekhilafannya. Kadang aku kembali membuka persoalan dan membicarakan apa sebetulnya titik permasalahan kami dan bagaiamana caraku memandang untuk menyelesaikannya. Sesekali suamiku menerima pendapatku, sesekali aku yang menerima pendapatnya.

Ternyata, menikah tanpa dasar agama adalah bencana.
Beberapa saudaraku berakhir dengan perceraian ketika usia pernikahan baru 5 tahun. Atau kalau tidak, selingkuh. Keluhan mereka rata-rata sama : Masalah mertua, ipar, ekonomi, akhlaq pasangan itu sendiri dst. Ketika aku menceritakan pernikahanku mereka berkata bahwa masalahku tak sebesar masalah mereka.
Benarkah?
Mustahil menantu dan mertua tak punya perbedaan pendapat. Mustahil hidup tak dililit masalah ekonomi, pekerjaan, sosial dst. Mustahil 14 tahun pernikahan kami semua baik-baik saja. Jika semua dibingkai dengan agama, masing-masing pihak tak melanggar jalur yang seharusnya demikian pulamasing-masing tahu hak dan kewajibannya.

14 tahun…ah, aku masih belajar untuk saling memahami.
For my Husband, you are so special.
Di belakang FLP dan buku-bukuku, ada dirimu yang selalu mendukung setiap langkahku.
img1255a

Writing School di Malang n Nikah!

21 Desember 2008, aku mengisi Writing School bertempat di UIN Malang.
Temanya fiksi.
Acara kali in unik sebab sepulang dari pelatihan kami mampir di tempat Faris, divisi Media FLP Jatim yang tengah melangsungkan pernikahan. Wah, asyik …FLP bakal tambah banyak punya prajurit pena.

img1418a

Lagi ngisi di UIN

img1430a

Siapa yang paling cantik, hayo…??

img1433a

Di Malang, kami nggak berhenti2 makan! Karena hawanya dingin kallee…

a Mother’s Day

img1412a3 {Aku, mbak Wuri & mas Udin-suami mbak Wuri usai makan siang di PKS Award}

Senin, 22 Desember 2008 hari terasa special.
Bukan hanya karena ucapan selamat dari teman-teman tentang Hari Ibu tapi juga ada kejadian kecil yang mengejutkan.
Waktu mata kuliah bahasa Indonesia, bu Retno, salah seorang dosen dan penanggung jawab kegiatan mahasiswa seperti softskill dll masuk ke kelasku. Beliau menjelaskan tentang sebuah acara pelatihan di Malang. Usai menjelaskan beliau memberikan ucapan Selamat Hari Ibu kepadaku , terutama karena beliau dan dosen-dosen lain membaca ihwalku masuk menjadi satu di antara delapan the Inspiring Women versi PKS JAtim di Jawa Pos 21 Des tempo hari.

Serentak teman-teman di kelas bertepuk tangan dan mengucapkan Hari Ibu.
Jangan salah sangka…bukan ketenaran atau ucapan selamat yang memabukkanku.
Perhatian orang-orang yang kukenal tentang makna ‘Ibu’ membuatku sungguh tersentuh.
Ibu adalah pekerjaan undercover yang menghabiskan nyaris seluruh hidup perempuan yang telah menikah. Pekerjaan tanpa bayaran, tapi tinggi bayaran (nanti, di akhirat). Pekerjaan tanpa penghargaan, tapi sangat berharga.
Sedikit ucapan yang menghargaiku sebagai Ibu…duh, luarbiasa rasanya, sebab pekerjaan utamaku adalah menjadi Ibu. Sangat jarang orang mengingat dan menghargai perempuan sebagai Ibu. Umumnya mereka menghargai perempuan yang punya prestasi akademis atau bisnis. Just be a mother?
Padahal Ibu adalah pekerjaan yang tak tergantikan olee robot secanggih apapun. Ke dalam diri Ibu, Allah SWT titipkan benih sebagai calon generasi penerus perjuangan da’wah. Di tangan Ibu, seseorang dapat dibentuk menjadi rohaniawan, politisi, ilmuwan, atau penjahat sekalipun. Di hati seorang Ibu terselip doa-doa dahsyat yang dapat melejitkan sang keturunan menuju posisi yang tak terbayangkan.

Inilah ucapan teman-teman di Hari Ibu yang bentuknya sangat beragam. Thanks to all of you.

img1414a4 {Ibu dan calon ibu yang menjadi inspirasi, InsyaAllah….}

It’s a mother’s day. Being a mother is a pridely moment. Thanks for being great mother of my children.
**my sweet husband, Agus Sofyan**

FLP Cabang Sumenep mengucapkan “ 22 Desember ’08 Hari Ibu , selamat berbakti pada Ibu.” Sahabat bertanya pada Nabi : Siapa yang harus saya hormati? Nabi menjawab “IBU,IBU,IBU lalu Bapak”. (al hadits)
**Rafik ,FLP Sumenep**

Today, specially dedicated to “mom”, who means everything to me.And also to love, with all of its beauty..22 Desember 2008 2U. MET HARI IBU ya mbak sinta 
**Lutfi, sastra Inggris, UNAIR. Div. Nonfiksi FLP Jatim**

Ibu adalah gua pertapaanku dan ibulah yang meletakkan aku disini, saat bunga kembang menyerbak bau sayang, ibu menunjuk ke langit lalu ke bumi. Aku mengangguk mesti kurang mengerti. Ibu. Bila kasihmu ibarat samudra, sempit lautan teduh. Ibu. Bila aku berlayar lalu datang angin sekali. Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal. Ibulah itu, bidadari yang berselendang bianglala. Sesekali datang padaku menyuruhku menulis langit biru dengan sajakku. Selamat hari ibu, buat seluruh ibu di dunia.
** Asril, FIB- UNAIR. Div. humas intern FLP Jatim**

Mbak Sinta, selamat ya terpilih inspiring woman PKS award. InsyaAllah ahad 24 des the road to the empire kami iklankan khusus di republika.
**Ratno LPPH**

Jangan lupa ajari anak-anakmu sastra agar lembut jiwanya (al Khaththab)
**Aris – FLP cab.Kediri**

Selamat atas diterimanya award dari PKS. Semoga makin sukses. Anakmu piro Sin?
**Mbak Lina-tante tut**

Alhamdulillah atas awardnya. Ustadzah, selalu ada blessing in disguise di belakang semua moment yang diluar kuasa kita. Wa Shobrun Jamil Dan kesabaran itu indah.
**Ustadz Fathoni-Jombang, dewan penasehat FLP Jatim**

”Selamat Hari Ibu” ya bu, semoga perjuangan & keikhlasan ibu dalam mengemban amanah Allah : sebagai pendidik generasi mendapatkan limpahan pahala dari Allah & segala pedihnya airmata karena kerasnya perjuangan mendapat balasan surga. Sungguh ibu tanpamu kami takkan mungkin seperti ini, tanpa doa-doamu kami takkan mungkin jadi anak sholih.Dengan apa kami membalasmu Ibu??
**Naning-alpen prosa**

Selamat ya say, terus menulis dan berprestasi ya! Ini sudah dimulai lagi cara menuju ketokohanmu, untuk ummat. Salam dari Kuala Lumpur. Luv
**mbak HTR**

Selamat Hari Ibu, semoga dirahmati Allah, selalu….
**Amy-Malang**

Aku, PKS Award & The Inspiring Women

img1410a5

Awalnya, sama sekali tidak menyangka ketika bidang kewanitaan DPW PKS mengontak saya dan memberitahukan bahwa saya termasuk salah satu dari 8 the inspiring women.
Masih banyak yang lebih baik, saya pikir.
Lagipula, sangat sedikit yang sudah saya lakukan. Ada beberapa nama yang sudah tenar di Jawa Timur seperti bu Sirikit Syah (pakar media), bu Esti Martiana Rachmie (Kepala Dinkes Surabaya), bu Sri Adiningsih (ahli gizi dan perintis lembaga perlindungan anak), juga mbak Wuri Handayani (tokoh penyandang cacat dan aktivis) yang cantik dan dinamis.
Selain nama tenar beberapa yang sudah saya sebutkan, ada beberapa nama ‘tenar’ pula yang tidak terkenal di kalangan manusia tapi insyaAllah terkenal di kalangan malaikat. Mereka adalah bu Suyatmi (guru SD Bahagia) dan bu Titi Winarni (pemilik Tiara handicraft-semua pegawainya adalah orang cacat).
Saya beberapa kali bertemu bu Sirikit Syah dan sangat mengagumi sosok beliau. Mbak Wuri, bu Suyatmi, bu Titi, lebih sering mendengar namanya dibanding bertemu orangnya. Subhanallah, mereka semua benar-benar the inspiring women.

1. Bu Sirikit Syah; banyak sekali prestasi beliau dalam perjuangan menyuarakan kebenaran sekalipun dimusuhi banyak pihak hingga bu Sirikit sering merasa sendiri. Bagi yang memerlukan CV beliau untuk mengetahui sepak terjang bu Sirikit, bisa kontak ke saya. Suami saya sampai terkagum-kagum hingga berseru luarbiasa! ketika membaca CV beliau.

2. Mbak Wuri Handayani; sosok cantik, cerdas dan dinamis yang luarbiasa. Duduk di atas kursi roda tak membuatnya patah semangat. Beliau mendapat beasiswa ke Inggris, lulus dengan cum laude! Hingga sekarang mbak Wuri masih aktif menyuarakan hak para penyandang cacat terutama kaum peempuan yang pastinya mendapat multiple discrimination akibat kondisi mereka.

3. Bu Titi, saya sempat mengenalnya sekilas dari cerita teman-teman dan kartu nama unik miliknya. Luarbiasa, beliau mengelola usaha handicraft yang 100% pegawainya penyandang cacat semua. Jangan dikira produknya kalah bersaing, sebab nama Tiara Handicraft di Jawa Timur identik dengan tas, asesori , dompet, dsb yang indah. Saya sendiri pernah membeli dompet bersulam pita, dikerjakan oleh seorang muslimah yang hanya punya dua jari, itupun tak sempurna, tetapi dompet itu sangat indah-nyaris tak percaya yang mengerjakannya orang yang tak memiliki tangan sempurna!

4. Bu Suyatmi?
Saya pernah berkunjung ke sekolahnya.
Saya menangis tersedu-sedu.
Sekolah itu hanya punya satu lokal, berukuran sekitar 2×6 meter, kadang disekat dua jika dibutuhkan. Muridnya sekarang 20 orang (dari kelas 1-6). Kondisinya tak dapat dibayangkan. SD Bahagia terletak di Gunungsari, berdiri di atas tanah wakaf yang mungil. Perlengkapannya hanya bangku sederhana, bangunan tua, buku-buku ala kadarnya, papan tulis dan kapur. Seragam siswanya mirip kain pel di rumah-rumah kita, hanya beberapa yang bagus. Anak-anak itu memiliki orangtua yang bekerja sebagai tukang kunci, tukang parkir, tukang sampah, dan pekerjaan kasar lainnya.
Bu Suyatmi bercerita bahwa beberapa anak tertidur ketika pagi di sekolah. Ia tak mampu menegur. Seorang anak terpaksa menemani ayahnya mengangkut sampah, menghabiskan malam di atas gerobak yang ditarik dari satu rumah ke rumah lain. Satu orang anak putri (saya lupa namanya) cacat tulang punggung hingga tingginya tak sempurna. Kata Bu Suyatmi anak ini sangat cerdas hanya tak memiliki fasilitas.
Bu Suyatmi, berusia sekitar 50-an, bertubuh kurus kering berkacamata, puluhan tahun hanya memiliki gaji seratus limapuluh ribu. Rumahnya di …..Sidoarjo! Jarak Sidoarjo –Gunungsari, duh, membayangkannya saja sudah melelahkan apalagi menjalaninya.
Melihat bu Suyatmi dan SD Bahagia-nya saat berkunjung ke sana, saat tak dapat memberikan kata sambutan serupa ’sabar’ atau ’berjuang’ sebab wajah tegar mereka menyiratkan ketangguhan yang jauh lebih dahsyat dari apa yang saya miliki.
Bertemu bu Suyatmi adalah salah satu penggal sejarah hidup yang sangat berharga. Bertemu wajahnya yang bersih dan murah senyum, orang dapat meraba bahwa perempuan itu memiliki hati yang tulus. Jika tidak, untuk apa bertahan sekian lama, bolak balik Sidoarjo-Gunung Sari dengan gaji minim, diantarkan sang suami yang juga beranjak tua?Subhanallah.

Saya sendiri masuk dalam katagori the inspiring women karena keterlibatan di FLP dan dunia kepenulisan. FLP dianggap mampu mewadahi generasi muda dalam mengapresiasikan diri secara positif, menjadi alternatif kegiatan yang berdaya guna. Terus terang saya malu jika tolok ukurnya kemampuan pribadi. Banyak yang turut berjuang bersama saya di FLP Jawa Timur. Muslimah yang membantu gerak langkah FLP ini tak kurang berjasanya menyisihkan waktu , tenaga, pikiran, harta mengelola FLP Jatim tanpa imbalan apapun kecuali sedikit fasilitas dari saya : saya sering mengoprak-oprak adik-adik untuk cepat-cepat menyelesaikan karya mumpung saya masih di Surabaya, jadi masih bisa membantu mengedit dsb.
Bagaimanapun, penghargaan itu saya terima lebih kepada ’FLP’nya. Tanpa FLP, saya belum tentu seperti sekarang. Tanpa da’wah, saya belum tentu seperti sekarang.

Oya, 8 the inspiring women di muat di Jawa Pos edisi 21 Desember 2008.

Jazakumullah untuk semua.
Kita saling mendoakan agar kaum muslimin mendapatkan limpahan rahmatNya dan bimbinganNya selalu.
img1410a4

Aku, FLP Jatim, mbak Helvi dan bu Sirikit Syah

img1379a Tanggal 10 Desember 2008, Rabu, mbak Helvi ditemani mas Edi Sutarto mampir ke rumah saya di Rungkut Jaya. Di tengah hujan deras malam hari itu, mbak Helvi yang sebetulnya lelah ternyata sangat bersemangat tiap kali membahas masalah FLP. Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari sang bunda FLP hingga kami, FLP Jawa Timur dan beberapa personilnya; selain terbengong, termenung, terkesiap, juga tersengat untuk lebih memperbaiki diri ke depan.
Dalam pekan itu memang kami agendakan untuk mengadakan pertemuan rutin bulanan pengurus FLP wilayah Jawa Timur yang berdomisili di Surabaya. Sebagian pengurus wilayah berdomisili di luar Surabaya sehingga tidak memungkinkan copy darat terlalu sering. Hari Sabtu 13 Desember 2006, kembali syuro wilayah digelar di rumah saya yang juga base camp FLP wilayah.
Alhamdulillah, 2 personil FLP wilayah di bidang kaderisasi memang sangat matang dalam pengelolaan organisasi dan usaha. Thnkas to mbak Heni (insyaAllah akan menikah 21 Desember ini) dan juga pada rekan saya Citra Widuri yang masukannya demikian dahsyat untuk merapikan strategi langkah FLP Jatim. Citra selain bekerja sebagai manajer HRD LMI atau Lembaga Manajemen Infaq-satu lembaga zakat terkemuka di Jatim, dulu aktivis rohis dan kampus di UI. Pengalamannya di bidang perusahaanpun sangat beragam hingga Alhamdulillah, Allah SWT mempertemukan kami.
Citra mengemukakan tentang leading sector yang harus digarap FLP Jatim meliputi : karya, kader, & sounding FLP. Hal ini semakin dikentalkan ketika bertemu dengan mbak Helvi , bahwa FLP Jatim yang beberapa mujahid & mujahidah penanya sudah memiliki karya yang berkualitas harus berani unjuk suara dan sounding ke berbagai elemen. Di FLP Jatim ada Aminuddin –FLP Kediri yang telah menghasilkan Tembang Ilalang; Priska Primasari – Will & Julliete; Dimasabi – Gorillove; mas Haikal- Biar Penaku Bicara; mas Bahtiar – Jejak Surga; ada mbak Ria Fariana & mbak Arida juga. Disamping itu banyak sekali mujahid & mujahidah pena yang sedang bermetamorfosa menjadi kupu-kupu indah nantinya seperti Sari – FLP Blitar, Lukman – FLP Jember, Kukuh – FLP Malang, masih banyak lagi! Rasanya kita insyaAllah tidak akan kehabisan amunisi dan jundullah pena.
Tentang masalah gaung & sounding, rasanya saya pribadi memang kurang. Alhamdulillah, dalam syuro wilayah tanggal 13 Desember, kami rancang siapa dalam setahun ke depan yang akan menjadi target silaturrahim.
Seolah Allah SWT menuntun langkah da’wah ini, pagi tadi, ahad 14 Desember, seorang eakan da’wah bernama mbak Rini mengajak saya silaturrahim ke bu Sirikit Syah, seorang perempuan aktivis media. Kami sudah beberapa kali berkunjung ke sana dan kesempatan kali ini untuk menyampaikan undangan terkait dengan award yang akan diserahkan kepada beliau berkenaan tanggal 22 Desember nanti. Ketika saya bercerita pada bu Sirikit masalah FLP, beliau kontan berseru ,” FLP luarbiasa perkembangannya! Saya kenal Helvi.”
Bu Sirikit Syah, aktif di sebuah forum perempuan di Surabaya. Akhir-akhir ini beliau berkata bahwa sikapnya seringkali mengundang permusuhan dari banyak aktivis perempuan hingga beliau merasa sendiri. Sikap beliau tentang UU pornografi yang dimuat di Jawa Pos memang mengundang kontroversi. Ketika kami berpendapat, mungkin saja orang-orang yang menentang UU tersebut tidak faham isinya atau bahkan tidak membaca pasal-pasalnya beliau menyangkal,”…yang menghujat tulisan saya adalah teman-teman yang sangat faham hukum.” Beliau tidak habis pikir bagaimana sekian banyak orang membela 3 propinsi tapi mengabaikan propinsi yang lain? Bagaimana orang membela gender ke-3 tapi mengabaikan gender ke-1 dan ke-2? Bagaimana orang bisa membela para pekerja seks tetapi tak membela para gadis dan kaum remaja? Beliau juga banyak berbicara masalah sastra.
Bu Sirikit Syah mengeluhkan, bahwa beliau sendiri dalam menulis opininya, jarang ada yang menulis sama seperti dirinya apalagi kaum perempuan. Beliau senang sekali ketika saya bercerita tentang FLP dan mengajak kami untuk bertemu kembali , lebih mengasah ketrampilan jurnalistik dan media hingga FLP betul-betul dapat mewarnai media massa dengan da’wah pena. Terus terang ada rasa bersalah juga, rasanya saya pribadi kurang tangguh dan ulet seperti bu Sirikit yang rajin menulis di media massa. Bayangan saya pribadi,”…ah, saya kan luwes nulis fiksi, da’wah lewat situ aja deh. Nggak mahir nulis opini dsb.” Padahal ketrampilan berda’wah itu kan harus terus diasah dan dikembangkan, juga ditingkatkan.
Malu sendiri melihat bu Sirikit yang minggu pagi itu tengah membersihkan rumah sembari memasak, usai itu menemui kami yang rapi dan cantik (hm!), beliau berpakaian sederhana ala ibu rumahtangga tetapi bicaranya sungguh ibarat canon, meriam!
Saya tertunduk, termenung, menyalahkan diri sendiri mendengar sepak terjang bu Sirikit. Saya yang mengaku pejuang dan kader da’wah ternyata belum setangguh beliau dalam memperjuangkan kebenaran. Kemanapun bu Sirikit Syah pergi, ia selalu menggaungkan apa yang menjadi keresahannya. Beliau resah dan menuliskan tentang guru swasta, tentang dana bagi budaya, tentang kenapa budaya sekarang masuk pariwisata-bukan bagian pendidikan. Beliau juga sounding tentang UU pornografi, tentang media, tentang sastra, sembari tak lupa kedudukannya sebagai ibu dan istri. Tutur beliau lembut namun menyimpan magma. Rasanya, tak cukup waktu berguru padanya.
Di hadapan bu Sirikit saya membatin, “ … where have you been along this time?What have you done?”
Bu Sirikit berkomentar terhadap novel yang pernah saya hadiahkan padanya.
“Wah, saya suka baca The Lost Prince,” ungkapnya.
Saya katakan bahwa buku ketiga Takudar, The Road to the Empire insyaAllah terbit bulan ini. Beliau lalu mengusulkan pertemuan di rumahnya yang lapang antar anak-anak FLP dengan para wartawan sembari saya launching buku itu.
Bertemu mbak Helvi dan bu Sirikit, semoga makin menguatkan niat, semangat, yang tak lupa harus menata langkah kembali demi syiar kebenaran. Bagaimanapun, kebenaran yang tak terkoordinir akan tumbang oleh kebathilan yang terstruktur rapi.

The Road to the Empire is coming!

 cover

Alhamdulillah, tiada kata yang pantas untuk diucapkan selain hanya syukur kehadapanNya.

Jika bukan karena kemurahan dan bantuan Allah SWT tidak mungkin naskah The Road to The Empire selesai dan masuk ke LPPH untuk kemudian di acc. Naskah ini diedit pak Maman S. Mahayana, seorang sastrawan UI. Beliau banyak membantu dengan semangatnya untuk merevisi bagian-bagian TRoTTEm ini. Alhamdulillah, cover sudah terselesaikan, semoga buku ini bermanfaat sebesar-besarnya bagi kaum muslimin.

 

Orang mungkin bertanya, kenapa sih repot-repot menulis roman sejarah?

Repot, perlu banyak riset, makan biaya dan waktu, sudah begitu belum tentu responsnya bagus. Hal yang paling penting dilakukan seorang pekerja (baca : penulis) adalah ia tak boleh kehilangan idealismenya. Boleh jadi kebutuhan hidup menghimpit, materi mendesak, uang menjadi kebutuhan primer. Tetap saja penulis harus mampu menelorkan karya-karya yang spektakuler yang tak lekang dihempas masa meski sang penulis sudah berkalang tanah.

 

Jika Ibnu Sina tenar dengan Al Qanun fi Tibbs (The Canons of Medicine), Al Biruni dengan Qânûn al-Mas’ûdi, Ibnu Rusyd dengan Al Kuliyat Fil-Tibb (Hal-Hal yang Umum tentang Ilmu Pengobatan), Ibnu Batutah dengan Tuhfatun Nazhar fi Gharaibil Amshar, Ibnu Khaldun dengan Al-Muqaddimah yang mengupas masalah-masalah sosial manusia dan juga menulis kitab Al-`Ibar (Sejarah Umum),Al Kindi menyusun Al-Falsafa al-Ula , Al Khwarizmi menghasilkan Al Jabr Wa Al Muqabilah dan masih banyak lagi ilmuwan muslim yang meninggalkan karya-karya pencerahan yang membimbing ummat pasca mereka tiada….bagaimana tanggung jawab kita sebagai kaum muslimin yang hidup saat ini?

Menyedihkan sekali bahwa jangankan menulis, membacapun kita masih enggan.

Melihat masih sedikitnya buku-buku yang mengupas sejarah para pahlawan heroik kaum msulimin yang sepak terjangnya tiada tara, ada satu tanggung jawab dari dalam diri untuk menuliskan novel fiksi sejarah Takudar. Semoga, novel ini membangkitkan semangat kecintaan kaum muslimin, remaja khususnya pada pahlawan yang benar-benar pahlawan. Bukan pahlawan khayalan seperti Inuyasa, Saint Seiya, Avatar, Naruto, dsb.