These are my books

Ini buku-bukuku.

Semua kutulis dengan perjuangan & kesungguhan.

Jika hasilnya tak memuaskan maka sesungguhnya tak ada larva yang langsung menjadi kupu-kupu indah sayapnya.  Aku terus berproses, mencoba, menulis lagi, belajar dari masa lalu, menulis lagi, membuang yang buruk dan berusaha yang terbaik.

Bedah buku Hi Pretty : cantik 30 hari! Be Muslimah Pretty!

12 September 2008, bedah buku Hi Pretty di UNAIR FE dalam rangka penyambutan mahasiswa baru.

Bagiku acara roadshow buku-bukuku selalu menggembirakan. Bertemu banyak orang, berbagi cerita, sharing, adu argumentasi. Yang spesial di acara bedah buku Mosaic (duh, aku lupa singkatannya. Pokoknya div. Keputrian FE UNAIR) ini aku ditemani bu Monik, pembanding yang mebedah bukuku.

Do you know what? Dia Ning Surabaya 1996, so pretty, so beautiful, so charming. Berkerudung modis, S3 pula! Cerdas, cantik, ramah, gaul. Pantas mendapat gelar dosen terfavorit di FE. Aku pikir, harusnya Putri Indonesia & Miss Universe seperti dia. Cantik, pintar & syar’i. Nggak sekedar mengumbar aurat, nggak sekedar pamer kecantikan. Dia juga selalu menyampaikan  bahwa muslimah harus punya identitas dengan jilbabnya, manusia sangat bergantung pada Tuhannya.

Aku nggak memandang jilbabnya yang modis tapi kupikr orang-orang seperti bu Monik menyemarakkan dunia kampus dengan gebrakannya yang memadukan brain-behaviour-beauty. Dia pantas mendapat acungan jempol untuk ketangguhannya tak terjerat gemerlapnya dunia entertainment, lebih memilih jalur akademis mengekspresikan otak & kecantikannya.

Armanusa

Pertama kali aku mengenal Armanusa dari cerita kisah Islami karya Ali atTanthowi Aku tertarik pada sosoknya yang cantik, cerdas, berani, kayaraya, extraordinary people. Dia bukan tipologi putri bangsawan yang menghabiskan diri mematut di depan kaca, mengenakan pakaian mewah dan perhiasan mahal. Di ajuga seorang yang humanis , terbukti seorang sahabatnya adalah Maria, pelayannya sendiri.

Hubungan dua sahabat dari latar belakang yang sangat berbeda ini harmonis sampai mereka sama-sama jatuh cinta pada panglima perang muslim. Armanusa seorang penyembah dewa, kepercayaan khas orang Mesir saat itu sementara Maria seorang nashrani.

            Sebetulnya, panglima perang muslim itu seseorang  yang dekat dengan masa kehdupan Rasulllah Saw. Jujur, aku takut ada kesalahan maka nama kusamarkan. Bagaimanapun, ada beban tersendiri jika kita menuliskan peri kehidupan sahabat atau para khalifah muslimin.

            Aku suka menulsi cerita cinta, sebagaimana aku menulis Armanusa & Lafaz Cinta. Cinta selalu punya sisi indah untuk digali : kesetiaan, getaran hati ,pengorbanan, ketulusan, pengkhianatan, perjuangan. Banyak orang mampu bertahan hidup karena cinta, banyak orang tak sanggup hidup karena cinta (tentunya ini cinta yang tidak punya value). Beberapa orang menginginkan aku menulis kelanjutan Armanusa sebagaimana kau menulis trilogy Takudar. Aku mau sekali. Aku suka kisah cinta Armanusa & Qays, aku menangis menuliskannya. Bukan pilihan mudah seseorang meninggalkan sesuatu yang sangat mempesona & dicintai kecuali ia mendapatkan satu substitusi pengganti yang tentunya setara dengan yang ditinggalkan.

Maybe someday I will write again about Armanusa