Saudariku bidadari, catatan kecil Muswil

Tak mungkin aku mencapai sesuatu sejauh ini tanpa orang-orang di belakangku.

Ternyata di hapeku hanya tersave sedikit foto dari Muswil, semoga panitia bersegera mengirimkan gambar para prajuritku,mujahid & mujahidah pena.

Ada Iing (pamekasan), Amy (Malang), yang paling kanan Gesang Sari Mawarni. Sedang apa ya kalian/ Semangat itu masih ada kan? HArapan itu masih ada kan?

Laskar Pelangi Blitar

Senang sekali ketika bisa mengunjungi satu tempat bernama madrasah Hidayatul Mubtadiin di Blitar.

Tempat yang jauh dari publikasi, jauh dari kunjungan dan hingar bingar kemewahan. Tapi ada wajah-wajah polos dengan sejuta cita-cita …dokter, polisi, tentara, astronot. Guru-guru ikhlas dengan wajah berbinar bagai permata di tengah tumpukan kerikil.

Epik Takudar

Kenapa saya suka menulis roman sejarah?

Sebab saya mengagumi Shalahuddin al Ayyubi, Nuruddin Zanki, Imaduddin Zanki, Thariq bin Ziyad, Muhammad al Fatih, dan salah satu tokoh yang jarang di dengar, Takudar Muhammad Khan. Anak-anak & remaja hafal betul Spiderman & MJ, Batman & catwoman, Superman & Lois Lane, lalu Avatar -Saka-Katara-Aang(kalau ini masih dapat dimaklumi…tokohnya sedikit). Kalau Naruto? Dua putra saya hafal betul sejarah desa Konoha, jurus-jurus, senjata, nama musuh dan teman Naruto. Saya paling2 hanya tahu Naruto, Sakura,& beberapa teman baiknya.

Padahal manusia belajar dari sejarah. Kejayaan Islam ditorehkan dalam sejarah, belajar tentang ke-cemerlangan Islam membuat kita ingin mengembalikan kedudukan Islam ke tempatnya semula. Sejarah yang dilupakan membuat manusia tak dapat menarik hikmah apalagi mengambil pelajaran berharga.

Awalnya, almarhum bapak menyimpan sebuah buku usang : The Preaching of Islam, Sejarah Da’wah Islam (Thomas W. Arnold) yang mengupas tentang perkembangan da’wah mulai zaman para sahabat Nabi hingga tersebar ke penjuru dunia. Banyak tokoh yang baru saya kena tiba-tiba merebut kekaguman, salah satuna Takudar. Ternyata Mongolia yang sarat dengan sejarah darah dan kepahitan menyimpan mutiara-mutiara. Takuda rhanya sempat memimpin kuranglebih dua tahun karena sebagaimana sejarah kaisar2 China, kudeta dan pembunuhan silih berganti. Tapi kenangan atas dirinya yang berubah bijak dan lemah lembut, arif dan santun, adil dan tegas setelah menjadi muslim…saya sering menangis sendiri ketika menuliskan fiksi atas dirinya. Membayangkan intimidasi atas putra mahkota yang hanya menginginkan satu jalan kembali ke negerinya : berserah diri pada Islam.